NovelToon NovelToon
A MotoGP Rebirth Story

A MotoGP Rebirth Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / TimeTravel
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: meylisa

Michael Chandra Dinata adalah keajaiban yang lahir dari keterbatasan. Berasal dari Indonesia, dibesarkan oleh seorang ibu tunggal dalam kemiskinan, ia menembus batas yang dianggap mustahil—menjadi satu-satunya pembalap Asia Tenggara yang berhasil bertahan di kerasnya dunia MotoGP, di era ketika nama-nama besar seperti Valentino Rossi masih merajai lintasan. Balapan adalah hidupnya, satu-satunya cara untuk bertahan, satu-satunya tempat di mana ia merasa utuh.

Namun pada usia dua puluh tujuh tahun, di sebuah balapan yang seharusnya menjadi titik balik kariernya, Michael mengalami kecelakaan fatal. Aspal yang selama ini ia cintai merenggut nyawanya—dan segalanya berakhir di sana.

Atau begitulah yang ia kira.

Michael terbangun kembali di dunia lain, dalam tubuh seorang pemuda Inggris bernama Julian Ashford—anak tunggal dari keluarga konglomerat kelas dunia. Kaya raya, dicintai kedua orang tuanya, dan dikelilingi kemewahan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. (bagus sinopsis lama:)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meylisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAAT DIAM MENJADI BAGIAN DARI KECEPATAN

CHAPTER 15

Rasa sakit tidak selalu datang saat jatuh.

Kadang ia datang diam-diam,

di antara lap,

di balik sarung tangan,

di sendi yang mulai terlambat merespons.

Julian pertama kali menyadarinya di sesi latihan bebas kedua.

Bukan nyeri tajam.

Lebih seperti… tarikan yang tidak mau pergi di bahu kanan.

Ia mengabaikannya.

Pembalap selalu begitu.

Moto2 tidak memberi waktu untuk mengeluh.

Motor lebih berat, gaya balap lebih keras, dan jadwal lebih padat. Setiap sesi menuntut tubuh yang siap diperas sampai kering.

Julian keluar lintasan lagi.

Lap cepat.

Masuk tikungan keras.

Rem penuh.

Dan saat ia menekan setang untuk berdiri dari rebah…

Bahu kanannya terlambat sepersekian detik.

Motor goyah.

Julian menyelamatkan—tapi detik itu cukup untuk membuat jantungnya jatuh ke perut.

Itu bukan kesalahan teknis, pikirnya.

Itu tubuhku.

Di pit, Clara langsung menangkap perubahan.

“Kau kaku,” katanya tanpa basa-basi.

“Hanya capek,” jawab Julian.

Clara menatapnya lama. Terlalu lama untuk sebuah kebohongan kecil.

“Kau menekan setang lebih banyak dari biasanya,” lanjutnya. “Itu tanda kau tidak percaya pada bahumu.”

Julian membuka sarung tangan.

Tangannya sedikit gemetar.

Ia menutupnya kembali.

Balapan hari Minggu datang tanpa ampun.

Cuaca panas. Aspal kasar. Kondisi yang memakan stamina.

Julian start dari tengah grid.

Ia tahu: ini bukan balapan untuk menyerang. Ini balapan untuk bertahan tanpa merusak diri sendiri.

Lap awal berjalan aman.

Ia menjaga garis, menjaga jarak, menghindari kontak. Tapi setiap pengereman keras, bahu kanannya mengirim sinyal—bukan sakit, tapi peringatan.

Lap ke-7.

Seorang pembalap di depannya jatuh.

Julian menghindar dengan refleks—menekan setang kanan lebih keras dari seharusnya.

Dan di situlah…

rasa itu datang.

Bukan ledakan.

Tapi robekan kecil, dalam, seperti karet yang ditarik terlalu jauh.

Julian menggigit rahang.

Ia masih di atas motor.

Masih bisa balapan.

Pertanyaannya bukan bisa atau tidak.

Pertanyaannya: sampai kapan?

Ia menurunkan ritme.

Bukan karena takut.

Tapi karena ia tahu perbedaan antara berani dan bodoh.

Tekniknya berubah total.

Lebih banyak body positioning, memindahkan beban tubuh agar bahu tidak bekerja sendirian. Ia menggunakan paha dan inti tubuh untuk menopang tekanan saat pengereman.

