NovelToon NovelToon
Rahasia Prajurit Li

Rahasia Prajurit Li

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Romansa / Fantasi Wanita
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1.Menolak.

“Untuk desa Ying.” “Untuk Dewa Yun.” “Untuk keselamatan semua!”

Seruan itu menggema di malam lembap ketika kabut turun dari gunung. Lentera berkedip, seolah enggan menyaksikan ritual itu lebih lama.

Di tengah altar batu, Yun Lan menatap ke bawah—ke tubuhnya sendiri yang diikat kain merah. Gadis gemuk dengan wajah pucat, rambut acak, dan mata yang kosong.

“Lan’er, jangan menangis,” bisik kepala pendeta sambil menekan bahunya. “Pengorbananmu membawa berkah bagi banyak orang.”

Yun Lan tersenyum miris.

“Kalau begitu, mengapa tidak kau saja yang menjadi berkahnya?”

Pendeta terdiam. Orang-orang memalingkan wajah.

Tidak ada yang menjawab ketika ia bertanya,

“Apakah nyawaku tidak berharga dari kalian?”

Angin malam membawa suara orang-orang yang berdiri jauh di belakang.

“Kau yatim piatu.” “Dewa Yun sudah memilihmu.” “Seharusnya kau bersyukur!.”

“Bersyukur katamu?. ”lanjutnya dengan tatapan tajam. “Perlihatkan padaku mana dewa bodoh itu, seenak jidatnya menjadikan aku korban. Mana.. dia.. mana.. ”akhir kata ia ucapkan berulang kali.

Tiba-tiba, suara yang paling menyakitkan muncul dari kerumunan—

“Ritualnya mulai saja! Dewa Yun menunggu!”

“Benar pak pendeta, acara segera dimulai saja. Jangan sampai waktu baik terlewat. ”

Walaupun Yun lan meronta, dirinya tidak bisa melawan beberapa pria. Pendeta tersebut mulai melakukan upacara dan membaca mantra, lalu memaksa Yun lan meminum sesuatu.

“Minumlah ini kematian mu tidak akan menyakitkan. ”

Api pada altar menyala. Rasa perih menguasai tubuhnya. Namun sebelum dunia padam, Yun Lan hanya sempat berbisik:

“Ayah… Ibu…jika ada kehidupan lagi aku ingin menjadi putri kalian lagi. ”

Kabut.

Bukan kabut gunung—tetapi kabut yang seolah hidup dan berputar, seperti jaring halus yang menahan jiwa agar tidak jatuh ke mana pun. Yun Lan membuka mata, dan tubuhnya tidak lagi terasa berat. Tidak ada kain merah yang mengikat. Tidak ada manusia yang berteriak memintanya mati.

Hanya keheningan… dan sebuah dunia yang tampak seperti tembikar pecah antara langit dan tanah.

Langitnya gelap kebiruan, tanpa matahari, tanpa bulan, hanya susunan lentera terapung yang berpendar seperti bintang yang tersesat. Di bawahnya, tanah berwarna perak, setiap langkah menciptakan riak cahaya seperti air.

“Ini bukan surga…” gumam Yun Lan lirih.

Suara itu dijawab oleh gema yang berat, dalam, dan dingin.

“Ini bukan surga.”

Udara bergetar. Lentera-lentera menunduk seolah takut kepada pemilik suara itu.

Di hadapannya, seseorang—atau sesuatu—muncul. Lelaki muda dengan rambut panjang putih seperti asap dupa, jubah hitam-biru dengan bordir awan, dan mata setajam pedang jade yang baru diasah. Ia tidak tampak tua, tetapi auranya membawa usia yang tidak mungkin dihitung.

Dialah Dewa Yun.

“Yun Lan,” panggilnya tanpa emosi. “Pengorbananmu diterima. Negeri mendapat keselamatan. Kau akan menjadi roh pelindung di bawah namaku.”

Yun Lan mengerjap. Suaranya kering, tapi tidak gemetar.

“Jadi itu tujuanmu? Mengambilku… seperti mengambil kambing di pasar?”

Mata Dewa Yun sedikit menyipit. “Pengorbananmu adalah kehormatan.”

Ia tertawa.

Tidak tawa yang manis atau lembut, tapi tawa yang pahit dan pecah—tawa seseorang yang sudah terlalu sering mendengar kata ‘ikhlas’ dipakai untuk menutupi kekejaman.

“Kehormatan? Kau menyebut mati dicekoki ramuan dan dilempar ke api itu kehormatan?” ia berjalan mendekat. “Kalau begitu, mengapa bukan kepala pendeta yang dicomot? Atau anak-anak di kota itu saja?”

Lalu Yun lan berteriak keras di tempat dewa Yun. “KENAPA HARUS AKU!... ”

Suaranya mengema, membuat tempat dewa Yun bergetar hebat.

Lentera bergetar. Kabut tersibak.

Dewa Yun tidak menjawab.

“Jawab!” bentaknya. “Mengapa aku harus mati agar orang lain hidup? Siapa kau hingga memutuskan begitu?!”

Lanjut Yun lan. “Bukannya dewa itu untuk melindungi bukan mengambil nyawa sembarangan, aku... aku tidak terima. ”

Untuk pertama kalinya, mata itu bergerak—tidak marah, tidak tersinggung, namun jelas tidak menyangka seorang manusia berani meninggikan suara di hadapannya.

Mulut dewa Yun terkunci, dan setia ucapnya adalah kebenaran dia merasa bersalah dengan Yun lan.

“Kau terpilih,” jawabnya pendek.

