NovelToon NovelToon
Handsome Ghost

Handsome Ghost

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Beda Dunia / Romantis / Hantu / Mata Batin / Komedi
Popularitas:962
Nilai: 5
Nama Author: Queena lu

Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Kembali?

Cahaya gerbang di depan mereka semakin terang. Awalnya hanya setitik kecil di ujung jalan, lalu perlahan membesar, menyilaukan, seolah memanggil mereka untuk pulang.

Langkah Kiara semakin cepat, meski tubuhnya terasa seperti dipenuhi batu. Napasnya berat, dadanya naik turun dengan cepat. Tangan kirinya masih menggenggam tangan Bima erat, terlalu erat, sampai jari-jarinya memutih.

“Sedikit lagi…” gumamnya, suaranya hampir hilang tertelan napasnya sendiri.

Bima mengangguk, walau pandangannya mulai berkunang-kunang. “Kalau kita gagal di sini… Aku bakal protes,” katanya lemah, masih mencoba bercanda.

Sky yang berlari di belakang mereka terkekeh kecil. “Santai aja, bro… Kita udah sejauh ini. Masa gagal di garis finish?”

Cahaya itu kini sudah sangat dekat. Udara di sekitar mereka berubah, tidak lagi dingin menusuk seperti di dunia ghaib, tapi mulai terasa hangat.

Seperti… Rumah.

Kiara menarik napas dalam. Tanpa aba-aba lagi, ia menguatkan langkahnya.

“Sekarang!”

Mereka bertiga melompat bersamaan ke dalam cahaya.

Dan dalam sekejap-

Dunia gelap itu lenyap.

Tubuh mereka seperti ditarik kuat ke arah yang berbeda, jatuh bebas, berputar dalam kehampaan yang terang. Suara kabut, jeritan Bara, bahkan bayangan Laras, semuanya menghilang seperti tidak pernah ada.

Lalu…

Sunyi.

Di dunia nyata....

Tubuh Kiara tersentak keras.

“UGH—!”

Tubuhnya terangkat sedikit dari tanah, lalu hampir terjatuh ke belakang. Namun sebelum itu terjadi, dua tangan dengan sigap menangkap tubuhnya.

“Kiara!”

Aditya menahan tubuh sepupunya itu, refleks. Wajahnya panik, napasnya cepat. Ia segera memapah Kiara agar tidak jatuh menghantam tanah.

“Ya Tuhan… Akhirnya…” gumamnya, setengah lega, setengah kesal.

Tubuh Kiara terasa dingin dan lemah. Matanya masih tertutup, napasnya pelan. Keringat membasahi pelipisnya, rambutnya sedikit berantakan.

Efek perjalanan batin itu jelas belum hilang.

Di sisi lain, tubuh Bima yang sebelumnya terbaring pucat di atas tikar mulai menunjukkan perubahan. Warna wajahnya perlahan kembali, tidak lagi sepucat mayat. Dada yang tadi hampir tak bergerak kini mulai naik turun dengan ritme yang lebih stabil.

“Bima… Bima!”

Pak Arman langsung menghampiri putranya, berlutut di sampingnya. Tangannya gemetar saat menyentuh wajah Bima.

“Alhamdulillah… Hangat… Tubuhnya sudah hangat…” suaranya bergetar penuh syukur.

Om Hardi juga ikut mendekat, menepuk bahu Pak Arman. “Syukur… Syukur… Akhirnya…”

Keduanya hampir tak bisa menyembunyikan rasa lega yang begitu besar.

Di sudut pendopo, sosok Sky berdiri santai. Kini pakaiannya sudah kembali seperti biasa, hoodie dan celana jeans gelap. Ia melihat sekeliling, lalu menghembuskan napas panjang.

“Wah… Balik lagi ke dunia nyata,” gumamnya ringan. “Aku kira kita bakal nyangkut di sana.”

Ia menoleh ke arah Kiara, lalu tersenyum kecil. “Tapi… Kamu hebat sih.”

Namun tentu saja, tak ada yang mendengar suaranya.

Selain…

“Syukurlah…”

Mbah Kromo melangkah mendekat, wajahnya tetap tenang meski jelas terlihat lelah. Ia menatap Bima dengan serius, lalu duduk bersila di samping tubuh pemuda itu.

“Belum selesai,” katanya pelan. “Aura jiwanya masih terbuka.”

Ia mengambil segenggam beras kuning dari wadah di sampingnya, lalu menaburkannya perlahan di sekitar tubuh Bima. Bibirnya mulai bergerak, merapalkan mantra dalam bahasa Jawa kuno yang terdengar dalam, berat, dan penuh kekuatan.

Suasana di pendopo mendadak hening. Bahkan angin yang tadi berhembus pelan seperti ikut berhenti.

Sky yang berdiri di dekatnya menelan ludah. “Wah… Merinding juga ya kalau di lihat lagi,” gumamnya.

Energi di sekitar tubuh Bima terasa berubah. Sesuatu yang sebelumnya terbuka perlahan menutup, seperti pintu yang dikunci rapat dari dalam.

Setelah beberapa saat, Mbah Kromo mengakhiri mantranya dengan satu tepukan pelan ke tanah.

Seketika suasana kembali normal.

Ia mengangguk kecil. “Sudah. Auranya sudah tertutup. Ia tidak akan mudah terseret lagi ke dunia ghaib.”

Pak Arman langsung menunduk dalam-dalam. “Terima kasih, Mbah… Saya benar-benar berterima kasih…”

“Bawa dia masuk,” kata Mbah Kromo singkat.

