Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.
Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta, Anak, dan Badai
Pintu ruang VIP nomor 302 di Rumah Sakit Medika Kota Flora terbuka dengan suara desis pelan yang memecah keheningan koridor.
Di dalam, suasana terasa begitu mendung. Cahaya lampu memantulkan wajah Bu Ratna yang tampak sangat lelah. Beliau sedang berusaha membujuk Keira, menyodorkan sesendok bubur yang kini sudah mulai dingin. Namun, gadis kecil itu tak bergeming, memalingkan wajahnya ke arah jendela dengan sorot mata yang hampa, seolah-olah seluruh semangat hidupnya telah terkuras habis.
Semua itu berubah dalam sepersekian detik ketika sosok Gisel muncul di ambang pintu.
"Mama?" suara kecil Keira bergetar, memecah kesunyian ruangan yang menyesakkan itu.
Mendengar panggilan itu, Gisel seolah melupakan seluruh rasa remuk di tubuhnya. Rasa nyeri yang masih membakar di pangkal pahanya dan denyut di kepalanya seolah lenyap seketika, kalah oleh tarikan batin seorang "ibu" yang baru saja lahir dari takdir yang aneh. Gisel berjalan mendekati brankar dengan langkah yang sebisa mungkin dibuat normal.
"Kakak di sini, Sayang..." Gisel merentangkan tangannya.
Seketika, senyuman manis merekah di wajah Keira. Sebuah pemandangan yang menurut dokter adalah kemustahilan tanpa bantuan medis. Keira langsung menghambur, menerjang masuk ke dalam pelukan Gisel.
Tangisannya pecah seketika; sebuah tangisan lega yang begitu dalam, menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. Gisel mendekap tubuh kecil itu erat-erat, membiarkan Keira menyembunyikan wajahnya di ceruk lehernya, menghirup aroma yang selama ini ia rindukan sebagai penenang jiwanya.
Bu Ratna menyaksikan pemandangan itu dengan mata yang berkaca-kaca. Sebagai seorang ibu, ia tahu bahwa ada sesuatu yang magis sedang terjadi. Namun, perhatiannya kemudian teralih pada Arlan yang berdiri mematung di belakang Gisel. Ia menyadari ada yang berbeda dari putranya. Bukan hanya bekas lebam dan luka kecil di rahangnya, tapi binar matanya terlihat suram, penuh dengan beban yang berat.
"Arlan... bagaimana caranya kamu bisa membawanya kemari?" bisik Bu Ratna saat mereka sedikit menjauh dari brankar dan duduk di sofa.
"Bagaimana keluarga gadis ini mengizinkannya?"
Arlan menarik napas panjang, menatap punggung Gisel yang sedang membisikkan kata-kata penenang untuk Keira.
"Aku menikahinya, Bu. Kemarin pagi, secara sah." Bu Ratna tertegun, seolah dunianya baru saja berputar di poros yang berbeda.
Ia menatap tak percaya ke arah Arlan. Sejak istrinya meninggal, Arlan telah menjadi pria yang kaku dan tertutup. Berkali-kali Bu Ratna menjodohkannya, memohon agar Arlan mencari sosok ibu untuk Keira, namun Arlan selalu menolak dengan alasan tak ingin ada orang asing yang masuk ke dalam hidup mereka. Tapi sekarang, Arlan membawa pulang seorang gadis belia dari tempat yang bahkan tak pernah ia ceritakan.
"Apa kamu dipaksa oleh keluarganya?" tebak Bu Ratna dengan nada cemas.
"Tidak, Bu. Tidak ada paksaan yang seperti Ibu bayangkan," jawab Arlan, meski hatinya mencelos mengingat "paksaan" obat dari Om Arman semalam.
"Ini semua demi Keira. Dan demi Gisel... agar tidak ada fitnah di antara kami. Aku ingin menjaganya dengan martabat yang benar."
Bu Ratna menatap Gisel kembali. Ia melihat bagaimana telatennya gadis itu yang kini mulai menyuapi Keira, sesendok demi sesendok, yang disambut dengan kepatuhan luar biasa oleh gadis kecilnya. Kelegaan yang nyata terpancar dari wajah sang nenek.
"Jika itu keputusanmu, Ibu tidak akan keberatan," ucap Bu Ratna lembut.
"Hidup itu harus terus berlanjut, Arlan. Kamu memang sudah waktunya berdamai dengan masa lalu. Tapi ingat, perlakukan Gisel dengan baik. Jangan jadikan dia sekadar 'obat' untuk Keira. Usahakan masa depan yang layak untuknya, karena dia telah menyerahkan masa mudanya untuk keluargamu."
Kehangatan itu mendadak robek memudar kala suara ketukan pintu yang nyaring dan tidak sabaran bergema. Tanpa menunggu izin, seorang wanita masuk dengan langkah angkuh. Ia mengenakan terusan bermerek yang pas di badan, diiringi aroma parfum menyengat yang seketika memenuhi ruangan, menyingkirkan aroma antiseptik yang steril. Nancy.
