Liora merasa dunianya runtuh dalam semalam. Baginya, Raka adalah pelabuhan terakhir, dan Salsa adalah rumah tempatnya bercerita. Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun; dua orang yang paling ia percayai justru menusuknya dari belakang dengan cara yang paling hina. Kepercayaan yang ia jaga setinggi langit, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki tunangan dan sahabatnya sendiri.
Liora tidak pernah menyangka bahwa prinsip yang ia pegang teguh untuk menjaga kehormatan di depan Raka, justru menjadi celah bagi Salsa untuk masuk dan mengambil alih segalanya. Bagai sebuah ironi, Liora memberikan kasih sayang yang tulus, namun dibalas dengan perselingkuhan yang dilakukan tepat di belakang punggungnya.
Apakah Liora akan tetap diam dan pura-pura tidak tau atau ia akan membalaskan dendamnya kepada kedua manusia yang telah mengkhianatinya...
Penasaran ayok ikuti kisah selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Kemarahan Bisma
Kini Salsa dan Raka masih di dalam kamar hotel tersebut. dengan suasana kacau dan udara yang menyesakkan menyelimuti mereka berdua atas apa yang telah terjadi, pikirannya berkecamuk memikirkan hidup mereka kedepannya.
Hingga tiba-tiba suara Raka memecah keheningan di antara mereka.
"Apa langkah kita selanjutnya?" Tanya Raka, ia langsung bangkit dari lantai menghadap Salsa dengan kilatan mata yang sulit diartikan.
"Tentu saja menghancurkan Liora." desis Salsa dengan mata tajam menatap Raka. Lalu ia melangkah menuju sofa dimana pakaiannya tergeletak dengan asal. Ia mengambilnya dengan kasar dan memakai kembali di hadapan Raka.
"Lakukan apapun rencanamu Salsa, aku hanya ingin Liora kembali lagi padaku. kau tidak lebih sebagai alat pemuas nafsuku saja, di saat Liora tidak bisa aku sentuh." batin Raka, dengan kilatan obsesi yang memuncak terhadap Liora.
Bukan karena tanpa alasan Raka berselingkuh, karena ia hanya menjadikan Salsa pelampiasan dan disaat Salsa menawarkan dirinya ia tidak bisa menolak.
"Aku tau apa maksudmu." jawab Raka, lalu ia melangkah menghampiri Salsa. "Sebaiknya kita keluar dari hotel ini sebelum fajar, aku tidak ingin para wartawan itu dan yang lainnya menemukan kita, lalu mewawancarai kita di saat keadaan kita seperti ini." lanjut Raka.
"Baiklah sayang." bisik Salsa, dengan tersenyum manis sambil menghadap Raka dan melingkarkan kedua tangannya di leher Raka.
"Semuanya sudah hancur, tapi setidaknya aku sudah merebutmu dari Liora, itu sudah kemenangan untukku." batin Salsa, tanpa ia ketahui Raka hanya menjadikannya bahan pemuas nafsu saja tanpa benar-benar mencintainya.
Kini mereka bersiap untuk pergi dari hotel itu. perlahan Raka dan Salsa melangkahkan kaki mereka menuju pintu.
Ceklek! suara pintu hotel terbuka.
Seketika itu juga seolah dunia berhenti berputar saat Salsa melihat seseorang berdiri di depan kamar hotelnya.
Deg! Jantung Salsa seketika ingin terlepas dari tempatnya, saat melihat pemandangan yang tidak pernah Salsa inginkan, kini matanya bertemu dengan kedua netra milik seseorang yang kini berdiri di depan pintu dengan sorot mata yang tajam dan rahang yang mengeras.
"Ay-ah..." gumam Salsa gemetar nyaris seperti bisikan, dengan wajah terkejut dan takut ia menatap ayahnya. kini tangannya diam-diam meremas gaun di samping tubuhnya dengan erat.
Bisma ayah dari Salsa, dengan tangan yang bersedekap di dada menatap Salsa dari ujung rambut sampai ujung kakinya dengan pandangan menghina, tanpa bertanya terlebih dulu pada Salsa, Bisma langsung menghampiri Salsa dengan langkah tegasnya.
Tiba-tiba tangan Bisma melayang di udara dan mendarat tepat di pipi mulus milik Salsa.
Plak! suara tamparan menggema di depan pintu hotel, sehingga membuat Salsa tertoleh ke samping sampai meringis, kini sudut bibirnya mengeluarkan darah.
Beberapa penghuni di sana yang tadi menyaksikan Salsa, kini mendengar kembali keributan itu dan mereka bergegas keluar untuk melihat pertunjukan yang akan di siarkan secara langsung.
"Anak kurang ajar! apa yang kamu cari dari laki-laki seperti dia, hah!" teriak Bisma dengan nada marah di hadapan Salsa, kini matanya menatap Raka dengan pandangan hina.
"Ayah, aku bisa jelaskan semuanya." bela Salsa, ia berusaha untuk meredam amarah ayahnya agar tidak mendapatkan amukan.
