NovelToon NovelToon
Dicerai Saat Mengandung

Dicerai Saat Mengandung

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:38.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di masalalu

Lampu-lampu kota Banyuwangi mulai menyala, membiaskan cahaya keemasan di balik kaca jendela sebuah hotel mewah. Di dalam kamar suite yang luas, Pak Sutoyo berdiri tegap. Meskipun usianya sudah memasuki kepala enam, wibawanya tak memudar. Ia menatap hamparan lampu di bawah sana dengan pikiran yang berkelana jauh ke masa tiga dekade silam.

Ketukan pintu memecah kesunyian. Tama melangkah masuk dengan langkah tegap, sisa-sisa debu jalanan masih menempel di jaketnya, namun matanya memancarkan kegairahan seorang detektif yang baru saja menemukan kepingan puzzle yang hilang.

"Kau sudah kembali juga akhirnya, Tama," suara Pak Sutoyo berat namun penuh penekanan. "Bagaimana penyelidikanmu? Apakah kau menemukan sesuatu di sana? Bangorejo adalah tempat di mana aku terakhir kali bertemu dengannya."

Tama tidak langsung menjawab. Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa kulit, menarik napas panjang, lalu merogoh saku dalam jaketnya. Ia mengeluarkan sebuah foto usang yang pinggirannya sudah sedikit melengkung.

"Tadi aku tidak sengaja menabrak anak kecil, Pah. Dan saat melihat wajah ibunya... dia persis sekali dengan foto ini," ucap Tama pelan namun pasti.

Pak Sutoyo tersentak. Ia berbalik dengan cepat, langkahnya yang biasanya tenang kini terasa terburu-buru mendekati putranya. Matanya berbinar, seolah ada percikan api harapan yang baru saja tersulut.

"Apakah kau bertemu dengan Lestari ku, Tama?" tanyanya dengan suara bergetar.

"Tidak, Pah. Tapi aku bertemu dengan wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Tante Lestari. Meskipun aku belum pernah bertemu beliau secara langsung, aku yakin wanita bernama Hana itu punya kaitan darah dengan Tante Lestari."

Pak Sutoyo mengambil foto itu dari tangan Tama, jemarinya yang mulai berkerut mengusap permukaan gambar tersebut dengan penuh kerinduan. "Selidiki terus, Tama. Kau itu tim intel terbaik dari kepolisian, kau pasti sudah hafal betul soal beginian!"

Tama mengangguk mantap. "Siap, Pah. Papah tenang saja. Besok Tama akan cari tahu lebih dalam soal wanita ini. Jika sudah jelas hubungannya dengan Tante Lestari, aku segera kabari Papah."

Pak Sutoyo menepuk bahu putranya dengan bangga. "Terima kasih, Tama. Setelah kepergian Mira, aku hanya ingin mencari keberadaan putri kandungku dengan Lestari. Gara-gara dia... Lestari pergi."

Wajah Tama berubah sendu. "Aku mengerti perasaan Papah. Mendiang Mamah Mira memang sudah keterlaluan dalam memisahkan kalian."

"Syukurlah akhirnya kau mengerti, Tama. Aku sangat mengandalkan mu," bisik Pak Sutoyo, kembali menatap jendela, namun kali ini dengan harapan yang lebih nyata.

.

.

Di sebuah gedung pencakar langit di jantung Jakarta, suasana jauh lebih mencekam. Cakra duduk di kursi kebesarannya, namun tak ada guratan kesuksesan di wajahnya. Hanya ada gurat kelelahan dan kesedihan yang mendalam.

Di atas meja kerjanya yang bersih dari dokumen, hanya ada satu benda yang ia pandang, yaitu foto pernikahannya dengan Hana.

"Hana, kamu berada di mana sekarang?" bisiknya pada keheningan ruangan. "Enam tahun sudah aku mencari mu seperti orang gila. Aku sempat frustasi... Tolong jangan siksa aku seperti ini, aku sangat menyesal atas tindakanku dulu."

Ia menyentuh permukaan kaca bingkai foto itu, tepat di bagian wajah Hana yang tersenyum tulus, senyum yang tak pernah lagi ia lihat sejak hari ia membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya.

"Mungkin saat ini buah cinta kita telah tumbuh menjadi anak yang pintar dan tentunya baik sepertimu, Hana..." Cakra memejamkan mata, membayangkan seorang anak kecil yang memiliki mata seperti ibunya. "Aku sangat merindukanmu."

Tiba-tiba, telepon di mejanya berdering. Cakra segera mengangkatnya dengan harapan yang meluap. "Halo? Bagaimana? Ada kabar dari tim yang kukirim ke Jawa Timur?"

Suara di seberang sana menjawab dengan nada kaku, "Kami menemukan jejak baru di daerah Banyuwangi, Tuan. Ada seseorang yang melihat wanita dengan ciri-ciri yang mirip. Kami sedang menuju ke sana."

