"Kau tahu apa masalahmu, Salena? Kau terlalu sibuk menjadi sempurna sampai lupa caranya menjadi manusia." — Zane Vance.
"Dan kau tahu apa masalahmu, Vance? Kau pikir dunia ini panggung sirkusmu hanya karena teman-teman bodohku memanggilmu Dewa. Dasar alay." — Salena Ashford
Zane Vance (21) pindah ke Islandia bukan untuk mencari musuh. Tapi saat di hari pertama dia sudah mendebat Salena Ashford—si putri konglomerat kampus yang kaku dan perfeksionis—perang dunia ketiga resmi dimulai.
Semua orang memuja Zane. Mereka memanggilnya "Dewa dari New York" karena pesonanya yang bad boy, dingin, dan Urakan Ganteng (ini kata teman Selena), kecuali Salena.
Namun, semakin keras Salena berusaha menendang Zane dari tahtanya, semakin ia terseret masuk ke dalam rahasia hidup cowok itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keberanian Salena
Salena mencengkeram kemudi dengan erat, matanya fokus pada jalanan Reykjavik yang mulai berkabut. Ia tidak mungkin membiarkan Zane menyetir dalam kondisi sekacau ini. Di kursi penumpang, Zane hanya menyandarkan kepalanya pada jendela, tatapannya kosong, sisa-sisa air mata masih membekas di sudut matanya.
Sesampainya di apartemen mewah Zane, suasana terasa begitu sunyi dan dingin. Saat Salena hendak berpamitan, Zane menahan pergelangan tangannya. "Jangan pergi... menginaplah di sini, Salena. Aku tidak ingin sendirian," pintanya dengan suara parau yang membuat pertahanan Salena runtuh.
Salena akhirnya mengiyakan. Malam itu, mereka tidak melakukan apa-apa selain berbaring di atas tempat tidur besar milik Zane. Zane memeluk Salena dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melepaskannya, ia akan hancur berkeping-keping. Salena bisa merasakan detak jantung Zane yang tidak beraturan hingga akhirnya pria itu tertidur karena kelelahan emosional.
Tepat jam 3 pagi, sebuah getaran kuat dari ponsel Zane di atas nakas membangunkan Salena. Ia melihat layar ponsel itu, sebuah nomor internasional dari New York. Tanpa berpikir panjang, Salena mengangkatnya, khawatir itu adalah keadaan darurat.
"Zane? Apa kau puas sekarang?" Suara laki-laki di seberang sana terdengar penuh amarah dan luka. Salena langsung tahu—itu adalah Phoenix.
Mendengar nada suara yang begitu menyudutkan Zane, sisi pelindung Salena bangkit. Ia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti pria yang baru saja menangis di pelukannya itu.
"Iya, dia sangat puas," jawab Salena dengan nada dingin dan percaya diri. "Aku telah memuaskannya semalaman."
Hening sesaat di seberang sana. Deru napas Phoenix terdengar berat karena terkejut. "Siapa kau?" tanya Phoenix dengan suara tertahan. "Di mana Zane?"
"Aku kekasihnya Zane," jawab Salena tegas, memberikan penekanan pada setiap kata. "Dan jika kau menelepon hanya untuk merusak ketenangannya lagi, lebih baik kau berhenti. Dia sudah memulai hidup baru di sini, bersamaku."
Salena langsung mematikan sambungan telepon Zane. Ia kembali merebahkan tubuhnya, masuk ke dalam pelukan Zane yang masih terlelap. Ia tahu besok akan ada penjelasan yang harus diberikan, tapi untuk saat ini, ia hanya ingin menjadi benteng bagi sang "Dewa New York" yang sedang terluka itu.
Lagi-lagi Getaran ponsel Zane, Salena melihat masih Nomor Internasional New York. Salena langsung mengangkat nya.
Zane! Berani-beraninya kau mengabaikan pesanku! Kau pikir kau bisa lari begitu saja setelah menghancurkan segalanya di sini?!"
suara melengking seorang wanita meledak dari speaker ponsel, diikuti rentetan makian dalam bahasa Inggris yang kental dengan aksen New York.
Salena menjauhkan ponsel itu sedikit dari telinganya. Tebakannya benar. Jika Phoenix bicara dengan penuh luka, wanita ini bicara dengan penuh obsesi yang sakit. Inilah Kharel Renaud, alasan di balik hancurnya persaudaraan belasan tahun.
"Hey, gadis gila. Apa maumu?" suara Salena terdengar sangat tenang, kontras dengan teriakan Kharel. Dingin dan tajam, seperti es Islandia.
Keheningan sesaat terjadi di seberang sana. Kharel tampaknya terkejut mendengar suara wanita lain yang menjawab ponsel pribadi Zane di jam tiga pagi.
