NovelToon NovelToon
Pernikahan Berdarah Mafia

Pernikahan Berdarah Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.

Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.

Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mempelai Berdarah

Gaun pengantinku terlalu putih. Putih yang menyakitkan mata, yang terasa seperti kebohongan besar yang kuseret di belakang tubuhku, sepanjang lorong katedral ini. Setiap langkahku terasa berat, seperti ada batu besar menggantung di pergelangan kakiku. Tapi aku tetap berjalan. Karena semua orang menatapku. Lima ratus pasang mata. Lima ratus senyum palsu. Lima ratus harapan yang bahkan aku sendiri tidak percayai.

Musik organ mengalun megah, memenuhi setiap sudut katedral yang menjulang tinggi ini. Jendela kaca patri di sekelilingku, memantulkan cahaya matahari sore dalam ribuan warna, tapi aku tidak merasakannya. Semuanya terasa dingin, dan begitu hampa.

Ayah berjalan di sampingku, tangannya menggenggam lenganku dengan erat. Terlalu erat. Sampai aku hampir merasakan sakit. Tapi aku tidak protes, aku hanya menatap lurus ke depan, ke arah altar yang dihiasi bunga mawar putih dan merah. Merah darah.

Kenapa aku berpikir begitu?

Di ujung sana, seorang pria tengah berdiri. Damian Alexandro Vincenzo, calon suamiku. Pria yang bahkan belum pernah benar-benar kukenal meski kami sudah bertunangan selama tiga bulan. Tiga bulan yang terasa seperti mimpi buruk panjang, yang tidak bisa kuhentikan.

Dia tampan, bahkan terlalu tampan untuk ukuran manusia biasa. Jas hitamnya terpasang sempurna di tubuh tingginya yang atletis. Rambutnya yang hitam legam disisir rapi ke belakang, memperlihatkan wajah tegas dengan tulang rahang yang tajam. Mata gelapnya menatapku dengan tatapan yang... aku sendiri tidak bisa menjelaskannya. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri setiap kali tatapan kami bertemu.

Dia tidak tersenyum? Tidak, bahkan di hari pernikahannya sendiri, Damian Alexandro Vincenzo tidak tersenyum.

Aku sampai di ujung lorong, lalu ayah berhenti. Tangannya masih menggenggam lenganku, seperti tidak mau melepaskanku. Aku menoleh sebentar, melihat wajahnya. Ada keringat di pelipisnya. Tangannya sedikit bergetar.

"Ayah?" bisikku pelan.

Dia menatapku. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat ketakutan di mata ayahku. Ketakutan yang nyata. Yang membuat dadaku sesak.

"Maafkan ayah, Sayang," bisiknya. Suaranya serak, hampir tidak terdengar. "Maafkan ayah."

Sebelum aku sempat bertanya apa maksudnya, dia sudah melepaskan tanganku dan menyerahkanku kepada Damian. Tangan Damian menggenggam tanganku. Tangannya begitu dingin, aku seperti sedang menyentuh es. Tapi genggamannya kuat. Sangat kuat. Seperti dia tidak akan pernah melepaskanku.

Ayah mundur beberapa langkah. Wajahnya pucat. Dia menatap Damian dengan tatapan yang... seperti memohon? Atau takut? Aku tidak tahu. Semuanya terjadi terlalu cepat.

Damian menarikku naik ke altar. Pastor sudah berdiri di sana, membuka kitab suci dengan wajah khidmat. Di belakang Damian, aku melihat beberapa pria berbadan besar berdiri dengan tangan terlipat di dada. Mereka semua mengenakan jas hitam yang sama. Wajah mereka datar. Tidak ada ekspresi. Seperti patung.

Aku menelan ludah. Ada yang tidak beres. Sesuatu yang sangat tidak beres.

"Saudara dan saudari sekalian," pastor mulai berbicara. Suaranya mengalun lembut di seluruh katedral. "Kita berkumpul di sini, hari ini untuk menyaksikan..."

Aku tidak mendengarkan. Aku hanya merasakan genggaman tangan Damian yang semakin kuat. Aku menoleh menatapnya. Dia menatap lurus ke depan, ke arah pastor, tapi aku tahu dia tidak benar-benar mendengarkan. Ada sesuatu di rahangnya yang tegang. Ototnya berkedut pelan.

