Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories
VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan
Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.
Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?
Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 31: Ikatan takdir [1]
...●◉◎◈◎◉●...
...#1 Original story [@clandestories]...
...#2 No Plagiatrism...
...#3 Polite and non-discriminatory comments...
...•...
...•...
...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...
Ruang kerja itu masih sama seperti terakhir kali mereka bongkar. Meja kayu besar dengan goresan halus di permukaannya, rak buku penuh map tua, dan tirai tebal yang setengah terbuka karena kemarin Kale bilang, “Sumpah ini kayak kantor villain.”
Zack langsung jongkok di depan meja, narik laci paling bawah yang kemarin mereka lewatin.
Seret.
Bunyinya agak berat, kayak jarang dibuka. Di dalamnya bukan cuma dokumen—ada kotak kayu kecil, warnanya gelap, dengan ukiran lambang Demar yang lebih detail dari yang ada di ruang tengah.
Saka langsung merapat. “Nah. Ini baru vibe rahasia keluarga.”
“Lo kalau ngomong vibe mulu, gue sumpel pake map,” Rakes nyengir.
Zack ngangkat kotaknya pelan dan naruh di atas meja. Nggak ada aura aneh, nggak ada angin tiba-tiba berhembus. Cuma lima orang yang otomatis lebih fokus.
Hamu udah siap buka laptop lagi. “Kalau itu ada kode atau tulisan aneh, gue scan.”
Zack buka penutupnya.
Di dalamnya ada beberapa lembar kertas tua, satu cincin perak dengan simbol kecil di bagian dalam, dan secarik catatan tulisan tangan.
Kale langsung ambil catatannya. “Gue baca, ya.”
Tulisan itu bukan bahasa kuno ribet. Justru sederhana. Isinya tentang “garis kedua” — jalur yang nggak tercatat di silsilah resmi. Tentang perjanjian cadangan antara Demar dan Bharata Jengga yang nggak pernah diumumkan karena dianggap pengkhianatan oleh Kartaswiraga.
Rakes yang tadinya santai langsung fokus. “Garis kedua… berarti memang ada jalur selain Raden Mahaniyan.”
“Artinya Evangelin Arkozia mungkin bunuh kunci utama,” Hamu nyambung cepat, “tapi bukan satu-satunya cara.”
Zack diem, ngeliat cincin itu.
Begitu jarinya nyentuh logamnya—
Dadanya langsung sesak sebentar.
Nggak sampai jatuh, nggak sampai dramatis. Cuma kayak jantungnya diseret satu detik lalu dilepas lagi.
Dia reflek narik tangan.
Kale langsung noleh. “Kenapa?”
“Bukan apa-apa,” Zack jawab cepat, tapi napasnya agak berat.
Rakes ngeliatin dengan tatapan yang sekarang lebih waspada daripada bercanda. “Reaksi?”
Zack ngangguk kecil. “Kayaknya.”
Saka mendekat, tapi masih santai. “Jangan bilang cincin itu password-nya.”
“Kalau ini butuh sidik jari pewaris, gue resign,” Rakes gumam.
Hamu ngambil salah satu lembar kertas. “Di sini ada simbol yang sama kayak di cincin. Ini bukan sekadar lambang keluarga. Ini kayak… penanda pengikat.”
“Pengikat apa?” Kale tanya.
Rakes jawab pelan, tapi kali ini nggak pakai istilah ribet. “Pengikat kutukan.”
Ruangan itu hening beberapa detik.
Zack duduk di kursi ayahnya, ngeliat kotak itu. Wajahnya nggak panik. Cuma lebih serius dari biasanya.
“Kalau ini pengikat,” katanya pelan, “berarti ini juga bisa jadi pemutus.”
Kale langsung angkat alis. “Optimis banget.”
“Gue capek jadi target doang,” Zack balas datar. “Kalau ada cara buat balik keadaan, gue pilih itu.”
Rakes nyengir tipis. “Nah, gitu dong. Baru cocok jadi keturunan Demar. Nggak cuma pasrah kayak tugas kelompok yang nilainya dibagi rata.”
Saka ketawa kecil. “Iya, minimal kalau lo kena kutukan, kena-nya stylish.”
Zack lempar kertas ke arah Saka. “Gue sumpah, kalau gue berubah jadi monster sejarah atau apapun itu, lo yang pertama gue kejar.”
