" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"
"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"
"Halah paling juga nanti kamu nyesal"
Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pulang
Setelah mandi dan keramas untuk menghilangkan sisa garam laut di rambutnya, Nana merasa jauh lebih segar. Sambil mengeringkan rambut dengan handuk, ia segera membuka ponselnya. Untungnya, setelah perjuangan refresh berkali-kali, ia berhasil mendapatkan dua tiket penerbangan untuk besok sore.
"Selesai! Kalau nggak dapat juga, bisa-bisa Pak Abian benar-benar menjadikanku penghuni tetap Bali," gumamnya lega.
Nana kemudian mulai mengemasi barang-barangnya. Ia melipat kain pantai dan baju-baju yang dibelinya di pasar tadi dengan rapi. Gantungan kunci kura-kura yang ia paksa beli untuk Abian sempat ia pandangi sebentar sambil tersenyum geli.
Setelah kopernya rapi, Nana merebahkan diri di ranjang dan menelpon nomor ibunya.
"Halo, Ma..." sapa Nana saat sambungan tersambung.
"Iya, Nana masih di Bali," jawab Nana lembut.
"Lho, kok lama banget di sana,? Kerjanya nggak beres-beres atau sengaja mau liburan?" suara Ibu terdengar renyah dari seberang telepon.
Nana terkekeh, tangannya memainkan ujung sprei. "Iya, Ma... kemarin ada kendala tiket, tapi besok juga udah mau pulang kok. Oh iya, Mama sehat kan?" tanya Nana pertanyaan wajib yang selalu ia tanyakan setiap kali menelepon, memastikan satu-satunya orang tua yang ia miliki baik-baik saja.
"Mama sehat di sini, Na. Sehat banget malah! ," jawab Ibunya dengan nada bercanda.
Nana mengerucutkan bibirnya, berpura-pura merajuk. "Yahh... mama mah gitu. Jadi kalau sama aku mama nggak sehat? Jadi maksudnya selama ini aku ini sumber pusingnya mama ya? Gitu ya, ma?"
Ibu tertawa lepas di telepon. "Bukan gitu. Maksudnya Mama tenang kalau kamu kerja bener di sana, apalagi kalau dapet bonus buat beli daster baru."
Nana ikut tertawa. "Tenang, Ma. Daster Bali paling adem udah masuk koper. Pokoknya besok Nana pulang bawa sekeranjang kangen buat mama."
Baru saja Nana ingin melanjutkan ceritanya tentang pantai, suara ketukan dari pintu connecting room terdengar lagi, kali ini lebih tidak sabar.
"Haruna! Lama sekali? Saya sudah lapar, jangan sampai saya makan meja di sini!" teriak Abian dari balik pintu.
Nana menjauhkan ponselnya sebentar. "Iya, Pak! Sebentar! Lima menit lagi!"
"Siapa itu, Na? Galak bener suaranya," tanya Ibu di telepon.
"Itu... itu singa Bali, ma. Eh, maksudnya bos Nana. Udah ya ma, nanti Nana telepon lagi pas sampai bandara. Sayang mama!"
Nana mematikan telepon, mengembuskan napas panjang, dan bangkit berdiri. Ia bercermin sebentar, merapikan sedikit wajahnya yang masih merona setelah tertawa tadi, lalu melangkah menuju pintu penghubung.
Begitu pintu dibuka, Abian sudah berdiri di sana dengan tangan bersedekap, sudah rapi dengan kemeja biru navy yang lengannya digulung.
"Siapa yang menelepon? Sampai lupa kalau bosnya belum makan malam," tanya Abian.
"mama saya yang nelpon pak"
"lagian bapak kenapa nungguin saya sih. Kan bisa makan sendiri. Tinggal turun kebawah. Kalo malas tinggal panggil pelayan aja. Bapak ribet banget kayak cewek."
"apa kamu bilang."
"bapak ganteng"
Abian memicingkan matanya, menatap Nana dengan tatapan menyelidik yang tajam. Ia tahu asistennya ini sedang melakukan manuver penyelamatan diri setelah hampir saja menghinanya.
"Pintar sekali ya kamu mengubah kalimat," ucap Abian dingin, namun sudut bibirnya sedikit berkedut menahan senyum.
"Tadi bilang saya ribet seperti perempuan, sekarang bilang ganteng. Kamu pikir saya mempan dengan pujian murahan begitu?"
Nana nyengir lebar, menunjukkan deretan giginya yang rapi. "Hehe, tapi kan memang kenyataan, Pak. Bapak kalau pakai kemeja navy begini tingkat kegantengannya naik 15 persen. Makanya saya betah jadi asisten Bapak. Ya meskipun tiap hari makan ati" ucap Nana pelan di akhir kalimatnya.
"Saya masih dengar Haruna."
"ya, siapa bilang juga bapak budeg" bisiknya agar Abian tak mendengar nya.
Mereka akhirnya duduk di salah satu meja terbaik di restoran hotel yang menghadap langsung ke arah kolam renang dan pantai.
Nana langsung memesan menu yang paling menggiurkan nasi goreng seafood spesial dan jus mangga tanpa ragu, mumpung dibayari bos.
