NovelToon NovelToon
Di Balik Kontrak Pernikahan

Di Balik Kontrak Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Nikah Kontrak
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: Kaka's

Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Membasuh Luka, Memulai Langkah

Pagi itu, cahaya matahari yang menerobos masuk melalui celah gorden kamar VIP rumah sakit terasa lebih hangat dan bersahabat dari biasanya. Ayah Kiki akhirnya dinyatakan stabil dan telah dipindahkan ke ruang perawatan biasa, sebuah indikator nyata bahwa badai besar yang mengancam nyawa pria tua itu telah berlalu. Namun, bagi Kiki, badai di dalam dadanya sendiri masih menyisakan gelombang-gelombang kecil yang belum sepenuhnya reda. Ia duduk di sofa kecil samping tempat tidur ayahnya, menatap kosong ke arah deretan gedung pencakar langit di luar sana, sampai aroma kopi yang sangat akrab menyeruak masuk, membelai indra penciumannya.

Fikar melangkah masuk dengan tenang. Tangannya membawa dua cangkir kopi panas dan sekantong kecil roti gandum hangat yang aromanya memenuhi ruangan. Penampilannya pagi ini jauh dari kesan CEO yang intimidatif dan kaku. Ia hanya mengenakan kemeja katun biru langit yang lengannya digulung asal hingga siku, memperlihatkan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya yang kokoh. Wajahnya tampak sedikit lelah, ada bayangan hitam tipis di bawah matanya, namun sorot matanya jauh lebih bercahaya daripada hari,hari sebelumnya.

“Minumlah. Kamu belum tidur dengan benar sejak kemarin, Kiki,” ujar Fikar pelan sambil menyodorkan kopi itu ke arah istrinya.

Kiki menerimanya dengan gerakan yang masih sedikit ragu. “Terima kasih, Mas. Kamu tidak perlu ke sini sepagi ini. Bukankah ada rapat penting dengan dewan komisaris hari ini? Aku dengar dari asistenmu lewat pesan singkat, jadwalmu sangat padat.”

Fikar tidak segera menjawab. Ia menarik kursi plastik di dekat tempat tidur dan duduk tepat di hadapan Kiki, memperpendek jarak fisik yang selama beberapa bulan ini mereka jaga dengan sangat ketat seolah ada dinding kaca transparan di antara mereka.

“Aku sudah mendelegasikannya pada sekretarisku. Ada hal yang jauh lebih penting di sini yang harus aku urus,” Fikar menatap Kiki dengan intensitas yang dalam, sebuah tatapan yang membuat Kiki harus memalingkan wajah karena merasa jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak beraturan. “Mengurusmu, Kiki. Dan memastikan ayahmu benar,benar pulih sampai bisa pulang nanti. Pekerjaan bisa menunggu, tapi waktu bersamamu tidak bisa.”

Hari,hari berikutnya menjadi sebuah transformasi yang tidak pernah Kiki bayangkan dalam mimpi terliarnya sekalipun. Fikar, pria yang dulunya menganggap kehadiran Kiki sebagai gangguan dalam hidupnya yang tertata, kini menjadi sosok yang paling sigap. Ia tidak lagi sekedar memerintah Bi Ijah melalui telepon untuk mengirimkan keperluan, ia sendiri yang memastikan kebutuhan Kiki terpenuhi, mulai dari pakaian ganti hingga buku,buku yang ingin Kiki baca.

Pemandangan paling menyentuh bagi Kiki adalah saat ia melihat dari balik celah pintu kamar, Fikar sedang belajar bagaimana cara menyeka dahi ayah mertuanya dengan handuk hangat. Ia melihat suaminya yang tangguh itu melakukannya dengan gerakan yang sangat hati,hati, seolah,olah ia sedang memegang porselen yang sangat rapuh. Mata Kiki berkaca,kaca melihat pemandangan itu. Pria yang selama ini dingin seperti es, kini menunjukkan kelembutan yang luar biasa di hadapan orang yang paling Kiki cintai.

Ada sebuah momen di malam ketiga, saat hujan kembali turun membasahi kota Jakarta dengan suara rintik yang menenangkan. Ayah Kiki sudah tertidur lelap setelah meminum obatnya. Kiki sedang duduk di koridor rumah sakit yang mulai sepi, mencoba menyelesaikan draf terjemahan novelnya yang sudah mendekati tenggat waktu. Tiba,tiba, ia merasakan sesuatu yang hangat menyelimuti bahunya. Fikar datang membawa selimut tipis dan menyampirkannya dengan lembut.

“Jangan terlalu memaksakan diri. Kamu juga butuh istirahat, Kiki. Tubuhmu bukan mesin,” bisik Fikar, ia kemudian mengambil posisi duduk di lantai samping kursi Kiki, tidak peduli dengan celana kain mahalnya yang kini bergesekan dengan ubin rumah sakit yang dingin.

