Pernikahan Amel yang sudah di depan mata itu mendadak batal karena calon suaminya terjebak cinta satu malam dengan perempuan lain. Demi untuk menutupi rasa malunya akhirnya Amel bersedia dinikahi oleh pria yang baru dikenalnya di acara pernikahannya tersebut. Revan yang bekerja sebagai hacker itu akhirnya menjadi suami Amel. Serba-serbi unik dua manusia asing yang terikat dalam hubungan pernikahan itu membuat warna tersendiri pada kehidupan keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Salah paham
Revan mendorong tubuh Amel dengan lembut, lalu mengungkung badan kecil itu. Revan tak membiarkan Amel bernafas, dia menyerang bibir Amel lagi.
"Ughh..." Amel mendesah pelan saat bibir Revan mengakuisisi bibirnya dengan rakus.
Lalu tangan Revan menjelajah kemana-mana, penasaran dengan barang empuk yang bentuknya bulat sempurna itu, meskipun kecil tapi dari luar baju terlihat masih kencang dan indah.
"Van..." parau Amel memanggil Revan.
Revan semakin terpacu, sampai usianya yang sekarang tak sekalipun Revan melakukan hal sampai sejauh itu, hanya ciuman saja tak lebih dari itu.
Jadi ketika ada yang halal di depan mata dan perasaan mereka sudah terbilang sama, maka Revan pun langsung mempraktekkan apa yang ada di kepalanya sejak lama.
Revan bangkit dan melepas kaosnya dengan seksi dan melemparkan ke sembarang tempat.
Amel meneguk air liurnya melihat Revan seseksi itu, dan Amel memilih memejamkan matanya saat Revan kembali menindihnya.
Saat mereka sedang berada di puncak gairah dan Revan hendak meloloskan satu-satunya penghalang berbentuk segitiga di bawah sana.
Tapi tangan itu ditahan oleh Amel yang langsung membuka matanya lebar.
"Van, tunggu! Kayaknya aku dapet!" Amel.berlari ke kamar mandi sambil menarik selimut yang biasa dipakai oleh Revan untuk membungkus tubuhnya yang hampir polos itu.
Revan melongo saat melihat Amel justru berlari meninggalkannya. Revan menatap nelangsa adik kecilnya yang sudah tegak menantang itu.
Amel kembali lagi dengan muka malunya melihat Revan sevulgar itu di depannya.
Revan menarik tangan Amel pelan tapi Amel mempertahankan diri. "Aku lagi dapet!" ucap Amel lirih.
"Dapet apaan?" tanya Revan bingung.
"Aku lagi menss!" jawab Amel masih dengan suara pelan. Revan melotot lalu bahunya melemah dan serta merta adiknya langsung lunglai lagi. Revan gagal lagi unboxing Amel.
"Maaf ya!" bisik Amel.
"Nggak papa, Ney! Namanya juga lagi dapet ujian buat bisa nahan diri lagi!" Revan mencoba tersenyum tipis.
Revan kan tidak mungkin menyalahkan Amel atas apa yang terjadi, dia bukan Tuhan yang bisa mendatangkan dan menolak hal yang seperti itu.
Mereka memakai bajunya lagi dan memilih melanjutkan aktivitas masak mereka yang sempat tertunda.
"Yah...telurnya gosong!" bisik Amel kepada wajan anti lengket yang di atasnya ada telur dadar yang bentukannya sudah sangat hitam dan terbakar.
Amel membuang telur itu dan hendak memecahkan telur lagi saat ponsel yang tergeletak di meja ruang tamu sana berbunyi.
Amel mengambil ponselnya dan membuka notifikasi chat yang masuk dari nomor Sasi.
Sebuah undangan lengkap dengan captionnya tertulis di sana. Mantan lo akhirnya nikah juga sama si Kuntilanak!
Amel melempar ponselnya itu dengan kesal. Kalian paham kan hormon perempuan yang sedang datang bulan itu seperti apa?
Warna putih saja bisa berubah menjadi hitam, yang manis bisa jadi pahit begitu juga sebaliknya.
"Kenapa, Ney?" tanya Revan penasaran.
"Nggak papa!" jawab Amel.ketus.
Revan mengeryit pelan lalu memilih tak ingin menambahi emosi istrinya itu.
Hidangan yang sempat terjeda tadi akhirnya tersaji di atas meja. "Makasih, Ney!" bisik Revan sambil meredakan debaran jantungnya yang menggila.
Tiba-tiba Revan teringat mamanya. Dulu sekali mamanya sering memasakkan Revan menu makanan itu tapi...Revan mengusir ingatan itu. Revan tak ingin mengingat masa itu, masa yang mania tapi juga menyakitkan.