Masuk tikungan, ia menahan sudut lebih kecil.

Keluar tikungan, ia menunggu motor benar-benar tegak sebelum gas penuh.

Semua itu membuatnya… lambat.

Satu per satu pembalap menyalip.

Di dalam helm, pikirannya mulai gaduh.

Michael muncul.

Dulu kau akan memaksa.

Dulu kau tidak peduli hancur atau tidak.

Julian menelan ludah.

“Aku bukan dia lagi,” gumamnya.

Lap ke-14.

Rasa sakit makin nyata.

Bahu terasa panas, berat, seperti diisi timah.

Setiap koreksi kecil terasa mahal.

Julian punya pilihan:

Bertahan sampai finis—dapat poin kecil, tapi risiko cedera lebih parah.

Masuk pit—DNF, tanpa poin, tanpa sorotan.

Tangannya gemetar di gas.

Dan untuk pertama kalinya sejak terlahir kembali…

Julian ragu.

Ia melihat papan pit.

Tulisan sederhana dari Marco:

LISTEN TO YOUR BODY.

Julian menghela napas panjang.

Dan ia membelok ke pit lane.

Helm dilepas.

Sunyi.

Tidak ada kemarahan. Tidak ada drama.

Hanya kelelahan yang menekan dada.

Dokter tim memeriksa bahunya.

“Overuse injury,” katanya. “Kalau dipaksa, bisa robek serius.”

Julian mengangguk pelan.

Ia sudah tahu jawabannya sebelum bertanya.

Malam itu, ia duduk sendirian di kamar hotel.

Tidak membuka ponsel.

Tidak membaca berita.

Ia hanya menatap bahunya yang dibalut.

Untuk pertama kalinya, ia merasa… kecil.

“Apa aku salah pilih?” tanyanya pelan.

Tidak pada siapa pun.

Clara datang tanpa mengetuk.

Ia duduk di lantai, bersandar ke dinding.

“Kau kecewa,” katanya.

Julian tertawa kecil. “Aku takut.”

Clara menoleh. “Takut apa?”

“Takut… kalau aku tidak sekuat yang kupikir.”

Clara diam sejenak.

Lalu berkata, “Kekuatan bukan soal terus jalan. Tapi tahu kapan berhenti sebelum kau hancur.”

Julian memejamkan mata.

Kata-kata itu masuk lebih dalam dari yang ia duga.

Panggilan dari rumah datang malam itu.

Eleanor tidak bertanya soal hasil.

Ia hanya berkata, “Istirahatlah.”

Richard menambahkan, “Balapan bisa menunggu. Kau tidak.”

Julian menutup telepon dengan tenggorokan tercekat.

Di dunia lamanya, tidak ada yang berkata seperti itu.

Cedera itu tidak mengakhiri musimnya.

Tapi ia mengakhiri sesuatu yang lain.

Keinginan lama untuk selalu membuktikan diri dengan mengorbankan segalanya.

Di keheningan malam, Julian menyadari satu hal:

Jika ia ingin melaju lebih jauh…

ia harus belajar menjaga diri, bukan melawannya.

..

.

.

.

CHAPTER 16

Pemulihan selalu terasa lebih lama bagi orang yang terbiasa bergerak.

Julian menyadarinya di hari ketiga setelah cedera.

Tidak ada suara mesin.

Tidak ada jadwal lintasan.

Hanya pagi yang datang terlalu pelan.

Ia duduk di teras rumah keluarganya di Inggris—rumah besar yang dulu terasa asing, kini mulai terasa… tenang. Angin pagi menyentuh wajahnya, membawa aroma rumput basah dan kopi dari dalam rumah.

Lengannya masih dibalut. Bahu kanannya terasa kaku, tapi tidak lagi berdenyut.

Dokter bilang: enam minggu tanpa balap.

Boleh latihan ringan.

Boleh hidup normal.

Hidup normal.

Julian tersenyum kecil.

Ia hampir lupa seperti apa rasanya.

Ia kembali ke kampus seminggu kemudian.

Bukan sebagai pembalap Moto2.

Tapi sebagai mahasiswa Julian Ashford—anak tunggal keluarga konglomerat, datang dengan supir pribadi, mengenakan hoodie sederhana dan ransel hitam.

