Hai teman-teman, aku masih berjuang konsisten tapi aku nggak tahu kalau akhirnya di tengah jalan aku menyerah dan tidak melanjutkan. Aku hanya rindu menulis. Tapi aku terjebak pada rutinitas harian yang tiada henti. Lanjutan dari Penantian panjang 1 dan 2. Padahal Penantian panjang 2 saja belum saya tamatkan. Tapi semua nama tokoh bermula dari sana.
"Apa kamu bilang?" Suara serak zahrin dengan air mata kemarahan namun dia tahan. Tenggorokannya tercekat sakit, ditambah harus mendengar permintaan suaminya yang dirasa tak mampu dia tunaikan.
Kembali dengan seorang pria yang pernah menyakitinya sangat dalam. Rasanya Zahrin tak terima.
Regi tak beralih tatap. Menatap Zahrin dengan mata sendu yang membuat Zahrin melengos sakit bertambah dengan dadanya yang nyeri.
Apa yang terjadi teman-teman? Sampai-sampai Zahrin begitu?
Ingatkah kalian, siapa pria yang menyakiti Zahrin dulu?
Aku tidak janji menamatkan ceritanya. Tapi aku dapat fell nya. Semoga bisa konsisten menggarapnya🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naisa strong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arsyla takut Zahrin meninggalkannya
Akhyar menggeleng.
"Oh, maaf, saya butuh bicara dengan suaminya." Dokter yang ingin menyampaikan hal penting terkait kondisi kesehatan pasien.
"Itu mommy Arsyla dokter. Dokter bisa sampaikan kepada Arsyla atau papa A, karena Daddy sudah tidak ada dan papa A sudah saya anggap seperti papa Arsyla sendiri." Jawab Arsyla.
"Oh, begitu, kalau begitu maafkan pak dokter ya. Mari ke ruangan saya." Dokter yang berjalan ke ruangan nya diikuti oleh Arsyad, Arsyla dan Akhyar. "Silahkan duduk." Lanjut dokter.
"Sakit apa mommy Arsyla, dok? Sepertinya serius sekali." Arsyla terlihat cemas.
"Em, nggak ada apa-apa anak manis. Hanya saja pak dokter mau memberi tahu kalau kesehatan mommy kalian baik-baik saja, perlu minum vitamin dan istirahat yang cukup." Bohong dokter kepada Arsyla saat itu.
Tidak berselang lama ibu Olivia datang, diberitahu oleh perawat keberadaan cucu-cucunya dan Akhyar. Ibu Olivia mengetuk pintu ruangan dokter dan Akhyar meminta untuk ibu Olivia membawa anak-anak keluar terlebih dahulu.
Setelah mereka bertiga keluar, dokter barulah bicara serius. "Sebelum nya saya ingin meminta maaf kalau tadi saya bohong, pak. Karena sepertinya, putri pasien sangat khawatir dengan ibunya. Takutnya, nanti malah menambah kesedihan putri dari pasien.
Akhyar agak terkejut setelah dokter bicara demikian. Sudah tidak sabar ingin mendengar apa penjelasan dokter selanjutnya.
"Jadi, pasien menderita penyakit jantung, namun belum parah pak. Hanya terindikasi, masih gejala awal akan tetapi juga perlu perawatan, obat-obatan dan juga banyak hal lainnya yang perlu diperhatikan supaya penyakit tersebut tidak memperparah keadaan nya pasien."
Akhyar mengangguk paham.
Dokter melanjutkan dengan menuliskan resep untuk diberikan kepada Akhyar.
Setelahnya Akhyar keluar ruangan berbisik-bisik kepada ibu Olivia terkait penyakit yang di derita Zahrin supaya tidak terdengar oleh Arsyad dan Arsyla.
Mereka kemudian masuk ke ruang perawatan dimana Zahrin tengah berbaring dengan wajah pucat nya.
"Mommy." Panggil Arsyla yang mengusap-usap pipi Zahrin karena takut mommy nya pergi meninggalkannya dan Arsyad seperti Daddy nya. Air mata Arsyla menetes perlahan-lahan. Membasahi kedua pipi nya.
"Kenapa, kok nangis?" Tanya Zahrin kepada Arsyla.
"Mommy nggak akan ninggalin, Arsyla kan?" Saking takutnya kalau Zahrin tiba-tiba meninggal.
Zahrin tersenyum, mengusap air mata Arsyla. "Ya, enggak dong, sayang."
"Tapi kenapa tadi tiba-tiba pingsan? Arsyla khawatir kalau mommy punya penyakit serius seperti Daddy." Arsyla meraih tangan Zahrin dan menggenggam nya.
Zahrin tak bisa menjawab pertanyaan Arsyla. Tadi dada Zahrin terasa nyeri, kepalanya juga mendadak pusing dan setelah itu tak sadarkan diri. Zahrin tidak ingat lagi setelah itu apa yang terjadi. Tiba-tiba dia berbaring di rumah sakit.
"Lain kali kalau kamu capek, kamu bisa bilang ke mama atau supir buat jemput anak-anak, Rin." Pesan ibu Olivia kepada Zahrin.
"Zahrin nggak apa-apa, ma. Oh ya, kapan ini Zahrin bisa pulang, ma?" Tanya Zahrin yang menganggap tadi pingsan biasa.
