NovelToon NovelToon
Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Dark Romance
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dira Lee

PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️

Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.

Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.

Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.

Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.

Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?

Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?

Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?

Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!

Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 - Kontrak di atas luka

Zeiran tidak menyentuh minuman itu. Tangannya terkepal hingga buku-bukunya memutih. "Rahez..." bisiknya penuh kebencian. "Ini pasti ulahnya."

Ingatan Zeiran kembali pada kesepakatan beberapa waktu lalu. Rahez telah menuntut pembubaran jaringan Alvaren sebagai tebusan untuk Jinan yang sedang kritis. Zeiran terpaksa menerima nya jika tidak rahez akan melakukan hal bahaya terhadap Jinan. Dan zeiran juga sibuk dengan menyebarkan jaringan tersisa berbagai tempat dan melakukan penyamaran untuk menghindari pembantaian jika diketahui identitasnya. Dan hanya sebagaian kecil saja yang masih menyamar di militer.

Akan tetapi Rahez hanya memberikan akses bagi Zeiran untuk melihat Jinan dan tetap dibawah kendali rahez, menolak mentah mentah zeiran membawanya. Tanpa zeiran tau rahez menargetkan Jihan juga, yang zeiran pikir aman, yang mengancam Jihan untuk memaksa menikah dengan William.

Tiba-tiba, suara benturan keras membuyarkan lamunannya. Alkhan tumbang. Kepalanya menghantam meja bar, ia jatuh pingsan karena pengaruh alkohol yang terlalu banyak.

Zeiran menoleh ke sekeliling bar itu, tidak ada asisten Alkhan atau siapa pun yang mengenalnya di sana.

"Sial, kau merepotkan sekali!" gerutu Zeiran.

Meskipun hatinya diliputi kemarahan dan kehancuran, Zeiran tidak bisa membiarkan tergeletak begitu saja. Dengan kasar dan sigap, Zeiran menarik lengan Alkhan dan memapah pria yang tak sadarkan diri itu keluar dari bar. Memikul saingannya yang patah hati, sementara di kepalanya, ia sedang menyusun rencana pembalasan untuk Rahez.

—-

Dikamar utama kediaman William Marculles

Dipagi harinya, Jihan terbangun di atas ranjang yang masih berantakan oleh kelopak mawar, Air matanya telah mengering, meninggalkan jejak kaku di pipinya yang pucat.

Tanpa membuang waktu, ia segera membersihkan diri dikamar mandi. Setelah itu Dua pelayan masuk dengan formal, membantu Jihan mengenakan gaun yang elegan, serta memoles wajahnya agar terlihat segar. Mereka harus menutupi kesedihannya karena hari ini adalah penyambutan resmi menantu baru di kediaman utama Marculles.

Tok! Tok!

Seorang pelayan masuk dengan wajah tanpa ekspresi. "Nyonya, Tuan William menunggu Anda di ruang kerjanya sekarang, Sebelum menuju kediaman Tuan Besar Alexander."

Jihan merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia menghela napas panjang, mencoba menekan rasa canggung dan ketakutan yang merayapi dadanya. batinnya was-was.

"Baik, aku akan segera ke sana," jawab Jihan lirih.

"Sudah selesai, Nyonya. Anda terlihat sangat cantik dan sempurna untuk keluarga Marculles." salah satu pelayan berucap, Setelah riasan selesai.

Jihan hanya mampu memberikan senyum kaku yang tidak mencapai matanya. Baginya, riasan ini hanyalah topeng untuk menyembunyikan kehancuran jiwanya.

—-

Diruang kerja

Jihan melangkah masuk ke ruang kerja William. William berdiri membelakangi pintu, menatap keluar jendela besar. Begitu mendengar langkah Jihan, ia membalikkan tubuhnya dengan perlahan. Ketampanannya pagi ini terasa begitu mengancam.

