NovelToon NovelToon
Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Status: sedang berlangsung
Genre:TKP / Horror Thriller-Horror / Action / Misteri / Detektif
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rin Arunika

Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.

Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.

Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?

Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?

🍀🍀🍀

Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Kamar Yang Membeku

Perjalanan Addam siang itu seperti memantik kembali api semangatnya yang sempat hampir padam.

Addam tak sabar ingin berbagi beberapa informasi yang didapatnya dari usahanya siang itu.

Selesai makan siang, Addam tak lantas beranjak dari rumah makan yang sudah tak begitu ramai itu. Di salah satu sudutnya, Addam terus menatap buku catatan yang pernah Naya berikan.

Addam menelisik kembali setiap poin yang ia catat di sana.

1. Irvan yatim-piatu, kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan ketika Irvan kecil.

2. Irvan tinggal bersama nenek, paman, dan bibinya.

3. Alasan Irvan cuti: Neneknya meninggal.

4. Kampung halaman Irvan: Dusun Q.

5. Irvan ngajar hampir dua tahun.

6. Orangnya introvert (ramah,tapi terkesan tertutup)

#Kesimpulan : Irvan pria misterius (?)

Addam membaca tulisan itu berulang kali. Semakin ia berusaha memahami setiap poinnya, kepalanya malah terasa semakin pusing.

‘Kayak ada yang aneh tapi apa, ya?’ pikir Addam.

Ditengah kebingungannya itu, ponselnya mendadak berbunyi karena sebuah panggilan masuk.

“Ya? Kenapa, Sa?” Addam menyapa penelpon yang tak lain adalah Mahesa.

“Lo udah balik, Dam?”

Addam menggeleng. “Belum. Gue masih di rumah makan. Ada apa emang?”

“Dam. Lo inget Martin, gak? Adeknya Sofia?”

Deg!

Seketika jantung Addam seperti berhenti. Pertanyaan Mahesa barusan bagaikan belati kecil yang menembus dadanya.

Addam: “Martin? Iya. Gue inget banget. Kenapa, Sa? Kenapa lo nanyain Martin?”

Mahesa: “Lo tahu kabar dia sekarang gimana?”

Addam: “Terakhir gue denger sih… Katanya dia meninggal karena jadi korban kebakaran di vila keluarganya. Dan lo tahu? Katanya nyokapnya sendiri yang bakar vila itu gara-gara dia mau bun*dir.”

Mahesa: “Kata siapa, Dam? Jangan sembarangan lo…”

Addam: “Dulu gue dapet kabar itu dari Mbok Rum, ART mereka,”

Mahesa: “Oalah… Berarti Martin sama nyokapnya meninggal di vila itu? Kok gue gak pernah tahu ada laporan kasus itu.”

Addam: “Katanya sih karena bokapnya gak mau terlalu membesar-besarkan kasusnya gitu… Emang kenapa, Sa?”

Mahesa: “Gue tiba-tiba kepikiran aja… Lo inget kan gue pernah ngasih tahu kesamaan korban-korban ‘Kasus Gaun Putih’ itu?”

Addam: “Kalung itu, ya?”

Mahesa: “Bener. Berkaca dari beberapa kasus yang pernah gue tahu, mungkin aja keluarga pelaku ada yang jadi korban dan mau nuntut balas dendam ke orang lain.”

Addam: “Jadi dugaan lo, keluarga Sofia ada yang berusaha balas dendam?”

Mahesa: “Iya, Sa. Karena setelah gue selidiki ‘Kasus Gaun Putih’ ini, gue gak nemu benang merah apapun diantara para korban…”

Addam: “Kok ribet banget, ya? Soalnya setahu gue, nyokapnya itu gak punya saudara, dia anak tunggal…”

Mahesa tak langsung menjawab ucapan Addam hingga sempat muncul keheningan singkat diantara percakapan mereka.

Addam: “Balik lagi soal temen kerjanya adek gue, Sa. Gue ngerasa ada yang ganjel, gak tahu kenapa gue ngerasa ada yang aneh...”

Mahesa: “Itu artinya hati sama logika lo masih belum sejalan. Emang ngeganjel kenapa, Dam?”

Addam: “Ini… Setelah gue cari tahu, gue ngerasa si Irvan itu terlalu misterius…”

Addam kemudian mengatakan tiap poin temuan informasi tentang Irvan yang ia peroleh pada Mahesa.

Addam: “Kalo gue minta tolong cariin info dia di kampungnya, bisa, Sa?”

Mahesa: “Bisa aja. Tapi mungkin agak butuh waktu…”

Addam: “Gak apa-apa, Sa. Udah untung gue bisa dibantuin…”

Mahesa: “It’s okay, Dam. Santai aja…”

Addam: “Thank you berat, Sa”

“Oke deh, Dam. Next gue kabarin lagi kalau ada temuan baru.”