"Arlan! Oh Tuhan, apa yang terjadi dengan wajahmu? Siapa yang melakukannya?" Nancy berseru histeris, mencoba mendekat kearah Arlan.
Namun, langkah Nancy membeku saat matanya menangkap sosok Gisel. Ia melihat Gisel dengan tenangnya mengusap sisa bubur di bibir Keira menggunakan tisu basah. Nancy memicingkan mata, memindai Gisel dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan yang sarat akan penghinaan.
"Siapa gadis ini, Arlan? Kenapa dia bisa begitu lancang bersikap akrab dengan Keira?" tanya Nancy dengan nada yang menuntut penjelasan.
Gisel mendongak. Untuk pertama kalinya, ia berhadapan dengan wanita dari "kelas atas". Ia merasakan intimidasi yang dilayangkan Nancy; tatapan yang menganggap Gisel tak lebih dari debu yang tersesat.
Namun, Gisel yang tumbuh di kerasnya Jalan Bunga tidak mudah digertak. Alih-alih menciut, Gisel justru mengabaikan Nancy seolah wanita itu adalah angin lalu. Ia kembali fokus pada Keira, menepuk-nepuk punggung si kecil agar bersendawa.
"Dia istriku, Nancy."
Suara Arlan terdengar sangat dingin dan tajam,menggema di setiap sudut ruangan. Arlan melangkah maju, berdiri di samping Gisel seolah membentuk barikade.
"Namanya Gisella Amanda Bramantyo."
Seluruh ruangan mendadak senyap. Nancy ternganga, mulutnya sedikit terbuka tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Bu Ratna hanya bisa terdiam, sementara Gisel... Gisel menatap Arlan dengan perasaan yang berkecamuk.
Di satu sisi, ia bersyukur Arlan membelanya. Di sisi lain, nama "Bramantyo" yang disematkan di belakang namanya terasa seperti rantai baru yang semakin kencang mengikatnya pada laki-laki yang sekarang berstatus suaminya.
"Kamu... kamu pasti sedang bercanda, kan? Arlan, ini tidak lucu," Nancy mencoba tertawa, namun suaranya terdengar sumbang.
"Aku tidak pernah bercanda soal komitmen," jawab Arlan singkat dan tanpa ampun.
"Benar, Nancy. Mereka sudah menikah secara sah," Bu Ratna akhirnya menimpali, mencoba meredam ketegangan meski suaranya terdengar canggung.
"Dan Tante setuju? Begitu saja?" suara Nancy meninggi.
"Apa Tante tahu latar belakang gadis ini? Kenapa Arlan memilihnya? Apa yang bisa diberikan oleh bocah yang bahkan belum dewasa ini selain masalah? Lihat penampilannya, Arlan! Dia tidak pantas berada di sisimu!"
"Apapun latar belakangnya, kenyataan bahwa Gisel adalah istriku tidak akan berubah karena pendapatmu, Nancy," potong Arlan tajam.
"Lalu aku bagaimana?! Selama ini aku selalu ada di sampingmu! Aku bahkan rela merendahkan diriku untuk mengambil hati Keira yang sulit itu! Apa pengabdianku selama ini tidak pernah ada artinya di matamu?"
"Nancy, dengarkan baik-baik," Arlan menatap Nancy dengan tatapan datar.
"Selama ini aku hanya memperlakukanmu sama seperti aku memperlakukan Rey, sebagai rekan dan teman lama. Jika kamu mengharapkan lebih, itu adalah kesalahanmu sendiri."
Nancy tertawa miris, sebuah tawa putus asa yang cukup keras hingga membuat Keira yang hampir terlelap kembali membuka matanya dengan terkejut. Gisel segera mendekap Keira lebih erat, membisikkan nyanyian kecil agar anak itu tidak ketakutan mendengar pertengkaran orang dewasa.
Melihat anaknya terganggu, kemarahan Arlan memuncak.
"Pergilah, Nancy. Kamu sudah mengganggu waktu istirahat Keira."
Dengan mata yang memerah karena amarah dan malu, Nancy menghentakkan kakinya. Ia pergi meninggalkan ruangan itu, menyisakan aroma parfumnya yang kian memuakkan.
Bu Ratna mengembuskan napas berat, menyadari bahwa pernikahan ini akan menjadi awal dari badai sosial yang lebih besar di Kota Flora.
Sementara Gisel menunduk, menatap wajah Keira yang sudah kembali terpejam. Di dalam hatinya, ia menyadari satu hal: Jalan Bunga mungkin keras karena tinju dan kemiskinan, tapi dunia Arlan jauh lebih kejam karena kasta dan kebencian yang terselubung dalam kemewahan. Dan kini, ia telah terjun sepenuhnya ke dalam sana.
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