NovelToon NovelToon
Chasing Her, Holding Him

Chasing Her, Holding Him

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / One Night Stand / Tamat
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku adalah saksi dari setiap cintamu yang patah, tanpa pernah bisa memberitahumu bahwa akulah satu-satunya cinta yang tak pernah beranjak."

Pricillia Carolyna Hutapea sudah hafal setiap detail hidup Danesha Vallois Telford
Mulai dari cara laki-laki itu tertawa hingga daftar wanita yang pernah singgah di hatinya.
Sebagai sahabat sejak kecil, tidak ada rahasia di antara mereka. Mereka berbagi ruang, mimpi, hingga meja kuliah yang sama. Namun, ada satu rahasia yang terkunci rapat di balik senyum tenang Pricillia, dia telah lama jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.

Dunia Pricillia diuji ketika Danesha menemukan ambisi baru pada sosok Evangeline Geraldine Mantiri, primadona kampus yang sempurna. Pricillia kini harus berdiri di baris terdepan untuk membantu Danesha memenangkan hati wanita lain.

Di tengah tumpukan buku hukum dan rutinitas tidur bersama yang terasa semakin menyakitkan, Pricillia harus memilih, terus menjadi rumah tempat Danesha pulang dan bercerita tentang wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Malam itu, skenario yang disusun Evangeline tidak berjalan sesuai rencananya. Di depan lobi apartemen mewah itu, Danesha melepaskan kaitan tangan Evangeline di lehernya. Meskipun darahnya berdesir hebat karena ciuman panas mereka, ada sesuatu dalam dirinya yang menarik rem darurat.

"Dan, ayolah... nggak ada orang di atas," bisik Evangeline dengan tatapan menggoda yang paling maut.

Danesha menggeleng pelan, tersenyum canggung. "Gue belum siap buat sejauh itu, Vang. Maaf ya. Gue anter sampai sini aja."

Danesha pun berlalu, meninggalkan Evangeline yang berdiri mematung dengan harga diri yang terluka. Kekesalan Evangeline memuncak. Dia merogoh ponselnya, mencari nomor yang baru saja dia dapatkan dari teman satu jurusannya.

Nomor Pricillia Carolyna Hutapea.

Di kamarnya yang sunyi, Pricillia melihat layar ponselnya menyala. Sebuah nomor tak dikenal. Dia sudah bisa menebak siapa itu.

"Halo?" suara Pricillia terdengar sangat tenang, hampir seperti robot.

"Dengar ya, Pricillia," suara Evangeline terdengar tajam dan penuh racun di seberang telepon.

"Tadi di kafe itu baru permulaan. Danesha sekarang lagi sama aku. Dia milikku sekarang. Jangan harap kamu bisa masuk lagi ke celah-celah hidupnya. Dia lebih milih aku daripada kamu yang cuma dianggap saudara pengganggu."

Pricillia terdiam sejenak. Bukannya gemetar atau menangis seperti yang diharapkan Evangeline, sebuah suara tawa yang ringan dan elegan keluar dari bibir Pricillia. Sebuah kekehan kemenangan.

"Vang... kamu lucu ya," ujar Pricillia, kini suaranya terdengar lebih berkuasa.

"Kamu pikir kamu wanita pertama yang bilang begitu ke aku? Kamu pikir mantan-mantan Danesha yang cantik-cantik itu pergi karena mereka bosan?"

Evangeline tertegun.

"Maksud kamu apa?"

"Mereka semua pergi karena mereka sadar, sekeras apa pun mereka mencoba, Danesha nggak akan pernah bisa melepas aku. Aku adalah standar hidupnya. Aku adalah rumahnya. Kamu? Kamu cuma wisata sementara yang dia kunjungi buat melampiaskan hormonnya,"

Pricillia tersenyum di balik kegelapan. "Silakan nikmati waktumu, Vang. Tapi ingat satu hal... Danesha akan selalu pulang ke aku. Selalu."

Pricillia mematikan telepon tepat saat Evangeline baru saja ingin memaki.

Pricillia merebahkan tubuhnya di kasur, menatap langit-langit dengan tatapan yang sangat berbeda dari sosok gadis malang di kampus tadi. Di balik topeng kesabaran dan keikhlasannya, ada strategi yang sangat rapi.

Dia membiarkan Danesha mengejar Evangeline.

