NovelToon NovelToon
Warisan Saudara Kembar

Warisan Saudara Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Janda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Pagi ini, suasana di rumah sudah sibuk sejak fajar. Jasmine tampak lebih bersemangat; ia mengenakan blus berwarna krem yang senada dengan setelan mungil Shaka. Hari ini adalah jadwal imunisasi rutin Shaka, dan meskipun ada rasa sedikit tegang karena bayinya akan disuntik, Jasmine merasa senang bisa keluar rumah sejenak.

Awan, yang sudah siap dengan jas charcoal miliknya, berdiri di dekat meja makan sambil memandangi Jasmine yang sibuk menyiapkan tas perlengkapan bayi.

"Udah siap? Jangan ada yang ketinggalan. Gue nggak mau balik lagi cuma gara-gara lo lupa bawa dot atau tisu basah," ketus Awan sambil melirik jam tangannya. Padahal, ia sendiri yang sejak tadi berdiri di sana menunggu agar bisa mengantar mereka.

"Sudah semua, Kak. Ayo," jawab Jasmine lembut.

Sesampainya di rumah sakit, mereka menuju departemen pediatrik. Namun, ada yang berbeda hari ini. Dokter Arini sedang ada simposium di luar kota, dan jadwal Shaka dialihkan ke dokter pengganti.

Begitu pintu ruang praktik terbuka, seorang pria muda dengan jas putih bersih dan senyum menawan menyambut mereka.

"Jasmine? Jasmine Aurora?" tanya dokter itu dengan mata berbinar.

Jasmine tertegun sejenak sebelum wajahnya cerah. "Rendra? Dokter Rendra?"

"Ya ampun, Jas! Sudah berapa tahun ya? Terakhir kita ketemu pas wisuda sarjana, kan?" Dokter Rendra melangkah maju, menjabat tangan Jasmine dengan akrab, bahkan sempat menepuk bahu Jasmine dengan santai.

Di belakang mereka, hawa dingin mendadak menyeruak. Awan berdiri tegak, rahangnya mengeras melihat pemandangan di depannya. Matanya menatap tajam ke arah tangan Rendra yang menyentuh bahu Jasmine.

"

"Ehem." Awan berdeham sangat keras hingga membuat Rendra menoleh.

"Oh, maaf. Selamat pagi, Pak," sapa Rendra ramah. "Saya Rendra, teman kuliah Jasmine dulu di Fakultas Kedokteran sebelum dia pindah jurusan. Saya dokter yang akan menangani bayi... Shaka, ya?"

Awan tidak membalas jabatan tangan Rendra. Ia hanya menatap pria itu dengan pandangan menyelidik. "Awan. Gue yang jagain mereka," ucap Awan dengan penekanan pada kata 'jagain'.

Jasmine yang merasa suasana mulai kaku segera mencoba mencairkan keadaan. "Iya, Rendra. Shaka ini anakku. Dan ini Kak Awan, kembaran mendiang suamiku."

Rendra mengangguk simpatik. "Saya turut berduka ya, Jas. Saya dengar beritanya, tapi nggak nyangka kalau itu kamu. Kamu tetap cantik ya, malah makin glowing jadi ibu."

Awan mendengus kasar. ia menarik kursi di samping ranjang periksa dan duduk dengan posisi angkuh. "Bisa mulai imunisasinya sekarang, Dok? Gue sibuk, banyak urusan di kantor yang lebih penting daripada dengerin nostalgia kuliah," potong Awan telak.

Rendra hanya tersenyum maklum, meski ia bisa merasakan aura "permandian es" dari pria di depannya. Ia mulai memeriksa Shaka dengan sangat telaten. Sambil memeriksa, Rendra terus mengajak Jasmine mengobrol.

"Jas, kamu ingat nggak dulu si Andre yang ngejar-ngejar kamu pas ospek? Dia sekarang jadi spesialis bedah di Surabaya loh. Dia pasti patah hati banget kalau tau kamu udah punya jagoan seganteng ini," tawa Rendra renyah.

Jasmine tertawa kecil. "Masa sih? Aku udah nggak pernah kontak lagi sama temen-temen angkatan."

Awan yang melihat Jasmine tertawa bersama Rendra merasa dadanya seperti terbakar. Ia tidak suka melihat Jasmine begitu akrab dengan pria lain. Baginya, tawa Jasmine hanya boleh ditujukan untuknya (atau Shaka).

"Baik, sekarang waktunya suntik ya. Shaka pinter kan? Jangan nangis ya sayang," ucap Rendra lembut sambil menyiapkan jarum suntik.

Begitu jarum menyentuh kulit paha Shaka, bayi mungil itu langsung menjerit kencang. Wajahnya merah padam, air matanya tumpah seketika.

Jasmine panik, ia mencoba menenangkan Shaka namun ia sendiri tampak ingin menangis. Melihat itu, Rendra dengan sigap mendekat dan mengelus kepala Shaka sambil tangannya secara tidak sengaja bersentuhan lagi dengan tangan Jasmine di atas tubuh bayi itu.