Di kelas, tidak ada yang membicarakan balapan.

Mereka membicarakan teori ekonomi global, properti lintas negara, dan pasar perbankan—dunia yang dibangun orang tuanya sejak lama.

Julian mendengarkan.

Dan untuk pertama kalinya…

ia menikmatinya.

Bukan karena ingin menggantikan balapan.

Tapi karena ia sadar: hidupnya tidak harus satu jalur.

Sore itu, ia duduk di perpustakaan kampus.

Buku terbuka. Pikiran tenang.

Seseorang duduk di depannya tanpa suara.

“Julian?”

Ia mengangkat kepala.

Seorang perempuan dengan rambut cokelat gelap, kacamata tipis, dan senyum yang tidak dibuat-buat.

“Aku Clara,” katanya. “Bukan dari paddock. Dari kelas statistik global. Kita pernah sekelompok.”

Julian mengernyit… lalu tertawa kecil. “Oh. Clara versi tanpa headset dan tablet.”

Clara tersenyum. “Kau kelihatan lebih manusia tanpa racing suit.”

Julian menutup bukunya. “Dan kau lebih santai tanpa pit wall.”

Mereka tertawa kecil.

Tidak canggung.

Tidak dibuat-buat.

Mereka mulai sering duduk bersama.

Tidak selalu bicara.

Kadang hanya belajar.

Kadang berdebat ringan.

Kadang membahas hal-hal bodoh—film, makanan, perjalanan.

Julian tidak menceritakan dua kehidupannya.

Tidak menceritakan Michael.

Tapi Clara melihat sesuatu.

“Kau selalu kelihatan seperti sedang menimbang dua pilihan,” katanya suatu sore.

Julian terdiam sejenak. “Mungkin karena aku terbiasa hidup di lintasan.”

Clara menatapnya lembut. “Kau tahu… hidup bukan time attack.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi Julian membawanya pulang.

Latihan fisik dimulai perlahan.

Bukan lari keras.

Bukan angkat berat ekstrem.

Fisioterapi.

Mobilitas bahu.

Latihan inti.

Julian belajar sabar secara fisik—sesuatu yang tidak pernah ia miliki sebagai Michael.

Setiap gerakan terasa seperti dialog dengan tubuhnya sendiri.

Apakah ini cukup?

Atau terlalu memaksa?

Ia mulai mendengarkan.

Suatu malam, Clara mengirim pesan.

Aku di taman kampus. Lagi butuh udara. Kalau kau mau.

Julian datang.

Mereka duduk di bangku, memandang lampu-lampu kota dari kejauhan.

“Balapan itu… segalanya ya?” tanya Clara pelan.

Julian berpikir lama sebelum menjawab.

“Dulu iya,” katanya jujur. “Sekarang… itu bagian besar. Tapi bukan satu-satunya.”

Clara tersenyum. “Bagus.”

“Kenapa?”

“Karena orang yang cuma punya satu dunia… hancur kalau dunia itu goyah.”

Julian menatap langit.

Ia tahu betul rasanya.

Beberapa minggu kemudian, bahunya membaik.

Bukan sempurna.

Tapi kuat.

Julian kembali ke simulator.

Gerakannya berbeda.

Lebih hemat.

Lebih presisi.

Ia tidak lagi melawan motor.

Ia berdialog dengannya.

Marco memperhatikan dari belakang.

“Kau berubah,” katanya.

Julian mengangguk. “Aku belajar berhenti.”

Marco tersenyum tipis. “Itu yang bikin pembalap panjang umur.”

Di kamar malam itu, Julian membuka helmnya.

Ia tidak merasa terburu-buru lagi.

Moto2 masih menunggu.

Lintasan masih ada.

Rival masih lapar.

Tapi sekarang…

ia punya sesuatu yang dulu tidak pernah ia miliki.

Keseimbangan.

Dan entah kenapa, pikiran tentang Clara—tentang tawa kecil di perpustakaan, tentang bangku taman—memberi rasa hangat yang tidak pernah ia temukan di kecepatan 300 km/jam.

Julian menyadari satu hal:

Ia tidak melambat.

Ia sedang membangun versi dirinya yang tidak mudah hancur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!