Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.
Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Garda Besi
Debu putih dari porselen yang hancur dan sisa-sisa logam yang terbakar masih melayang di udara, menciptakan selubung tipis di antara Li Wei dan pintu medis yang telah hancur. Li Wei berdiri tegak di tengah reruntuhan, napasnya keluar dalam uap pendek yang berpendar ungu tipis. Di telapak tangannya, sisa-sisa energi dari penghancuran unit Garda Besi pertama masih berderak, mengeluarkan suara statis yang memuakkan. Ia menoleh perlahan, menatap Chen Xi dan Xiao Hu yang masih terpaku di sudut ruangan yang kini berantakan.
"Satu langkah lagi menuju kebenaran," gumam Li Wei, suaranya terdengar seperti gesekan logam di atas es, dingin dan tanpa emosi yang biasanya menghiasi nada bicaranya.
"Li Wei, kau... tanganmu," bisik Chen Xi, matanya menatap ngeri pada luka bakar yang mulai menghitam di sela-sela pendaran ungu pada kulit Li Wei. "Energi itu memakanmu dari dalam. Kau harus berhenti menggunakan Void-Pulse tanpa stabilisator!"
"Tidak ada waktu untuk stabilisator, Chen Xi," potong Li Wei cepat, matanya menatap lurus ke arah lorong luar yang gelap. "Aku bisa merasakan mereka. Bukan satu, tapi sepuluh. Mereka bergerak dalam formasi perimeter di Hall Utama."
Xiao Hu merangkak keluar dari bawah meja instrumen, wajahnya pucat pasi namun tangannya tetap mencengkeram erat ransel berisi modul data kristal. "Kak Li, apakah mereka robot yang sama dengan yang tadi Kakak hancurkan?"
"Sama, namun mereka telah mengadaptasi frekuensi tembakan mereka," jawab Li Wei sambil melangkah maju, melewati bangkai robot yang masih mengeluarkan percikan api. "Mereka bukan lagi penjaga keamanan biasa. Mereka adalah algoritma pembunuh yang dikirim langsung oleh pusat kendali."
"Sepuluh unit Mecha-Logic di Hall Utama berarti kita terjebak," Chen Xi memeriksa tablet sarafnya dengan jemari yang gemetar. "Pintu lockdown di ujung Hall akan menutup permanen dalam tiga menit. Jika kita tidak menembus mereka sekarang, bunker ini akan menjadi peti mati kita."
Li Wei berhenti tepat di ambang pintu medis, bahunya naik turun dengan ritme yang berat. "Aku akan membuka jalan. Kalian tetap di belakangku. Jangan berhenti berlari, apa pun yang terjadi."
"Li, dengarkan aku!" Chen Xi menyambar lengan Li Wei, mengabaikan rasa perih akibat aliran listrik statis yang meloncat ke kulitnya. "Level 5-mu belum stabil. Sarafmu baru saja dipaksa berevolusi setelah kau menyerap energi dari reaktor jantung Qi yang tidak stabil itu. Jika kau melepaskan Void-Pulse skala besar lagi, otakmu bisa mengalami shutdown permanen!"
Li Wei menatap tangan Chen Xi di lengannya, lalu beralih menatap mata wanita itu. Untuk sesaat, pendaran ungu di pupilnya meredup, memperlihatkan sisa-sisa kepedihan seorang pria yang telah kehilangan segalanya. "Jika aku tidak melakukannya, kita semua mati di sini sebagai pecundang, Chen Xi. Martabat klan Li tidak akan pulih di dalam tanah ini."
"Persetan dengan martabat klanmu!" teriak Chen Xi dengan air mata yang mulai menggenang. "Aku bicara tentang nyawamu!"
"Nyawaku sudah kuberikan pada energi ini sejak aku menyentuh kristal itu," sahut Li Wei datar, melepaskan cengkeraman Chen Xi dengan lembut namun tak terbantahkan. "Xiao Hu, bersiaplah. Saat aku memberi aba-aba, lari secepat yang kau bisa menuju pintu keluar."
Xiao Hu mengangguk pelan, air matanya jatuh membasahi kerah jaketnya yang kotor. "Baik, Kak Li. Aku percaya pada Kakak."
