Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.
Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.
Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.
Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Coba Minta Tolong
Raisa mengangkat bahu kecil. “Mungkin kebetulan saja, Bu.”
Saat itu, langkah kaki terdengar dari arah lorong. Krisna baru saja masuk rumah setelah memeriksa bahan material untuk renovasi klinik yang mulai berjalan bersama ayahnya. Ia berhenti di ambang ruang tengah ketika melihat pemandangan itu.
Raisa.
Menggendong Baby Ezio.
Tenang. Lembut.
“Kok dia bisa ada di sini,” batinnya.
Krisna berdiri membeku sejenak. Ada sesuatu yang terasa janggal—perempuan yang sama yang berteriak “awas minggir” padanya, yang melempar batu dan memecahkan kaca mobilnya, kini mengayun anaknya dengan penuh kehati-hatian.
Dan anak itu … diam. Tenang. Nyaman.
Bu Lita menoleh, melihat Krisna. “Kris, lihat,” katanya sambil tersenyum. “Dari tadi Ezio rewel, tapi langsung diam sama Raisa.”
Krisna tidak langsung menjawab. Tatapannya terpaku pada pemandangan itu—pada tangan Raisa yang mantap, pada wajahnya yang lembut, pada cara ia menunduk sedikit agar wajah bayi sejajar dengannya.
Untuk pertama kalinya sejak kembali ke desa, Krisna merasa ada sesuatu di dadanya yang mengendur.
Raisa akhirnya menyadari kehadiran Krisna. Ia menoleh, dan tatapan mereka bertemu.
Sesaat, waktu seperti berhenti.
Raisa refleks menegakkan tubuh. “Eh—Maaf, Mas ... Eh Pak. Saya—”
“Duh, bapaknya ada nih.”
“Tidak apa-apa,” Krisna memotong cepat, suaranya lebih pelan dari biasanya. “Dia … lagi tenang.”
Raisa menatap baby Ezio, lalu kembali ke Krisna. “Kayaknya cuma pengen digendong, Mas.”
Krisna mengangguk, perlahan. “Hmmm. Terima kasih.” Kata itu keluar begitu saja.
Raisa terdiam, sedikit terkejut. Ia hanya mengangguk kecil, kembali mengayun baby Ezio dengan lembut.
Di ruang tengah yang luas itu, di antara persiapan syukuran dan hiruk-pikuk yang menanti, dua orang dengan luka masing-masing berdiri dalam jarak dekat—dipersatukan oleh tangisan bayi yang akhirnya reda.
Dan tanpa mereka sadari, sesuatu telah bergeser.
Bukan besar.
Belum jelas.
Tapi cukup untuk membuat hari itu terasa berbeda.
***
Tangisan baby Ezio kembali memecah udara ruang tengah.
Pelan tapi tajam. Bukan tangisan lapar—lebih seperti protes kecil yang berulang, seakan bayi itu sedang menuntut sesuatu yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Bik Sum datang dari arah dapur, tangannya masih basah, wajahnya sedikit tergesa. “Bu … Den Krisna,” katanya sambil menunduk sopan, “yang mau melamar jadi pengasuh bayi sudah datang. Ada tiga orang. Nunggu di depan.”
Krisna menoleh cepat. “Sekarang?”
“Iya, Den.”
Tatapan Krisna otomatis jatuh pada Ezio—yang saat itu masih anteng di pelukan Raisa. Bayi itu menempel nyaman di dada gadis itu, kepalanya bersandar di bahu Raisa, napasnya teratur. Jari-jari mungilnya menggenggam ujung kemeja Raisa seolah takut dilepas.
Kontras yang mengganggu.
Raisa berdiri dengan posisi santai, satu tangan menopang punggung bayi, satu lagi mengusap pelan punggung kecil itu. Wajahnya tenang, tidak canggung, tidak panik.
Seolah ini bukan pertama kalinya.
Raisa sendiri pura-pura tidak mendengar kata “pengasuh”. Pandangannya sengaja dialihkan ke jendela, ekspresinya datar, seperti itu bukan urusannya. Ia tahu betul batas posisinya. Ia hanya pengganti ibunya hari ini. Tidak lebih.
“Bik,” kata Krisna akhirnya, suaranya kembali dingin dan tegas seperti biasa, “tolong kumpulkan surat lamaran mereka. Suruh tunggu saja di depan. Nanti saya panggil satu per satu.”
“Baik, Den Krisna.”
Bik Sum berbalik pergi.
Raisa merasa itu tanda untuk pamit. Ia menunduk sedikit ke arah Bu Lita. “Bu … Ezio-nya sudah tenang. Saya mau ke dapur ... bantu-bantu.”
Bu Lita mengangguk. “Iya, Nak. Terima kasih ya.”
Raisa perlahan menyerahkan Ezio kembali ke pelukan Bu Lita. Gerakannya hati-hati, seolah takut mengganggu kenyamanan bayi itu.
Begitu tubuh kecil itu berpindah—
Tangisan meledak.