Pastor terus berbicara, kata demi kata, janji demi janji. Suci, kudus, sampai maut memisahkan.

Maut.

Kenapa kata itu terasa begitu nyata di telingaku?

"Apakah ada yang keberatan atas pernikahan ini?" tanya pastor, seperti yang selalu ditanyakan dalam setiap upacara pernikahan.

Tidak ada yang menjawab. Tentu saja tidak ada. Siapa yang berani menentang pernikahan antara keluarga Vasquez dan Vincenzo? Dua kerajaan bisnis terbesar di negara ini. Pernikahan ini adalah merger. Bukan cinta.

Aku sudah tahu itu sejak awal. Tapi aku tidak tahu akan seburuk apa kenyataannya.

"Jika tidak ada," pastor melanjutkan, "maka saya..."

"Ada."

Suara itu datang dari Damian. Semua orang terdiam. Aku merasakan seluruh tubuhku membeku. Pastor menatap Damian dengan bingung.

"Maaf, Tuan Vincenzo, apa yang Anda...?"

Damian melepaskan tanganku. Dia berbalik, menghadap para tamu. Tangannya bergerak ke balik jasnya. Dan ketika dia mengeluarkannya kembali, ada sesuatu yang mengkilat di tangannya.

Pistol.

Pistol hitam yang menakutkan.

Teriakan histeris langsung meledak dari para tamu. Kursi-kursi bergeser kasar. Orang-orang berdiri, mencoba lari. Tapi pria-pria berbadan besar yang tadi berdiri di belakang Damian sudah bergerak. Mereka tersebar ke seluruh katedral dengan cepat, mengambil posisi di setiap pintu keluar. Senjata teracung.

Tidak ada yang bisa keluar.

"Duduk," perintah Damian. Suaranya tenang. Terlalu tenang untuk situasi seperti ini. "Semuanya duduk."

Tidak ada yang bergerak. Semua orang masih berdiri, menjerit, dan menangis. Damian menembak langit-langit katedral.

DUAR!

Suara tembakan itu menggelegar. Gema memekakkan telinga. Serpihan plester berjatuhan dari langit-langit. Dan semua orang langsung membeku. Perlahan, satu per satu, mereka duduk kembali. Gemetar. Menangis dalam diam.

Aku tidak bisa bergerak. Aku hanya berdiri di sana, di altar, dengan gaun pengantin putih yang sekarang terasa seperti kain kafan. Tubuhku gemetar hebat. Jantungku berdetak begitu kencang sampai aku pikir akan meledak.

Damian berbalik lalu menatapku. Matanya begitu gelap, seperti halnya jurang tanpa dasar.

"Jangan takut, Alexa," katanya pelan. "Ini bukan untukmu."

Lalu dia berjalan melewatiku. Turun dari altar. Langkahnya tenang. Terukur. Seperti sedang berjalan-jalan santai di taman. Aku berbalik mengikuti gerakannya. Dan aku melihatnya berjalan menuju ayahku sendiri.

Ayah masih duduk di barisan depan, di samping ibu yang sudah menangis histeris. Wajah ayah putih pucat. Bibirnya bergetar. Tangannya mencengkeram sandaran kursi di depannya.

"Damian," panggil ayah. Suaranya bergetar. "Kumohon, j-jangan."

Damian berhenti tepat di depan ayah. Dia menatap ayahku dengan tatapan yang terlihat begitu membencinya.

"Rafael Ernesto Vasquez," kata Damian. Setiap kata keluar dengan jelas dan terdengan dingin. "Dua puluh tahun yang lalu, kau mengkhianati keluargaku. Kau mencuri tiga triliun rupiah dari brankas Vincenzo. Kau membunuh kakakku, Carlos. Kau membunuh ibuku, Isabella, yang sedang hamil enam bulan. Kau membakar rumah kami sampai rata dengan tanah. Dan kau kabur seperti pengecut."

Tidak.

Tidak.

Tidak mungkin.

Aku menatap ayah. Menunggu dia membantah. Menunggu dia berteriak bahwa itu semua bohong. Tapi ayah hanya diam. Dia menutup matanya, air mata mengalir di pipinya.