“Tidak!” Yun Lan menunjuk ke dada sendiri. “Aku dikorbankan. Itu dua hal yang berbeda!”

Kabut berkecamuk. Lentera merapuh. Dewa Yun mengangkat jarinya dan dunia mendadak berhenti.

“Jiwamu sudah tercerabut dari tubuh. Tidak ada jalan kembali,” ucapnya datar. “Terimalah takdirmu.”

Yun Lan menatapnya, dada naik-turun. Air mata tidak keluar—bukan karena tidak mampu, tetapi karena kemarahannya menjaga semua pada tempatnya.

Lalu ia bertanya pelan, hampir seperti bisikan:

“Apa aku meminta dilahirkan? Apa aku meminta untuk hidup sendirian? Apa aku meminta mati demi desa yang bahkan tidak mau menatapku?”

Lanjut Yun lan. “Jika aku hidup untuk jadi pengorbanan dengan kehidupan penuh penghinaan sebagai orang sial. Memangnya kamu siapa? hanya dewa pelindung desa Ying. Dan aku tidak mau jadi pelindung siapapun!. ”

Tidak ada jawaban.

Ia mengangkat dagu.

“Aku tidak akan menjadi pelindungmu. Aku tidak akan menjadi roh penjaga. Kalau memang kau dewa yang besar, kembalikan aku.”

Udara runtuh. Suara seperti seribu bel berdentang.

Dewa Yun akhirnya menatapnya utuh—tajam, menilai, menimbang.

“Berani sekali kau berbicara pada dewa.”

“Kalau dewa tidak bisa mendengar manusia,” jawabnya tenang, “untuk apa manusia memujanya?”

Keheningan panjang.

Akhirnya Dewa Yun mengulurkan tangan. Cahaya biru mengelilingi Yun Lan dan tubuhnya bergetar, seperti benang halus yang ditarik kembali ke sesuatu yang hampir putus.

“Aku tidak bisa mengembalikanmu dikehidupan mu yang sekarang,” ucapnya. “Tapi aku bisa mengembalikan mu di kehidupan lalu,tapi dengan satu syarat.”

“Aku mau apapun syaratnya,” Yun Lan mendorong. “Selama aku bisa menjadi anak ayah dan ibuku. Selama aku bisa melindungi mereka.Aku mau!.”

Untuk pertama kalinya wajahnya tersenyum didepan dewa Yun.

Dewa Yun memejamkan mata sejenak, dan ketika ia membuka kembali, suara dunia seakan mengikuti.

“Jika demikian, dengar syaratku.

Aku akan mengembalikanmu ke dunia hidup.

Namun tubuhmu tidak lagi biasa.

Kekuatan akan berada di bawah kulitmu, dan kekuatan itu akan tumbuh seiring langkahmu.”

Yun Lan menelan ludah. “Dan?”

“Jika kau menggunakannya untuk melukai tanpa alasan, kekuatanmu tidak akan hilang.” Ia berhenti. “Kau juga akan hilang. Ragamu akan menjadi milikku. Selamanya.”

“Baik, aku terima apapun kekuatan itu. ”

Yun lan yang tidak sabar untuk bertemu lagi dengan kedua orang tuanya, dirinya berdiri menunggu dengan tidak sabar untuk bisa kembali bersama kedua orang tuanya.

Kabut naik seperti gelombang.

Yun Lan tidak mundur. Tidak gemetar. Tidak menawar.

“Baik,” katanya pelan.

Dewa Yun mengangkat alis. “Sesuai keinginan mu, kau akan terlahir kembali ketengah keluarga mu, tapi takdir mereka hanya kamu yang bisa merubahnya.”

“Aku janji akan melindungi mereka,apapun yang terjadi.Karena aku tidak mau menyesal untuk hidup ini.”

“Ingat satu hal, ini rahasia. Jika kamu melanggar maka kamu akan mendapat hukuman dari langit. ”

“Terserah, cepatlah!.aku ingin bertemu orang tuaku lagi. ”

Diam.

Lalu—suara samar, entah tawa atau helaan napas.

“Manusia kecil,” gumamnya. “Kau menarik.”

Ia menjentikkan jari.

Cahaya putih meledak.

Kabut pecah.

Lentera padam.

Dan suara terakhir yang mengiringi Yun Lan sebelum ia dilempar kembali ke antara napas dan dunia adalah suara Dewa Yun sendiri:

“Kau akan melewati jalan takdir yang berbeda setiap kamu merubahnya.”

“Apa? apa yang dikatakan dewa itu. ”

Tubuh Yun lan yang masuk kedalam lubang biru bercampur gelap dengan cahaya terang.

Gelap lagi.

Tapi kini… bukan gelap yang sama.

Ini gelap tubuh. Gelap daging. Gelap… kehidupan.

Dan di dalamnya, Yun Lan menggerakkan ujung jarinya pertama kali.

1
Nurhasanah
suka bangett cerita mu thor .... rajin2 up ya thor semangattt 🥰🥰🥰💪💪💪💪
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
kau bukan tidak berguna tapi kau terlalu berharga untuk anak yang sudah kau besarkan Jendral Li
Nurhasanah
makin seru .. semangatt thor 🥰🥰🥰
Nurhasanah
lanjut thor ... semangattt 💪💪💪🥰🥰🥰🥰
Nurhasanah
karya bagus gini semoga banyak yg baca ya thorr semangatt ... suka bangett ceritanya 🥰🥰🥰🥰🥰
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
mampir dulu aku
azka aldric Pratama
hadir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!