Rahang Cakra mengeras. Kali ini, ia tidak akan membiarkan takdir mempermainkannya lagi. Jika ia harus menjemput Hana ke ujung dunia sekalipun, ia akan melakukannya.

.

.

Pagi itu, sinar matahari baru saja membasuh desa Bangorejo, namun suasana di sekitar rumah kayu Hana sudah mulai menghangat oleh bisik-bisik tetangga. Tama berdiri tenang di balik pagar kayu yang sudah agak lapuk, penampilannya yang rapi dengan kemeja polo bermerek tampak sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya.

Di sudut jalan, Surti dan Sri, dua tetangga yang dikenal sebagai pusat informasi desa, sudah mulai memasang telinga dan mata tajam-tajam.

"Eh, siapa pria itu? Apakah itu ayahnya El ya? Si Hana kan pergi dari suaminya!" bisik Surti sambil pura-pura menyapu halaman.

Sri menyahut dengan nada tak kalah semangat, "Eh, bukannya lakinya yang cereiin dia? Tapi dipikir-pikir, nggak ada mirip-miripnya sama El. Mungkin pacar baru Hana. Wah, pintar juga dia cari calon suami, ganteng dan kelihatan orang kaya!"

Tama, yang memiliki pendengaran tajam sebagai seorang intel, hanya bisa menghela napas panjang. Ia mengangguk sopan ke arah mereka, membuat kedua wanita itu salah tingkah dan pura-pura sibuk.

Tak lama kemudian, Rahma muncul dari arah samping rumah. Matanya membulat sempurna saat melihat sosok Tama. "Wah gawat, aku harus kasih tahu Hana nih!" gumamnya panik. Alih-alih menyapa Tama, ia justru berputar arah dan masuk lewat pintu belakang dengan terburu-buru.

Di dapur, Hana sedang sibuk mencuci piring sisa sarapan. Suara pintu belakang yang terbanting membuat bahunya mencuat kaget.

"Kamu itu kebiasaan sekali, Rahma! Datang tiba-tiba begitu, ngagetin aku saja!" omel Hana sambil mengusap dadanya yang berdegup kencang.

"Kau akan jauh lebih kaget kalau lihat ke depan rumah. Ayo cepat ikut denganku, Hana!" Rahma menarik lengan Hana tanpa permisi.

Hana mengernyitkan kening, mencoba melepaskan tangannya yang masih basah. "Maksudnya apa, Rahma? Ada apa sih?"

"Sudah, ayo buruan kita ke depan dulu!"

Hana menyempatkan diri melirik ke arah kamar di mana El masih tertidur pulas setelah meminum obat penurun panas tadi pagi. Dengan perasaan was-was, ia mengikuti Rahma ke ruang tamu. Saat ia menyibak sedikit gorden jendela, jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Sosok pria kota itu berdiri di sana, di halaman rumahnya.

"Ck, ngapain sih pria itu datang lagi ke sini?" desis Hana kesal.

Rahma menyenggol lengan saudaranya itu sambil berbisik menggoda, "Mungkin dia naksir kali, Han, sama kamu. Pas kemarin ia menatapmu, rasanya tatapannya itu aneh sekali. Sangat berbeda, seperti sedang melihat sesuatu yang berharga."

"Ish, kau jangan ngaco, Rahma! Sebaiknya aku segera menemuinya. Apa maksud dan tujuan dia datang ke sini? Lagian, kenapa juga dia bisa tahu alamat rumahku?"

Hana menghela napas panjang, mengumpulkan keberanian dan ketegasan di wajahnya. Ia membuka pintu depan dengan gerakan cepat. Begitu mendengar suara pintu, Tama segera mengalihkan pandangannya dari taman kecil di depan rumah ke arah Hana. Sebuah senyum ramah tersungging di bibirnya, namun Hana justru membalasnya dengan tatapan sedingin es.

"Untuk apa Anda datang ke sini? Bukankah urusan kita sudah selesai?" ucap Hana ketus, melipat tangan di depan dada.

Tama tidak lantas tersinggung. Ia justru melangkah satu langkah lebih dekat ke arah teras. "Selamat pagi, Mbak Hana. Saya tahu kedatangan saya mengejutkan, dan maaf jika tidak sopan mencari alamat Anda tanpa izin."

"Anda belum menjawab pertanyaan saya, Pak... siapa tadi? Tama?" Hana memotong pembicaraan. "Saya sudah bilang kemarin, kami tidak butuh ganti rugi tambahan."

Tama menatap mata Hana dalam-dalam, mencari kemiripan yang lebih jelas dengan foto milik ayahnya. "Saya datang bukan untuk pamer uang, Mbak. Saya hanya ingin memastikan kondisi El. Dan jujur saja... ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Anda. Sesuatu yang mungkin berkaitan dengan masa lalu seseorang yang sangat penting bagi ayah saya."

