"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Pelajaran Pertama
Kamis pagi, Suyin terbangun dengan sinar matahari yang masuk melalui jendela kamar. Dia butuh beberapa detik untuk mengingat di mana dia berada—bukan di apartemennya yang sempit, tapi di villa mewah milik Xiao Zhen.
Semuanya yang terjadi kemarin terasa seperti mimpi. Tapi rasa pegal di kaki karena berlari kemarin membuktikan semuanya nyata.
Suyin duduk di tepi tempat tidur, menatap gelang giok di pergelangan tangannya. Gelang yang sudah mengubah hidupnya sepenuhnya.
"Nenek, aku harap kamu bangga dengan keputusan yang aku ambil," bisiknya sambil menyentuh gelang itu dengan lembut.
Ketukan di pintu membuatnya terlonjak.
"Nona Lin, sarapan sudah siap. Tuan Muda menunggu di taman belakang," suara pelayan terdengar dari luar.
"Baik, terima kasih! Saya segera turun!"
Suyin bergegas mandi dan berpakaian dengan blus biru muda dan celana panjang dari lemari—semua baju di lemari itu pas dengan ukurannya, entah kebetulan atau Xiao Zhen memang sangat teliti.
Setelah siap, Suyin turun dan dipandu pelayan ke taman belakang.
Pemandangan yang menyambutnya membuat napasnya tertahan.
Taman belakang villa ini sangat luas—ada kolam koi yang indah, paviliun kayu di tengah, dan berbagai tanaman hias tertata apik. Kabut pagi masih menggantung tipis di udara, menciptakan suasana yang hampir magis.
Di tengah taman, di atas tikar meditasi, duduk Xiao Zhen.
Pria itu mengenakan pakaian tradisional Tionghoa berwarna hitam—semacam changshan yang sederhana tapi elegan. Rambutnya diikat setengah ke belakang. Matanya terpejam, postur tubuhnya tegak sempurna.
Suyin bisa merasakan aura tenang tapi kuat yang memancar darinya.
Saat mendengar langkah kaki Suyin, Xiao Zhen membuka mata.
"Selamat pagi. Tidur nyenyak?" tanyanya sambil berdiri dengan gerakan yang sangat halus.
"Selamat pagi. Iya, sangat nyenyak. Tempat tidurnya luar biasa nyaman," jawab Suyin jujur.
Xiao Zhen tersenyum tipis. "Bagus. Sarapan dulu, lalu kita mulai pelajaran pertama."
Mereka sarapan di paviliun—menu sederhana tapi sehat: bubur ayam, telur rebus, sayuran kukus, dan teh herbal hangat.
"Hari ini kamu tidak masuk kantor?" tanya Xiao Zhen sambil menuangkan teh untuk Suyin.
"Oh!" Suyin baru ingat. "Saya harus izin! Dan meeting dengan Mas Arief di kafe jam empat sore—"
"Meeting dengan siapa?"
Suyin menjelaskan tentang Mas Arief, pemilik kafe organik di Kemang yang ingin kerja sama untuk pasokan sayuran.
Xiao Zhen mengangguk. "Saya akan temani kamu ke sana nanti. Sekalian pastikan tidak ada orang Organisasi Bayangan yang mengikuti."
"Terima kasih. Tapi bukankah itu merepotkan—"
"Tidak merepotkan. Keselamatan kamu adalah prioritas saya sekarang." Nada suaranya tidak bisa dibantah.
Suyin merasa hangat di dada mendengar kata-kata itu, tapi berusaha tidak terlalu terbawa perasaan.
Setelah sarapan, Xiao Zhen membawa Suyin ke area taman yang lebih terbuka—hamparan rumput luas dengan pepohonan di sekelilingnya.
"Sebelum belajar kultivasi, kamu harus memahami konsep dasarnya." Xiao Zhen berdiri menghadap Suyin. "Kultivasi adalah proses menguatkan tubuh, pikiran, dan jiwa dengan mengumpulkan dan memurnikan energi spiritual dari alam. Energi ini sering disebut Qi atau Chi."
Suyin mengangguk, mengingat-ingat istilah yang pernah dibaca di novel.
"Setiap orang punya potensi untuk kultivasi, tapi tidak semua bisa membuka jalur energi mereka. Kamu beruntung—dengan gelang dimensi itu, jalur energimu sudah mulai terbuka secara alami." Xiao Zhen melangkah lebih dekat. "Hari ini, kita akan fokus pada meditasi dasar untuk merasakan aliran Qi dalam tubuhmu."
