Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membasuh Luka, Memulai Langkah
Pagi itu, cahaya matahari yang menerobos masuk melalui celah gorden kamar VIP rumah sakit terasa lebih hangat dan bersahabat dari biasanya. Ayah Arini akhirnya dinyatakan stabil dan telah dipindahkan ke ruang perawatan biasa—sebuah indikator nyata bahwa badai besar yang mengancam nyawa pria tua itu telah berlalu. Namun, bagi Arini, badai di dalam dadanya sendiri masih menyisakan gelombang-gelombang kecil yang belum sepenuhnya reda. Ia duduk di sofa kecil samping tempat tidur ayahnya, menatap kosong ke arah deretan gedung pencakar langit di luar sana, sampai aroma kopi yang sangat akrab menyeruak masuk, membelai indra penciumannya.
Aris melangkah masuk dengan tenang. Tangannya membawa dua cangkir kopi panas dan sekantong kecil roti gandum hangat yang aromanya memenuhi ruangan. Penampilannya pagi ini jauh dari kesan CEO yang intimidatif dan kaku. Ia hanya mengenakan kemeja katun biru langit yang lengannya digulung asal hingga siku, memperlihatkan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya yang kokoh. Wajahnya tampak sedikit lelah, ada bayangan hitam tipis di bawah matanya, namun sorot matanya jauh lebih bercahaya daripada hari-hari sebelumnya.
"Minumlah. Kamu belum tidur dengan benar sejak kemarin, Arini," ujar Aris pelan sambil menyodorkan kopi itu ke arah istrinya.
Arini menerimanya dengan gerakan yang masih sedikit ragu. "Terima kasih, Mas. Kamu tidak perlu ke sini sepagi ini. Bukankah ada rapat penting dengan dewan komisaris hari ini? Aku dengar dari asistenmu lewat pesan singkat, jadwalmu sangat padat."
Aris tidak segera menjawab. Ia menarik kursi plastik di dekat tempat tidur dan duduk tepat di hadapan Arini, memperpendek jarak fisik yang selama beberapa bulan ini mereka jaga dengan sangat ketat seolah ada dinding kaca transparan di antara mereka.
"Aku sudah mendelegasikannya pada sekretarisku. Ada hal yang jauh lebih penting di sini yang harus aku urus," Aris menatap Arini dengan intensitas yang dalam, sebuah tatapan yang membuat Arini harus memalingkan wajah karena merasa jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak beraturan. "Mengurusmu, Arini. Dan memastikan ayahmu benar-benar pulih sampai bisa pulang nanti. Pekerjaan bisa menunggu, tapi waktu bersamamu tidak bisa."
Hari-hari berikutnya menjadi sebuah transformasi yang tidak pernah Arini bayangkan dalam mimpi terliarnya sekalipun. Aris, pria yang dulunya menganggap kehadiran Arini sebagai gangguan dalam hidupnya yang tertata, kini menjadi sosok yang paling sigap. Ia tidak lagi sekadar memerintah Bi Ijah melalui telepon untuk mengirimkan keperluan; ia sendiri yang memastikan kebutuhan Arini terpenuhi, mulai dari pakaian ganti hingga buku-buku yang ingin Arini baca.
Pemandangan paling menyentuh bagi Arini adalah saat ia melihat dari balik celah pintu kamar, Aris sedang belajar bagaimana cara menyeka dahi ayah mertuany dengan handuk hangat. Ia melihat suaminya yang tangguh itu melakukannya dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang memegang porselen yang sangat rapuh. Mata Arini berkaca-kaca melihat pemandangan itu. Pria yang selama ini dingin seperti es, kini menunjukkan kelembutan yang luar biasa di hadapan orang yang paling Arini cintai.
Ada sebuah momen di malam ketiga, saat hujan kembali turun membasahi kota Jakarta dengan suara rintik yang menenangkan. Ayah Arini sudah tertidur lelap setelah meminum obatnya. Arini sedang duduk di koridor rumah sakit yang mulai sepi, mencoba menyelesaikan draf terjemahan novelnya yang sudah mendekati tenggat waktu. Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu yang hangat menyelimuti bahunya. Aris datang membawa selimut tipis dan menyampirkannya dengan lembut.
"Jangan terlalu memaksakan diri. Kamu juga butuh istirahat, Arini. Tubuhmu bukan mesin," bisik Aris, ia kemudian mengambil posisi duduk di lantai samping kursi Arini, tidak peduli dengan celana kain mahalnya yang kini bergesekan dengan ubin rumah sakit yang dingin.
Arini menghentikan jemarinya di atas keyboard laptop, lalu menoleh menatap suaminya. "Kenapa, Mas? Kenapa tiba-tiba kamu berubah sejauh ini? Aku... aku sulit untuk tidak merasa curiga bahwa ini hanyalah bagian dari caramu menebus rasa bersalah karena insiden Clara tempo hari."
Aris menghela napas panjang, tatapannya menerawang ke ujung koridor yang remang. "Awalnya, mungkin iya. Aku merasa sangat jahat padamu karena telah membawa-bawa masa lalu di saat kamu sedang berjuang. Tapi setelah aku melihat bagaimana kamu tetap berdiri di sampingku, tetap menjadi istri yang sabar meski aku tidak memberikan apa-apa selain luka dan pengabaian, aku tersadar. Aku selama ini seperti orang gila yang mengejar bayangan masa lalu yang sudah mati, sementara di depanku ada berlian yang nyata, yang selama ini aku injak-injak."