"Ayah?" bisikku. Suaraku pecah. "Ayah, tolong katakan bahwa itu tidak benar."

Ayah membuka matanya, dia menatapku. Dan dalam tatapan itu, aku melihat segalanya. Penyesalan, rasa bersalah, dan ayah terlihat begitu pasrah.

"Maafkan ayah, Alexa," katanya lagi. Dengan nada yang sama seperti tadi. "Maafkan ayah."

Damian mengangkat pistolnya. Mengarahkannya tepat ke kepala ayah.

"TIDAK!" aku berteriak. Aku berlari turun dari altar, gaunku tersangkut, aku tersandung, tapi aku terus berlari. "JANGAN! KUMOHON! DAMIAN, JANGAN!"

Tapi tangan seseorang menarikku dari belakang. Salah satu pengawal Damian. Dia menarikku dengan kuat, menahanku. Aku meronta, menjerit, dan menangis.

"LEPASKAN AKU! AYAH! AYAH!"

Damian tidak menoleh, dia hanya terus menatap ayah.

"Ini untuk Carlos," katanya pelan. "Untuk ibu, untuk keluargaku yang kau bantai seperti binatang."

Ayah menutup matanya lagi, bibirnya bergerak seperti sedang berdoa.

DUAR!

Dunia berhenti.

Semuanya berhenti.

Aku melihat kepala ayah terhentak ke belakang. Darah. Begitu banyak darah yang menyembur. Memercik ke mana-mana. Ke wajah ibu yang menjerit histeris. Ke gaun pengantin putihku yang sekarang ternoda dengan warna merah. Merah darah dari ayahku sendiri.

Tubuh ayah jatuh ke lantai. Terkulai. Tidak bergerak.

Aku tidak bisa berteriak lagi. Suaraku hilang. Semuanya hilang. Aku hanya bisa menatap tubuh ayah yang tergeletak di sana, dengan lubang di kepalanya, darah menggenang di lantai marmer putih katedral.

Ibu menjerit. Jeritannya memekakkan telinga. Dia mencoba merangkak ke arah ayah, tapi beberapa pengawal menahannya.

Tamu-tamu yang lain tidak ada yang berani bergerak. Mereka semua hanya duduk di sana, menangis, gemetar, menutup mata anak-anak mereka.

Damian memasukkan pistolnya kembali ke balik jasnya. Dia berbalik. Matanya menatapku. Dan dia berjalan mendekat.

Aku tidak bisa bergerak. Tubuhku sudah tidak merespons apapun. Aku hanya berdiri di sana, dengan gaun pengantin berlumuran darah ayahku sendiri.

Damian berhenti tepat di depanku. Dia mengangkat tangannya. Aku pikir dia akan membunuhku juga. Tapi tidak. Dia hanya menyentuh pipiku dengan lembut. Mengusap air mata yang mengalir di sana.

"Jangan menangis, Alexa," bisiknya. Suaranya lembut. Sangat lembut. Kontras mengerikan dengan apa yang baru saja dia lakukan. "Pernikahan kita baru saja dimulai."

Dia menarikku ke pelukannya. Pelukan yang hangat. Yang seharusnya menenangkan. Tapi aku merasakan darah ayah yang masih basah di gaunku, tertekan ke tubuhku.

Bibir Damian mendekati telingaku. Dan dia berbisik dengan suara yang membuat seluruh tubuhku membeku.

"Selamat datang di neraka, istriku."

***

Aku tidak ingat bagaimana kami keluar dari katedral. Aku tidak ingat bagaimana aku sampai di mobil. Aku tidak ingat apapun kecuali tubuh ayah yang tergeletak di lantai dengan kepala berdarah.

Sekarang aku duduk di limusin mewah yang meluncur menembus jalanan kota. Di sampingku, Damian duduk dengan tenang. Dia sudah melepas jasnya yang ternoda darah dan menggantinya dengan yang baru. Seperti tidak terjadi apa-apa. Seperti dia tidak baru saja membunuh ayahku di depan mata lima ratus orang.

Aku menatap tanganku. Masih ada bercak darah di sana. Darah ayah. Aku ingin menggosoknya. Ingin menghilangkannya. Tapi aku tidak bisa menggerakkan tanganku.