"Meditasi... seperti yoga?" tebak Suyin.
"Mirip, tapi lebih dalam. Kamu tidak hanya menenangkan pikiran, tapi juga membuka kesadaran terhadap energi di sekitar dan dalam dirimu." Xiao Zhen menunjuk tikar meditasi yang sudah disiapkan. "Duduk dengan posisi bersila. Punggung lurus, tangan di atas lutut, mata tertutup."
Suyin mengikuti instruksi, duduk dengan agak canggung.
Xiao Zhen duduk di hadapannya. "Sekarang, tarik napas dalam melalui hidung, hitung sampai lima. Tahan sebentar, lalu hembuskan perlahan melalui mulut. Fokuskan pikiran pada napas—jangan biarkan pikiran lain menggangu."
Suyin mulai berlatih bernapas seperti yang diajarkan.
Awalnya sulit—pikirannya terus melayang ke berbagai hal. Meifeng. Organisasi Bayangan. Bisnis sayurannya. Tapi perlahan, dengan bimbingan suara Xiao Zhen yang tenang, dia mulai bisa fokus.
Napas masuk... napas keluar... napas masuk... napas keluar...
"Sekarang, bayangkan ada aliran air hangat yang mengalir di dalam tubuhmu. Mulai dari ubun-ubun, turun perlahan ke dada, ke perut, ke seluruh tubuh..." suara Xiao Zhen membimbing dengan lembut.
Suyin membayangkan seperti yang dikatakan—dan tiba-tiba, dia benar-benar merasakan sesuatu!
Sensasi hangat, seperti aliran energi yang mengalir pelan di dalam tubuhnya. Dimulai dari gelang giok di pergelangan tangan, lalu menyebar ke lengan, dada, perut...
"Aku... aku merasakannya!" bisik Suyin terkejut.
"Bagus. Pertahankan fokus. Biarkan energi itu mengalir sendiri. Jangan dipaksa." Xiao Zhen terdengar puas.
Suyin terus mempertahankan konsentrasinya. Aliran energi makin jelas—hangat, menenangkan, seperti kehangatan matahari pagi.
Dia tidak tahu berapa lama duduk seperti itu. Yang dia tahu, saat akhirnya membuka mata, matahari sudah jauh lebih tinggi di langit.
"Sudah satu jam," ucap Xiao Zhen yang masih duduk di hadapannya. "Untuk pemula, itu pencapaian luar biasa. Biasanya butuh berminggu-minggu untuk bisa merasakan aliran Qi pertama kali."
"Apa karena gelang giok ini?" Suyin menatap gelangnya.
"Sebagian. Tapi juga karena kamu punya bakat alami. Keturunan Lin memang terkenal dengan kemampuan kultivasi mereka di masa lalu." Xiao Zhen berdiri, mengulurkan tangan untuk membantu Suyin berdiri.
Suyin menerima uluran tangan itu—dan lagi-lagi merasakan sensasi hangat saat kulit mereka bersentuhan. Kali ini lebih kuat dari sebelumnya.
Mereka berdiri berhadapan, tangan masih saling menggenggam, mata bertemu.
Xiao Zhen menatap Suyin dengan tatapan yang dalam—ada sesuatu dalam mata cokelat gelapnya yang membuat jantung Suyin berdebar.
"Resonansi spiritualmu... makin kuat," ucap Xiao Zhen pelan, suaranya sedikit serak. "Aku bisa merasakan energimu dengan sangat jelas sekarang."
"Aku juga merasakan milikmu," balas Suyin tanpa sadar.
Mereka terdiam, terpaku dalam momen itu.
Xiao Zhen perlahan melepas genggaman tangannya, mundur selangkah. "Kita... kita lanjutkan pelajaran lain waktu. Kamu butuh istirahat. Meditasi pertama biasanya menguras energi."
Suyin mengangguk, sebenarnya tidak merasa lelah sama sekali—tapi mungkin Xiao Zhen yang butuh jarak. Dia terlihat sedikit... terganggu.
"Kamu bisa pakai waktu sampai siang untuk beristirahat atau menjelajahi rumah. Siang nanti kita makan siang, lalu berangkat ke Kemang untuk meeting jam empat," ucap Xiao Zhen sambil merapikan pakaiannya.
