"Ambil, ambillah dia! Aku ikhlaskan dia untukmu."
Suara seorang wanita terdengar begitu nyaring ketika berada di depan rumah wanita yang menjadi selingkuhan suaminya.
Didepan keluarga besar sang pelakor dia tak gentar meski pun sendirian.
Hancur hati Arundari saat mengetahui bahwa gadis yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu tega menjadi duri dalam daging pada biduk rumahtangganya.
Tampilannya yang religius sungguh tidak berjalan lurus dengan perbuatannya.
Tak ingin sakit hati terlalu lama, Arundari memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya dengan Heri.
Apakah Arundari bisa kembali merasakan cinta setelah dirinya disakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gila Emang 11
"Brengsek!!! Kalian semua brengsek!! Bisa-bisanya kalian diem aja hah! Bagaimana bisa kalian diem saat tahu kalau Arundari di selingkuhi!! Dimana hati kalian!!"
Fitri memekik, amarahnya meluap-luap sekarang di dalam kantor milik HTU (Hidayah Tour & Umrah).
Mungkin Fitri tidak berhak bicara demikian karena dia bukan siapa-siapa. Statusnya hanya sekedar teman, jadi mungkin akan terkesan berlebihan. Tapi Fitri tidak peduli jika benar ada yang menganggapnya demikian. Dia marah karena orang-orang dikantor itu sama sekali tidak memiliki empati.
"Sebenarnya ada apa ini Bu Fitri, Anis nggak tahu,"ucap salah satu karyawan Heri. Nama gadis itu adalah Anis, dilihat dari wajahnya gadis ini terlihat polos dan sepertinya memang tidak tahu apa-apa.
"Anis, kamu beneran nggak tahu kalau Heri selingkuh sama Jelita? Atau kamu cuma pura-pura nggak tahu aja, karena semua orang yang ada di sini bersikap demikian?" cerca Fitri.
"Apa? Nggak Bu, Anis beneran nggak tahu. Anis tahunya emang Mbak Jelita sama Mbak Arun deket kayak saudara, jadi dia berpikir hubungan Heri dan Jelita juga tak jauh beda. Jadi Anis sama sekali nggak tahu. Guys, emang bener soal Mbak Jelita sama Pak Heri?" tanya Anis kepada teman-temannya.
Anis membulatkan matanya ketika melihat semua teman satu kerjaannya terdiam. Mereka bahkan menundukkan kepala mereka dimana istilah *jika diam berarti benar* membuat Anis mengetahui jawabannya.
"L-lalu, apa sekarang Pak Heri dan Mbak Jelita nggak masuk itu juga ada karena ada sesuatu?" tanya Anis.
"Nah inilah yang aku pengen tanyain, kemana pria brengsek itu sama si wanita pelakor itu berada sekarang,"sahut Fitri dengan tatapan yang sangat mengintimidasi.
Tak ada yang berani menatap kembali wajah Fitri. Sudah jadi rahasia umum, meski Fitri ini bukan siapa-siapa di HTU, tapi status pertemanan Fitri dan Arundari begitu kuat. Dan mereka memiliki rasa segan kepada Fitri karena wanita itu bukanlah orang sembarangan. Dia merupakan istri seorang perwira.
Sebenarnya circle pertemanan Arundari memang cukup bergengsi. Dan dari situlah HTU terkenal dan mendapat banyak klien.
"Kenapa kalian diem aja hah! Haaah, aku tahu kalau sikap ku ini sedikit arogan. Tapi, apa kalian beneran nggak punya hati nurani sehingga diam saja melihat seorang hati wanita disakiti? Jika itu terjadi pada kalian, jika itu terjadi pada adik atau kakak perempuan kalian, jika itu terjadi kepada ibu atau anak kalian nanti, apa kalian benar-benar akan diam?"
Degh!
Semua langsung mendongakkan kepala mereka menatap ke arah Fitri. Ucapan Fitri yang baru saja itu cukup menusuk relung hati mereka.
"Kami memang salah, Bu. Tapi kami sungguh tidak tahu dimana Pak Heri dan Mbak Jelita. Hari ini mereka berdua tidak datang, sungguh kami tidak bohong. Kami juga berusaha untuk menghubungi mereka, tapi panggilan maupun pesan kamu sama sekali tidak ditanggapi."
Fitri mengerutkan alisnya, dia mencoba menelaah wajah salah satu karyawan HTU dengan seksama. Tak ada kebohongan di sana. Itu berarti bahwa orang tersebut bicara jujur.
"Oke, aku percaya ucapan kalian. Kalau kayak gitu, apa ada yang tahu dimana alamatnya Jelita?"
Semua orang serempak mengatakan bahwa mereka tahu. Tentu saja Fitri senang, dia lalu meminta mereka untuk mengirimkan alamat itu ke ponsel miliknya.