“Oke.”

Mahesa menutup sambungan telpon setelah jawaban singkat Addam.

Setelah sambungan telpon itu berakhir, tiba-tiba saja kepala Addam terasa mendadak berat. Ia memijat keningnya berharap benang kusut yang menggulung dalam pikirannya bisa terurai.

“Gak mungkin semua ini ada hubungannya sama kecelakaan Sofia, kan? Tapi kenapa Astrid?” gumamnya penuh rasa frustrasi.

#

Pada akhir hari yang berat itu, matahari yang telah bersinar sepanjang hari akhirnya tenggelam berganti malam yang dingin.

Seperti yang sudah-sudah, hari-hari yang dilalui Addam dan Naya terasa selalu sangat menguras tenaga. Tak hanya tubuh, hati dan pikiran mereka juga terkadang ikut merasa lelah.

Namun, keinginan mereka untuk menemukan Astrid jauh lebih kuat dari rasa lelah yang menerjang mereka.

Saat itu, ketika Naya tengah terduduk di depan meja kerjanya setelah menghabiskan makan malam, dari jendelanya yang terbuka itu ia tak sengaja melihat sosok pria jangkung melintas dengan langkah gontay.

“Kak Addam?” kata Naya sambil melangkah cepat menyusul pria itu.

“Kak!” panggil Naya.

Addam menoleh, tapi tak menjawab.

“Mau ke mana?” tanya Naya lagi.

“Aku ada urusan, Nay,” jawab Addam dengan suara parau.

“Ooh...” Naya mengangguk. “Hati-hati, Kak...”

Tak tahu kenapa, tapi saat itu Naya merasa Addam terlihat sangat lesu, ada sesuatu yang lebih dari sekadar capek. Ada kelelahan yang menumpuk, sebuah beban yang Addam pikul sendirian terlalu lama. Sorot mata pria itu tampak kosong, seperti seseorang yang berjuang mempertahankan diri agar tidak jatuh.

Untuk pertama kalinya, Naya menyadari betapa hancurnya Addam dibalik sikapnya yang selalu berusaha tegar.

Dari tempatnya berdiri, Naya bisa melihat Addam menaiki ojek yang berhenti di tepi jalan. Motor itu melaju pelan, lalu semakin cepat membawa Addam menjauh. Dalam hitungan detik, Naya melihat bayangan Addam menghilang di balik tikungan, keluar dari jangkauan pandang Naya.

Yang tertinggal hanyalah hembusan angin yang terasa dingin dan kekhawatiran yang diam-diam menyesakkan dada Naya.

#

Addam tiba di tempat tinggal Astrid dengan langkah pelan. Malam hampir larut, namun area itu masih diterangi lampu jalan yang temaram. Untung saja pemilik kontrakan bersedia meminjamkan kunci tanpa banyak tanya, mereka mengenali Addam sebagai kakaknya Astrid yang sering datang sesekali.

Addam berdiri sebentar di depan pintu, memastikan bahwa dirinya cukup tenang sebelum memanggil nama yang beberapa hari ini terus terkurung dalam pikirannya.

Rumah itu terlihat seperti biasa. Tirainya tertutup rapi, dan tidak ada tanda-tanda mencurigakan.

Addam menghembuskan napas yang sejak tadi terasa sesak di dada. Setelah kunci itu akhirnya terbuka, Addam membuka pintu itu perlahan.

Kamar itu terlihat... seperti Astrid. Seperti berantakan tapi memang seperti itu susunan yang ia mau. Selimut yang terlipat di atas tempat tidur, bantal yang cekung di salah satu sisi, baju kotor yang tak begitu menumpuk, meja rias yang dipenuhi barang kecil.

Addam menarik napas panjang.

“Dasar, anak ini...” gumamnya. Satu sisinya kesal, sisi lainnya merasa cemas.

Tapi semuanya terasa normal. Masih terlihat seperti kamar yang ditinggal pemiliknya dua atau tiga hari. Tanpa sadar Addam meraih ponselnya dan beberapa kali memotret ruangan yang sepi itu, seakan-akan ia tengah berkunjung ke tempat yang ia tak tahu kapan akan didatanginya kembali.

Namun, udara di dalam kamar terlalu dingin. Tidak ada tanda-tanda kehangatan Astrid yang tertinggal di sana. Addam merasa kamar itu seperti membeku, seolah-olah Astrid sedang menekan tombol ‘pause’ pada salah satu bagian dalam ceritanya.

1
nurul supiati
berarti memang dia nyamar jadi beberapa orang yakkk hihihi
Flyrxn: ayooo udah mulai ketebak belum.../Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!