"Ambil, ambillah dia! Aku ikhlaskan dia untukmu."
Suara seorang wanita terdengar begitu nyaring ketika berada di depan rumah wanita yang menjadi selingkuhan suaminya.
Didepan keluarga besar sang pelakor dia tak gentar meski pun sendirian.
Hancur hati Arundari saat mengetahui bahwa gadis yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu tega menjadi duri dalam daging pada biduk rumahtangganya.
Tampilannya yang religius sungguh tidak berjalan lurus dengan perbuatannya.
Tak ingin sakit hati terlalu lama, Arundari memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya dengan Heri.
Apakah Arundari bisa kembali merasakan cinta setelah dirinya disakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Playing Victim 30
Seperti yang sudah direncanakan bahwa Heri dan Jelita datang secara terpisah. Heri datang lebih dulu sedangkan Jelita sepuluh menit setelahnya.
Ada sebuah pemandangan yang tidak diduga baik oleh Jelita maupun Heri yakni banyaknya awak media yang ada di sana. Ketika mereka datang, para pemburu berita itu langsung menyerbu.
"Kalian selingkuh ya?"
"Kok bisa sih, bukannya kamu ini temen baiknya Mbak Arun?"
"Mbak Jel, emang nggak ada pria lain ya sampai suami temen sendiri diembat."
Pertanyaan sejenis itu meluncur dari para wartawan kepada Jelita. Sedangkan kepada Heri, isi pertanyaannya pun berbeda. Dan ada yang sangat kasar sekali.
"Mas, kurang puas kah sama istrinya. Buset istrinya cantik lho kok tega-teganya diselingkuhi."
"Emang berbeda ya mas antara istri sama selingkuhan. Kurang baik apa coba istrinya. Baik mana cantik pula."
"Betul tuh, Mbak Arun tuh cantik lho Mas Heri. Nanti pasti nyesel. Eh sekarang paling juga udah nyesel sih."
Sungguh para wartawan sangat brutal dalam bertanya. Seolah mereka memang tidak mengharapkan jawaban dan hanya sekedar melontarkan pertanyaan.
Sesampainya di tempat penyidikan, Heri dan Jelita ditempatkan di ruangan yang berbeda. Mereka dihujani lebih dari sepuluh pertanyaan. Sekitar empat jam lamanya mereka berada di dalam dan akhirnya keluar bersama.
Baik Heri maupun Jelita melihat ke seluruh sudut tempat, namun apa yang mereka cari tidak ada.
Arundari, wanita itu yang mereka cari. Namun sosoknya sama sekali tidak ada, bahkan bayangannya pun juga tidak tampak.
Mata Heri memicing, kedua alisnya berkerut saat melihat seorang pria yang terasa familiar.
"Bukankah dia pengacara Arundari ya?" ucapnya lirih. Dengan langkah cepat Heri menghampiri Mirza yang hendak keluar dari kantor polisi.
"Tunggu!" Panggilnya seraya menepuk bahu Mirza.
"Anda memanggil saya?" sahut Mirza, ia menghentikan langkahnya dan menatap lekat ke arah Heri.
"Iya, kamu pengacaranya Arun kan? Dimana dia sekarang? Apa dia sudah ada di mobil, atau dimana?"
Wajah Heri seperti orang yang terburu-buru dan kebingungan ketika bertanya tentang Arundari. Pupil matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, nampak sangat tidak fokus.
"Maaf, nyonya tidak datang. Saya datang sebagai wakil dari Nyonya Arundari Ainunnisa. Ada keperluan apa Anda mencari Nyonya? Apa mungkin semua bukti yang sudah ditunjukkan terasa kurang sehingga Anda ingin menyangkal dan melapor balik?"
Heri langsung menggelengkan kepala dengan cepat. Semua tuntutan dari Arundari sangat jelas sampai-sampai dia terkejut dan tak bisa menyangkalnya.
Pun dengan jelita, wajahnya pucat pasi ketika keluar dari ruang penyidikan. Semua itu karena apa yang ditanyakan oleh pihak kepolisian adalah fakta yang terjadi di lapangan.
Bahkan sepanjang pertanyaan diberikan, Jelita hanya bisa membatin, "Kenapa semuanya bisa sampai sedetail ini?"
"Bukan, ini bukan soal itu. Ada yang perlu aku bicarakan dengan Arundari. Maka dari itu aku harus bertemu dengan dia,"jawab Heri.
Dia jelas tidak bisa membiarkan semua ini berjalan. Jika benar apa semua yang terjadi sekarang sampai ke pengadilan, maka dirinya akan hancur karena otomatis semua bukti akan ditampilkan dan pasti akan ada banyak pasang mata yang melihat.