Dia membiarkan Danesha mencium wanita-wanita lain. Dia bahkan menikmati saat-saat mantan-mantan Danesha pergi sambil menangis karena cemburu padanya. Bagi Pricillia, semua wanita itu hanyalah ujian yang gagal bagi Danesha.

"Bermainlah sesukamu, Danesha," bisik Pricillia pada kegelapan malam.

Dia tertawa puas. Dia tahu betul bahwa Danesha tidak akan pernah berani melangkah terlalu jauh dengan wanita lain karena di alam bawah sadarnya, ada satu sosok yang ia jaga kesuciannya, Pricillia.

Pricillia membebaskan Danesha untuk berkelana, membiarkan dia mencicipi semua rasa di luar sana, hanya agar Danesha sadar bahwa tidak ada tempat yang senyaman pelukannya. Dia bukan korban dalam cerita ini. Dia adalah penulis skenarionya.

Pintu kamar Pricillia terbuka tanpa ketukan, sebuah hak istimewa yang hanya dimiliki oleh satu orang di dunia ini. Danesha melangkah masuk dengan bahu yang merosot dan wajah yang tampak kelelahan, kontras dengan semangatnya yang meluap-luap saat di kafe tadi sore.

Pricillia yang sedang duduk bersandar di kepala tempat tidur sambil membaca buku, hanya melirik sekilas. Dia tidak bertanya. Dia tahu Danesha akan datang. Selalu begitu.

Tanpa sepatah kata pun, Danesha naik ke atas tempat tidur, merangkak mendekat, dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke arah Pricillia.

Dia menyusupkan wajahnya, menyembunyikannya di ceruk leher Pricillia, sambil melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu dengan sangat erat.

"Pris..." gumam Danesha, suaranya teredam oleh kulit leher Pricillia. "Gue ngerasa aneh banget."

Pricillia tetap tenang. Jemarinya yang lentur mulai bergerak pelan, mengusap rambut Danesha dengan gerakan ritmis yang menenangkan.

"Aneh kenapa, Dan?"

"Evangeline... dia ngajak gue tidur bareng di apartemennya tadi," Danesha menghela napas panjang, hembusan napasnya yang hangat menggelitik leher Pricillia, namun gadis itu tidak bergeming.

"Gue sayang sama dia, Pris. Dia cantik, dia hebat, ciumannya gila... tapi pas dia minta lebih, tiba-tiba gue kepikiran lo."

Pricillia tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak bisa dilihat oleh Danesha. "Kok kepikiran gue?"

"Gak tahu. Gue ngerasa kalau gue ngelakuin itu, ada sesuatu yang bakal rusak. Gue ngerasa pengen pulang. Dan rumah gue ya di sini, sama lo," Danesha semakin mengeratkan pelukannya, seolah takut jika dia melepaskannya, dia akan tersesat.

"Gue ngerasa bersalah sama dia karena gue nolak, tapi di sisi lain, gue lega bisa di sini sekarang. Cuma sama lo gue bisa napas tenang begini."

Pricillia tidak membalas dengan kata-kata cinta atau nasihat moral. Dia hanya mendengarkan. Dia membiarkan Danesha menumpahkan seluruh kegelisahannya, membiarkan pria itu menghirup aroma tubuhnya yang sudah menjadi candu bagi Danesha selama dua dekade.

Di dalam kepalanya, Pricillia sedang menata kepingan kemenangan lainnya. Evangeline boleh memiliki ciuman Danesha, boleh memiliki status pacar di depan umum, namun pada akhirnya, di saat-saat paling rapuh dan intim secara emosional, Danesha akan selalu berakhir di ceruk lehernya.

"Gue emang bego ya, Pris?" tanya Danesha lagi, suaranya mulai memberat karena kantuk.

"Nggak, Dan. Lo cuma butuh waktu," jawab Pricillia lembut, suaranya seperti melodi yang menghipnotis.

Pricillia menatap ke depan dengan pandangan tajam yang dingin. Dia tahu, sebentar lagi Evangeline akan menjadi sejarah, sama seperti wanita-wanita sebelumnya. Dan dia akan tetap di sini, menjadi pelabuhan terakhir yang takkan pernah tergantikan.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Retno Isusiloningtyas
mdh2an happy ending
Retno Isusiloningtyas
mmm....
masih nyimak 🤣
Paon Nini
sinting
falea sezi
ngapain ngintil mulu g ada krjaan mending prgi sejauh nya lah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!