"Baik. Terima kasih untuk pelajaran paginya."
"Sama-sama."
Xiao Zhen berjalan meninggalkan taman dengan langkah cepat—seperti sedang melarikan diri dari sesuatu.
Suyin berdiri sendirian di tengah taman, menyentuh dada yang masih berdebar.
"Ada apa dengannya?" gumamnya bingung. "Dan ada apa denganku?"
Siang itu, setelah makan siang sederhana di ruang makan, Suyin dan Xiao Zhen berangkat ke Jakarta dengan mobil.
Perjalanan dilalui dalam keheningan yang agak canggung. Xiao Zhen sibuk dengan laptopnya, menjawab email dan telepon kerja. Suyin menatap keluar jendela, memikirkan apa yang harus dikatakannya di meeting nanti.
"Ngomong-ngomong," Xiao Zhen tiba-tiba bicara, membuat Suyin menoleh. "Untuk masalah apartemenmu, aku sudah suruh orang mengambil barang-barang pentingmu. Mereka akan kirim ke villa nanti sore."
"Oh, terima kasih! Tapi... aku tidak bisa tinggal di villa selamanya kan?" tanya Suyin hati-hati.
"Kenapa tidak? Rumah itu besar. Banyak kamar kosong."
"Tapi itu rumahmu. Aku tidak enak—"
"Suyin." Xiao Zhen menutup laptopnya, menatap Suyin serius. "Organisasi Bayangan tidak main-main. Mereka pasti masih mengawasi apartemenmu. Kalau kamu kembali ke sana, kamu membahayakan dirimu sendiri. Setidaknya sampai situasi aman, tinggallah di villa."
Suyin menggigit bibir. Xiao Zhen benar. Tapi tinggal satu atap dengan pria yang mulai membuatnya deg-degan ini... apa tidak berbahaya dalam arti lain?
"Baiklah," akhirnya Suyin setuju. "Tapi aku akan bayar sewa—"
"Tidak perlu."
"Xiao Zhen—"
"Tidak perlu," ulangnya dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Anggap saja bagian dari perjanjian kerja sama kita. Lagipula, lebih mudah kalau kita tinggal dekat untuk koordinasi bisnis."
Suyin akhirnya menyerah. "Baiklah. Terima kasih."
Mereka tiba di kawasan Kemang sekitar jam tiga sore. Green Leaf Cafe terletak di jalan kecil yang tenang, bangunan dua lantai dengan konsep eco-friendly—banyak tanaman hijau, dinding kayu, dan furnitur dari bahan daur ulang.
"Tempatnya bagus," komentar Suyin sambil turun dari mobil.
"Pemiliknya punya selera baik," ucap Xiao Zhen sambil melihat sekeliling. "Tapi keamanannya kurang. Terlalu terbuka."
Mereka masuk ke kafe. Suasananya nyaman dan hangat—beberapa pelanggan sedang menikmati kopi sambil membaca buku atau bekerja dengan laptop.
Seorang pria berusia sekitar tiga puluhan mendekati mereka dengan senyum ramah. Tingginya sedang, berambut keriting, mengenakan kaus casual dan jeans.
"Mbak Suyin?" tanyanya.
"Ya, Mas Arief?" Suyin menjabat tangan.
"Betul! Senang akhirnya bisa bertemu!" Mas Arief lalu melirik Xiao Zhen dengan sedikit bingung. "Dan ini...?"
"Partner bisnis saya, Xiao Zhen," jawab Suyin.
"Oh, silakan silakan! Mari ke meja saya di lantai dua. Lebih tenang untuk diskusi."
Mereka naik ke lantai dua yang lebih sepi. Mas Arief memesan kopi untuk mereka bertiga sambil mulai berbincang.
"Jadi begini, Mbak Suyin. Bu Lina cerita banyak tentang kualitas sayuran organik dari Mbak. Dia bilang ini yang terbaik yang pernah dia coba—dan Bu Lina itu orangnya sangat pemilih soal bahan makanan," ucap Mas Arief antusias.
"Terima kasih atas kepercayaannya, Mas," jawab Suyin.
"Kafe saya konsepnya memang eco-friendly dan healthy. Semua menu pakai bahan organik atau minimal pestisida rendah. Tapi selama ini saya kesulitan dapat supplier yang konsisten dan berkualitas." Mas Arief mengeluarkan buku menu. "Ini beberapa menu saya yang butuh sayuran segar. Salad bar, smoothie bowl, sandwich, pasta—semuanya butuh pasokan rutin."