"Apakah kamu merasa shock dengan kejadian tadi?" kata Damian. Suaranya terdengar jauh. "Itu hal yang wajar."

Aku ingin berteriak, ingin memukulnya. Dan aku ingin melompat dari mobil ini, dan kabur sejauh mungkin. Tapi aku tidak bisa melakukan apapun.

"Kenapa?" akhirnya suaraku keluar, suara yang terdengar serak. "Kenapa kau membunuhnya?"

Damian diam sebentar. Dia menatap ke luar jendela, ke jalanan kota yang perlahan mulai gelap ditelan malam.

"Karena dua puluh tahun yang lalu, ayahmu membunuh keluargaku," jawabnya dengan nada datar. "Dan aku sudah menunggu dua puluh tahun untuk balas dendam."

"Tapi... tapi kenapa hari ini? Kenapa harus di hari pernikahan kita?" aku menatapnya. Air mata masih mengalir di pipiku. "Kenapa kau... kenapa kau menikahiku, kalau kau sangat membenci keluargaku?"

Damian akhirnya berbalik menatapku. Matanya yang gelap itu menatapku dengan intensitas yang membuat dadaku sesak.

"Karena membunuh ayahmu saja tidak cukup," katanya pelan. "Aku ingin dia melihat putri kesayangannya diambil dariku. Aku ingin dia mati dengan mengetahui bahwa kau sekarang milikku, untuk selamanya."

Aku merasa dunia berputar. Aku ingin muntah.

"Kau... kau menikahiku hanya untuk balas dendam?"

"Ya," jawabnya tanpa ragu. Tanpa penyesalan.

Aku mundur, menjauh darinya sejauh mungkin di dalam mobil ini. Tubuhku gemetar hebat.

"Kau monster," bisikku. "Kau benar-benar monster."

Damian tidak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke matanya.

"Ya," katanya lagi. "Aku memang monster. Dan sekarang kau terikat denganku, sampai maut memisahkan kita. Apa kau mengingatnya?"

Mobil akhirnya berhenti, aku menatap ke luar. Sebuah mansion megah berdiri di hadapanku. Mansion dengan pagar tinggi, penjaga bersenjata di setiap sudut, dan lampu yang menerangi halaman luas seperti siang hari.

Damian turun dari mobil dan membuka pintu untukku. Dia mengulurkan tangannya.

"Selamat datang di rumahmu yang baru, Alexa."

Aku menatap tangannya. Tangan yang baru saja membunuh ayahku. Tangan yang akan mengurungku di sini.

Tapi aku tidak punya pilihan. Aku mengambil tangannya. Dan ketika aku turun dari mobil, gaun pengantinku yang berlumuran darah terseret di tanah. Seperti mayat yang diseret ke kuburannya sendiri.

***

Siapa sebenarnya Rafael Vasquez?

Kejahatan apa yang dia lakukan dua puluh tahun lalu, sampai membuat Damian menunggu selama itu untuk membalas dendam?

Dan yang lebih mengerikan, apakah Alexa hanya boneka dalam permainan balas dendam ini, atau ada alasan lain kenapa Damian begitu terobsesi untuk menjadikannya miliknya?

Satu yang pasti: malam pertama di mansion Vincenzo, akan mengubah Alexa selamanya. Dan dia bahkan belum tahu, separuh dari mimpi buruk yang menantinya.

1
Lubis Margana
posisi mu sangat sulit alexa berpihaklh sementara pada suami mu agar kau dapat cela..bisa lari dari suami mu
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
karya yang aku baca dengan menghabiskan 1/2 hari dengan fon...
Leoruna: knapa lgi tuh/Shy/
total 1 replies
kesyyyy
mantep bangett
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
cerita tentang kau dan aku🎼🎶🎵
Leoruna: astaga, knapa jdi kesana/Facepalm/
total 1 replies
kesyyyy
serem, tapi seruuu🤭
Leoruna: mkasih kak🤭🙏
total 1 replies
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
wow!!!!!
Leoruna: knapa tuh/Shy/
total 1 replies
Rahmawaty24
Ceritanya bagus
Leoruna: makasih, kak☺🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!