“Wah, prioritas banget. Terharu gue.”
Hamu nutup laptopnya pelan. “Oke, bercanda boleh. Tapi ini jelas: ada jalur kedua. Dan kemungkinan besar, itu yang belum dihancurin.”
Rakes nyandar ke meja, tangannya disilangkan. “Berarti tujuan kita bukan cuma ngerti sejarah. Kita harus nemuin sisa perjanjiannya.”
Kale nengok ke Zack. “Lo kuat?”
Zack ambil napas panjang, kali ini lebih stabil. “Gue masih berdiri. Berarti masih kuat.”
Nggak ada deklarasi heroik. Nggak ada sumpah dramatis.
Cuma lima mahasiswa yang sadar kalau mereka baru nemuin potongan penting, dan permainan sejarah ini ternyata belum selesai.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini kebuka—
Kutukan itu nggak terasa kayak vonis.
Tapi kayak tantangan.
Mereka tidak langsung bergerak. Bukan karena ragu, tapi karena semua orang secara alami melakukan hal yang sama setiap kali sesuatu terasa terlalu penting: diam sebentar, memastikan kepala masing-masing masih waras.
Zack masih duduk di kursi itu, kursi yang kemarin juga ia duduki, kursi yang sudah tidak terasa asing. Ia memutar cincin perak itu di ujung jarinya tanpa memakainya, seperti menimbang beratnya saja sudah cukup untuk membaca maknanya. Dadanya sudah kembali normal, tapi ada sensasi hangat yang tertinggal, samar dan menetap, seperti bekas sentuhan yang tidak sepenuhnya pergi.
Rakes berdiri di dekat jendela, menatap keluar tanpa benar-benar melihat apa pun. Di kepalanya, garis-garis lama yang selama ini tercerai mulai saling bertaut. Ia tidak lagi marah seperti semalam, tidak juga tenang. Yang ada hanya kewaspadaan penuh, jenis kewaspadaan yang biasanya muncul ketika seseorang sadar bahwa pilihan ke depan tidak lagi hitam dan putih.
Saka memeriksa ulang kertas-kertas itu satu per satu, lebih karena ingin memastikan tidak ada yang terlewat daripada benar-benar berharap menemukan sesuatu yang baru. Kale menyandarkan punggung ke rak buku, tangan disilangkan, ekspresinya berpikir keras. Hamu sudah menutup laptop, sesuatu yang jarang ia lakukan kecuali ia merasa analisis logis saja tidak cukup.
“Kalau ini jalur kedua,” Kale akhirnya buka suara, nadanya santai tapi matanya serius, “berarti cerita yang kita tahu selama ini cuma setengah.”
Rakes mengangguk pelan. Ia tidak menjawab langsung, seolah memastikan dulu amarah Kartaswiraga di dalam dirinya tetap terjaga, tidak bocor ke luar. Ada dorongan lama untuk menghancurkan, untuk menyalahkan, untuk mengutuk nama-nama leluhur yang membuat semua ini berantakan. Tapi ia menekannya. Kali ini, ia memilih berpikir.
Zack berdiri, mendorong kursi itu pelan ke bawah meja. Gerakannya tenang, hampir terlalu tenang. Tidak ada sisa kepanikan seperti malam di asrama, tidak ada napas terengah. Hanya sikap seseorang yang mulai menyadari bahwa tubuhnya menyimpan lebih banyak cerita daripada yang ia kira.
Ia berjalan mendekat ke meja, menatap kembali kotak kayu itu. Tangannya tidak menyentuh apa pun kali ini. Ia hanya berdiri di sana, cukup dekat untuk merasakan keberadaannya.
Di dalam dirinya, sesuatu bergerak. Bukan ledakan, bukan rasa sakit. Lebih seperti pintu yang mulai terbuka perlahan, membiarkan cahaya tipis masuk ke ruangan lama yang selama ini terkunci. Potongan-potongan ingatan yang bukan sepenuhnya miliknya berkelebat sebentar—simbol, tanah yang retak, suara langkah di lorong batu. Tidak jelas, tidak utuh, tapi cukup untuk membuatnya sadar: kutukan itu tidak lagi diam.
Dan semakin ia hidup, semakin ia berjalan ke depan, semakin kutukan itu bekerja.
“Gue nggak kenapa-kenapa,” katanya tiba-tiba, memotong keheningan. “Kalau kalian mikir gue bakal tumbang lagi, nggak sekarang.”