Suyin membaca menu itu sambil menghitung dalam kepala. Kebutuhan kafe ini lumayan banyak—sekitar dua puluh kilogram sayuran berbagai jenis per minggu.
"Untuk harga, bagaimana Mas?" tanya Suyin.
"Saya bisa ikut harga yang Mbak kasih ke Bu Lina. Bahkan kalau Mbak bisa kasih diskon untuk pembelian rutin, saya sangat tertarik untuk kontrak jangka panjang—minimal enam bulan."
Suyin melirik Xiao Zhen yang duduk diam tapi matanya tajam memperhatikan percakapan.
"Boleh saya dan partner saya diskusi sebentar?" tanya Suyin.
"Tentu, silakan!"
Suyin dan Xiao Zhen sedikit menjauh. Suyin berbisik, "Menurutmu bagaimana?"
"Orangnya terlihat jujur. Tapi kamu perlu cek dulu track record bisnisnya—apakah pembayarannya lancar, apakah dia punya masalah hukum. Jangan asal terima kontrak," bisik Xiao Zhen balik.
"Bagaimana caranya cek itu?"
"Biar aku yang urus. Sekarang kamu tanda tangani MOU dulu—kesepakatan awal yang masih bisa dibatalkan kalau ada masalah. Nanti kalau background check-nya bersih, baru bikin kontrak resmi."
Suyin mengangguk. Untung ada Xiao Zhen—dia benar-benar tidak tahu seluk-beluk bisnis formal seperti ini.
Mereka kembali ke meja Mas Arief.
"Mas Arief, kami tertarik dengan kerja samanya. Tapi kami butuh waktu untuk cek beberapa hal dulu. Bagaimana kalau kita buat MOU—kesepakatan awal—dulu? Nanti minggu depan kita finalisasi dengan kontrak resmi," ucap Suyin dengan percaya diri yang dipinjam dari Xiao Zhen.
"Oh, tidak masalah! Saya sangat mengerti. Bisnis memang harus hati-hati." Mas Arief tersenyum. "Saya juga perlu cek dulu kualitas sayuran Mbak secara langsung. Bagaimana kalau minggu depan Mbak kirim sample?"
"Deal!" Suyin mengulurkan tangan.
Mereka berjabat tangan lagi, kali ini dengan senyum puas dari kedua belah pihak.
Meeting berlangsung lancar. Mereka diskusi detail kebutuhan sayuran, jadwal pengiriman, dan sistem pembayaran. Xiao Zhen sesekali memberikan masukan yang sangat membantu—membuat Mas Arief terkesan dengan profesionalisme mereka.
Saat meeting selesai dan mereka berjalan ke mobil, Suyin menghela napas lega.
"Itu berjalan lebih baik dari yang kukira!" serunya.
"Kamu cukup baik untuk pemula," puji Xiao Zhen sambil tersenyum tipis. "Tapi masih banyak yang harus dipelajari soal negosiasi bisnis."
"Untung ada kamu," ucap Suyin tulus.
Xiao Zhen menatapnya—dan lagi-lagi ada momen dimana mereka hanya saling menatap, dunia sekeliling seolah menghilang.
"Ya. Untung ada aku," ucap Xiao Zhen pelan, dengan nada yang terdengar... berbeda.
Suyin merasa pipinya panas. Dia cepat-cepat masuk mobil untuk sembunyikan wajahnya yang memerah.
Xiao Zhen tersenyum kecil melihat reaksi Suyin, lalu ikut masuk mobil.
Di perjalanan pulang ke villa, Suyin menatap pemandangan Jakarta yang mulai gelap dengan lampu-lampu kota yang mulai menyala.
Hidupnya benar-benar berubah total dalam dua minggu terakhir.
Dan entah kenapa, dia merasa perubahan terbesar bukan tentang gelang giok atau bisnis sayuran.
Tapi tentang pria yang duduk di sebelahnya ini—Xiao Zhen yang misterius, protektif, dan entah kenapa membuat hatinya berdebar tidak karuan.
"Pelan-pelan, Suyin," bisiknya pada diri sendiri. "Satu langkah dalam satu waktu."
Tapi hatinya sudah mulai melangkah sendiri—menuju sesuatu yang mungkin lebih berbahaya dari Organisasi Bayangan.
Jatuh cinta.