Li Wei melangkah keluar ke Hall Utama. Ruangan itu luas, dengan langit-langit setinggi sepuluh meter yang dipenuhi kabel-kabel menggantung. Lampu darurat berwarna merah berputar, melemparkan bayangan panjang yang menakutkan ke dinding beton yang retak. Di ujung Hall, sepuluh siluet raksasa berdiri dalam formasi busur, lengan-lengan meriam mereka sudah terangkat, berpendar biru tajam yang menandakan pengisian daya penuh.
"Target teridentifikasi. Subjek Li Wei. Status: Ancaman Level Tinggi," suara mekanis kolektif itu bergema di seluruh ruangan, menciptakan dengungan yang menyakitkan telinga.
"Majulah, kaleng rongsokan," tantang Li Wei, suaranya mengguncang udara di sekitarnya.
Seketika, Hall Utama meledak dalam rentetan tembakan plasma. Cahaya biru melesat membelah kegelapan seperti hujan meteor yang mematikan. Li Wei tidak menghindar. Ia justru merentangkan kedua tangannya, membiarkan aura ungu dari sarafnya mengembang membentuk perisai transparan yang bergetar hebat setiap kali dihantam proyektil.
"Chen Xi, sekarang! Lari!" teriak Li Wei, urat-urat di lehernya menegang saat ia menahan beban tekanan dari sepuluh meriam sekaligus.
"Ayo, Xiao Hu! Jangan menoleh!" Chen Xi menarik tangan bocah itu, berlari menyusuri tepian tembok, menggunakan bayangan pilar-pilar besar sebagai pelindung sementara.
Li Wei merasakan panas yang luar biasa membakar pusat kesadarannya. Setiap hantaman pada perisainya terasa seperti pukulan palu godam langsung ke tulang belakangnya. Ia tahu ia tidak bisa bertahan selamanya dalam posisi defensif. Ia harus menggunakan strategi yang lebih cerdas daripada sekadar adu kekuatan.
"Kalian ingin melihat kekuatan Void?" bisik Li Wei, darah mulai mengalir dari hidungnya. "Akan kutunjukkan cara meruntuhkan logika kalian."
Ia memusatkan seluruh sisa energinya ke ujung jarinya, membayangkan ruang di depan unit Garda Besi itu melengkung dan mengerut. Ia tidak mengincar robot-robot itu secara langsung, melainkan mengincar pilar penyangga utama yang berdiri tepat di atas formasi mereka.
"Li Wei, apa yang kau lakukan?" Chen Xi menoleh sejenak, melihat Li Wei tidak lagi mengarahkan energinya ke arah musuh, melainkan ke langit-langit. "Kau akan meruntuhkan seluruh Hall ini!"
"Memang itu tujuannya!" balas Li Wei dengan geraman parau. "Void-Pulse: Rupture!"
Gelombang ungu pekat meluncur dari telapak tangan Li Wei, menghantam pilar beton raksasa dengan frekuensi yang membatalkan kohesi molekul materialnya. Suara gemeretak hebat memekakkan telinga saat struktur penyangga utama itu mulai retak, menjalar ke langit-langit seperti sarang laba-laba yang terbakar. Debu dan kerikil mulai berjatuhan, namun sepuluh unit Garda Besi itu tidak memiliki emosi untuk merasa takut; mereka tetap memuntahkan plasma ke arah Li Wei.
"Analisis target: Ancaman struktural terdeteksi. Prosedur evakuasi gagal," suara mekanis itu mulai terdistorsi oleh gangguan elektromagnetik dari serangan Li Wei.
"Sudah terlambat untuk evakuasi!" teriak Li Wei. Ia menghentakkan kakinya ke lantai, menciptakan gelombang kejut Void kedua yang merobek lantai logam di bawah kaki para robot tersebut.
Pilar raksasa itu akhirnya menyerah pada gravitasi yang dimanipulasi. Tonase beton dan baja jatuh menghujam tepat ke arah formasi Garda Besi. Suara benturan itu terdengar seperti guntur yang terperangkap di dalam kaleng raksasa. Debu putih membubung tinggi, menelan seluruh pandangan dalam sekejap.
"Li Wei! Di mana kau?" suara Chen Xi terdengar panik dari kejauhan, teredam oleh gemuruh reruntuhan yang masih berjatuhan.
"Terus lari, Chen Xi! Pintu gerbangnya mulai turun!" balas Li Wei. Suaranya terdengar parau, seolah-olah pita suaranya baru saja digosok oleh ampelas.
