Hana, seorang anak yang tertukar pada saat dilahirkan, akhirnya bisa kembali kepada keluarganya. Namun, ia tak pernah menyangka, perasaan bahagia, kehidupan manis dengan orang tua, semuanya hanya harapan palsu semata. Ia diambil hanya untuk reputasi orang tua. Diabaikan, ditindas, bahkan mati pun tidak dipedulikan.
Jiwanya tidak menerima kematian, ia menoreh takdir pada langit, meminjam jiwa yang kuat.
Jiwa seorang Ratu hebat dari kerajaan Amerta, terpanggil untuk membalaskan dendam Hana. Jiwa leluhur yang terusik oleh derita sang penerus. Pewaris kehormatan dari kerajaan agung Amerta.
Nasib semua orang pun berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Hana menutup pintu dengan cepat, ia tak sengaja menginjak ranting saat menguping. Lalu, memasang penyanggah untuk mengunci. Dua orang yang sedang berbincang keluar untuk memeriksa. Tak ada apapun yang mereka lihat. Hanya tebing curam yang berada di belakang bangunan yang mereka tempati. Juga semak belukar tempat binatang melata bersarang.
"Tidak ada apapun, tapi kenapa sepertinya ada seseorang di belakang rumah ini. Padahal, jelas ini hanyalah jurang yang dalam dan semak-semak," ucap perempuan itu keheranan.
Laki-laki yang ikut bersamanya mengibaskan tangan, tak acuh dan mengajaknya kembali. Masuk ke dalam rumah yang biasa mereka gunakan untuk melakukan hubungan yang menjijikkan.
Sementara Hana berjalan sambil mengusap dada, kembali ke dalam gua dan memikirkan tentang percakapan dua manusia tadi.
"Siapa yang datang ke dunia ini, dan ingin menghancurkan peninggalanku? Perdana menteri? Atau jenderal perang? Atau ...." Mata Hana membelalak ketika mengingat satu nama yang sejak di kehidupan dahulu sangat membencinya.
"Mungkinkah dia benar-benar datang ke sini? Tapi untuk apa? Bukankah dia seharusnya tinggal di istana dan tetap di sisi kaisar!" Hana terus bergumam, bingung sendiri dengan apa yang terjadi.
Drrrt!
Di saat itu, ponsel Hana bergetar. Seseorang melakukan panggilan telepon. Hana mengangkatnya dan mendekatkannya pada telinga.
"Nona, mereka menyiksa Liana. Dia dikurung di ruang bawah tanah sudah tiga hari lamanya. Tidak diberi makan dan minum, dipaksa mengaku bahwa Anda pergi meninggalkan keluarga Haysa demi seorang pria," ucap seseorang di seberang telepon.
Liana?
Hana tercenung, menggali ingatan tentang seseorang yang bernama Liana.
Oh, dia adalah salah satu pelayan yang menyayangi Hana.
"Baik. Rupanya mereka memaksaku kembali dengan sengaja melakukan ini," katanya seraya menutup telpon dan keluar dari gua.
Hana berjalan sendiri kembali ke villa. Para penduduk sudah berada di ladang, membajak dan menggarap ladang. Mempersiapkan tempat tersebut sebelum ditanami. Mereka menyapa Hana dengan ramah.
Hana menyusuri jalan perbukitan, hamparan kebun teh itu menjadi miliknya sekarang. Juga pabrik pembuatan teh tradisional yang terkenal di seluruh negeri. Ia tersenyum, angin sepoi-sepoi menerpa kulitnya.
Jika tanah ini berkaitan denganku, maka pada zaman dahulu ini adalah halaman istanaku. Villa itu adalah puncak bukit di mana aku dan kaisar pertama kali bertemu. Siapa yang pertama kali membangunnya?
Hana menatap jauh ke atas menara, di mana lonceng besar dapat dilihat oleh seluruh penduduk desa.
Siapapun yang membangunnya, kemungkinan dia masih keturunan ratu. Aku hanya memiliki satu pangeran, pangeran Zephyr. Dia baru sepuluh tahun saat aku menghilang. Entah apakah sekarang dia sudah memiliki keturunan? Siapa yang menjadi istrinya?
Hana mengangkat tangan, menadah bunga dandelion yang terbang terbawa angin. Lalu, pandangannya teralihkan oleh suara langkah dari bukit yang cepat. Ia menoleh, dan melihat Bi Sum yang berlari mendatanginya.
"Nona!" Bi Sum membungkuk, menarik udara sebanyak-banyaknya ke paru-paru. Tubuhnya yang gembil tak mampu berlari dengan cepat.
"Ada apa, Bi?" tanya Hana dengan dahi mengernyit.
"Nona, Liana ... Liana dikurung dan disiksa oleh tuan Haysa," ucap Bi Sum dengan air yang menggenang di kedua sudut mata.
Ah, benar. Liana adalah anak Bi Sum yang ditempatkan olehnya di sisi Hana. Untuk menjaga dan melindungi Hana. Aku baru mengingatnya.
Hana mengepalkan tangan, rahangnya yang tirus ikut mengeras. Dia benci segalanya tentang Eldoria.
"Aku akan kembali ke Eldoria. Tak perlu mengantar, aku akan pergi sendiri," ucap Hana seraya berbalik hendak kembali ke dalam gua.
"Nona, saya akan meminta supir untuk mengantar Anda," ucap Bi Sum tergesa.
"Tak perlu, Bi. Kembalilah ke villa, jangan bukakan gerbang untuk siapapun yang datang!" titahnya tanpa menoleh ke belakang.
"Tapi, Nona, jarak dari desa Amanaly ke Eldoria sangatlah jauh," sahut Bi Sum lagi merasa kasihan.
"Kembalilah, Bi!"
Hana terus berjalan di bawah tatapan renta Bi Sum. Dengan perasaan campur aduk, wanita paruh baya itu kembali ke villa. Ia tak akan membiarkan siapapun memasuki gerbang villa.
Hana kembali berjalan dengan cepat. Kali ini bukan menuju gua, tapi menuju gerbang naga yang tertutup tanaman rambat. Hana masuk tanpa merusak tanaman, membiarkan ia tertutup selamanya.
"Aku akan membiarkan tempat ini seperti ini saja. Tak akan membiarkan siapapun menemukannya." Hana menutup pintu gerbang yang terbuat dari besi pada zaman kerajaan Amerta, menguncinya dengan kuat.
Besi terbaik yang tak lapuk digerus zaman. Menyusuri halaman yang sudah menyerupai hutan belantara, menyibak semak menuju paviliun bunga di mana jalan pintas ke kota Eldoria berada.
Hanya butuh waktu sekitar satu jam lebih untuk sampai di Eldoria. Hana berdiri di tepi jalan, menapaki langkah menuju kediaman Haysa.
"Kalian akan membayar atas apa yang telah kalian lakukan!" Hana mengancam.
Namun, pandangan Hana teralihkan oleh sesuatu di dalam restoran.
hai jalang gk tau diri lo