Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.
Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.
Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.
Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di kos puji teman yang akan membawaku ke rantauan
Pagi hari aku berkirim pesan dengan temanku yang bernama Puji. Dia memintaku untuk datang ke kosnya yang terletak di Desa Berokan RT 07. Aku pun berangkat dari rumah menuju Berokan menggunakan angkot. Perjalanan naik angkot memakan waktu kurang lebih satu jam karena aku melewati daerah Ambarawa.
Setibanya aku di sana, ternyata di kos tersebut ada suaminya, sehingga aku merasa agak tidak enak hati karena takut mengganggu. Puji pun menyapa, "Sini masuk, nggak apa-apa. Anggap saja kos sendiri. Kalau lapar, bikin mi sendiri ya?" Aku hanya mengangguk saja tanpa menjawab apa-apa lagi.
"Oh iya, kamu ada sangu atau ongkos buat terbang besok?" tanyanya. Aku langsung mengecek saldo rekening; nominalnya masih ada 3.500 yang ku maksud adalah nominal (tiga juta lima ratus ribu). Dan katanya, itu saja masih kurang.
"Aku hanya ada uang ini," jawabku, sambil menujukkan saldo rekening.
"Ya sudah, nanti tak carikan pinjaman dulu ya. Paling tambah (satu juta lima ratus ribu) lagi sudah cukup buat kamu sendiri. Sisanya juga paling nanti sekitar 200 san," jelasnya, dan aku hanya mengangguk saja. Tiba-tiba johan keluar dan ikut nimbrung.
"Udah santai aja, nanti kurangannya bisa aku carikan, kalau gitu kalian ngobrol aja aku pergi dulu." Pamitnya dan kami pun mengangguk mengiyakan.
Johan baru saja berangkat. Aku dan Puji duduk di lantai kos, aku yang masih memandangi layar HP yang menunjukkan saldo sisa Rp3.500.000.
Puji: "Udah, jangan dipandangi terus itu saldo. Nggak bakal nambah jadi sepuluh juta cuma dikedipin. Yang penting besok Johan bantu cari tambahannya, jadi kamu berangkat lebih tenang."
"Iya sih, mbak. Cuma ya itu, aku masih bingung packingnya. Masa aku merantau kerja bawa baju pakai kardus mi instan? Kan nggak lucu pas turun dari pesawat nanti." Ujarku
Puji Tiba-tiba menepuk jidat
"Ya ampun! Aku lupa! Kamu kan emang nggak punya koper ya?" Katanya sambil tersenyum
"Nah, itu dia masalahnya. Mau beli koper baru sekarang, sayang uangnya. Mending buat makan di sana nanti." Ucapku sambil menggaruk kepala yang tak gatal.
"Bentar, bentar..." Puji berdiri dan mengubek-ubek kolong tempat tidurnya
"Nih! Aku ada koper ukuran sedang. Bekas sih, tapi masih kuat banget. Rodanya masih bisa lari kok kalau kamu telat masuk bandara." Lanjutnya yang keluar dari kamar sambil membawa kopernya keluar. Mata ku berbinar
"Wah, serius Ji? Ini buat aku?." Ujarku yang merasa senang
Puji: "Iya, bawa aja! Daripada di sini cuma jadi tempat sembunyi cicak. Ukurannya pas kok, nggak terlalu gede jadi kamu nggak bakal keberatan bawanya."
"Makasih banyak ya, Ji! Penyelamat banget emang kamu." Aku pun senang memiliki teman yang pengertian
Puji: "Eits, nggak cuma koper. Sini deh..." Aku pun mengikuti Puji kekamarnya ia pun membuka lemari, dan mengeluarkan satu tumpuk baju lalu
"Ini ada beberapa baju kerja sama kaos yang udah jarang aku pakai. Masih bagus semua, daripada penuh-penuhin lemari, mending kamu bawa buat ganti-ganti di rantau nanti. Biar kamu nggak perlu beli baju baru lagi di sana." Lanjut puji sambil melemparkan bajunya keatas kasur.
Aku tersenyum Sambil memegang baju pemberian Puji
"Mbak, kok kamu baik banget sih... Aku jadi makin nggak enak hati. Padahal kita baru kenal beberapa hari lo."
Puji: "Halah, kayak sama siapa aja! Kita kan udah temenan, dan kamu udah aku anggep adik sendiri. Aku juga mau kamu di sana fokus kerja aja, nggak usah mikirin penampilan dulu. Yang penting rapi dan sopan. Kalau nanti udah sukses, baru deh kamu borong baju satu mall!"
Beruntung aku memiliki teman yang isinya baik-baik semua sama aku. Seperti kata pepatah, ketika kita baik sama orang pasti kebaikan itu akan berbalik lagi sama kita. Aku pun tertawa lalu ngomong
"Hahaha! Siap! Koper bekas, baju bekas, tapi semangatnya baru nih. Aku bakal jaga baik-baik semua pemberianmu ini mbak.."