Li Wei mencoba melangkah, namun lututnya goyah. Rasa sakit di sumsum tulang belakangnya kini bukan lagi sekadar panas, melainkan seperti ribuan jarum es yang ditusukkan sekaligus. Penglihatan di mata kirinya mulai memudar, digantikan oleh bintik-bintik ungu yang menari liar. Ia memaksa dirinya bangkit, menggunakan sisa kekuatan fisiknya untuk menerobos kabut debu.
Di balik reruntuhan, ia melihat satu unit Garda Besi yang masih berfungsi sebagian. Setengah tubuhnya tertimbun beton, namun lengan meriamnya masih bergerak, mencari target secara acak. Li Wei mendekat dengan langkah terseret, wajahnya yang berlumuran darah tidak menunjukkan keraguan sedikit pun.
"Kau... hanya mesin," bisik Li Wei sambil mencengkeram kepala robot tersebut.
Ia tidak membuang energi untuk ledakan lagi. Ia hanya mengalirkan residu Qi-nya ke dalam sirkuit internal robot itu, memaksanya mengalami arus pendek massal. Robot itu bergetar hebat sebelum akhirnya mati total dengan asap hitam keluar dari celah zirahnya. Li Wei melepaskan cengkeramannya, membiarkan tubuh mesin itu jatuh tak berdaya.
"Kak Li! Cepat!" teriak Xiao Hu. Bocah itu berdiri di ambang pintu gerbang hidrolik yang kini tinggal menyisakan celah satu meter dari lantai.
Li Wei mengerahkan seluruh sisa adrenalinnya. Ia melesat dengan manuver terakhir, meluncur di atas lantai yang licin oleh oli dan debu. Tubuhnya melewati celah sempit itu tepat saat gerbang baja seberat sepuluh ton tersebut menghantam lantai dengan dentuman yang menggetarkan seluruh gunung.
Keheningan seketika menyelimuti mereka. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah napas mereka yang memburu dan detak jantung yang berpacu di dalam dada. Li Wei berbaring telentang di koridor luar, menatap lampu langit-langit yang remang. Aura ungu di tubuhnya telah padam, meninggalkan rasa lelah yang luar biasa berat.
"Kita... kita berhasil?" tanya Xiao Hu dengan suara bergetar, ia jatuh terduduk sambil memeluk ranselnya.
Chen Xi merangkak mendekati Li Wei, segera menempelkan sensor medis ke pelipis pria itu. "Suhu sarafmu 42 derajat, Li. Kau hampir saja memasak otakmu sendiri. Jangan pernah lakukan itu lagi, mengerti?"
Li Wei hanya tersenyum getir, matanya terpejam rapat. "Setidaknya aku masih bisa mendengar suaramu mengomel, Chen Xi. Itu tanda yang bagus."
"Kau gila, benar-benar gila," gumam Chen Xi, meskipun tangannya dengan lembut mengusap debu dari dahi Li Wei. "Tapi terima kasih. Kau menyelamatkan kita."
"Jangan berterima kasih dulu," Li Wei membuka matanya, menatap lurus ke ujung koridor yang menuju ke arah permukaan. "Satelit Kekaisaran pasti sudah menangkap lonjakan energi tadi. Mereka tidak akan membiarkan kita keluar dari lereng gunung ini dengan mudah."
"Aku sudah menyiapkan jubah termal untuk kita semua," Xiao Hu bangkit dengan semangat baru, mengeluarkan kain tipis berpendar perak dari tasnya. "Jika kita bergerak sekarang, kita bisa menyamar di antara badai salju di luar."
Li Wei bangkit berdiri dengan bantuan Chen Xi. Meskipun tubuhnya terasa seperti akan hancur, matanya kembali menunjukkan ketajaman seorang komandan. Ia mengambil napas panjang, merasakan udara yang sedikit lebih segar merayap masuk dari celah ventilasi atas.
"Udara luar..." bisik Li Wei. "Aku hampir lupa rasanya."
"Ayo bergerak," ajak Chen Xi sambil memapah bahu Li Wei. "Dunia di luar sana sudah menunggu untuk memburu kita, tapi setidaknya kita punya ruang untuk berlari sekarang."
Mereka melangkah menuju pintu keluar terakhir, meninggalkan kegelapan Bunker X-19 yang kini telah menjadi kuburan bagi rahasia Project Zero dan pasukan Garda Besi yang malang. Di depan mereka, cahaya fajar yang pucat mulai menyapa melalui celah pintu keluar, menandakan bahwa pelarian yang sebenarnya baru saja dimulai.