"Sstt, nggak apa-apa, Jas. Kamu tenang ya, kalau ibunya tenang, bayinya juga tenang," ucap Rendra lembut, menatap mata Jasmine dengan dalam.

BRAK!

Awan berdiri tiba-tiba, membuat kursi yang ia duduki bergeser keras. Ia langsung maju dan menyisipkan tubuhnya di antara Rendra dan Jasmine. Ia menyambar Shaka dari ranjang periksa dan mendekap bayi itu di dadanya yang bidang.

"Udah kan suntiknya? Udah beres kan tugas lo?" tanya Awan pada Rendra dengan nada yang sangat judes dan tajam.

"S-sudah, Pak Awan. Tinggal observasi sebentar—"

"Nggak perlu. Gue bisa observasi sendiri di rumah. Ayo, Jas, pulang!" perintah Awan tanpa bantahan. Ia menggendong Shaka dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mencengkeram pergelangan tangan Jasmine, menariknya keluar dari ruangan itu.

"Rendra, aku pamit ya! Maaf banget!" teriak Jasmine sambil terseret langkah lebar Awan.

Rendra hanya berdiri terpaku, memandangi kepergian mereka dengan dahi berkerut. "Kembarannya? Tapi kenapa protektifnya kayak suami pencemburu?" gumam Rendra heran.

Sepanjang perjalanan menuju parkiran hingga masuk ke dalam mobil, Awan tidak mengucapkan satu kata pun. Wajahnya sangat gelap, seolah awan badai sedang berkumpul di kepalanya. Shaka yang sudah berhenti menangis kini justru tertidur lelap di car seat-nya.

Begitu mobil melaju, Jasmine tidak tahan lagi. "Kak Awan kenapa sih? Tadi itu nggak sopan banget! Rendra itu temen lama aku, dia cuma mau ramah."

Awan tertawa sinis sambil tetap menatap jalanan. "Ramah? Lo buta atau gimana? Dia itu tebar pesona di depan lo! Pakai bawa-bawa temen yang naksir lo lah, puji lo makin cantik lah. Itu prosedur medis atau lagi cari kesempatan?!"

"Dia cuma bercanda, Kak!"

"Gak ada bercanda yang pegal-pegang bahu sama tangan!" bentak Awan. Ia menginjak rem saat lampu merah dengan sedikit kasar. "Gue nggak suka lo deket-deket sama modelan kayak gitu. Centil."

Jasmine tertegun. Ia menatap profil samping wajah Awan yang tampak sangat gusar. Detik itu juga, sebuah pemikiran melintas di benaknya. "Kak Awan... Kakak cemburu?"

Awan terdiam. Rahangnya mengeras. Ia membuang muka ke arah jendela samping. "Cemburu? Jangan ngigo! Gue cuma nggak mau nama baik keluarga Hero rusak gara-gara istrinya kegatelan sama dokter di rumah sakit umum!"

Jasmine tersenyum tipis. Ia tahu Awan sedang berbohong. Nada bicaranya, caranya mencengkeram setir, dan telinganya yang memerah adalah bukti nyata.

"Tapi Rendra itu pinter loh, Kak. Dia juga baik banget sama aku dulu," goda Jasmine, sengaja ingin melihat reaksi pria kaku itu.

Awan langsung menoleh dengan tatapan membunuh. "Jasmine Aurora, lo berani puji pria lain lagi di depan gue, gue pastikan Shaka ganti dokter besok! Nggak ada lagi rumah sakit ini! Gue bakal panggil dokter paling tua dan paling judes sedunia buat periksa Shaka di rumah! Ngerti?!"

Jasmine tertawa renyah, tawa yang membuat kemarahan Awan mendadak sirna dan berganti menjadi rasa canggung yang luar biasa. Awan kembali fokus menyetir, namun tangannya kini lebih rileks.

"Sialan, kenapa gue harus se-emosi ini cuma gara-gara dokter itu," batin Awan merutuki dirinya sendiri.

Malam harinya, Awan diam-diam berdiri di depan kamar Jasmine, melihat wanita itu sedang menyusui Shaka sambil bersenandung kecil. Ada rasa posesif yang semakin kuat di hatinya. Ia menyadari satu hal: ia tidak akan membiarkan siapa pun, baik itu Rendra atau pria mana pun, masuk ke dalam lingkaran kecil yang sudah susah payah ia bangun bersama Jasmine dan Shaka.

1
pdm
semangat lanjutkan💪
Reni Anjarwani
lanjutt thorrr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut trs thor makin seru ceritanya
Reni Anjarwani
lanjut thorr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor
Siti Dede
Ungkapin aja atuh Waaan...daripada senewen nggak keruan
pdm
aduh ini potongan bwg merahny bikin mata berair/Cry//Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!