Hana terpaku. Kata 'masa lalu' selalu menjadi momok yang ingin ia kubur dalam-dalam. "Saya tidak punya waktu untuk membicarakan masa lalu dengan orang asing. Sebaiknya Anda pergi sebelum tetangga saya semakin berpikiran macam-macam."

"Mbak Hana," suara Tama merendah, terdengar lebih serius. "Apakah nama Lestari terdengar asing bagi Anda?"

Mendengar nama itu, wajah Hana yang semula tegang mendadak pucat pasi. Genggaman tangannya pada kusen pintu mengerat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahma yang menguping di balik pintu pun ikut menahan napas.

Bersambung...

1
neny
iya bener,,ini satu2 nya cara biar cakra tdk seenak nya sendiri,,itu bukan cinta,,tp obsesi,,klau cinta harus sabar menunggu maaf dr hana,,bkn mlaah melecehkan,,cinta dan benci beda nya tipis,,cakra berharap hana masih mencintai nya,tanpa sadar bahwa dia yg menorehkan luka yg paling dalam,,pengen tau apa yg dilakukan cakra klau hana menikah dng tama,,semangat akak💪😘
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul sekali kak, yang namanya cinta itu tidak akan pernah menyakiti dan memaksakan kehendak
total 1 replies
Teh Euis Tea
gara2 nenek lampir sm lasmini nih jd tambah kacau🤭
Darti abdullah
luar biasa
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: terimakasih kak 🙏😊
total 1 replies
Patrick Khan
lah kan nikah jg..
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Aghitsna Agis
dengN pasal oekecehan bisa duadukan kepolisi dan el kasih tahu apa yg tetjafi sebenarnya kenapa bundanya membeci ayah cakra biar ngerti el dari oada trs jetemu secara betsrmbunyi dan jgn sampai hana marah keleoasan trs jam tangannya segera ganti
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: siap kak 👍
total 1 replies
Ariany Sudjana
Cakra kamu ini bodoh yah? Hana itu bukan istri kamu lagi, kamu sudah melecehkan Hana, kalau sudah seperti ini, jangan salahkan pak Sutoyo akan membalas kamu dengna keras. kok ga ada yang sadar sih, El-barack komunikasi tiap hari dengan Cakra lewat smart watch?
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: belum ketahuan kak
total 1 replies
neny
tuh kan,,cinta itu bs berubah menjadi kebencian yg sangat besar,,penasaran,,pembalasan sakit hati apa yg akan di berikan hana kpd cakra,,lanjut akak💪😘
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: siip kk 👍😊
total 1 replies
Dziyan
otak nya mak lampir bisa di keluarin aja ga sih thor, biar ga ada ide jahat melulu.. percuma punya otak klo isi nya unfaedah semua😒
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: nunggu insaf dulu kak 😊
total 1 replies
Ariany Sudjana
harus dibinasakan duo nenek lampir ga tau diri itu
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul kak🤣
total 1 replies
Patrick Khan
nenek lampir itu mw nya opo se.. aneh bgt gk jelas😒😒🔥🔪🔪🔪🔪
Patrick Khan: hahahaah🤣
total 4 replies
Patrick Khan
😖😖😖😖😖😖😖el hanya ingin ortunya utuh .. pikiran masih bocah.. sedangkan ortu nya dgn egonya sendiri2 karna terluka.. dah lah manut kak othor aja
Teh Euis Tea
menjelang bulan suci romadhon maaf lahir bathin ya thor sy suka becanda klu komen
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: sama kak, mohon maaf lahir dan batin juga 🙏😊
total 1 replies
Patrick Khan
el masih ingat kak rose ya.. pasti kak Ros jg nunggu km tumben gk ke warnet😁
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: kejauhan warnetnya kak 🤣🤣
total 1 replies
Patrick Khan
terlambat Cokro 🤣🤣Hana wes kaborrrrrrrr🤣
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betoolll 🤣🤣
total 1 replies
Cindy
lanjut kak
Nar Sih
dasar duo lampir gk ada capek,jdi org jht ,semagatt hana💪
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: semangat 💪💪
total 1 replies
Nar Sih
ngk usah berandai andai cakra penyesal mu sdh ngk berguna😂
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Yen
kalau situasinya begini jg bingung yah mau berpihak pada siapa smoga saja semuanya bisa baik baik saja kalau pun Tidka bisa bersama lagi setidaknya El bisa mendapatkan sosok ayah nya dan Hanna bisa hidup bahagia tanpa takut Cakra membawa El
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul sekali kak 👍
total 1 replies
Sunaryati
Berjuanglah Putramu sayang kamu kamu dulu terlalu bodoh, menurut kata ibumu. Tugaskan beberapa orang untuk mengawasi ibumu, jangan sampai mencelakai putramu. Ny yang sombong kau kira mudah membawa El dia cerdik dan di bawah pengawasan berlapis, cucu mantan Abdi negara tapi juga bodoh seperti putramu.
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Good//Good//Good/
total 1 replies
Ayunda
suka sama visualnya
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: terimakasih kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!