Kiki menghentikan jemarinya di atas keyboard laptop, lalu menoleh menatap suaminya. “Kenapa, Mas? Kenapa tiba,tiba kamu berubah sejauh ini? Aku... aku sulit untuk tidak merasa curiga bahwa ini hanyalah bagian dari caramu menebus rasa bersalah karena insiden Clara tempo hari.”

Fikar menghela napas panjang, tatapannya menerawang ke ujung koridor yang redup. “Awalnya, mungkin iya. Aku merasa sangat jahat padamu karena telah membawa,bawa masa lalu di saat kamu sedang berjuang. Tapi setelah aku melihat bagaimana kamu tetap berdiri di sampingku, tetap menjadi istri yang sabar meski aku tidak memberikan apa,apa selain luka dan pengabaian, aku tersadar. Aku selama ini seperti orang gila yang mengejar bayangan masa lalu yang sudah mati, sementara di depanku ada berlian yang nyata, yang selama ini aku injak,injak.”

Fikar meraih tangan Kiki, menggenggamnya dengan jemari yang terasa hangat dan kokoh. “Aku tahu kata maaf tidak akan pernah cukup untuk menghapus air mata yang sudah jatuh. Aku tahu kepercayaanmu padaku sudah hancur berkeping,keping. Tapi biarkan aku mencoba untuk mengumpulkan kepingan itu satu per satu, Kiki. Bukan sebagai Fikar yang terikat kontrak denganmu, tapi sebagai Fikar yang ingin benar,benar menjadi rumah untukmu.”

Kiki terdiam seribu bahasa. Hatinya terasa sesak oleh campuran antara rasa haru yang meluap dan ketakutan yang masih membayangi. Ia sangat ingin percaya pada kata,kata manis itu, namun luka selama berbulan,bulan tidak bisa sembuh hanya dengan pengakuan di koridor rumah sakit. “Aku tidak tahu apakah aku bisa, Mas. Aku takut... aku sangat takut jika suatu saat nanti kamu bosan dengan sandiwara kebaikan ini dan kembali menjadi Fikar yang dingin itu lagi.”

“Maka ingatkan aku,” sahut Fikar cepat, suaranya penuh dengan ketegasan yang tulus. “Marahi aku, pukul aku, atau tinggalkan aku jika aku kembali menjadi pria brengsek itu lagi. Tapi aku mohon, beri aku satu kesempatan untuk membuktikan bahwa kali ini aku serius.”

Proses pemulihan Ayah Kiki akhirnya selesai seminggu kemudian. Saat mereka membawa Ayah pulang ke rumah keluarga Kiki, Fikar menunjukkan sisi lain yang lebih mengejutkan lagi. Tanpa sepengetahuan Kiki, Fikar telah mengatur agar ada perawat pribadi yang berjaga 24 jam di rumah orang tua Kiki. Ia juga memastikan seluruh biaya renovasi kecil agar rumah itu lebih ramah bagi pasien jantung sudah terbayar lunas.

Ketika mereka akhirnya kembali ke rumah besar mereka sendiri, suasana tidak lagi terasa mencekam seperti sebuah penjara mewah. Fikar tidak lagi langsung mengurung diri di ruang kerjanya sampai larut malam. Ia justru sudah menunggu Kiki di ruang makan, telah memesan makanan favorit Kiki yang selama ini jarang ia perhatikan.

“Aku ingin kita mencoba satu hal baru,” ujar Fikar saat mereka baru saja selesai makan malam dalam keheningan yang, untuk pertama kalinya, terasa nyaman.

“Apa itu, Mas?” tanya Kiki sambil menatap suaminya dengan rasa penasaran.

“Kencan pertama kita. Tanpa kamera, tanpa perintah Ibu Sofia, dan tanpa urusan bisnis keluarga. Hanya aku dan kamu. Di tempat yang paling biasa, di mana tidak ada yang mengenal kita sebagai ‘Pasangan Sempurna’ dari keluarga terpandang,” Fikar tersenyum, sebuah senyuman tulus yang membuat wajahnya tampak jauh lebih muda.

Kiki tertegun, lalu perlahan sebuah senyuman kecil, yang sudah sangat lama tidak terlihat, terukir di bibirnya. “Ke mana kita akan pergi?”

“Rahasia. Yang jelas, kamu tidak perlu memakai gaun mahal jutaan rupiah atau perhiasan warisan keluarga. Cukup menjadi Kiki yang sederhana, wanita yang berhasil membuatku sadar bahwa aku adalah pria paling bodoh di dunia jika berani melepaskannya.”