"Siapa kau?! Berikan ponselnya pada Zane! Berani sekali kau menyentuh barang milik kekasihku!"
Kharel kembali berteriak, kali ini suaranya dipenuhi kecemburuan yang meluap-luap.
Salena melirik Zane yang masih terlelap, napasnya mulai sedikit tidak teratur karena suara bising itu. Salena mengelus rambut Zane dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam ponsel dengan erat.
"Kekasihmu?" Salena terkekeh sinis. "Sepertinya kau delusi. Zane sudah menceritakan segalanya padaku. Dia membencimu, Kharel. Sangat membencimu hingga menyebutmu sebagai gadis gila yang merusak hidupnya."
"Kau bohong! Zane mencintaiku! Dia hanya marah karena Phoenix—"
"Berhenti membual," potong Salena tajam. "Aku kekasihnya sekarang. Dialah yang memintaku menginap di sini karena dia tidak ingin sendirian. Dan untuk informasi saja, dia sedang tidur sangat nyenyak di sampingku setelah kami menghabiskan waktu bersama semalaman. Jadi, jangan pernah hubungi nomor ini lagi kalau kau masih punya sedikit harga diri."
Salena tidak menunggu jawaban. Ia mematikan ponsel itu sepenuhnya dan meletakkannya jauh di bawah kolong tempat tidur. Ia kembali masuk ke dalam dekapan Zane, menarik selimut mereka lebih tinggi.
Salena tahu dia baru saja menyatakan perang dengan dua orang paling berpengaruh di masa lalu Zane. Tapi melihat kedamaian di wajah Zane saat ini, Salena merasa risiko itu sangat layak diambil. Ia akan menjadi perisai bagi Zane, memastikan bahwa "Dewa New York" ini tidak akan pernah lagi dikejar oleh hantu-hantu dari Manhattan.
Di bawah cahaya remang lampu tidur yang memancarkan semburat jingga, Salena terdiam mematung. Ia menopang kepalanya dengan satu tangan, membiarkan matanya menjelajahi setiap jengkal wajah pria yang beberapa jam lalu menangis dalam pelukannya.
Zane Sebastian Vance tampak sangat berbeda saat tertidur. Tanpa tatapan sinis yang meremehkan, tanpa seringai angkuh yang memprovokasi, dan tanpa aura "Dewa New York" yang selama ini menjadi tamengnya. Dalam tidurnya, Zane hanya terlihat seperti seorang pria muda yang sangat lelah. Lelah berlari, lelah dibenci, dan mungkin... lelah dicintai oleh orang-orang yang salah.
Salena memperhatikan garis rahangnya yang tegas, yang kini sedikit mengendur. Ia melihat bulu mata Zane yang panjang serta bekas air mata yang sudah mengering di pipinya.
"Jadi, ini beban yang kau bawa sejauh ini?" bisik Salena sangat pelan, hampir menyerupai helaan napas.
Pikiran Salena kembali pada keberaniannya tadi, mengaku sebagai kekasih Zane di depan Phoenix dan memaki Kharel. Ia tidak pernah mengira bahwa dirinya, si mahasiswi hukum yang selalu mengikuti aturan, bisa berbohong seberani itu demi seorang pria yang baru ia kenal sebulan. Ada rasa puas yang aneh saat ia membela Zane, namun ada juga rasa takut yang mulai merayap.
Ia tahu, setelah matahari terbit, dunia tidak akan lagi sama. Kharel dan Phoenix pasti akan melakukan sesuatu dari New York.
Tiba-tiba, Zane bergerak dalam tidurnya. Ia mengerang pelan, alisnya bertaut seolah sedang dikejar mimpi buruk. Refleks, Salena mengulurkan tangannya, mengusap dahi Zane dengan lembut untuk menenangkannya.
"Sshhh... tidak apa-apa. Kau aman di sini," bisik Salena.
Zane perlahan tenang kembali. Ia secara tidak sadar mencari tangan Salena dan menggenggamnya erat, lalu menariknya ke dekat dadanya. Jantung Salena berdegup kencang saat merasakan telapak tangannya menempel tepat di atas detak jantung Zane yang stabil.
Salena menyadari satu hal: ia tidak lagi mencari-cari kekurangan Zane seperti malam itu saat ia mengintip akun Instagram-nya. Kini, ia justru melihat setiap retakan di jiwa Zane sebagai sesuatu yang ingin ia perbaiki.
Malam di Reykjavik terasa begitu panjang, namun untuk pertama kalinya, Salena merasa ia sedang berada di tempat yang tepat. Ia terus menatap Zane hingga matanya sendiri mulai terasa berat, bersiap untuk menghadapi badai apa pun yang akan datang dari Manhattan.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