NovelToon NovelToon
Ambillah!

Ambillah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO / Mafia
Popularitas:38.7k
Nilai: 5
Nama Author: IAS

"Ambil, ambillah dia! Aku ikhlaskan dia untukmu."

Suara seorang wanita terdengar begitu nyaring ketika berada di depan rumah wanita yang menjadi selingkuhan suaminya.

Didepan keluarga besar sang pelakor dia tak gentar meski pun sendirian.

Hancur hati Arundari saat mengetahui bahwa gadis yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu tega menjadi duri dalam daging pada biduk rumahtangganya.

Tampilannya yang religius sungguh tidak berjalan lurus dengan perbuatannya.

Tak ingin sakit hati terlalu lama, Arundari memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya dengan Heri.

Apakah Arundari bisa kembali merasakan cinta setelah dirinya disakiti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semakin Jelas 06

Alhasil sampai jam dimana tim menuju ke bandara, Arundari tak meniggalkan hotel barang sebentar pun. Dia yang memang sudah memesan penerbangan untuk pergi dan pulang tentu tidak bingung lagi.

"Tapi yank, jam mu beda sama jam ku. Apa aku cancel aja terus ambil tiket lagi biar sama kayak kamu,"ucap Heri. Terdengar sangat romantis bukan. Akan tetapi Arundari merasa muak mendengarnya. Entah, sekarang rasanya pun sangat enggan melihat wajah suaminya itu.

"Nggak perlu Mas, kamu pulang aja duluan nggak apa-apa. Sekarang aku mau istirahat aja dulu di hotel. Kebetulan aku ngantuk banget,"jawab Arundari. Ia hanya beralasan agar Heri cepat-cepat pergi karena ada yang ingin dia lakukan lagi.

"Gitu, oke deh. Kita ketemu di rumah nanti malam ya,"sahut Heri. Pria itu kemudian melabuhkan kecupan di kening Arundari lalu bergegas untuk pergi sambil melihat jam yang melingkar pada pergelangan tangannya.

Setelah memastikan rombongan Heri pergi meninggalkan hotel, Arundari langsung bangkit. Dia merapikan jilbabnya dan keluar dari kamar. Ada satu tempat yang ingin dituju oleh Arundari sekarang ini.

"Mbak, saya ingin bertemu degan manajer yang kemarin,"ucap Arundari ketika sudah berada di depan meja resepsionis.

Dengan cepat pihak resepsionis menghubungi sang manager dan pria itu langsung datang untuk menemui Arundari.

"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" ucap sang manager.

"Pak Hasan," Arundari memanggil demikian karena nama yang tertulis di pin yang dipasang pada baju pria itu. "Tolong perlihatkan kamera pengawas di lorong kamar 1003. Kamar itu berhubungan dengan kamar 1004 kan?Lalu saya juga ingin lihat rekaman di lobi ini dan juga tempat parkir,"sambung Arundari.

Hasan sedikit terkejut dengan permintaan tamunya ini. Wajahnya menunjukkan ekspresi penuh tanya. Dan sesuai SOP, dia tidak bisa melakukannya. Terlebih Arundari juga tidak memberikan alasannya.

" Maaf ibu, saya tidak bisa memenuhi permintaan ibu. Ini termasuk sesuatu yang privat dari hotel yang tidak bisa asal kami berikan."

"Pak Hasan saya mohon, saya mohon tunjukkan ke saya. Saya, saya mencurigai suami saya berselingkuh dengan pegawainya. Kalau tidak, mengapa dia memesan kamar yang saling terhubung. Saya mohon Pak, saya mohon bantu saya," ucap Arundari. Tak disangka air matanya mengalir. Ternyata memang sesakit itu mengetahui tanda-tanda bahwa suaminya bermain api dengan gadis yang sangat dikenalnya itu.

"Bu, ini~"

Air mata Arundari semakin deras. Antara sedih dan memang dia ingin mendapat simpati. Ya tak ada salahnya berakting sekarang. Tapi awalnya dia memang sedih dan sakit hati. Tak disangka ternyata Hasan lumayan terpengaruh. Jadi mau tidak mau dia pun melanjutkan tangisnya.

