NovelToon NovelToon
A Little Bit Of LaNi

A Little Bit Of LaNi

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Malam itu, suasana rumah terasa sunyi, hanya terdengar suara rintik hujan sisa sore tadi yang masih menetes dari talang air. Amara—atau Ifa—duduk di ruang tengah dengan perasaan yang sudah di ujung tanduk. Kejadian di parkiran sekolah tadi benar-benar membuatnya muak. Ia tidak bisa lagi memendam ini sendirian.

Saat ia melihat Ryan keluar dari kamar dengan rambut basah, baru selesai mandi, Ifa langsung berdiri.

"Bang Ryan! Kita harus bicara," cetus Ifa dengan nada yang tidak bisa diganggu gugat.

Ryan menghentikan langkahnya, menatap adiknya dengan dahi berkerut. "Busyet, galak bener mukanya. Kenapa lagi, Dek? Tugas fisika lo susah?"

"Ini bukan soal fisika, Bang! Ini soal Kak Nick!" seru Ifa. Ia mengikuti Ryan yang berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. "Bang, Kak Nick tuh sebenernya maunya apa sih? Dia selalu paksa aku. Tadi di sekolah dia bikin keributan sama Daffa. Dia bilang aku 'milik dia', maksudnya apa coba? Emangnya aku barang?"

Ryan yang sedang meneguk air mineral langsung tersedak. "Uhuk! Dia ngomong gitu?"

"Iya! Dia kasar banget sama Daffa. Bang, tolong bilang ya sama dia, Daffa itu cowok baik! Dia sahabat aku dari kelas 10. Kak Nick nggak punya hak buat ngatur-ngatur aku mau pulang sama siapa!" Ifa menghentakkan kakinya ke lantai, matanya berkaca-kaca karena emosi yang meluap.

Ryan terdiam cukup lama. Ia menaruh gelasnya di meja bar dapur, lalu menatap Ifa dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada keraguan di matanya, seolah ia tahu sesuatu yang tidak diketahui adiknya.

"Ifa, dengerin Abang..." Ryan memulai dengan suara rendah. "Nick itu emang orangnya... keras. Anak-anak Teknik juga tahu dia kalau udah punya kemauan nggak bisa dibantah. Tapi dia nggak bakal kayak gitu tanpa alasan."

"Alasan apa, Bang? Alasan karena dia berandalan? Karena dia merasa senior?" cecar Ifa.

Ryan menghela napas panjang, lalu ia duduk di kursi bar. "Dek, lo bener-bener nggak inget apa-apa soal dua tahun lalu?"

Jantung Ifa berdegup kencang. "Dua tahun lalu? Kak Nick juga nanya hal yang sama tadi di jalan. Ada apa sih sama dua tahun lalu? Aku kelas 10 waktu itu, Bang. Aku cuma belajar, les, terus pulang."

Ryan tampak menimbang-nimbang sesuatu. Nicholas memang memintanya untuk tutup mulut, tapi melihat adiknya yang mulai stres, Ryan merasa Ifa perlu tahu sedikit kebenaran agar tidak terjadi salah paham yang lebih besar.

"Inget nggak waktu lo pulang malem banget pas kelas 10? Bunda panik, terus lo bilang lo abis nolongin orang kecelakaan tabrak lari di halte depan komplek lama?" tanya Ryan.

Mata Ifa membelalak. Pikirannya langsung melesat ke masa dua tahun lalu. Memori itu samar, tapi perlahan mulai jelas. "I-iya... aku inget. Ada cowok di halte, kakinya berdarah parah. Aku setopin mobil orang buat bawa dia ke RS. Tapi... aku nggak liat mukanya jelas karena waktu itu lampunya mati dan dia pake jaket denim robek-robek..."

Ifa terdiam. Mulutnya sedikit terbuka saat potongan-potongan puzzle itu mulai menyatu. "Bang... jangan bilang kalau..."

"Iya, Dek. Cowok yang lo tolong itu Nicholas," potong Ryan pelan. "Waktu itu dia maba. Dia hancur banget malem itu. Dia bilang ke gue, ada satu cewek kecil pake seragam sekolah yang nggak takut sama dia, yang nungguin dia di IGD sampai jam 12 malem cuma buat pastiin dia nggak kenapa-napa."

Amara membeku. Dunia seolah berhenti berputar.

"Nick cari tahu siapa lo selama berbulan-bulan. Dia baru tahu lo adek gue setahun kemudian pas dia liat foto lo di dompet gue. Dia nggak mau muncul di depan lo karena dia ngerasa belum 'pantas' atau apalah itu alasan dia. Tapi sejak itu, dia selalu jagain lo dari jauh. Pas lo pulang telat, pas lo hampir dipalak di gang depan, itu Nick yang beresin tanpa lo tahu," tambah Ryan lagi.

Ifa terduduk lemas di kursi meja makan. Kepalanya pening. Jadi, semua intimidasi Nicholas, sikap protektifnya yang berlebihan, dan klaim 'milik gue' itu berasal dari kejadian dua tahun lalu?

"Tapi Bang... kenapa dia harus jadi kasar? Kenapa nggak ngomong baik-baik?" tanya Ifa, suaranya kini melemah.

"Itu cara dia, Fa. Nick nggak tahu cara berekspresi yang manis kayak Daffa. Di dunia dia, kalau dia nggak 'nandain' apa yang dia sayang, orang lain bakal ambil. Terutama pas dia liat lo makin deket sama cowok lain, dia panik."

Ryan berdiri, menepuk bahu adiknya. "Abang nggak belain dia. Abang juga marah kalau dia bikin lo nangis. Tapi coba lo liat dari sisi lain. Nick itu... dia udah jatuh hati sama lo sejak malem di IGD itu. Cuma dia emang red flag parah soal cara ngedapetin hati cewek."

Ifa hanya terdiam, menatap kosong ke arah gelas air di depannya. Rasa marah yang tadi meluap-luap kini berganti dengan rasa sesak yang aneh. Ia membayangkan Nicholas yang terluka di halte, dan Nicholas yang memberinya cokelat panas saat hujan. Keduanya adalah orang yang sama.

Tiba-tiba, ponsel Ifa bergetar di atas meja. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun ia tahu siapa pemiliknya.

Unknown: Gue di depan gerbang. Keluar bentar atau gue masuk ke kamar lo.

Ifa tersentak. Nicholas ada di depan rumahnya.

"Siapa?" tanya Ryan.

"Kak Nick..." jawab Ifa pendek.

Ryan hanya tersenyum tipis. "Selesaikan baik-baik, Fa. Tapi inget, jangan mau dipaksa kalau lo emang nggak mau. Meskipun dia sahabat gue, lo tetep adek gue yang paling utama."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!