"Bu, jika tidak keberatan bolehkan saya mengantar Ibu,"ucap Anis. Dia yang seolah paling bodoh diantara semua orang karena tidak menyadari bahwa bosnya berselingkuh, merasa penasaran. Dan menawarkan diri untuk mengantar Fitri mungkin bisa sekali dayung dua pulau terlampaui.
"Anis ya, oke. Ayo kita pergi sekarang,"ucap Fitri menyetujui tawaran Anis.
Keduanya pergi melenggang meninggalkan HTU. Dimana hal tersebut membuat karyawan HTU bernafas sangat lega.
"Gila nggak sih, itu baru Bu Fitri belum Bu Arun."
"Iya, aku jadi takut. Kita dosa ya karena lebih milih tutup mulut?"
"Nggak tahu, bingung. Ngomong salah nggak ngomong tambah salah."
Mereka tampak mengeluh. Sebenarnya hubungan Heri dan Jelita membuat mereka resah dan tidak nyaman. Akan tetapi sebagai 'orang kecil' mereka juga kebingungan. Terlebih sudah ada ancaman, jika membuka mulut maka mereka akan kehilangan pekerjaan.
Tentu saja mereka takut. Di jaman yang susah mencari pekerjaan seperti ini, kehilangan pekerjaan bisa menjadi masalah hidup yang besar dan juga berat. Alhasil rasionalitas dan empati dikalahkan oleh ketakutan.
"Apa Bu Arun dan Pak Heri akan bercerai? Dan aku juga heran kenapa Jelita bisa seneng sama Pak Heri ya. Emang nggak ada cowok single gitu di luar sana? Padahal di sini aja juga banyak cowok yang single."
"Nggak level kali. Kita-kita ini cuman pkaryawan sedangkan beliau adalah bos. Beda pastinya. Udah lah diem. Kita ada kerjaan yang paling mendesak, kajian sama persiapan keberangkatan umroh karyawan AKAR."
Semua orang pun membubarkan diri, menuju ke tempat kerja mereka masing-masing. Mereka langsung kembali sibuk dengan pekerjaan, dan itu lumayan untuk sedikit melupakan tentang apa yang baru saja terjadi.
Sedangkan di tempat lain, Fitri dan Anis sudah sampai di wilayah rumah Jelita. Fitri memilih untuk berhenti di tempat yang sedikit jauh agar keberadaannya tidak diketahui.
"Jadi rumahnya yang itu, Nis?" tanya Fitri memastikan.
"Iya Bu, tapi kok kayak rame ya? Ada apa ya?" sahut Anis.
Merasa penasaran, gadis itu turun dari mobil. Awalnya Fitri yang ingin turun, tapi melihat Anis sudah lebih dulu, maka dia pun urung dan memilih untuk menunggu di dalam mobil.
Anis berjalan pelan. Dia tak langsung menuju ke rumah Jelita. Dia juga tak ingi diketahui kedatangannya.
"Maaf Bu, itu rumah Mbak Jelita kok rame ya. Ah saya teman kerjanya Mbak Jelita, saya kesini karena Mbak Jelita nggak masuk kerja, jadi saya khawatir," ucap Anis. Dia bertanya kepada orang yang melintas, yang mungkin saja itu tetangga Jelita.
"Oh temennya Jelita. Iya itu rame-rame karena mau ada acara besok. Katanya Jelita mau nikah gitu. Nggak tahu kapan lamarannya, tapi memang besok katanya mau nikah."
Degh!
Anis terkejut bukan main mendengar perkataan wanita paruh baya yang ditemuinya. Ia pun buru-buru kembali ke mobil untuk menemui Fitri. tapi Anis tak lupa mengucapkan terimakasih kepada ibu-ibu yang baru saja ditemuinya itu.
"Bu Fitri, Bu Fitri. Itu, anu, info yang saya dapat. Katanya, katanya Mbak Jelita besok mau nikah."
Jegleeer
Bak disambar petir di siang bolong, Fitri terkejut bukan main. Menikah, mungkin itu maksud dari tangkapan layar status whatsapp yang Arundari kirimkan kepadanya.
"Gila, ini beneran gila. Dia bahkan berani nikah lagi padahal urusannya belum selesai. Dasar pria bangsat, bisa-bisanya dia nyakitin Arundari kayak gini."
Emosi Fitri meluap-luap membuat Anis bergidik ngeri. Meski ia belum tahu siapa calon suami Jelita, tapi Fitri yakin bahwa itu pasti Heri.
"A-apa Bu Fitri akan langsung ngasih tahu Bu Arun?" tanya Anis dengan sedikit takut.
"Pasti lah, gila emang si Heri. Aku harus ngasih tahu Arun sekarang juga,"jawab Fitri tegas.
TBC
Bestie, kalau ada kata-kata yang nggak nyambung baik di bab ini atau bab sebelumnya, dikomen aja ya. Nanti aku benerin. Maaf tadi pas up aku nggak sempet baca ulang soalnya.
Makasih
Ada maksud tersembunyi nih dari Adyaksa😄
Apakah Anis nanti nya akan berjodoh sama Beni yaa..? hhmmm... 🤣🤣