"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."
Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.
Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.
Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.
Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.
Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Sang Ratu yang Terluka
Bab 28: Sang Ratu yang Terluka
Pintu mobil sedan mewah itu tertutup dengan suara deb yang kedap, mengunci Anindya di dalam kabin yang beraroma parfum mawar mahal dan kemarahan yang tertahan. Di sampingnya, Nyonya Lastri duduk dengan punggung tegak, dagu terangkat, dan tatapan yang lurus ke depan. Mobil mulai melaju perlahan meninggalkan pelataran gedung PT Mega Konstruksi, membelah kemacetan Jakarta yang mulai merayap di sore hari.
Keheningan di dalam mobil itu terasa mencekik. Anindya bisa mendengar suara detak jam tangan emas di pergelangan tangan Nyonya Lastri. Selama beberapa menit, tidak ada yang berbicara. Anindya sengaja diam; ia tahu dalam negosiasi atau intimidasi, siapa pun yang bicara duluan biasanya adalah pihak yang lebih gelisah.
"Kau merasa hebat sekarang, bukan?" suara Nyonya Lastri memecah kesunyian, tajam dan dingin seperti es yang retak. "Hanya dalam beberapa minggu di Jakarta, kau sudah berani menggigit tangan yang pernah memberimu makan."
Anindya menoleh sedikit, menatap profil samping wajah wanita yang selama delapan tahun ia panggil 'Nyonya' dengan rasa takut. "Tangan itu tidak memberi saya makan, Nyonya. Tangan itu memaksa saya bekerja untuk membayar hutang yang Anda buat sendiri. Dan mengenai Herman Prasetyo... dia bukan digigit, dia hanya jatuh karena keserakahannya sendiri."
Nyonya Lastri tertawa getir, sebuah suara yang tidak mengandung kegembiraan sedikit pun. "Kau hanyalah seekor tikus kecil, Anindya. Kau pikir dengan menjatuhkan satu manajer rendahan, kau bisa menyentuh kami? Kau tidak tahu seberapa besar akar yang menopang keluarga Wijaya di kota ini. Kau hanya sedang mempercepat kematianmu sendiri."
Nyonya Lastri akhirnya menoleh, matanya yang dilapisi riasan tebal berkilat penuh kebencian. "Tarik semua datamu. Berhenti bekerja di perusahaan itu, dan pergilah sejauh mungkin dari Jakarta. Jika kau melakukannya, aku mungkin akan mempertimbangkan untuk tidak mengirim bapakmu ke liang lahat lebih awal."
Anindya merasakan sedikit getaran di jemarinya saat nama ayahnya disebut, namun ia segera mengepalkan tangannya. "Ancaman itu sudah basi, Nyonya. Jika Anda memang bisa melakukannya dengan mudah, Anda tidak akan membuang waktu menjemput saya dengan mobil ini. Anda datang karena Anda panik. Anda takut karena data yang saya miliki bukan hanya tentang Herman, tapi juga tentang bagaimana suami Anda mencuci uang lewat proyek Sukasari."
Wajah Nyonya Lastri mengeras. Ia memberi isyarat kepada supirnya melalui kaca spion. Mobil tiba-tiba berbelok ke sebuah area konstruksi yang sepi di pinggiran kota, jauh dari keramaian Sudirman.
"Turun," perintah Nyonya Lastri.
Anindya turun dari mobil, diikuti oleh Nyonya Lastri dan seorang pria berbadan tegap yang keluar dari pintu depan—seorang pengawal pribadi yang selama ini Anindya kenal sebagai 'Si Tangan Besi' di rumah Wijaya.
Angin sore meniup rambut Anindya yang mulai berantakan. Di sekeliling mereka hanya ada tumpukan beton dan alat berat yang tidak beroperasi. Tempat yang sempurna untuk menghilangkan seseorang tanpa jejak.
"Kau tahu, Anindya," ucap Nyonya Lastri sambil melangkah pelan di atas tanah yang berdebu. "Aku selalu membencimu bukan karena kau pintar, tapi karena kau mengingatkanku pada sesuatu yang sangat kubenci: kemiskinan yang mencoba terlihat bermartabat. Ibumu dulu juga begitu. Dia pikir dengan menatapku dengan mata yang sama sepertimu, dia bisa terlihat setara denganku."
"Jangan bawa-bawa Ibu saya," desis Anindya.
"Kenapa tidak? Dia mati karena dia lemah. Dan kau akan mati karena kau merasa terlalu kuat," Nyonya Lastri memberi kode kepada pengawalnya.
Pria itu melangkah maju, mencengkeram lengan Anindya dengan sangat kuat hingga Anindya meringis. "Mana flashdisk yang kau bawa dari rumah?" tanya pengawal itu dengan suara berat.
"Aku tidak sebodoh itu membawanya ke mana-mana!" sahut Anindya. "Jika terjadi sesuatu padaku di sini, data itu akan terunggah secara otomatis ke server publik dalam waktu satu jam. Aku sudah mengatur sistemnya!"
Nyonya Lastri mendekat, wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Anindya. Ia mengangkat tangannya dan mendaratkan sebuah tamparan keras di pipi Anindya.
Plaakk!
Wajah Anindya terlempar ke samping. Sudut bibirnya pecah, mengeluarkan sedikit darah. Rasa perih merambat di pipinya, namun ia justru tertawa kecil. Tawa yang membuat Nyonya Lastri mundur selangkah karena heran.
"Hanya itu?" tanya Anindya sambil meludah ke samping. "Tamparan Anda tidak sesakit dulu, Nyonya. Mungkin karena sekarang tangan Anda gemetar ketakutan."
"Kau... kau jalang kecil!" Nyonya Lastri hendak menampar lagi, namun sebuah suara deru motor besar memotong suasana mencekam itu.