"Bu, aaah baiklah. Saya akan membantu Anda. Mari ikut bersama dengan saya,"ucap Hasan. Akhirnya nuraninya lebih menonjol dari pada otaknya. Hasan sangat tidak tega melihat seorang istri yang menangis karena suaminya.

"Terimakasih, Pak. Sudah mau membantu saya."

"Saya teringat kepada adik-adik saya yang semuanya perempuan Bu. Anak saya pun perempuan. Saya hanya memposisikan bagaimana jika yang Anda alami dialami juga oleh mereka. Nah silakan masuk sebelah sini, Bu." Hasan mengarahkan Arundari menuju tempat yang diinginkan.

Memasuki ruang pusat pengawasan dan keamanan, debaran dada Arundari menjadi sangat hebat. Padahal tadi tidak begitu.

Rekaman demi rekaman di tempat dan waktu yang dipilih oleh Arundari pun diputar. Sepanjang ia melihatnya, semakin dia terasa nyeri hatinya.

"Saya ikut prihatin, Bu Arundari,"ucap Hasan penuh rasa simpati. Dia juga bisa melihat apa yang ada direkam oleh kamera pengawas.

Dua orang dengan tampilan yang tidak seharusnya melakukan tindakan yang juga tidak seharusnya. Si wanita berhijab cantik, si laki-laki juga berpenampilan alim. Tapi mereka berpelukan bejalan bergandengan dengan begitu mesra padahal mereka tidak dalam hubungan pernikahan.

Seharusnya mereka tahu bahwa mereka tidak boleh melakukan itu. Bahkan haram dilakukan.

"Terimakasih Pak Hasan, bolehkan saya meminta salinan rekamannya?" Arundari berkata demikian sambil mengusap air matanya yang terus mengalir tanpa henti.

"Tentu saja, silakan ambil bu."

"Tapi Pak~"

Hasan menggelengkan kepalanya kepada dua pegawai yang berada menjaga bagian itu. Tentu saja dia paham tentang maksud kata tapi yang dilontarkan. Dia tahu dirinya akan kena masalah nantinya.

Namun, Hasan sudah memutuskan untuk membantu. Dan dia tidak ingin setengah-setengah dalam membantu wanita yang sangat tersakiti hatinya itu.

"Terimakasih Pak Hasan. Saya sangat berhutang budi kepada Anda. Jika, jika nanti Anda terkena masalah karena saya. Tolong bilang kepada saya. Saya tahu mungkin saja atasan Anda akan memarahi Anda, dan tolong berikan saja nama saya. Ini nomor telpon saya, saya harap Anda menghubungi saya nanti jika Anda terkena masalah karena sudah membantu saya," ucap Arundari sungguh-sungguh.

Hasan tersenyum, usainya sudah 45 tahun. Jadi jika pun dia dipecat,mungkin itu sudah jadi jalannya dan rejekinya berarti cuma sampai disitu saja.

"Saya akan mengingatnya,"ucap Hasan.

Arundari langsung pergi setelah mengucapkan terimakasih ke beberapa orang. Dia ingin memberi imbalan namun Hasan menolak dengan keras.

Rasanya sungguh sangat senang karena ternyata masih banyak orang baik di sekitarnya. Arundari pun bersiap menuju ke bandara. Dia yang sudah memesan ojek online berjalan dengan terburu-buru dan tanpa sengaja menabrak seseorang yang sedang berjalan masuk ke arah loby.

"Aah maaf mas, maaf saya tidak sengaja," ucap Arundari dengan sopan.

"Tidak masalah, Mbak. Apa Anda baik-baik saja?" jawab pria tersebut.

"Ya saya baik-baik saja. Permisi," sahut Arundari sambil menundukkan kepalanya sebentar dan kembali berjalan dengan cepat menuju luar hotel. Di sana sudah ada pengemudi ojek online yang menunggunya.