"Jelaskan apa? Hah!" marah Bisma. "Sekarang juga ikut saya, kamu memang perlu diberi pelajaran lebih keras Salsa, agar tau dimana otakmu berada! Berani-beraninya kamu berbuat seperti ini." lanjut Bisma dengan menarik tangan Salsa dengan kasar.
Namun sebelum Bisma melangkah pergi ia menatap Raka sekali lagi. "Dan untuk kamu, tunggu apa yang akan saya lakukan." ucap Bisma sambil menunjuk wajah Raka.
"Silahkan, saya menunggunya." tantang Raka, dengan menatap balik Bisma dengan sorot mata yang tajam.
"Ayok pergi." perintah Bisma dan langsung menyeret Salsa dari sana.
"Ayah, tunggu ayah! Aku bisa menjelaskan semuanya, ini hanya salah paham aku di jebak ayah." berontak Salsa di tengah koridor hotel, membuat para penghuni di sana menatapnya dengan pandangan yang berbeda-beda.
Sementara Raka yang melihat Salsa di seret oleh Bisma hanya bisa menatapnya dari kejauhan, tanpa ingin membantunya. Bisik-bisik para penghuni hotel memenuhui koridor dan pendengarannya.
Kini Raka melangkah pergi dari sana dengan langkah kasar ia keluar dari hotel tersebut.
Sementara di sebuah mansion mewah kedua insan yang berbeda jenis baru saja tiba, dan kini mereka tengah menuju ke lantai tiga yang berada di mansion mewah tersebut.
Tap!
Tap!
Tap!
Langkah keduanya menggema di koridor lalu menuju pintu lift yang berada di mansion itu.
"Akhirnya, mereka mendapatkan balasan atas apa yang sudah mereka perbuat." suara pria itu memecah keheningan yang tidak lain ternyata Lucas.
"Betul! apa yang kamu katakan." balas Liora dengan nada santai.
Lucas yang mendengar jawaban Liora mendengus kesal. "Kapan sih? Kamu panggil aku Abang." kesal Lucas dengan raut wajah masam.
"Kita hanya beda lima menit." jawab Liora cuek tanpa memedulikan Lucas yang sedang kesal.
Hingga kini mereka tiba di depan pintu lift dan keduanya memasuki lift tersebut.
"Meski hanya beda lima menit, tetap saja Lio! aku ini Abang kamu." dengus Lucas.
"kamu memang mau banget ya! Aku panggil Abang." goda Liora, lalu ia membalikan badannya menatap Lucas.
"Tentu saja." dengus Lucas.
Tepat saat itu Ting! bunyi lift terbuka, kini mereka sampai di lantai tiga dan Lucas bergegas menuju mini bar yang ada di sana. Sebelum tangannya menyentuh whisky tiba-tiba suara Liora menghentikannya.
"Stop! jika kamu ingin aku memanggil dengan sebutan Abang, berhenti menyentuh minuman itu." ucap Liora.
Sementara, tangan Lucas sudah melayang di udara dan hampir sampai pada gelas itu. "Ayolah Lio! bukankah malam ini malam kemenangan mu?"
Liora hanya mengangguk kecil sambil tersenyum smirk, setelah itu ia menghampiri Lucas dan merebut minuman itu dari Lucas, dan langsung meminumnya dengan sekali tegukan.
Seketika rasa panas membakar tenggorokannya. membuatnya merasa teralihkan dari rasa sakit atas pengkhianatan Salsa dan Raka.
"Lio, jangan coba-coba meminumnya lagi." tegur Lucas dengan suara dingin. "Kamu memiliki toleransi terhadap alkohol, Liora." lanjutnya, dengan cepat Lucas merebut gelas dalam genggaman Liora.
"Jika sampai Bunda tau, aku yang akan habis Liora." gerutu Lucas.
"Semua ini belum selesai." ucap Liora dingin dengan sorot matanya yang merah akibat alkohol yang ia minum. Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. "Mereka harus merasakan sakit yang jauh lebih parah dari yang pernah aku rasakan." lanjut Liora, Ia meremas kedua tangannya dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Perlahan Lucas memeluk Liora yang kini sedang di luar kendalinya. Seketika Liora terisak dalam pelukan Lucas, ia mengelus pucuk kepala Liora dengan sayang. Sebagai kembarannya ia tau rasa sakit yang Liora rasakan.
"Kita akan lihat sejauh mana mereka akan bertahan, lakukan apapun yang kamu inginkan Liora, aku akan selalu berada di belakangmu untuk melindungimu." batin Lucas. kini Lucas menatap Liora yang tertidur di pelukannya.
kentang banget ini 😭
cepet banget dia bersimpati dan ada tanda peduli lebih
kalau posisinya dibalik dia pun berpotensi selingkuh juga kaya Raka hadehhh...
ku tak jadi kibarkan bendera hijau
padahal sempet simpati sama dia ni 😏
bahaya ga jadi green flag