Puji: "Nah gitu! Sekarang ayo masuk-masukin bajunya ke koper. Kita tes, muat nggak semua bekal perjuanganmu ini di dalam koper 'ajaib' ini!" Katanya sambil membantu aku melipat baju-baju kedalam koper
Beberapa jam kemudian koper pemberian Puji sudah tertutup rapi dan berdiri tegak di pojok ruangan. Aku dan Puji baru saja duduk selonjoran sambil menyeka keringat setelah berjuang menata baju.
Aku menarik napas lega
"Fiuh... akhirnya! Beres juga urusan packing. Koper bekasmu ini sakti juga ya mbak, semua baju pemberianmu masuk semua tanpa perlu didudukin dulu biar mau ngunci."
Puji: "Iya dong, itu koper sudah berpengalaman menghadapi tekanan hidup. Gimana? Udah siap berangkat tempur besok?"
Baru mau menjawab, tiba-tiba perutku berbunyi sangat nyaring (Kruyuuuukkk...?) Wanita dihadapanku Terdiam sebentar, lalu tertawa ngakak
Puji: "Wah, itu suara apa? Ada naga lagi demo di dalam perut kamu ya?"
Aku Sambil pegang perut dan nyengir malu "Duh, ketahuan deh. Kayaknya perutku tahu kalau tugas berat packing sudah selesai, langsung deh dia nagih haknya. Keroncongan parah.." Puji langsung menepuk jidatnya lalu tertawa
Puji: "Hahaha! Itu perut kayaknya protes, dia bilang: 'Baju udah dipacking, koper udah siap, lah nasinya mana?!'"
"Asli, tadi saking fokusnya mindahin baju sama mikirin saldo, aku sampai lupa kalau terakhir makan itu pas di Ambarawa tadi." Sahutku
Puji: "Ya sudah, jangan sampai besok pas mau terbang kamu malah pingsan di bandara gara-gara diet paksa. Tenang, di dapur masih ada stok darurat."
"Stok darurat apa nih? Jangan bilang mi instan lagi?" Ucapku yang asal tebak
Puji: "Tadi kan aku udah bilang, anggap kos sendiri! Tadi aku sempat beli telur sama ada sisa nasi dikit. Kita bikin nasi goreng ala kadarnya aja gimana? Yang penting perut nggak demo lagi."
"Gas banget, Apa aja deh, asal jangan makan koper." Aku pun terkekeh
"Sialan! Ya udah, yuk ke dapur kecilku. Kamu yang bagian iris bawang ya, aku yang bagian eksekusi di wajan. Anggap aja ini perayaan kecil sebelum pejuang devisa kita ini 'lepas landas' besok!"
"Siap, koki mbak puji! Perutku udah siap menampung kiriman!" Ucapku yang mengangkat tangan seperti tanda hormat.
*****
Setelah Makan Kenyang dan aku Pamit Pulang
Aku menaruh piring, wajahnya sudah lebih seger
"Hahhh... kenyang banget! Nasi goreng telur buatanmu emang juara mbak. Modal energi buat pulang ke rumah dulu nih." Ucapku sambil mengelus bagian perut
Puji: "Eh, udah sore banget, loh. Kamu nggak mau berangkat sekarang? Nanti angkot arah Ambarawa makin susah kalau kemalaman." Sambil melihat jam di dinding.
Aku pun terbelalak lalu berdiri sambil pakai jaket
"Iya nih, aku pamit pulang dulu ya. Mau pamitan sama orang rumah sekalian bawa tas kecil yang ketinggalan." Ujarku yang memakai sepatu.
Puji: "Sip. Koper kamu biar di sini aja bareng koperku. Paginya kamu harus sudah sampai sini lagi ya. Jangan sampai aku berangkat sendirian, ntar aku linglung di bandara kalau nggak ada kamu." Rengeknya dan aku pun tertawa cekikikan
"Tenang mbak, Aku bakal pasang alarm paling kenceng. Jam 10 siang aku sudah nongol di depan pintu kosmu. Kita berangkat bareng-bareng!" Ujarku sambil berdiri setelah memakai sepatu
Puji: "Oke! Inget ya, besok itu babak baru buat kita. Modal koper bekas sama baju seadanya, tapi kita harus pulang bawa kesuksesan!" Ucapnya penuh semangat
"Pasti! Makasih ya mbak buat hari ini. Kamu bener-bener sahabat terbaik. Aku pulang dulu ya, salam buat Johan kalau nanti dia balik." Kataku sambil melambaikan tangan di gerbang.
Puji: "Hati-hati di jalan! Jangan melamun di angkot, jagain tasnya! Sampai ketemu besok pagi, partner!" Teriaknya
Aku ambil melambaikan tangan "Dahhh mbak puji!!!! Besok kita 'terbang'!" Lalu puji pun tersenyum sambil mengangkat dua jempolnya.
Bersambung.....