Om Hardi segera mengangkat tubuh Bima dengan hati-hati. “Ayo, Mas… Kita masuk ke dalam.”

Sementara itu, Aditya masih memapah Kiara yang belum sadar sepenuhnya.

Ia menatap wajah adik sepupunya itu dengan ekspresi campur aduk. “Ini anak… Kalau udah bangun, bakal gue ceramahin habis-habisan,” gumamnya kesal.

Sky yang mendengar itu langsung tertawa kecil. “Wah… Siap-siap aja, Ki.”

Aditya menghela napas panjang, lalu tanpa banyak bicara langsung menggendong Kiara.

“Bandel banget sih…”

Ia membawa Kiara masuk ke dalam pendopo, mengikuti Pak Arman dan Om Hardi.

Beberapa waktu kemudian…

Udara di dalam pendopo terasa lebih hangat. Lampu minyak menyala redup, menciptakan suasana tenang.

Kiara terbaring di atas tikar, tubuhnya sudah di selimuti kain agar udara malam tidak langsung mengenainya.

Pelan… Matanya bergerak.

Kelopak itu terbuka sedikit demi sedikit.

Pandangan pertama yang ia lihat adalah atap kayu pendopo.

Ia mengerjap pelan.

“Hidup,” gumamnya lirih.

“YA IYALAH HIDUP!”

Suara keras itu langsung membuat Kiara meringis.

Ia menoleh perlahan.

Aditya sudah duduk di sampingnya, wajahnya penuh emosi, antara lega dan kesal.

“Kamu tuh ya! Gila! Masuk ke dunia ghaib?! Tanpa persiapan matang?! Tanpa backup?! Tanpa mikir?! Kamu kira ini main game?! Ini nyawa-”

Belum selesai kalimatnya-

Plop!

Kiara dengan santai mengambil kain mori bekas ritual di sampingnya dan langsung menutup mulut Aditya.

“Hmmpphh-?!”

Kiara menatapnya datar, setengah malas.

“Kak… Aku baru balik dari dunia lain,” katanya pelan, suaranya serak. “Yang aku butuhin sekarang kopi. Bukan ceramah rohani.”

Sunyi sesaat.

Lalu-

“HHAHAHAHAHAHA!”

Sky langsung tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya.

“Savage banget,” katanya sambil terpingkal.

Aditya melotot, menarik kain itu dari mulutnya. “Eh! Kurang ajar! Aku ini kakak mu ya!”

Kiara menutup mata lagi, malas. “Iya… kakak yang hobi ngomel.”

“Ya jelas aku ngomel! Kami hampir mati, tau gak sih?!”

“Masih hidup.”

“ITU KARENA KAMU BERUNTUNG!”

Kiara membuka satu mata, menatapnya datar. “Dan karena aku jago.”

Aditya terdiam sejenak.

“…”

Sky kembali ngakak. “Confidence level 100.”

Aditya menghela napas panjang, lalu mengacak rambutnya sendiri frustrasi. “Ya Tuhan… Gue punya sepupu kayak gini…”

Namun, meski kesal, tangannya perlahan menepuk kepala Kiara pelan.

“Tapi makasih. Kamu berhasil.”

Kiara tidak menjawab.

Tapi sudut bibirnya sedikit terangkat.

Di sisi lain, Bima yang terbaring di dekat mereka mulai bergerak.

Jarinya sedikit berkedut.

“Eh… Bima,” Aditya langsung berdiri.

Kiara membuka mata lagi.

Pelan, Bima mengerang.

“Ugh…”

Matanya terbuka perlahan. Pandangannya buram.

“Ini… Di mana…”

Pak Arman langsung mendekat.

“Bima! Kamu sudah sadar?!”

Bima menoleh, masih linglung. Lalu pandangannya jatuh pada Kiara.

Ia terdiam.

Sejenak.

Lalu tersenyum kecil.

“Kita berhasil?”

Kiara mengangguk pelan.

“Ya.”

Bima menghembuskan napas panjang, lega. “Bagus… Soalnya kalau gagal… Aku pasti protes.”

Kiara mendengus pelan.

Aditya menggeleng. “Ini anak satu lagi… Habis mati suri masih bisa bercanda.”

Sky menyilangkan tangan, tersenyum. “Itu namanya mental kuat.”

Namun di balik semua itu…

Bima terdiam sejenak.

Bayangan Laras tiba-tiba muncul di benaknya.

Wajahnya… Suaranya… Tatapan matanya saat terakhir kali.

Entah kenapa, dadanya terasa sedikit… Berat.

“Aneh,” gumamnya pelan.

Kiara menoleh. “Kenapa?”

Bima menggeleng. “Nggak tahu… Kayak ada yang… Tertinggal.”

Sky yang mendengar itu terdiam.

Ia menatap Bima, lalu menatap kosong ke arah luar pendopo.

“Ya…” gumamnya pelan. “Ada yang tertinggal.”

Namun kali ini, ia tidak tertawa.

Dan di tempat yang jauh…

Di antara kabut dan kegelapan…

Seorang wanita berkebaya putih berdiri sendirian, menatap kosong ke arah dunia yang tak bisa lagi ia jangkau.

Senyumnya tipis… Namun matanya menyimpan luka yang tak terlihat.

Dan kisah mereka…

Belum benar-benar berakhir.

1
kikyoooo
wah semangat! yuk saling support kak🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!