"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Akad yang Tak Terduga
Takdir yang Menjemput Paksa
Bukan tentang rencana yang tersusun rapi,
Bukan pula tentang tanggal yang dinanti-nanti.
Jika Allah telah mengetuk pintu hati,
Jarak benua pun bukan lagi halangan yang berarti.
Kairo saksi bisu, Jawa tempat berlabuh,
Satu kata 'Sah' membuat rindu tak lagi mengaduh.
Malam ini, di bawah saksi para malaikat,
Dua janji disatukan dalam satu akad.
Malam itu, setelah acara pernikahan Mas Azam usai, suasana di kediaman Kyai Hasan (Abah Khadijah) mendadak berubah menjadi sangat serius. Di sebuah ruangan khusus, berkumpullah para tetua: Abi Zidan, Ayah Mas Azam, dan Kyai Hasan sendiri. Gus Zidan pun diminta hadir duduk bersimpuh di tengah-tengah mereka.
"Pak Ahmad," buka Abi Zidan dengan nada yang sangat berwibawa. "Setelah saya istikharah dan melihat kondisi Zidan yang sudah sangat siap, juga melihat Bungah yang sendirian di Kairo tanpa penjagaan Mas Azam... saya rasa, menunda akad sampai Bungah pulang adalah waktu yang terlalu lama bagi fitnah."
Ayah Mas Azam tertegun. "Maksud Kyai?"
"Bagaimana kalau malam ini juga, kita langsungkan akad nikah secara bil ghoib (pernikahan jarak jauh)?" ucap Abi Zidan mantap. "Zidan di sini, dan Bungah di Kairo. Kita sambungkan melalui teknologi yang ada. Masalah pesta dan resepsi, itu bisa menyusul saat Bungah pulang. Yang penting, mereka sudah halal secara agama dan negara malam ini."
Zidan merasa dunianya seolah berhenti berputar sejenak. Jantungnya berdegup kencang, jauh lebih kencang daripada saat ia melihat Bungah "ileran" tadi sore. Ia menatap Abinya, mencari kepastian.
"Tapi Kyai, apakah Bungah akan setuju dengan pernikahan sedadak ini?" tanya Ayah Mas Azam penuh pertimbangan.
"Kita tanya langsung padanya," jawab Abi Zidan.
Di Kairo, Bungah baru saja selesai merapikan mukenanya. Ia terkejut melihat ponselnya kembali bergetar. Kali ini panggilan video dari Ayahnya. Saat diangkat, wajah Ayahnya nampak sangat serius, didampingi oleh Abi Zidan dan Gus Zidan yang nampak tegang di belakangnya.
"Nduk, Bungah..." suara Ayahnya terdengar berat. "Abi Zidan dan Ayah sudah berdiskusi. Demi menjagamu di sana, dan demi ketenangan hati Gus Zidan di sini... Ayah ingin bertanya, apakah kamu bersedia jika malam ini juga, di tempatmu berada, kamu dinikahkan dengan Gus Zidan?"
Bungah terpaku. Air matanya seketika luruh. Ia menatap layar, menatap mata Zidan yang nampak penuh harap namun tetap menghormati keputusannya.
"Sekarang, Yah? Tapi Bungah... Bungah hanya sendirian di kamar," bisik Bungah terisak.
"Ada Mas Azam yang akan menuju ke tempatmu bersama Mbak Khadijah sebagai wali hakim dan saksi di sana jika diperlukan, atau kita gunakan wali hakim dari kedutaan. Tapi secara agama, Ayah yang akan menjabat tangan Gus Zidan di sini," jelas Ayahnya. (Mas Azam memang masih di Jawa, namun pihak keluarga sudah berkoordinasi dengan rekan senior di Kairo untuk mendampingi Bungah di sana sebagai saksi fisik).
Setelah terdiam cukup lama, Bungah mengangguk pelan. "Nggih, Yah. Jika itu yang terbaik menurut Ayah dan para guru, Bungah rida."
Suasana masjid yang tadinya sudah mulai sepi, kembali diisi oleh keluarga inti. Meja akad kembali disiapkan. Mas Azam yang baru saja ingin beristirahat dengan Khadijah, segera berlari kembali ke masjid dengan wajah tak percaya.
"Gus! Kamu benar-benar nekat!" bisik Mas Azam sambil memeluk calon adik iparnya itu.
Zidan hanya tersenyum tipis, tangannya dingin namun tatapannya sangat fokus.
Ponsel diletakkan di depan meja akad, menghadap ke arah Gus Zidan. Di layar, Bungah sudah mengenakan mukena putih bersih, duduk bersimpuh di atas sajadahnya di Kairo. Suasana menjadi sangat sakral. Perbedaan jarak ribuan kilometer seolah sirna oleh kekuatan niat.
Ayah Mas Azam menjabat tangan Gus Zidan.
"Ananda Muhammad Zidan Al-Hafidz bin Kyai Mansyur, saya nikahkan engkau dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Bungah Lestari, dengan mas kawin perhiasan emas seberat 20 gram dan hafalan kitab Alfiyah Ibnu Malik dibayar tunai!"
Zidan menarik napas panjang, suaranya menggelegar memenuhi masjid, beradu dengan suara tangis Bungah yang terdengar lewat speaker ponsel.
"SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA BUNGAH LESTARI BINTI AHMAD DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT DIBAYAR TUNAI!"
"Saksi, sah?"
"SAH!"
"Alhamdulillah..."
Doa keberkahan menggema. Di Kairo, Bungah bersujud syukur di atas sajadahnya. Ia kini bukan lagi sekadar gadis yang menanti, ia adalah istri sah dari seorang Gus Zidan. Tanpa persiapan gaun mewah, tanpa pesta meriah, hanya ada doa dan air mata syukur yang menyatukan mereka melintasi benua.
Zidan menatap layar ponsel. "Assalamu'alaikum, Zaujati (Istriku)..." bisiknya lirih.
Bungah mendongak, matanya yang sembab menatap Zidan dengan perasaan yang tak terlukiskan. "Wa'alaikumussalam... Mas Zidan."
Malam itu, Kairo dan Jawa tak lagi memiliki jarak. Mereka telah satu dalam ikatan suci yang tak terduga.