Heri jelas tidak bisa membiarkan hal tersebut. Sehingga satu-satunya cara adalah menemui Arundari dan meminta mantan istrinya tersebut untuk mencabut gugatan.
"Memangnya apa tujuan Anda menemui beliau?" tanya Mirza, meski dia sudah tahu keinginan Heri tapi sebagai pengacara ia harus mengetahui secara jelas apa yang jadi tujuan pihak lawan.
Saat ini dimata hukum, Heri bersama dengan Jelita adalah lawan dari Arundari. Mirza yang merupakan kuasa hukum dari Arundari bak jendral perang yang harus melindungi tuannya dalam pertempuran tersebut.
"Ya aku mau bicara, kamu nggak perlu tahu,"ucap Heri. Agaknya dia masih belum mau membuka mulutnya.
"Lho Anda itu aneh, apa Anda lupa bahwa saya adalah kuasa hukum beliau. Apapun yang menyangkut beliau harus saya ketahui bahkan harus melalu saya,"sahut Mirza dengan tatapan tajam.
"Haaah oke. Aku mau ketemu Arundari. Aku ingin bicara dengan dengan dia untuk memintanya mencabut tuntutannya,"jawab Heri pada akhirnya.
Mirza menarik satu sudut bibirnya membentuk sebuah seringai tipis. Lalu berkata, "Mohon maaf, tapi nyonya saya sudah memastikan bahwa beliau tidak akan berdamai. Beliau akan tetap teguh membawa ini semua sampai mendapat keadilan yang beliau inginkan."
Jegleeeer
Heri sangat terkejut dengan jawaban Mirza. Tubuhnya seketika membeku, bahkan setelah Mirza melenggang pergi pun dia tetap berdiri terpaku disana.
Sedangkan Jelita, ia sama terkejutnya karena dirinya juga mendengarkan dengan jelas apa yang dikatakan oleh Mirza.
Dengan langkah yang lebar, Jelita menghampiri suaminya. Wajahnya yang lelah menjadi tampak semakin pucat.
"Mas, gimana ini Mas. A-aku nggak mau masuk penjara."
Sekarang Jelita benar-benar baru merasa takut sekarang. Bayangan jeruji besi yang menghantui pikirannya semenjak memasuki kantor polisi tak hilang juga. Padahal kemarin dia masih sangat berani dan sombong dalam menghadapi ucapan netizen.
"Aku juga nggak tahu. Aku juga bingung harus gimana. Kalau Arun nggak nyabut laporannya, kita berdua bener-bener bisa masuk penjara," jawab Heri sambil mengusap wajahnya kasar.
Keduanya terlihat sangat bingung. Mereka tidak tahu mesti berbuat apa. Dan setelah diam untuk beberapa saat, tiba-tiba Jelita berkata, "Ayo temui Mbak Arun di rumahnya. Ayo kita minta dia buat mencabut semua laporannya."
Heri langsung menatap Jelita, apa yang dikatakan oleh istrinya itu adalah sebuah usulan yang bagus. Hanya saja, apakah Arundari akan menerima kedatangan mereka atau tidak. Itulah yang merasuk dalam pikiran Heri.
"Nggak usah kebanyak mikir, Mas. Ayo kita kesana. Ayo kita minta Mbak Arun buat nggak nerusin kasus ini,"ucap Jelita menyadarkan lamunan Heri.
Heri pun menganggukkan kepalanya. Saat ini tidak ada waktu untuk banyak berpikir. Proses hukum berjalan dengan cepat, bahkan mungkin tak kurang dari dua minggu, sidan pertama akan digelar.
Keduanya keluar dengan buru-buru. Mereka tak lagi berpikir untuk keluar bergantian. Meski harus dihadang oleh awak media, baik Heri maupun Jelita sama sekali tidak peduli. Bagi mereka yang terpenting sekarang adalah segera pergi untuk menemui Arundari.
Benar-benar pola pikir mereka tidak ada yang benar satu pun. Tak pernah terbesit dari diri Jelita atau Heri bahwa mereka harus meminta maaf kepada Arundari. Tak pernah terpikirkan dalam diri mereka bahwa apa yang mereka lakukan merupakan sebuah kesalahan besar.
Yang memenuhi pikiran keduanya malah mendesak Arundari untuk mencabut laporan agar proses hukum tidak berlanjut.
Sungguh miris bukan, yang bersalah malah playing victim. Dimana hal sejenis sangat banyak ada di lingkungan sekitar kita.
Tersangka merasa tidak adil dan malah menyalahkan korban. Sungguh lucu.
TBC
Aku tunggu rencanamu Ady untuk ngerjain Jelita
jangan ngimpi bisa deketin Adyaksa, dia gak seperti si sampah Heri itu. kau emang cocoknya sama Heri 🤣