Sebuah motor sport hitam melesat masuk ke area konstruksi, melakukan pengereman mendadak yang menimbulkan kepulan debu. Pengendaranya turun tanpa melepas helm, namun dari posturnya, Anindya tahu siapa itu. Satria.
Satria melangkah di antara ibunya dan Anindya. Ia membuka kaca helmnya, wajahnya tampak sangat marah sekaligus cemas.
"Ibu! Apa yang Ibu lakukan?!" teriak Satria.
"Satria? Kenapa kau bisa di sini?" Nyonya Lastri tampak terkejut. "Kau seharusnya sedang di kantor cabang!"
"Aku melacak mobil Ibu! Berhenti melakukan ini, Bu! Ibu hanya akan memperburuk keadaan!" Satria menarik Anindya ke belakang punggungnya, melindunginya dari pengawal tersebut.
"Dia pengkhianat, Satria! Dia menghancurkan Herman! Dia mencoba menghancurkan Ayahmu!" Nyonya Lastri berteriak histeris.
"Herman jatuh karena kesalahannya sendiri! Dan jika Ayah jatuh, itu juga karena perbuatannya!" Satria menatap ibunya dengan tatapan yang belum pernah dilihat Anindya sebelumnya—tatapan pemberontakan yang murni. "Biarkan dia pergi, atau aku sendiri yang akan menyerahkan bukti tambahan yang Ibu simpan di brankas kamar Ibu kepada polisi."
Nyonya Lastri tertegun seolah baru saja disambar petir. "Kau... kau mengancam ibumu sendiri demi pelayan ini?"
"Aku melakukan ini demi keluarga kita, Bu! Agar kita tidak semakin dalam masuk ke jurang!" Satria menarik tangan Anindya. "Ayo, Nin. Naik ke motor."
Anindya ragu sejenak. Ia menatap Nyonya Lastri yang berdiri mematung dengan wajah yang hancur karena pengkhianatan anak kandungnya sendiri. Ada rasa puas yang aneh di hati Anindya, namun juga rasa waspada terhadap Satria.
Anindya naik ke boncengan motor Satria. Saat motor itu mulai melaju meninggalkan area konstruksi, ia menoleh ke belakang. Ia melihat Nyonya Lastri jatuh terduduk di atas tanah berdebu, sosok wanita perkasa itu kini tampak kecil dan tak berdaya di tengah tumpukan beton.
Sepanjang perjalanan, Anindya tidak memeluk pinggang Satria. Ia memegang besi pegangan di belakang motor, menjaga jarak. Mereka berhenti di sebuah taman kota yang mulai sepi.
Satria melepas helmnya, napasnya memburu. "Kau tidak apa-apa, Nin? Maafkan aku... aku tidak tahu Ibu akan seberani itu menjemputmu di kantor."
Anindya turun dari motor, mengusap darah di bibirnya. "Terima kasih, Satria. Tapi jangan pikir ini mengubah segalanya. Kenapa kau mengancam ibumu dengan brankas itu? Apa isinya?"
Satria menunduk, menatap sepatunya. "Isinya adalah catatan asli kematian tiga buruh di gudang tahun 2005. Ibu menyimpannya untuk mengontrol Ayah jika suatu saat Ayah mencoba menceraikannya.
Keluarga kami... semuanya saling memegang leher satu sama lain, Nin."
Anindya terdiam. Ia baru menyadari betapa busuknya dinamika di dalam rumah mewah itu. Mereka bukan keluarga; mereka adalah sekumpulan narapidana yang tinggal dalam satu sel emas.
"Aku akan membantumu, Nin. Tapi aku mohon, jangan hancurkan Ibuku jika saatnya tiba. Hancurkan saja Ayah," pinta Satria dengan nada memelas.
Anindya menatap langit malam Jakarta yang mulai meneteskan hujan. "Keadilan tidak memilih target, Satria. Siapa pun yang terlibat, harus membayar.
Termasuk Ibumu. Termasuk... kau, jika kau memang terlibat."
Anindya berjalan meninggalkan Satria sendirian di bawah lampu taman yang mulai berkedip. Ia berjalan menuju stasiun kereta, kepalanya berdenyut, namun hatinya semakin mantap. Di Bab 28 ini, ia belajar satu hal penting: musuhnya bukan lagi satu kesatuan yang kuat. Keluarga Wijaya sedang retak dari dalam, dan ia hanya perlu memberikan satu dorongan lagi untuk membuat semuanya runtuh berkeping-keping.
Namun, saat ia masuk ke gerbong kereta, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor anonim masuk:
“Kerjamu bagus dengan Herman. Sekarang, cari dokumen 'Proyek Hitam 09' di komputer Pak Arman.
Kau akan tahu bahwa bos barumu tidak sesuci yang kau kira. Selamat datang di dunia yang sesungguhnya, Anindya.”
Anindya menatap layar ponselnya dengan mata melebar. Ternyata, di Jakarta, tidak ada kawan yang benar-benar kawan. Ia baru saja menyadari bahwa ia sedang masuk ke dalam lubang kelinci yang jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan.
bosnya sendiri?
Lantai lima kantor PT Mega Konstruksi masih terasa asing bagi Anindya, meski ia kini menempati meja yang jauh lebih layak daripada di basement.
Ruangannya kini hanya terpisah oleh sekat kaca dari ruang kerja Pak Arman. Namun, kenyamanan fisik itu justru membuat Anindya semakin waspada. Pesan anonim semalam tentang "Proyek Hitam 09" terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Jika Pak Arman—pria yang menyelamatkannya dari Herman Prasetyo—ternyata juga memiliki noda hitam, maka Anindya sedang berdiri di atas sarang ular yang jauh lebih besar daripada keluarga Wijaya.