NovelToon NovelToon
Si Imut Milik Ketua Mafia

Si Imut Milik Ketua Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Mafia / Cinta Murni / Berbaikan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Elrey

Caca, gadis kecil ceria, berteman dengan Rafi tanpa tahu bahwa dia adalah putra kepala mafia Bara Pratama. Meskipun dunia mafia penuh bahaya dan banyak orang melarangnya, persahabatan mereka tumbuh kuat hingga menjadi cinta. Bersama, mereka berjuang mengubah organisasi mafia menjadi usaha hukum yang bermanfaat bagi masyarakat, menghadapi musuh dan masa lalu kelam untuk membangun masa depan bahagia bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MALAM BERCERITA DI ATAP RUMAH

Setelah pulang dari petualangan ke hutan, malam itu cuacanya sangat cerah dengan langit yang penuh bintang-bintang berkilauan. Rafi datang menemui Caca dengan membawa beberapa bantal dan selimut tipis. “Caca, ayo kita ke atap rumah! Malam ini langitnya sangat cantik dan aku ingin cerita sesuatu padamu.”

Caca dengan senang hati mengikuti Rafi. Mereka naik ke atap rumah Rafi melalui tangga kecil yang terletak di belakang gudang.

Mama Lila melihat mereka dan hanya tersenyum, lalu membawa dua gelas jus buah segar untuk mereka. “Jangan terlalu lama ya, besok kamu berdua masih punya kegiatan di klub menggambar.”

Setelah duduk dengan nyaman di atas selimut yang sudah mereka letakkan, mereka melihat ke atas langit yang penuh bintang. Udara malam segar dan sejuk membuat suasana semakin nyaman dan romantis.

Rara juga datang menyertai mereka setelah selesai menelepon kantornya, membawa sebuah kantong kecil berisi camilan.

“Kalian sedang membicarakan apa?” tanya Rara dengan senyum hangat saat duduk di samping mereka.

“Kita sedang mencari bentuk bintang yang dikenal, Kak,” jawab Rafi sambil menunjuk ke arah langit. “Lihat itu, itu seperti tapal kuda kan?”

Caca mengangguk dengan penuh kagum. “Benar sekali! Aku baru saja bisa melihat bentuknya dengan jelas.”

Setelah beberapa saat menikmati pemandangan langit bintang, Rara mulai bercerita tentang masa kecilnya bersama Rafi. “Waktu kamu masih sangat kecil, Rafi, kamu selalu menangis kalau aku tidak membacakan cerita sebelum tidur,” ujarnya dengan senyum nostalgia. “Kamu suka sekali cerita tentang pangeran yang melindungi desa dari bahaya dan selalu ingin menjadi seperti pangeran itu.”

Rafi merasa sedikit malu tapi tersenyum. “Aku masih ingat sedikit tentang itu, Kak. Kamu selalu menggambarkan pangeran itu sebagai orang yang kuat tapi penuh kasih sayang.”

“Dan sekarang kamu memang menjadi seperti itu,” ujar Caca dengan lembut sambil melihat Rafi. “Kamu selalu melindungi teman-teman dan membantu orang yang kesusahan.”

Rafi tersenyum dan menggeser sedikit lebih dekat ke Caca. Kemudian dia mulai bercerita tentang kenangan pertamanya bertemu dengan Caca. “Waktu pertama kali aku melihatmu di taman, kamu sedang menangis karena boneka-mu terjatuh ke dalam genangan air,” cerita Rafi dengan suara pelan. “Aku langsung merasa ingin membantu kamu, dan sejak saat itu aku tahu bahwa kamu akan menjadi teman penting bagiku.”

Caca merasa wajahnya sedikit memerah. “Aku juga tidak akan pernah melupakan hari itu. Kamu tidak hanya membantu mengambil boneka ku, tapi juga memberiku permen dan ajak bermain bersama. Itu adalah hari pertama aku merasa tidak sendirian lagi.”

Mereka semua terdiam sebentar, menikmati keheningan malam dan suara gemericik air dari kolam ikan di halaman belakang. Kemudian Pak Bara dan Mama Lila juga datang ke atap, membawa beberapa bantal tambahan dan cemilan lainnya.

“Kita semua bisa bercerita bersama ya,” ujar Mama Lila dengan senyum hangat. “Ini sudah lama tidak terjadi – keluarga kita berkumpul di atap rumah seperti waktu dulu.”

Pak Bara kemudian mulai bercerita tentang sejarah kampung dan bagaimana keluarga mereka bisa bertahan melalui berbagai kesulitan. “Waktu dulu, kampung ini sering mengalami kekeringan dan kelaparan,” ujarnya dengan suara penuh perasaan. “Kita harus bekerja keras bersama-sama untuk mencari makanan dan air. Itu yang membuat kita menyadari bahwa keluarga dan komunitas adalah hal yang paling penting dalam hidup.”

Dia juga bercerita tentang bagaimana dia memutuskan untuk keluar dari dunia yang tidak benar dan mengubah usaha keluarga menjadi yang hukum. “Itu bukan jalan yang mudah,” katanya dengan serius. “Banyak orang yang tidak setuju dan bahkan mencoba menghalangi kita. Tapi dengan dukungan keluarga dan teman-teman yang baik, kita bisa melewatinya semua.”

Caca mendengarkan dengan seksama setiap kata yang diucapkan Pak Bara. Dia semakin menghargai perjuangan yang telah dilakukan oleh keluarga Rafi untuk membuat kampung menjadi tempat yang lebih baik. “Aku sangat bersyukur bisa mengenal keluarga kamu semua,” ujarnya dengan suara penuh emosi. “Kalian telah memberikan banyak hal baik bagiku dan keluargaku.”

Mama Lila menjawab dengan senyum hangat. “Kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kita, Caca. Kita semua sangat mencintaimu seperti anak kita sendiri.”

Malam itu mereka berkumpul di atap rumah hingga larut malam, berbagi cerita dan mimpi masa depan.

Rara bercerita tentang rencananya untuk membangun pusat seni dan pendidikan di kampung, Rafi dan Caca berbicara tentang impian mereka untuk membuat klub menggambar menjadi tempat yang bisa membantu banyak anak-anak menemukan bakat mereka, sedangkan Pak Bara dan Mama Lila berbagi harapan mereka agar kampung bisa terus berkembang dengan baik.

Ketika mereka akhirnya turun dari atap untuk tidur, hati mereka merasa hangat dan penuh rasa syukur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!