NovelToon NovelToon
Hello Tenggara

Hello Tenggara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Erna Lestari

Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

DUKUNGAN DI SAAT PERLU

Matahari mulai meredup menyapa langit Makassar ketika Khatulistiwa keluar dari gerbang sekolah. Peristiwa pembullyan oleh Jesika dan teman-temannya di jam istirahat masih membuat hatinya terasa berat, meskipun teman-temannya telah banyak memberikan dukungan. Dia memutuskan untuk jalan kaki pulang saja agar bisa merenung dan menenangkan pikirannya, meskipun rumahnya cukup jauh dari sekolah.

Saat melewati gang kecil yang biasanya jarang dilalui orang, dia tiba-tiba mendengar suara kaki menginjak tanah dari belakangnya. Dia menoleh dan melihat Jesika beserta Lina dan Maya yang sedang mengikutinya dengan wajah yang tampak tidak baik. Khatulistiwa segera mempercepat langkahnya, namun jalan yang sedikit licin akibat genangan air membuatnya terpeleset dan hampir jatuh.

Tak usah berlari, Khatulistiwa!" teriak Jesika dengan suara yang kasar. "Kamu masih belum membayar utangmu padaku karena telah membuatku merasa malu di depan teman-teman sekolah tadi!"

Khatulistiwa berdiri dengan hati-hati dan menghadapi mereka dengan dada yang membengkak.

"Aku tidak berutang apa-apa padamu, Jesika! Kamulah yang salah karena menghina aku dan menyebarkan omong kosong. Aku hanya melindungi diri sendiri saja!"

Lina melangkah maju dan mulai menarik rambut Khatulistiwa dengan kuat. "Kamu harus meminta maaf padanya dengan sungguh-sungguh! Kalau tidak, kamu akan merasa nasib yang lebih buruk!"

Khatulistiwa berusaha melepaskan diri dengan keras, namun kedua temannya sudah mengapitnya dari sisi kanan dan kiri. Rasa takut mulai menyelimuti dirinya – dia tidak tahu apa yang akan mereka lakukan padanya di gang sepi yang tidak ada seorang pun yang lewat.

"Sampai kapan kamu akan menyakiti orang lain?"

Suara yang akrab terdengar dari ujung gang membuat semua orang terkejut. Khatulistiwa melihat dengan mata berkaca-kaca ketika Tenggara berlari cepat menghampiri mereka, dengan wajah yang penuh kemarahan namun juga perhatian. Dia baru saja selesai dari kuliah dan sedang dalam perjalanan ke tempat les privatnya ketika melihat kejadian ini dari kejauhan.

"Siapa kamu untuk ikut campur dalam urusan kita?" tanya Jesika dengan nada yang menantang, namun suara nya sudah tidak sekuat tadi ketika melihat sosok pria yang tampak lebih besar darinya.

"Kamu tidak usah tau siapa saya," jawab Tenggara dengan suara yang tegas sambil berdiri di antara mereka dan Khatulistiwa.

"saya tidak akan pernah membiarkan seseorang menyakiti teman saya dengan cara yang tidak benar seperti ini. Kalau kamu punya masalah dengan dia, bicarakan saja dengan cara yang sopan dan dewasa, bukan dengan menggunakan kekerasan!"

Maya dan Lina mulai merasa tidak nyaman dan mulai menjauh dari Khatulistiwa. Mereka tahu bahwa jika ada orang lain yang melihat kejadian ini, mereka bisa mendapatkan masalah besar di sekolah dan bahkan dari orang tua mereka. Jesika sendiri juga mulai merasa ragu untuk melanjutkan tindakannya, terutama ketika Tenggara mulai mengambil ponselnya seolah-olah akan memanggil pihak berwajib.

"Awas kamu Khatulistiwa," ucap Jesika dengan suara yang sudah tidak sekeras tadi sebelum akhirnya menarik kedua temannya pergi meninggalkan gang dengan langkah yang tergesa-gesa.

Setelah mereka pergi, Tenggara segera mendekat ke Khatulistiwa dan memeriksa kondisinya dengan cermat. "Kamu tidak apa-apa kan? Apakah mereka menyakitimu?"

Khatulistiwa merasa mata air matanya tidak bisa lagi ditahan. Dia menangis pelan sambil mengangguk perlahan. "Terima kasih banyak, Tenggara. Kalau bukan kamu datang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku."

Tenggara memberikan sapu tangan yang ada di dalam kantong jasnya dan membantu Khatulistiwa membersihkan wajahnya. "Tidak apa-apa, sekarang kamu aman sudah. Ayo aku antar kamu pulang saja ya? Jangan sampai kamu mengalami hal yang sama lagi sendirian."

Khatulistiwa mengangguk dengan rasa terima kasih yang mendalam. Mereka mulai berjalan keluar dari gang dan menuju arah rumah Khatulistiwa. Sepanjang jalan, Tenggara menceritakan bahwa dia sebenarnya sudah merasa khawatir ketika Khatulistiwa tidak menjawab pesannya

"Aku tidak menyangka kamu akan ada di sana," ucap Khatulistiwa dengan suara yang masih sedikit bergetar. "Aku merasa sangat bersyukur memiliki teman seperti kamu."

Ketika mereka sampai di depan rumah Khatulistiwa, Ibunya, Senja Diranjani, langsung berlari keluar dengan wajah yang khawatir setelah melihat kondisi anak perempuannya. Setelah Khatulistiwa menceritakan semua kejadian yang terjadi, Ibunya merasa sangat marah namun juga bersyukur bahwa anaknya selamat dan ada orang yang membantu dia.

"Terima kasih banyak ya, Tenggara," ucap Senja dengan suara yang penuh rasa terima kasih. "Kalau bukan kamu, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Khatulistiwa. Silakan masuk saja ke rumah untuk sekedar istirahat dan menikmati kukis buatan kami sebagai ucapan terima kasih."

Tenggara mengangguk dengan senyum dan mengikuti mereka masuk ke dalam rumah. Saat duduk di ruang tamu dan menikmati kukis yang lezat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!