Sebenarnya, William tidak peduli pada citra atau drama keluarga. Namun, ia ingin memberikan beban mental yang berat pada Jihan. Ia ingin melihat wanita ini menderita di bawah tanggung jawab yang mustahil.

"Duduk," perintah William dingin tanpa basa-basi.

Jihan duduk di kursi di depan meja kerja besar itu. William menyeringai.

"Hari ini kau akan bertemu Daddy dan Mommy dan keluarga besar ku. Aku ingin kau menjaga sikapmu sesempurna mungkin. Jangan tunjukkan wajah murahanmu yang penuh air mata itu," ujar William tajam. "Penampilanmu harus mencerminkan martabat Marculles. Bicara hanya jika ditanya, dan gunakan otakmu untuk menjawab dengan cerdas, dan jangan buat drama yang memalukan."

William mencondongkan tubuh, menatap Jihan dengan pandangan merendahkan. "Dan satu hal yang paling penting... jangan pernah berpikir kau setara dengan mereka. Mereka adalah darah murni Marculles, garis keturunan penguasa. Sementara kau? Kau hanyalah alat. Ingat itu, Jihan! Jangan pernah mempermalukanku di depan mereka atau kau akan tahu akibatnya."

Jihan merasakan sakit hati yang luar biasa. Setiap kata William seperti menyayat harga dirinya. "Kau tidak perlu menekanku seperti ini. Aku tahu posisiku. Kau tidak perlu menghinaku terus-menerus," sahut Jihan dengan suara bergetar.

William mendengus kasar. "Menghina? Aku hanya menyatakan fakta yang perlu kau tanamkan di kepalamu yang bebal itu."

BRAK!

William melempar sebuah dokumen kontrak ke atas meja tepat di hadapan Jihan, diikuti dengan sebuah pena mewah.

"Tanda tangani itu. Sekarang," perintahnya mutlak.

Jihan tidak menyentuh dokumen itu. Ia hanya membacanya dengan dahi berkerut. Matanya membelalak saat membaca poin demi poin. ia tidak keberatan dengan aturan kontrak lainnya, tapi poin mengenai anak terasa sangat berat untuk ia pikul.

"CEPAT!!! Kau sangat lambat dan membuang waktuku!" bentak William dengan nada tinggi menggema di ruangan itu.

Jihan tersentak hebat. Ia belum pernah dibentak sekeras itu dalam hidupnya. "Aku... aku sedang membaca! Dan kenapa aku harus dan menandatangani ini? "

William murka. Ia berdiri dan menggebrak meja sekali lagi, wajahnya mendekat ke wajah Jihan. "Untuk apa aku menikahimu jika kau tidak berguna? Aku sudah memberikan modal besar dan perlindungan hukum pada Rahez, dan kau berani melanggar kesepakatan?"

William mendesis pelan namun mematikan. "Jika kau tidak menandatangani ini, aku akan menganggapnya sebagai pelanggaran kontrak. Aku akan menarik semua dukungan Marculles. Aku akan pastikan Rahez jatuh, perusahaan Alvarezh hancur, dan kau... kau akan membusuk di jalanan."

Jihan membeku. Ia teringat ancaman Rahez semalam bahwa nyawa Jinan yang bergantung pada kepatuhannya di tempat ini.

Jihan menghela napas pasrah. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia meraih pena tersebut. Air mata nyaris jatuh, namun ia menahannya kuat-kuat. Ia menggoreskan tanda tangannya di atas kertas itu menyerahkan hidup dan kebebasannya pada pria di hadapannya.

"Sekarang, hapus ekspresi menyedihkanmu itu.."ucap William dingin sembari menyambar kembali dokumen itu dan menaruhnya.

William berjalan keluar dengan langkah angkuh dari ruangan kerja memberi kode Jihan untuk mengikutinya.