Rakes menoleh, menatapnya tajam sesaat, lalu mendengus kecil. “Bagus. Gue males gendong orang.”
Saka melirik. “Padahal kemarin lo heroik.”
“Heroik itu mahal. Capek.”
Hamu menghela napas kecil, hampir seperti tertawa. Ketegangan ruangan itu mereda sedikit, cukup untuk memberi ruang bernapas. Tidak ada yang tertawa keras, tapi ada kesadaran bersama bahwa mereka masih manusia biasa—mahasiswa dengan jadwal kuliah, tugas, dan hidup yang seharusnya normal.
Normal yang jelas sudah lewat jauh.
Rakes akhirnya menjauh dari jendela dan mendekat ke meja. Ia berdiri sejajar dengan Zack. Untuk sesaat, naluri Kartaswiraga di dalam dirinya bergetar, merasakan resonansi yang sama. Dua garis yang seharusnya tidak bersinggungan, kini berdiri terlalu dekat.
Ia menahan diri.
“Kita nggak lanjut sekarang,” katanya tegas. “Bukan karena takut. Tapi karena kita perlu kepala dingin.”
Kale mengangguk setuju. “Dan tidur. Gue bisnis, bukan prajurit sejarah.”
“Setuju,” Saka menimpali. “Gue masih punya kelas besok. Dunia boleh runtuh, tapi dosen fashion tetap galak.”
Zack tersenyum tipis. Senyum kecil, tapi nyata. “Berarti kita balik ke rutinitas dulu.”
Rakes meliriknya sekilas. “Rutinitas versi kita.”
Mereka mulai merapikan kembali dokumen, menutup kotak kayu itu seperti kemarin—tidak terkunci, tapi juga tidak dibiarkan terbuka. Tidak ada perasaan ‘ini akhir’. Justru sebaliknya.
Saat mereka melangkah keluar dari ruang kerja itu, Zack berjalan sedikit lebih lambat dari biasanya. Setiap langkah terasa membawa gema halus, seolah tanah di bawah kakinya mengingat sesuatu tentang dirinya.
Kutukan itu belum memakan habis inangnya.
Tapi ia sudah mulai memperkenalkan diri.
Dan Zack, tanpa sadar, sedang bergerak menuju masa lalu tiga kerajaan yaitu Demar, Kartaswiraga, dan Bharata Jengga bukan sebagai penonton, melainkan sebagai bagian yang tidak bisa lagi diabaikan.
................
Pagi berikutnya berjalan seperti pagi mahasiswa pada umumnya, yang artinya tetap kacau tapi terstruktur. Alarm bunyi, dimatikan. Bunyi lagi, dimatikan lagi. Dunia tidak runtuh, kutukan tidak meledak, dan matahari tetap naik tanpa peduli sejarah ribuan tahun yang menggantung di pundak beberapa orang yang bahkan belum lulus kuliah.
Asrama kembali dipenuhi suara langkah, pintu kamar dibuka-tutup, dan aroma kopi instan yang entah kenapa selalu terasa terlalu pahit. Zack berdiri di depan wastafel, menatap pantulan wajahnya sendiri. Tidak ada tanda fisik apa pun. Tidak ada perubahan warna mata, tidak ada simbol muncul di kulit. Ia masih Zack yang sama—mahasiswa kedokteran dengan lingkar mata tipis karena kurang tidur dan kepala penuh teori yang tidak ada hubungannya dengan kerajaan kuno.
Namun ada satu perbedaan kecil.
Ia lebih sadar pada tubuhnya sendiri. Setiap tarikan napas, setiap detak jantung, terasa lebih nyata. Bukan menakutkan, hanya… terasa.
Di luar kamar, Kale sudah ribut sendiri karena kemejanya kusut. “Gue serius nanya, kenapa baju yang disetrika malam selalu keliatan kusut pas pagi?”
“Karena itu hukum alam,” jawab Rakes sambil duduk di tepi tempat tidur, sepatunya belum terpakai. “Kayak hukum sebab-akibat. Lo tidur, baju dendam.”
Saka lewat sambil membawa tote bag besar. “Makanya fashion itu soal kompromi. Kusut juga bisa jadi konsep.”
Kale menatapnya datar. “Lo ngomong gitu karena lo jurusan fashion.”