Malam itu, saat Kiki kembali ke kamarnya, yang kini sudah kembali ke kamar utama atas permintaan lembut dan tulus dari Fikar, ia melihat sebuah buku kecil yang sangat ia kenal tergeletak di atas bantalnya. Itu adalah jurnal miliknya yang dulu sempat ia gunakan untuk menuliskan segala keluh kesah dan rasa sakitnya selama menikah dengan Fikar. Di halaman terakhir yang tadinya kosong, ada sebuah tulisan tangan Fikar yang tegas namun tertata rapi,

“Pernikahan ini mungkin dimulai dengan kegagalan besar di mata dunia dan penuh dengan kepalsuan. Tapi biarkan kita mengakhirinya dengan kesuksesan di mata hati kita sendiri. Maafkan aku karena begitu terlambat mencintaimu, Kiki. Mari kita tulis halaman,halaman selanjutnya bersama.”

Kiki memeluk jurnal itu erat,erat di dadanya. Air matanya kembali jatuh, namun kali ini bukan air mata kepedihan yang menyayat hati. Ia menyadari bahwa badai memang telah berlalu, dan meski langit hatinya mungkin masih sedikit mendung karena trauma masa lalu, ia bisa melihat semburat pelangi yang indah di kejauhan. Perjalanan mereka mungkin masih sangat panjang dan luka itu mungkin akan meninggalkan bekas permanen, namun untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di rumah ini, Kiki merasa ia tidak lagi berjalan sendirian dalam kegelapan. Ia telah menemukan cahaya di tempat yang paling tidak ia duga, di dalam pelukan pria yang pernah sangat ingin ia benci.

1
SHLDC’s Company
kalau pernikahan sama kiki sdh 2 th,harusnya anak clara sdh lahir ya.
aku kok bingung bacanya...
Murni Dewita
👣
Hunk
Apakah ini yang di sebut Cinta karena terbiasa. Atau Aris hanya khawatir jika Arini terluka sandiwara nya bakal terbongkar atau ibu nya akan khawatir.💪🙏
Val07
sok2an kai aris, ntar kmu yg ga bsa lepas dr arini.😡
ntar giliran kewajiban nuntut, tp hak sbagai suami ga d jalankan.
Serena Khanza
udahlah arini mending abaikan aris aja gak usah berharap banyak sama dia. ego nya aris lebih besar tertutup ego yang segede gunung salju😌
Panda
kak kok kayanya aku pernah baca yaaaaa
Kaka's: baca di mana hayoo... 🤭🤭🤭
total 1 replies
deepey
kasihan aris
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Sebaiknya jarang terlalu berharap lebih Arini, kalo tidak sesuai ekspetasi, nanti km bakal jauh lebih sakit dari sekarang.
deepey: semoga benar-benar muncul harapan buat arini
total 1 replies
Serena Khanza
najis banget ketemu model laki kek aris.. kek nya nama aris dimana mana nyebelin ya😏 yang viral itu juga namanya aris, eh disini namanya aris juga 🙄😌
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Hunk
Dalem banget bagian ini… dialognya kerasa dingin tapi justru nusuk. Aris kelihatan realistis, tapi di saat yang sama kejam tanpa sadar. Sementara Arini posisinya bikin miris—dia jatuh cinta pada versi yang bahkan mungkin nggak pernah benar-benar ada. Konflik emosinya kerasa kuat dan relate, apalagi soal pernikahan yang cuma “kesepakatan”. Penasaran banget kelanjutannya bakal sejauh apa perasaan Arini bertahan atau malah hancur.
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Miris banget nasib Arini harus hidup dibawah keputusan orang lain, bahkan untuk mendapatkan hak nya sendiri, hak untuk bahagia aja engga bisa 🙃
Fra
Kasihan sekali kamu Arini, demi membantu keluarga juga lho ini ;(
Sedih
Serena Khanza
aku suka sama ceritanya , bener2 kehidupan pernikahan yang tanpa cinta tapi disini dikemas dengan cerita yang menurutku asik gitu buat di baca nya gak berat gak yang rumit gitu.. semangat terus thor 💪🏻
Serena Khanza
sejauh ini untuk di awal bab kerasa banget sih dua manusia yang menikah tanpa cinta, yg satu ingin sedikit aja ada perhatian/setidaknya kek aku disini loh ada gitu, sedangkan yang satu kek naif, sok gak butuh, sok gak peduli atau mungkin ada sesuatu nih..
Hunk
Bagus cerita nya tentang nikah kontrak.

Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.
Hunk: iya sama sama. Senang bisa membantu🙏
total 2 replies
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Begini lah gambaran nyata kalo menikah tanpa perasaan
deepey
arini big hug for u
deepey
semangat berkarya ya kk 💪
Kaka's: trimakasih kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!