Chunxia tak pernah merasakan kehangatan keluarga sejak kecil. Kematian semua anggota keluarga mengubah hidupnya. Kini, ia hidup hanya untuk balas dendam. Ia berlatih dan berlatih hingga dewasa. Chunxia kecil mengubah namanya menjadi Zhen Yi, bahkan, ia rela bekerja di rumah bordir demi memuluskan rencananya.
Hingga saat ia menjadi Selir seorang Raja yang dikenal kejam dan tak punya rasa belas kasih. Ia harus berpura-pura menjadi wanita yang lemah lembut dan penurut, namun yang tak mereka sadari Zhen Yi memiliki rencana yang besar. Demi sebuah ambisi yang besar ia rela memanipulasi orang-orang yang begitu tulus padanya.
Putra Mahkota yang terpikat dengan kecantikannya bahkan sampai rela merebutnya dari sang Kaisar. Akhirnya perlahan kokohnya kerajaan goyah.
Mampukah Zhen Yi melancarkan aksi balas dendamnya? Atau justru, ia akan terjebak dalam permainan balas dendamnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01. AMSALIR
"Aku berjanji akan balaskan semua rasa sakit kalian."
Suara itu menggema di sebuah paviliun dingin yang diiringi tarian lilin-lilin yang memantulkan bayangan gemetar pada permukaan cermin tembaga.
Di hadapan logam kuning usang itu, duduk seorang wanita yang kecantikannya mampu membekukan siapa saja yang melihatnya. Namun, bagi Zhen Yi wajah itu hanyalah topeng tepatnya senjata untuk sebuah rencana besarnya.
Ia menatap pantulan matanya sendiri. Di balik sapuan eyeliner hitam dan bedak putih sehalus porselen ada api yang tak pernah padam. Api itu adalah dendam.
"Apa Anda sudah siap, Nona? Malam ini banyak sekali tamu yang datang. Mereka hanya ingin melihat Anda," seru Dali seraya menyisir lembut rambutnya.
"Apa semua sudah siap? Kali ini harus lebih memukau dari sebelumnya, karena kita akan kedatangan tamu sepesial."
Zhen Yi menatap dirinya sekali lagi ke cermin. Senyum manis mematikan itu seakan penanda awal semuanya di mulai.
Dalam sekejap ia mengubah citra dirinya yang tangguh menjadi gadis cantik yang manis. Ia berdiri perlahan, merentangkan pakaian hanfu biru mudanya dan Dali dengan sigap mencoba merapikan bagian kain yang sedikit kusut.
"Semuanya tampak sempurna, Nona. Kali ini Anda benar-benar terlihat mengagumkan," ucap Dali dengan mata berbinar.
Zhen Yi berbalik. Ia mengusap lembut pundak Dali. "Semua juga berkat dirimu. Kamu yang melakukan semuanya dengan baik."
"Terimakasih Nona. Anda terlalu menyanjung," sahutnya dengan pipi sedikit merona.
Zhen Yi membalas dengan senyuman. Sesaat kemudian ia menatap ke arah pintu kayu tua itu. Sudah waktunya ia memulai segala persiapannya bertahun-tahun lalu.
Kini dia bukan Chunxia gadis berumur 10 tahun lagi. Gadis menyedihkan yang harus kehilangan semua keluarga dan kedua orang tuanya. Saat tragedi mengerikan itu, Chunxia kecil berhasil di selamatkan oleh kepala pelayan namun tidak dengan semua keluarganya.
Bertahun-tahun ia harus hidup dalam pengasingan dan bersembunyi. Namun, ia bukan gadis kecil yang pantang menyerah. Karena rasa sakit yang begitu dalam membuatnya tumbuh jadi gadis setangguh sekarang. Kini ia genap berumur 20 tahun, bahkan sudah menguasai berbagai ilmu bela diri, seni racun, dan pengobatan.
Namun, tak seorang pun yang tahu akan kemampuannya. Mereka hanya mengenal Zhen Yi sebagai primadona di rumah bordir paling megah di ibu kota. Di sana bukan sebagai pendekar, melainkan seorang penari yang gerakannya sehalus sutra dan permainan musik kecapinya mampu menyayat sukma para pejabat.
Zhen Yi mengulurkan tangannya. "Ayo kita pergi."
Dali meraih tangan Zhen Yi dan membawanya keluar menuju aula utama tempat di mana semua orang berkumpul menantinya.
Jepit rambut gioknya yang bertengger anggun di sanggulnya bergoyang lembut, memantulkan kilau redup. Gaun sutra biru cerahnya membelai lantai mengiringi setiap langkahnya yang penuh perhitungan.
Ia berjalan menyusuri koridor yang di hiasi lampu lampion dengan ukiran naga aura keanggunan memancar kuar. Pelayan dan pengunjung yang berpapasan dengannya menunduk hormat dan terdiam kagum seakan terhipnotis dengan keanggunannya.