“Dan lo ngomel karena lo bisnis.”
Hamu muncul terakhir, rambutnya masih agak berantakan, membawa laptop di bawah lengan. “Kalian berisik banget buat orang-orang yang katanya hidupnya lagi bersinggungan sama kutukan.”
“Justru karena itu,” Rakes berdiri dan meraih jaketnya, “kalau kita terlalu serius, kita kalah duluan.”
Zack keluar kamar, menyusul mereka. Tidak ada yang menatapnya dengan tatapan aneh. Tidak ada yang bertanya apakah ia baik-baik saja. Dan entah kenapa, itu terasa menenangkan. Ia tidak ingin diperlakukan seperti bom waktu.
Mereka berjalan keluar asrama seperti biasa, menyatu dengan kerumunan mahasiswa lain. Ada yang berlari karena hampir telat, ada yang tertawa keras, ada yang masih setengah tidur. Dunia tetap berjalan, dan itu memberi ilusi aman yang aneh tapi dibutuhkan.
Di tengah langkah itu, Zack merasakan sesuatu lagi. Bukan rasa sakit. Bukan sesak napas. Lebih seperti tarikan halus ke arah yang tidak ia lihat. Ingatan yang bukan ingatan. Nama-nama yang tidak pernah ia pelajari secara resmi, tapi terasa akrab. Demar. Kartaswiraga. Bharata Jengga.
Ia menggeleng kecil, seperti mengusir pikiran sendiri.
Rakes menangkap gerakan itu dari samping. Ia tidak bertanya. Ia hanya memperlambat langkahnya sedikit, memastikan jaraknya tidak terlalu jauh. Nalurinya tetap berjaga, tapi kini ia lebih terkendali. Amarah keturunan Kartaswiraga itu masih ada, berdenyut pelan di dada, menuntut tindakan, menuntut pembalasan atas sejarah yang dipotong paksa.
Namun untuk saat ini, ia memilih menahannya.
Karena ia tahu satu hal yang jelas.
Kutukan itu tidak bekerja dengan tergesa-gesa. Ia bekerja dengan waktu. Dengan ingatan. Dengan membuka satu lapisan demi satu lapisan sampai inangnya tidak bisa lagi berpura-pura tidak tahu.
Dan Zack… sudah mulai bergerak.
Bukan dengan ritual. Bukan dengan simbol atau darah.
Tapi dengan hidupnya sendiri, dengan langkah-langkah kecil yang membawanya semakin dekat pada masa lalu yang selama ini terkubur.
Hari itu, mereka berpisah di persimpangan kampus masing-masing. Zack menuju gedung kedokteran, Kale ke fakultas bisnis. Hamu, Rakes, dan Saka berjalan ke arah berbeda lagi. Tidak ada perpisahan dramatis. Tidak ada pesan peringatan.
Hanya satu kalimat ringan dari Rakes sebelum mereka berpisah, nadanya santai tapi matanya tajam.
“Jangan sok kuat.”
Zack nyengir. “Tenang. Gue kedokteran.”
“Justru itu yang bikin gue khawatir.”
Dan mereka pun berjalan ke arah masing-masing, membawa rutinitas, membawa beban, membawa sejarah yang pelan-pelan bangun dari tidur panjangnya.
Kutukan itu belum menyerang sepenuhnya.
Tapi ia sudah memastikan satu hal:
Zack tidak akan bisa mundur lagi.
Hari berjalan tanpa kejadian aneh yang bisa dijadikan alarm bahaya. Tidak ada pingsan mendadak di lorong kampus, tidak ada simbol misterius muncul di lengan Zack saat praktikum, dan yang paling penting, tidak ada panggilan darurat dari siapa pun. Justru itulah yang membuat semuanya terasa ganjil.
Zack menyelesaikan kelasnya dengan cukup normal. Ia mencatat, menjawab pertanyaan dosen, bahkan ikut tertawa ketika seorang teman salah menyebut istilah medis dengan percaya diri penuh. Dari luar, ia tampak seperti mahasiswa kedokteran biasa. Dari dalam, ia merasakan ritme tubuhnya sedikit berbeda, seperti ada sesuatu yang belajar menyesuaikan diri dengan keberadaannya, bukan melawannya.