Ibu Olivia yang membujuk anak-anak untuk mengajak keluar terlebih dahulu, dengan alasan membelikan mommy nya sesuatu. Membiarkan Akhyar yang bicara untuk menyampaikan ke Zahrin sendiri.
Zahrin juga bertanya-tanya dalam batinnya, mengapa mama nya malah meninggalkan nya dengan Akhyar di ruangan itu?
"Ada yang perlu aku sampaikan, Rin. Tentang kesehatan kamu." Akhyar hati-hati sekali menyampaikan nya.
"Apa mas? Aku sakit apa?" Zahrin mulai panik. Tak sabar Akhyar segera menjawab nya.
Akhyar menghela nafas dalam. "Kamu sakit jantung, Rin." Setelahnya Akhyar menunduk.
Sementara Zahrin mulai terserang rasa takut. "Apakah parah, mas?"
"Baru gejala awal. Makanya kamu disarankan menjalankan perawatan dan minum obat secara teratur. Istirahat yang cukup dan kamu nggak boleh kelelahan, Rin." Perjelas Akhyar supaya Zahrin lebih perhatikan kesehatan nya.
"Terus aku kapan bisa pulang, mas?"
"Tunggu hasil dari laboratorium, Rin. Sekarang kamu makan dulu, terus minum obat nya." Akhyar yang mengambil bubur rumah sakit untuk Zahrin.
"Aku bisa sendiri, mas." Zahrin yang tidak ingin disuapi Akhyar mengingat keduanya bukan muhrim.
Akhyar sudah tahu kalau Zahrin keras kepala. Membiarkan nya makan beberapa sendok bubur dari rumah sakit, mengambilkan obat apa saja yang harus diminum oleh Zahrin.
Tidak berselang lama, ponsel Akhyar berdering. Ibu Olivia memberi tahu kalau mereka pulang ke rumah karena besok anak-anak juga harus sekolah.
"Hah, mama pulang, mas?" Zahrin yang mendengarkan pembicaraan Akhyar dan ibu Olivia.
"Iya, Rin. Lagi pula besok pagi anak-anak juga sekolah kan." Jawab Akhyar. "Aku mau keluar sebentar, ya, cari makan. Nanti aku kembali lagi." Akhyar melangkah berjalan keluar ruangan. Namun setelah melewati banyak ruangan, Akhyar tidak sengaja melihat Nina yang terbaring di salah satu ruang perawatan. "Nina." Lirih Akhyar mendekati pintu. Melihat pula pak Gundono dan ibu Dini yang menunggu Nina dan mereka sepertinya tengah mengobrol.
Akhyar lalu mengetuk pintu, ucapkan salam, namun dengan segera ibu Dini membentak nya. "Ngapain kamu kesini?!" Masih marahnya ibu Dini.
"Kebetulan Zahrin sakit, bu. Jadi saya disini menemani nya. Saya mau bicara dengan Nina, bu, kalau diizinkan." Akhyar tidak bermaksud apa-apa. Hanya bingung dengan Nina mengapa dia sampai melakukan percobaan bunuh diri.
"Mas Akhyar." Sahut Nina yang terbaring di ranjang rumah sakit.
Akhyar melangkah lebih dekat. "Kamu baik-baik saja kan, Nin?" Akhyar memastikan kalau Nina baik-baik saja.
Nina tersenyum getir. Tak sepatah kata pun dia bicara. Dia sendiri juga bingung, takut kalau mama dan papa nya mengetahui kehamilan nya.
"Maaf, aku tidak bawa apa-apa, Nin. Hanya lewat mau mencari makan malam, terus tanpa sengaja pintu ruangan mu terbuka, makanya aku kesini." Akhyar memperhatikan pergelangan tangan Nina yang terbalut kain kasa.
"Nina sudah senang, mas. Mas Akhyar mau menyempatkan menjenguk Nina. Bu Zahrin, sakit apa?" Lanjutnya.
"Oh, Zahrin, sakit..." Akhyar yang tampak berpikir untuk tidak terang-terangan kepada Nina. "Dia tadi pingsan, kemungkinan telat makan." Bohong Akhyar kepada Nina. "Oh ya, semoga kamu cepat sembuh, ya." Akhyar lalu berpamitan dan ibu Dini juga melihat kalau hubungan keduanya masih baik-baik saja.
"Sebentar, mama bingung. Nina, jelaskan ke mama! Apa yang membuat kamu bunuh diri? Jadi bukan karena Akhyar, kamu bunuh diri? Lalu karena apa?" Tanya ibu Dini kepada putri nya.
"Maksud mama apa?" Tanya Nina balik.
"Mama tadi siang tampar Akhyar. Mama pikir karena Akhyar, kamu begini. Terus kalau bukan karena Akhyar, karena apa, Nina?" Ibu Dini yang meminta penjelasan kepada putrinya.
Wajah Nina mulai gelisah, takut sekali jika mama dan papa nya tahu kalau sebenarnya dia hamil dan Reza menghilang tanpa kabar. Nina masih belum berani mengeluarkan sepatah kata pun.
"Jawab Nina!" Ibu Dini yang ingin tahu alasan Nina bunuh diri.
Bersambung