Aris meraih tangan Arini, menggenggamnya dengan jemari yang terasa hangat dan kokoh. "Aku tahu kata maaf tidak akan pernah cukup untuk menghapus air mata yang sudah jatuh. Aku tahu kepercayaanmu padaku sudah hancur berkeping-keping. Tapi biarkan aku mencoba untuk mengumpulkan kepingan itu satu per satu, Arini. Bukan sebagai Aris yang terikat kontrak denganmu, tapi sebagai Aris yang ingin benar-benar menjadi rumah untukmu."
Arini terdiam seribu bahasa. Hatinya terasa sesak oleh campuran antara rasa haru yang meluap dan ketakutan yang masih membayangi. Ia sangat ingin percaya pada kata-kata manis itu, namun luka selama berbulan-bulan tidak bisa sembuh hanya dengan pengakuan di koridor rumah sakit. "Aku tidak tahu apakah aku bisa, Mas. Aku takut... aku sangat takut jika suatu saat nanti kamu bosan dengan sandiwara kebaikan ini dan kembali menjadi Aris yang dingin itu lagi."
"Maka ingatkan aku," sahut Aris cepat, suaranya penuh dengan ketegasan yang tulus. "Marahi aku, pukul aku, atau tinggalkan aku jika aku kembali menjadi pria brengsek itu lagi. Tapi aku mohon, beri aku satu kesempatan untuk membuktikan bahwa kali ini aku serius."
Proses pemulihan Ayah Arini akhirnya selesai seminggu kemudian. Saat mereka membawa Ayah pulang ke rumah keluarga Arini, Aris menunjukkan sisi lain yang lebih mengejutkan lagi. Tanpa sepengetahuan Arini, Aris telah mengatur agar ada perawat pribadi yang berjaga 24 jam di rumah orang tua Arini. Ia juga memastikan seluruh biaya renovasi kecil agar rumah itu lebih ramah bagi pasien jantung sudah terbayar lunas.
Ketika mereka akhirnya kembali ke rumah besar mereka sendiri, suasana tidak lagi terasa mencekam seperti sebuah penjara mewah. Aris tidak lagi langsung mengurung diri di ruang kerjanya sampai larut malam. Ia justru sudah menunggu Arini di ruang makan, telah memesan makanan favorit Arini yang selama ini jarang ia perhatikan.
"Aku ingin kita mencoba satu hal baru," ujar Aris saat mereka baru saja selesai makan malam dalam keheningan yang, untuk pertama kalinya, terasa nyaman.
"Apa itu, Mas?" tanya Arini sambil menatap suaminya dengan rasa penasaran.
"Kencan pertama kita. Tanpa kamera, tanpa perintah Ibu Sofia, dan tanpa urusan bisnis keluarga. Hanya aku dan kamu. Di tempat yang paling biasa, di mana tidak ada yang mengenal kita sebagai 'Pasangan Sempurna' dari keluarga terpandang," Aris tersenyum, sebuah senyuman tulus yang membuat wajahnya tampak jauh lebih muda.
Arini tertegun, lalu perlahan sebuah senyuman kecil—yang sudah sangat lama tidak terlihat—muncul di bibirnya. "Ke mana kita akan pergi?"
"Rahasia. Yang jelas, kamu tidak perlu memakai gaun mahal jutaan rupiah atau perhiasan warisan keluarga. Cukup menjadi Arini yang sederhana, wanita yang berhasil membuatku sadar bahwa aku adalah pria paling bodoh di dunia jika berani melepaskannya."
Malam itu, saat Arini kembali ke kamarnya—yang kini sudah kembali ke kamar utama atas permintaan lembut dan tulus dari Aris—ia melihat sebuah buku kecil yang sangat ia kenal tergeletak di atas bantalnya. Itu adalah jurnal miliknya yang dulu sempat ia gunakan untuk menuliskan segala keluh kesah dan rasa sakitnya selama menikah dengan Aris. Di halaman terakhir yang tadinya kosong, ada sebuah tulisan tangan Aris yang tegas namun tertata rapi:
"Pernikahan ini mungkin dimulai dengan kegagalan besar di mata dunia dan penuh dengan kepalsuan. Tapi biarkan kita mengakhirinya dengan kesuksesan di mata hati kita sendiri. Maafkan aku karena begitu terlambat mencintaimu, Arini. Mari kita tulis halaman-halaman selanjutnya bersama."
Arini memeluk jurnal itu erat-erat di dadanya. Air matanya kembali jatuh, namun kali ini bukan air mata kepedihan yang menyayat hati. Ia menyadari bahwa badai memang telah berlalu, dan meski langit hatinya mungkin masih sedikit mendung karena trauma masa lalu, ia bisa melihat semburat pelangi yang indah di kejauhan. Perjalanan mereka mungkin masih sangat panjang dan luka itu mungkin akan meninggalkan bekas permanen, namun untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di rumah ini, Arini merasa ia tidak lagi berjalan sendirian dalam kegelapan. Ia telah menemukan cahaya di tempat yang paling tidak ia duga: di dalam pelukan pria yang pernah sangat ingin ia benci.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.