——

Kediaman Alexander Marculles

William dan Jihan tiba di kediaman utama Lord Alexandor Marculles. Dengan bangunan neo klasik, Pilar-pilar marmer putih yang menjulang tinggi dan megah seperti istana daripada kediaman modern William, dengan langit-langit berukir, lukisan minyak langka, dan perabotan antik Eropa. Keluarga besar Marculles para eksekutif, diplomat, dan istri-istri sosialita berkumpul. Suasana dipenuhi aura gengsi, penilaian, dan kekuasaan.

Eleanor tertegun. Ia telah melihat ribuan wanita dari kalangan high society, namun kecantikan dimiliki jihan berbeda, kulit putihnya seolah mengeluarkan cahaya alami.

Eleanor memeluk William dengan singkat, lalu menoleh ke Jihan dengan senyum formal.

“Selamat datang, Jihan. Kau cantik sekali.”

Alex Menjabat tangan Jihan, matanya menilai “Selamat datang di keluarga Marculles,Jihan.”

Jihan membalas dengan anggukan yang tepat, senyumnya hangat tapi terkontrol, memancarkan karisma yang halus

“Terima kasih, Lord Marculles, Lady Marculles. Ini suatu kehormatan.”

Alexander hanya mengangguk singkat, matanya yang tajam mengamati Jihan layaknya menilai sebuah barang berharga. Sementara itu, Eleanor dengan bangga menuntun william dan Jihan masuk ke dalam aula utama untuk bergabung dengan keluarga besar Marculles yang sudah menunggu.

Jihan dan William kemudian bergerak masuk, disambut oleh kerabat Marculles yang antusias dan penuh rasa ingin tahu.

Aku tidak ingin mereka merendahkan ku, setelah William menghinaku. Berhadapan dengan orang orang berkuasa? Itu hal yang mudah. Batin Jihan dengan percaya diri

Sejak masih muda , saat ayahnya masih hidup ia sudah dilatih untuk berinteraksi dengan kalangan elit politik dan bisnis Alvarezh. Ia tahu bagaimana cara membuat orang terpesona.

Marcellian, adik perempuan Alexander yang dikenal tajam, menghampiri mereka. "Selamat, datang Jihan ternyata kau jauh lebih cantik jika dilihat dari dekat. dan William, Kau benar-benar pandai memilih. Istrimu luar biasa cantik," pujinya, meski matanya tetap mengamati dengan teliti.

Jihan membalas sambutan itu dengan senyum ramah yang elegan. William hanya mendengus pelan tanpa berkata sepatah kata pun. Ia segera melangkah pergi menuju pamannya, Victor, seorang bankir kelas dunia, untuk membahas urusan pekerjaan, meninggalkan Jihan di tengah kepungan para wanita Marculles.

"Aku harus mengakuinya, Jihan. Kecantikanmu memang pantas menjadi pembicaraan," ucap Margaret, bangsawan Aestrasia yang merupakan menantu Marcellian.

Victoria, putri Marcellian, ikut mengangguk setuju. "Benar, aura yang kau bawa sangat menenangkan dan berkelas."

Tetapi, di sudut ruangan, Michelle Marculles si bungsu dari keluarga Marcellian mendengus pelan. Ia memperhatikan Jihan dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan mata yang menyipit.

Dia menarik terlalu banyak perhatian. Jangan sampai semua orang di sini lupa siapa wanita muda paling berpengaruh di keluarga ini. Aku tidak akan membiarkan diriku tersingkir oleh wajah cantik tanpa isi, batin Michelle penuh iri hati.

Michelle melangkah maju, memecah suasana hangat dengan seringai tipis. "Kecantikan adalah hal biasa di kalangan kita, bukan? Hampir setiap wanita di ruangan ini memilikinya. Namun, di keluarga Marculles, yang terutama adalah... kecerdasan dan kontribusi nyata."

Suasana mendadak tegang. Michelle menatap Jihan dengan pandangan menantang. "Ngomong-ngomong, posisi apa yang kau jabat sebelumnya di Alvarezh Group, Jihan? Atau mungkin di perusahaan lain?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!