Saat sore menjelang, langkahnya melambat tanpa ia sadari. Bukan karena lelah, melainkan karena pikirannya kembali berputar ke arah yang sama seperti semalam. Kotak kayu. Cincin perak. Jalur kedua. Ia tidak memaksakan diri mencari makna. Ia hanya membiarkan pikiran itu ada, seperti bayangan yang tidak mengganggu tapi juga tidak bisa diusir.
Di sisi lain kampus, Rakes duduk di tangga gedung fakultas hukum, menunggu jam kelas berikutnya. Tangannya terlipat, tatapannya kosong tapi tajam. Ia sudah lama mengenali pola ini dalam dirinya. Saat amarah Kartaswiraga mulai menguat, pikirannya justru menjadi lebih tenang, lebih dingin. Bukan karena damai, melainkan karena ia sedang mengunci sesuatu di dalam.
Ia tahu betul, amarah itu bukan sekadar emosi. Itu dorongan lama, warisan yang tidak pernah benar-benar mati. Dorongan untuk meluruskan, untuk menuntut balasan, untuk memastikan tidak ada lagi garis keturunan yang dipotong seenaknya oleh keputusan leluhur yang merasa dirinya paling benar.
Dan kali ini, amarah itu menemukan sasaran yang nyata.
Bukan Zack. Bukan Saka. Melainkan kebenaran yang sengaja disembunyikan.
Saka sendiri menghabiskan sore di studio kampus, tenggelam di antara kain dan sketsa. Tangannya bergerak cepat, seolah ide-ide itu tidak ingin menunggu. Tanpa ia sadari, pola yang ia gambar mulai berulang. Garis melingkar. Simetri yang saling mengunci. Ia berhenti sejenak, menatap hasilnya, lalu menghela napas kecil.
“Kenapa sih tangan gue begini,” gumamnya, lalu menggeser kertas itu ke samping dan pura-pura tidak melihatnya lagi.
Hamu dan Kale bertemu lebih dulu di area kantin. Kale sudah duduk dengan minuman dingin di tangan, ekspresinya campur aduk antara lelah dan curiga.
“Gue masih nggak suka bagian sejarah hidup kita tiba-tiba lebih ribet dari laporan keuangan,” katanya.
Hamu duduk di seberangnya. “Setidaknya sejarah nggak minta presentasi kelompok.”
“Jangan nantangin.”
Menjelang malam, mereka berkumpul lagi di asrama. Tidak dengan suasana darurat, tidak dengan ekspresi tegang berlebihan. Justru seperti kebiasaan lama yang kembali ke relnya. Ada suara pintu dibanting karena kesal, ada debat receh soal siapa yang habisin stok minuman terakhir, ada tawa pendek yang muncul tanpa direncanakan.
Zack duduk di lantai, menyandarkan punggung ke tempat tidur. Ia terlihat lebih diam dari biasanya, tapi bukan murung. Lebih seperti seseorang yang sedang mendengarkan sesuatu yang belum bisa ia pahami sepenuhnya.
Rakes memperhatikannya dari kejauhan. Amarah itu masih ada, berdenyut pelan, tapi kini ia mengarahkannya ke satu keputusan sederhana.
Ia tidak akan membiarkan kutukan itu menang dengan cara lama.
Jika sejarah ingin terulang, ia akan menjadi orang yang mematahkan polanya. Bukan dengan kekerasan membabi buta, bukan dengan pengorbanan diam-diam yang tidak perlu.
Melainkan dengan kesadaran penuh.
Zack mengangkat kepala sedikit, menatap sekeliling, lalu berkata ringan, seolah tidak sedang membawa beban ribuan tahun di tubuhnya. “Kita jadi ke rumah gue lagi nanti, kan?”
Kale menghela napas. “Lagi? Rumah lo ini udah kayak basecamp.”
“Rumah sendiri dijadiin markas tuh level tanggung jawab dewasa,” Saka nyamber.
Rakes tersenyum kecil. “Selama nggak ada yang manggil gue ‘tuan besar’, gue aman.”
Hamu mengangguk pelan. “Kita ke sana. Bukan buat cari masalah. Tapi buat pastiin, kalau ada yang bangun, kita nggak buta.”
Zack menunduk sebentar, lalu mengangguk. Tidak ragu. Tidak juga berlebihan.
Kutukan itu terus bergerak. Perlahan. Konsisten.
Dan Zack, tanpa sadar, sudah berhenti melawan arah arusnya.
Ia memilih berjalan bersamanya.
...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...