Di sela-sela suapan nasi goreng seafoodnya yang ketiga, Nana tiba-tiba teringat sesuatu. Ia meletakkan sendoknya sejenak dan menatap Abian yang sedang memotong steak dengan sangat rapi hampir terlalu rapi untuk ukuran manusia normal.
"Pak, saya mau tanya," buka Nana.
"Selama kita di sini tiga hari, siapa sih yang sebenarnya mimpin kantor pusat? Apa semuanya dilepas begitu saja?"
Abian berhenti sejenak, pisau dagingnya masih menempel di atas piring. Ia mendongak, menatap Nana dengan tatapan yang seolah-olah mengatakan, 'Kamu serius tanya itu?'
"Kan ada Danu, Haruna," jawab Abian dingin.
"Dia itu Wakil Direktur Operasional. Kamu sendiri yang kirim email delegasi tugas ke dia minggu lalu. Kok kamu makin oon ya selama di Bali? Apa karena terlalu banyak kena air laut?"
Nana mendengus keras, hampir saja menyemburkan sisa nasi di mulutnya. Ia membanting pelan sendoknya ke piring. "Iya, saya tahu ada Pak Danu! Kan saya cuma nanya, Pak. Mana tahu Bapak punya mata-mata lain atau instruksi rahasia. Sensi amat sih! Pertanyaan simpel saja dijawab pakai embel-embel oon."
"Bukan sensi, Haruna. Saya hanya heran kenapa kapasitas otakmu sepertinya menyusut seiring dengan bertambahnya jumlah oleh-oleh di kopermu," sahut Abian tanpa ekspresi, lalu kembali mengunyah dagingnya dengan tenang.
"Ih! Bapak itu ya, nggak bisa apa sekali-kali jawabnya lembut? Kayak... Iya Nana, ada Danu di sana, kamu tenang saja. Gitu kan enak didengarnya," keluh Nana sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kalau saya bicara selembut itu, kamu pasti bakal mikir saya kesurupan setan penunggu pantai. Sudah, habiskan makananmu. Jangan sampai kamu makin oon karena kurang nutrisi."
Nana mendelik kesal, tapi tetap melanjutkan makannya dengan penuh nafsu karena gratis. "Dasar robot nggak punya perasaan! Untung ganteng, kalau nggak sudah aku ceburkan ke kolam renang tadi," batin Nana.
Abian dan Nana berjalan berdampingan memasuki area keberangkatan Bandara Ngurah Rai. Abian tampak gagah dengan kacamata hitamnya, sementara Nana menyeret koper kecilnya dengan langkah riang.
Abian berhenti sejenak di depan papan informasi jadwal penerbangan, lalu menoleh ke arah asistennya itu. "Haruna, kamu pesan yang First Class kan untuk saya?"
Nana menoleh sambil tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang rapi. "Aman, Pak. Semua terkendali sesuai keinginan Bapak. Kursi paling nyaman, privasi terjaga, pokoknya Bapak tinggal duduk manis sampai Jakarta."
Abian mengangguk puas. "Bagus. Saya tidak mau perjalanan pulang ini terganggu suara bising atau kursi yang sempit. Saya butuh istirahat sebelum besok kembali ke kantor."
Nana mengangguk-angguk setuju, lalu ia berhenti melangkah dan menatap bosnya itu dengan tatapan polos. "Pak Abian..."
"Apa lagi?" tanya Abian curiga melihat nada bicara Nana.
"Saya juga pesan yang First Class, Pak," ucap Nana tanpa dosa.
Abian langsung menghentikan langkahnya sepenuhnya. Ia menurunkan sedikit kacamata hitamnya ke ujung hidung, menatap Nana dengan mata membelalak. "Kamu bilang apa? Kamu... pesan First Class juga untuk diri kamu sendiri?"
"Iya, Pak. Kenapa? Bapak keberatan?" tanya Nana balik dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.
"Haruna, kamu itu asisten, bukan Direktur Utama! Sejak kapan ada anggaran perusahaan untuk tiket First Class asisten?" omel Abian, meski suaranya ia kecilkan agar tidak jadi pusat perhatian orang di bandara.
Nana langsung mengeluarkan jurus andalannya. "Loh, Pak. Kan kemarin Bapak sendiri yang bilang kalau saya ini asisten yang hebat karena sudah sabar menghadapi Bapak selama tiga hari ini. Terus, Bapak ingat kan siapa yang harus lari-lari cari tiket kemarin pas semuanya penuh? Saya, Pak! Kaki saya sampai pegal."
Nana menghela napas dramatis. "Terus kalau saya duduk di ekonomi, nanti kalau Bapak butuh dokumen di tengah jalan, saya harus jalan jauh ke depan? Itu tidak efisien, Pak. Waktu adalah uang, kan?"
"Kamu... pandai sekali memutarbalikkan kata-kata saya."
"Dasar licik. Dia benar-benar tahu cara memanfaatkan situasi," batin Abian sambil diam-diam tersenyum tipis di balik kacamata hitamnya.
Nana ga ada teman laki Thor kayanya asik deh kalau satu tempat kerja ketemu teman lama