Dicampakkan demi masa depan! Arya tidak menyangka hubungan tiga tahunnya dengan Tiara berakhir tepat di gerbang kampus. Namun, saat Arya tenggelam dalam luka, ia tidak sadar bahwa selama ini ada sepasang mata yang terus mengawasinya dengan penuh gairah.
Arini Wijaya, CEO cantik berusia 36 tahun sekaligus ibu dari Tiara, telah memendam rasa selama sepuluh tahun pada pemuda yang pernah menyelamatkan nyawanya itu. Baginya, kegagalan cinta putrinya adalah kesempatan emas yang sudah lama ia nantikan.
"Jika putriku tidak bisa menghargaimu, maka biarkan 'Mbak' yang memilikimu seutuhnya."
Mampukah Arya menerima cinta dari wanita yang seharusnya ia panggil 'Ibu'? Dan apa yang terjadi saat Tiara menyadari bahwa mantan kekasihnya kini menjadi calon ayah tirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Begitu Arini Wijaya berempat keluar dari ruang privat, pintu ruang privat di seberangnya pun terbuka.
Kedua belah pihak bertemu di lorong. Ibu Linawati, Tante Sari, dan Zidan tidak merasakan apa-apa, namun Arini berdiri mematung di tempatnya. Dia mendengar ibunya dan Tante Sari sedang membicarakan detail kencan buta ini dengan sangat antusias.
Hatinya membatin, gawat!
Benar saja, Arya Wiratama yang berada di depan sempat tertegun sejenak. Lalu, tanpa ekspresi, dia berjalan melewati mereka berempat seolah-olah tidak kenal dan pergi begitu saja.
Begitu Arini sadar, dia melihat pintu lift sudah tertutup. Arini sangat cemas hingga air matanya menetes. Tanpa memedulikan sepatu hak tingginya, dia berlari kencang menuju tangga darurat. Setibanya di lobi, dia hanya sempat melihat mobil Rolls-Royce Arya melaju keluar dari tempat parkir.
Arini merasa sangat sedih. Dia tidak menyalahkan Arya; dia justru menyalahkan dirinya sendiri. Seharusnya dia mendaftarkan pernikahan dengan Arya besok, tapi malah terjebak di acara kencan buta ini. Ditambah lagi dia sudah berbohong tadi saat berkirim pesan. Rasa sedih yang mendalam menusuk hatinya, dia pun berjongkok di lantai lobi dan menangis sejadi-jadinya.
Ibu Linawati menyusul ke bawah dan melihat Arini sedang berjongkok sambil menangis. Dia segera maju hendak memapah putrinya. Arini yang sedang emosional mengira itu adalah Arya, namun saat mendongak ternyata itu ibunya.
Dia langsung mengibaskan tangan Ibu Linawati dan berteriak: "Sekarang Ibu puas? Sudah tahu aku tidak mau kencan buta tapi Ibu masih mengaturnya diam-diam. Kembalikan suamiku!"
"Suami?" Ibu Linawati terhuyung. Otaknya hanya terpaku pada satu kata: "Suami". Sejak kapan Arini punya pria? Kenapa tidak ada kabar sama sekali?
Dia segera menenangkan: "Putriku sayang, apakah pemuda tadi itu suamimu? Sejak kapan kalian bersama? Kalau Ibu tahu, Ibu tidak akan mengatur kencan buta ini."
Arini juga tahu ini bukan sepenuhnya salah ibunya. "Dia adalah orang yang menyelamatkanku sepuluh tahun lalu. Ibu tahu aku sudah mencintainya selama sepuluh tahun. Akhirnya aku berhasil mendapatkannya, dan rencananya besok kami akan mendaftarkan pernikahan, tapi sekarang malah jadi begini!" Arini kembali menangis tak terkendali.
Ibu Linawati segera memeluk Arini. "Sayang jangan menangis, ini cuma kesalahpahaman. Kamu cari dia dan jelaskan semuanya, pasti dia mengerti."