Meskipun wajahnya sebagian di tutup oleh penutup wajah tipis, justru semakin membangkitkan rasa penasaran dan tetap tak dapat menutupi kecantikannya.
Saat kaki telanjangnya menapak di atas panggung yang dibuat khusus untuknya semua fokus terarah padanya. Di tengah panggung itu, sebuah Gu Zheng (kecapi kuno) telah menanti.
Zheng Yi duduk dengan punggung tegak dan sangat presisi. Namun, sepasang matanya melesat ke arah lantai dua menuju balkon VIP.
Lantai dua paviliun VIP itu terasa sunyi. Seorang lelaki mengenakan jubah sutra hitam yang lembut, dengan sulaman naga emas yang tampak berkilau setiap kali cahaya lilin menerpanya. Pria itu duduk tegak, penuh wibawa, dengan jemari yang mengetuk pelan pinggiran meja kayu.
Tatapannya yang tajam dan sedingin es jatuh tepat ke arah panggung bawah, tertuju pada Zhen Yi.
Di bawah sana, Zhen Yi berdiri dengan anggun. Pandangan mereka sempat saling mengunci selama beberapa detik. Tanpa memutuskan tatapan itu, Zhen Yi perlahan duduk dan meletakkan jemarinya yang lentik di atas senar Gu zheng.
Tring!
Petikan pertama bergema, memecah keheningan. Di atas panggung yang hanya dikhususkan untuknya malam itu, Zhen Yi mulai memainkan melodi yang menyayat hati. Suaranya mengalun, menyanyikan bait demi bait tentang kerinduan mendalam pada kekasih yang tak kunjung pulang.
Setiap nada yang keluar dari bibirnya seakan membawa beban emosi. Udara di dalam ruangan itu seolah mendingin, terisi oleh kesedihan yang indah. Pria itu, yang awalnya menatap dengan ke tidak tertarikan, perlahan mulai memajukan tubuhnya.
Suara merdu Zhen Yi memicu rasa penasaran yang asing bagi pria sedingin dirinya. Ia terpaku pada sosok wanita berbalut Hanfu biru langit itu, yang tampak seperti dewi.
Pria itu memberi isyarat kecil tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari panggung.
"Cari tahu siapa dia," ucap pria itu. Suaranya rendah dan berat, namun mengandung nada perintah.
Ia terdiam sejenak, memperhatikan bagaimana selendang biru Zhen Yi melambai mengikuti gerakan tangannya yang lincah di atas alat musik. "Apa dia juga suka melayani pria di rumah bordir ini?"
Pengawal itu mengangguk patuh, bayangannya segera menghilang di balik tirai. Di bawah sana, petikan terakhir Gu zheng masih menyisakan gema yang indah sebelum akhirnya disambut oleh riuh tepuk tangan para tamu yang terpukau.
Zhen Yi berdiri dengan anggun, membungkuk sekilas sebagai tanda penghormatan. Wajahnya tetap tenang. Ia segera membalikkan badan, berniat kembali ke paviliun pribadinya untuk beristirahat. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu belakang panggung.
Nyonya Anye, pemilik rumah bordir yang biasanya selalu tampak tenang dan penuh perhitungan, kini menghadangnya dengan wajah pucat pasi. Jemarinya yang berhias cincin giok gemetar saat memegang lengan baju Zhen Yi.
"Zhen Yi, kamu tidak bisa pergi dulu," bisik Nyonya Anye dengan nada mendesak, matanya melirik gelisah ke arah Paviliun Timur.
"Tugas saya malam ini sudah selesai, Nyonya," jawab Zhen Yi lembut namun tegas. "Perjanjian kita hanya untuk musik dan nyanyian, tidak lebih."
Nyonya Anye menggeleng cepat, nyaris terisak. "Aku tahu, tapi pria di Paviliun Timur itu ... mereka bukan orang sembarangan. Mereka memaksa ingin menemuimu sekarang juga. Jika aku menolak, mereka mengancam akan meratakan tempat ini dengan api! Tolonglah, Zhen Yi, nyawa banyak orang bergantung pada kesediaanmu malam ini."
Zhen Yi terdiam. Ia menatap nanar ke arah Nyonya Anye yang memohon. Di kota ini, kekuasaan bisa menghanguskan apa pun hanya dalam sekejap mata.
Dengan helaan napas panjang, ia merapikan kembali Hanfu biru miliknya. Ia tidak punya pilihan selain menghadapinya.
"Akhirnya kau datang," suara pria itu memecah kesunyian, dingin dan penuh otoritas.
takutnya kacau nnti
mancing sesuatu yaaa
gass aja balas dendam nya💪💪💪
sorry ya keskip bab 3, karna iklan nya tuh😭 maaf aja dah lama ga baca di novel 🙂↕️🙏