Wanita itu terlihat meminta maaf dan kemudian langsung naik ke atas motor. Motor melesat dengan cepat, sehingga hanya dalam hitungan detik sudah tidak terlihat lagi.

"Siapa itu, San?"

"Ah Tuan, mohon maaf. Itu tadi salah satu pengunjung di hotel ini. Dan Tuan, ada yang mau saya sampaikan."

Pria dengan perawakan gagah dan tinggi yang kalau diukur kurang lebih 188cm itu mengerutkan alisnya. Wajahnya yang tampan namun dengan rambut yang sedikit berantakan namun tetap rapi, ah bagaimana menjelaskannya, intinya penampilannya tetap menawan mau bagaimanapun bentuknya, tengah menatap keheranan ke arah orang kepercayaannya itu.

"Ada apa?"

"Mari ke ruangan Anda, Tuan."

Hasan mengulurkan tangannya, dengan sikap mempersilakan sang atasan untuk berjalan lebih dulu.

Pria itu hanya mengenakan kemeja berlengan pendek, celana panjang berbahan kain dan dilengkapi dengan sepatu kets. Namun aura pimpinan jelas terasa dari dirinya. Semua karyawan yang melihatnya langsung menunduk memberikan hormat ketika orang itu lewat

"Nah cepet ngomong, San. Jangan bikin aku penasaran."

"Begini Tuan, saya ingin minta maaf karena sudah melanggar peraturan dan SOP hotel ini. Pertama, saya memberikan informasi pribadi pengunjung dan yang kedua saya memberikan rekaman cctv."

Hasan bicara sambil sedikit menundukkan kepalanya. Dia meminta maaf tapi tidak terlihat begitu menyesal.

"Alasannya?"

"Jadi, ... ."

Hasan mengatakan segalanya. Tak ada yang ditambah dalam ceritanya dan tak ada yang ditambah pula. Semua sesuai yang terjadi di lapangan.

"Begitu, oke aku ngerti. Nggak masalah. Kamu adalah orang yang ku percaya. Kamu bisa memutuskan apa yang harus dilakukan. Jadi siapa nama wanita itu?"

"Arundari. Namanya Arundari Ainunnisa."

Hmmm

TBC

1
cinta semu
arundari terlalu lelet ... mereka udah nikah masih aja ,,mager ...
cinta semu
satu team kompak banget ...tapi nama ny dosa pasti ada cela itu terungkap
Esther
Anis yang nyebarin video dan sekarang malah didukung sama Adyaksa.
Ada maksud tersembunyi nih dari Adyaksa😄
Sri Supriatin
vuma up 1 bab yah thor🤭
Nie
Siapin fisik dan mental kalian ya,karna sebentar lg kalian akan semakin terkenal 🤭
Nanin Rahayu
good job Anis
Miss Typo
bagus Anis biar mereka berdua kapok menderita
dewi rofiqoh
Ternyata benar, anis yang udah nyebarin video itu. Tapi benar nis, heri dan jelita harus dapat sanksi sosial
Miss Typo
cie cieeee dikirim makanan sm Arun, jantung Adyaksa jedag jedug 😁
partini
Anis TK kira laki" ,
Isabela Devi
Anis yg upload semua itu
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
kalo bisa jdiin Istri y Ben,hihihi
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
tuhkan aku dah curiga m anis
Isabela Devi
semoga Arun jd pilihannya
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
baru x ini bos disuruh nunggu
GiZaNyA
wahhh beneran Anis tooo.. kirain si Adyaksa.. 😁😁
Apakah Anis nanti nya akan berjodoh sama Beni yaa..? hhmmm... 🤣🤣
Sunaryati
Arundari banyak orang yang sayang, dan siap membantu serta melindungi kamu.
LIXX
nyuruhnya agak kurang ajar ya🤣🤣🤣
dewi rofiqoh
Berjuanglah untuk hatimu adyaksa! Setelah arun ketuk palu
Esther
Karena tuanmu lagi jatuh cinta pak Anton, makanya terlihat beda😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!