"Iya, aku pergi sekarang!" Arini terburu-buru masuk ke mobil untuk mengejar Arya.
Tadi, Arya Wiratama turun dari jalan tol dan tiba di Restoran Kayu Manis. Dia menuju ruang privat 207. Saat masuk, dia mendengar suara dari ruangan seberang yang terasa sangat akrab (saat itu Ibu Linawati sedang menarik Arini di dekat pintu). Dia sempat heran sejenak sebelum masuk ke ruangannya sendiri.
Bambang melihatnya masuk dan segera berdiri menyambut. "Pak Arya, terima kasih sudah bersedia datang."
Arya melambaikan tangan. "Pak Bambang jangan bicara begitu, perusahaan masih sangat bergantung padamu."
Di tengah sesi makan, Arya berkata: "Sebenarnya, aku ingin memberitahumu sesuatu. Kamu tahu Arini Wijaya dari Wijaya Group, kan?"
"Tahu, Pak. CEO Arini Wijaya adalah dewi nomor satu di Jawa Tengah."
Arya tersenyum bangga. "Dia istriku."
Kalimat Arya hampir membuat Bambang tersedak. "Luar biasa Pak Arya, bahkan Ibu Arini pun bisa Anda taklukkan."
Arya tertawa: "Kamu salah, akulah yang ditaklukkan olehnya. Sebenarnya aku ingin menggabungkan Mulyono Group ke dalam manajemen Wijaya Group, tapi tetap atas namaku. Jabatanmu tidak akan berubah."
Bambang merasa tenang setelah mendengar jabatannya aman. "Saya pasti akan bekerja sama dengan baik di bawah pengelolaan Ibu Arini."
Keduanya berdiri dan berjalan keluar dari ruangan. Saat Arya keluar dan melihat Arini keluar dari ruangan seberang, hatinya sempat gembira. Baru saja hendak menyapa, dia mendengar dua wanita di belakang (Ibu Linawati dan Tante Sari) membicarakan soal kencan buta keluarga tersebut.
Arya menatap Arini, lalu menatap Zidan di sampingnya. Hatinya terasa perih. Baru saja dia mulai mencintai dengan sungguh-sungguh, mungkinkah harus berakhir karena kebohongan? Karena marah dan cemburu, Arya keluar dari restoran, naik ke mobil, dan menyetir tanpa tujuan.
Ponselnya berdering terus dari Arini. Dengan pikiran kacau dia menolaknya berkali-kali sampai akhirnya Arya mematikan ponselnya.
Arini menghentikan mobilnya di pinggir jalan, bersandar di setir dan menangis pilu. "Sayang, maafkan aku. Kamu di mana? Jangan abaikan aku..."
Setelah menangis lama, Arini kembali ke rumah orang tuanya dengan lemas. Begitu masuk, ayahnya, Pak Wijaya, marah besar saat tahu putrinya menangis karena pria: "Beraninya dia menyakiti putriku, akan kuhancurkan dia!"
Arini memelototi ayahnya: "Ayah berani?!"
Sementara itu, Arya Wiratama pergi ke Hotel Sunlan miliknya. Dia menemui Ibu Maya, meminta kamar Presidential Suite, lalu mengisi daya ponselnya.
Begitu dinyalakan, rentetan pesan masuk bertubi-tubi dari Arini, kakaknya, dan Bagas. Namun Arya tidak memedulikannya. Dia hanya mengirim pesan kepada Indah Atmajaya, memberitahunya bahwa dia ada di Hotel Sunlan kamar 888 dan ingin menemuinya. Dia juga menyuruh Ibu Maya mengantarkan beberapa botol minuman keras.
Indah Atmajaya yang sedang bosan di rumah kaget menerima pesan itu. Wajahnya memerah sambil membatin, "Jangan-jangan Mas Arya menginginkanku? Aku harus berdandan seperti apa ya?"
"Sudahlah, bawa semua saja." Indah Atmajaya terburu-buru memasukkan baju-baju seksi dan belasan pasang berbagai macam stoking ke dalam koper, lalu bergegas menuju hotel.