Baby Ezio merengek keras, wajahnya langsung memerah, tubuhnya menggeliat tidak nyaman. Tangannya terangkat, seperti mencari sesuatu.
Bu Lita terkejut. “Lho … kok nangis lagi?”
Ia mengayun-ayun, menepuk pelan punggung baby Ezio. “Ssst … sst ….”
Tangisan justru makin kencang.
Raisa berdiri kaku, tangannya refleks terulur, tapi ia menahan diri. Nanti disangka cari muka sama Krisna kalau ikut campur.
“Kenapa lagi ini?” Bu Lita mendesah, terlihat benar-benar kelelahan. “Dari tadi padahal sudah minum susu, popok juga kering.”
Krisna mendekat. “Biar sama aku, Bu,” katanya singkat.
Ia mengambil Ezio dari pelukan ibunya. Tangannya kuat, tapi jelas ada ketegangan di bahunya. Ia menggendong Ezio dengan posisi yang ia tahu—yang ia pelajari dengan susah payah selama beberapa bulan terakhir.
Awalnya, tangisan Ezio mereda. Hanya tersisa isakan kecil.
Krisna menghela napas lega.
Namun belum genap satu menit—tangisan kembali pecah.
Lebih kencang.
Lebih melengking.
Wajah baby Ezio mengerut, matanya terpejam kuat, suaranya menggema di ruang tengah yang luas itu.
Krisna mengatupkan rahang. “Tadi tenang.”
Bu Lita memijat pelipisnya. “Iya … pas di gendongan Raisa.”
Raisa menunduk, berpura-pura sibuk merapikan ujung kemejanya saat berbalik badan dan melangkah ke dapur.
Bu Lita menghela napas panjang. “Anakmu tuh mau apa ya, Krisna? Ibu jadi serba salah.”
Krisna mengayun Ezio lebih cepat, tapi tangisan itu seperti tidak mau kalah.
“Coba kamu minta Raisa ngurus anakmu dulu,” kata Bu Lita akhirnya, suaranya tegas meski terdengar lelah. “Biar nggak rewel begini.”
Krisna berhenti mengayun.
Ia menoleh tajam. “Bu.”
“Ibu bukan nyuruh aneh-aneh,” lanjut Bu Lita. “Cuma digendong. Ibu awasi. Sambil kamu wawancara calon pengasuh.”
Krisna menggeleng kecil, nada suaranya spontan naik. “Mana mungkin gadis itu bisa ngurus bayi? Dia masih muda, Bu. Dia pasti nggak punya pengalaman. Aku nggak mau anakku jadi bahan percobaan orang.”
Kata-kata itu menggantung di udara.
Raisa mendengarnya saat melangkah pelan. Dan dadanya menegang. Ia tetap diam. Tapi jari-jarinya mengepal pelan di sisi tubuhnya.
“Kalau nggak inget pesan Mak, udah tak sumpel ama cabe tuh mulutnya.”
Bu Lita menatap Krisna dengan tajam—tatapan seorang ibu yang tidak menerima penilaian sepihak. “Krisna,” katanya pelan tapi menekan, “Ibu tidak bilang begitu. Ibu hanya minta Raisa gendong anakmu saja. Itu pun tetap di bawah pengawasan Ibu. Sampai kamu menemukan pengasuh yang cocok untuk Ezio.”
Tangisan Ezio makin kencang, seolah ikut memperkuat argumen Bu Lita.
Krisna menatap anaknya, lalu ibunya. Ada perang kecil di wajahnya—antara logika, ego, dan kenyataan yang sedang menamparnya telak.
Fakta bahwa anaknya tenang di gendongan Raisa tidak bisa ia bantah.
Ia menarik napas panjang. Bahunya turun sedikit.
“Baik,” katanya akhirnya, suara rendah, terpaksa. “Sebentar.”
Ia berbalik, masih menggendong Ezio yang menangis, lalu melangkah ke arah dapur basah.
Setiap langkah terasa lebih berat dari seharusnya.
Dapur rumah Pak Wijaya ramai. Panci besar mendidih, aroma santan dan rempah memenuhi ruangan. Beberapa ibu sibuk memotong sayur, mengaduk gulai, menata piring.
Di sudut dapur, Raisa berdiri di depan wastafel, mencuci piring dengan gerakan cepat dan teratur. Lengan bajunya digulung sampai siku, rambutnya terikat rapi. Air mengalir, suara piring beradu pelan.
Ia tidak sadar Krisna berdiri di ambang pintu.
Tangisan Ezio mendahuluinya.
Beberapa ibu menoleh.
“Lho, Den Krisna,” sapa salah satu.
Krisna mengangguk singkat, matanya tidak lepas dari sosok Raisa.
“Raisa,” panggilnya akhirnya.
Bersambung ... 💔
kepo sm bibir lena, kira² meledaknya sprti ap y ???
mommy bab selanjutnya ditnggu 💪💪💪💪💪😊