Mereka makan dalam diam lalu bunyi ponsel Amel kembali terdengar. Sasi kembali menghubunginya kali dengan mode panggilan telepon.
"Kenapa sih, Si?!" tanya Amel ketus.
"Aelah gitu amat jawabnya! Jangan bilang lo bete karena undangan itu ya?!" tebak Sasi.
"Nggak! Siapa yang bete?!" sergah Amel dengan kening berkerut.
"Mantan dibuang aja, Mel! Orang kayak gitu nggak penting buat ditangisin, biarin aja mereka nikah, tong sampah kan memang cocoknya sama sampahnya!" tegur Sasi pelan.
Amel hanya terdiam tanpa berniat membalas ucapan Sasi tersebut. Amel tak tahu kalau pembicaraannya dengan Sasi bisa didengar oleh Revan.
Revan sakit hati dan memilih masuk lagi ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian.
"Mau kemana?" tanya Amel penasaran.
"Keluar dulu, disini auranya panas!" jawab Revan.
Amel melongo mendengar jawaban Revan yang terdengar dingin dan tak bersahabat itu.
Raungan motor Revan terdengar lalu melaju dengan kecepatan tinggi lalu meninggalkan rumah.
Amel pun mengedikkan bahu dan memilih bersiap-siap untuk pergi ke tokonya.
Amel melajukan mobilnya menuju ke toko, selama perjalanan itu Amel memikirkan perubahan sikap Revan yang tiba-tiba tadi.
"Aneh, gue kan emang lagi dapet, dikira bohong-bohongan apa!" omel Amel kepada kemudinya.
Sampai di tokonya, toko itu terlihat ramai dan banyak pengunjung yang datang untuk berbelanja di sana.
Amel menyapa beberapa karyawannya yang mendapat jatah masuk pagi. Setelah itu Amel masuk ke ruangannya.
Disana sudah ada Sasi yang menatapnya dengan horor. "Kenapa lo?!" tanya Amel sambil duduk di kursinya.
"Lo beneran belum move on, Mel?!" tuduh Sasi dengan galak.
"Siapa yang belum move on sih?!" Amel balas menatap Sasi galak.
"Terus kenapa lo terlihat kusut gitu?"
"Gue lagi dapet, Si! Lo tahu kan mood gue kayak gimana kalau gue lagi dapet? Mana tadi Revan juga kayaknya marah karena kita nggak jadi..." Amel buru-buri menutup mulutnya saat dia hendak berkata jujur tentang aktivitas tadi pagi yang gagal.
"Hah? Secepat itu kalian mau lepas status priwin sama pirjiki kalian?" tanya Sasi kaget.
"Pernikahan gue ama Revan udah tercatat di negara. Revan juga udah nafkahi gue kemarin, bukankah kewajiban gue menjalankan tugas sebagai seorang istri yang baik?" Amel bergumam.
"Ya tapi gue pikir kalian pacaran dulu atau pengenalan dulu lebih lama lagi!" ucap Sasi.
Amel tersenyum lalu kembali teringat sama Revan yang tadi terlihat marah karena mereka melakukan hal itu.
"Kenapa lo?!" tanya Sasi curiga.
"Kayaknya Revan marah deh karena tadi kita nggak jadi melakukan ritual pertama kami!" jawab Amel.
"Kenapa marah? Lo kan nggak bisa minta ke datang bulan lo suruh pergi dulu bentar, nanti datang lagi kalau kalian udah selesai enak-enak!" ucap Sasi santai.
"Ngaco ih!" ucap Amel kesal.
"Lagian aneh, masak kayak gitu aja diambekin! Dia boleh ngambek kalau lo selingkuh atau lo belum move on dari Doni!"
"Si, tunggu deh! Apa gara-gara dia ngedengerin kita ngobrol tadi terus dia marah, soalnya sebelum lo telepon gue, dia biasa-biasa aja lho!"
"Nah lo, nah lo!" Sasi ikut bingung.
"Gimana dong kalau dia marah karena ngedengerin obrolan kita tadi, dikira gue belum move on!" Amel menggigiti kukunya.
"Buruan teleponin jelasin permasalahanya!" perintah Sasi.
Amel langsung mencari ponselnya di dalam tas dan menghubungi Revan, tapi sampai panggilan ke empat telepon Amel tak direspon oleh Revan.
"Gimana kalau dia beneran marah ama gue?" bisik Amel sambil menjatuhkan kepalanya ke atas meja dan memejamkan matanya pasrah.