NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewi Dosa

Reinkarnasi Dewi Dosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Dikelilingi wanita cantik / Harem
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chizella

Genre: Fantasi-Wanita, Reinkarnasi, Petualangan, Aksi, Supernatural, Misteri, Kultivasi, Sihir.

[On Going]

Terbangun di hutan asing tanpa ingatan, Lin Xinyi hanya membawa satu hal bersamanya—suara misterius yang menanamkan pengetahuan sihir ke dalam pikirannya.

Di dunia di mana monster berkeliaran dan hukum kekuatan menentukan siapa yang hidup dan mati, ia dipaksa belajar bertahan sejak langkah pertama.

Siapakah sebenarnya Lin Xinyi?

Dan kenapa harus dia? Apakah dia adalah pembawa keberuntungan, atau pembawa bencana?

Ini adalah kisah reinkarnasi wanita yang tak sengaja menjadi dewi.

2 hari, 1 bab! Jum'at libur!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18 — Kau Kalah

Udara semakin berat ketika Xinyi dan Jian Yu saling beradu aura. Tekanan tak kasatmata memenuhi Xuan bawah, membuat daun-daun di sekitar mereka bergetar pelan. Keduanya masih berdiri di tempat masing-masing, saling berhadapan tanpa berkedip.

Saat sehelai daun kering jatuh di antara mereka, Jian Yu bergerak lebih dulu.

Tubuhnya melesat maju dengan kecepatan yang sulit ditangkap mata. Terlalu cepat.

Ia bergerak zig zag, memotong jarak dalam hitungan detik. Tangannya telah dilapisi sihir, api merah membungkus tinjunya dengan panas yang membakar udara.

"Matilah!"

Tinju Jian Yu menghujani Xinyi tanpa jeda. Pukulan demi pukulan dilayangkan dengan brutal, tidak memberi ruang sedikit pun untuk bernapas.

Xinyi menghindar.

Ia memanfaatkan kelenturan tubuhnya, meliukkan badan, memutar bahu, dan memiringkan pinggangnya dengan presisi tipis. Tinju-tinju itu hanya menyentuh udara, meleset beberapa inci dari wajah dan tubuhnya.

Begitu celah muncul, Xinyi langsung melompat mundur beberapa kali. Ia mengaktifkan sihir peningkatan dan menghilang dari titik itu, melesat ke sisi lain.

Ia muncul di kiri Jian Yu dan mengayunkan tendangan.

Namun Jian Yu sudah siap.

Tangannya terangkat dan menahan tendangan itu dengan kokoh.

"Keras sekali," pikir Xinyi.

Pertahanannya seperti baja hidup.

Menyadari serangan itu tidak cukup, Xinyi segera mundur lagi.

Namun kali ini ia lengah.

Dalam sepersekian detik, Jian Yu sudah berada tepat di depannya.

Tinju berlapis api itu meluncur tanpa ampun.

"Terlalu dekat!"

BUGHH

Pukulan itu menghantam perut Xinyi dengan kekuatan penuh.

"Ohok—"

Darah segar menyembur dari mulutnya. Tubuhnya terpental jauh ke belakang dan menghantam batang pohon besar. Kayu keras itu retak, meninggalkan cekungan di tempat tubuhnya menabrak sebelum ia jatuh ke tanah.

"Uhuk uhuk." Xinyi terbatuk sambil berusaha bangkit.

"Kekuatan fisiknya tidak bisa diremehkan, terlebih lagi sihirnya juga merepotkan," gumamnya sembari menyeka darah di sudut bibir.

"Perbedaan diantara kami memang terasa sangat jauh sekarang. Hanya saja, aku tetap akan menang."

Energi hitam kembali menyelimuti tubuhnya. Aura gelap berputar lebih ganas dari sebelumnya.

Ia menerjang maju.

Namun bukan ke arah Jian Yu.

Ia berbalik dan melesat ke arah berlawanan.

"Ingin lagi?!" Jian Yu tidak tinggal diam. Ia mengejar dengan kecepatan seperti monster yang dilepaskan dari rantai.

BUSHH BUSHH!

Xinyi berlari di antara pepohonan. Ia memanfaatkan angin untuk mempercepat langkahnya. Dengan sedikit tambahan peningkatan, tubuhnya terasa ringan, melesat lincah melewati batang-batang pohon tanpa menyentuhnya.

Jian Yu mengandalkan kekuatan ototnya. Ia menerobos pohon-pohon yang menghalangi dengan tinjunya. Batang kayu patah dan terlempar ke samping setiap kali ia menghantamnya.

Dalam beberapa detik ia sudah berada tepat di belakang Xinyi.

Ia melompat tinggi.

Tangannya kembali menyala oleh api yang membara.

"Sihir Penciptaan Api: Flame Fist!"

Xinyi bergerak.

Satu langkah.

Kakinya menginjak genangan air tipis di tanah.

Air memercik halus ke udara.

Tap.

Dalam sekejap, sosoknya menghilang dari hadapan Jian Yu.

Pria itu kehilangan sasaran di udara. Tubuhnya kehilangan keseimbangan sepersekian detik.

"Hei."

Suara itu terdengar di belakangnya.

Jian Yu berbalik.

Pada saat itulah tinju Xinyi menghantam wajahnya.

BUGH!

Tubuh Jian Yu terhempas keras ke tanah. Benturannya memecahkan permukaan tanah dan menciptakan kawah kecil. Retakan-retakan menjalar ke segala arah, debu dan dedaunan kering berhamburan ke udara.

Jian Yu tergeletak di pusat kawah itu, tubuhnya setengah tenggelam di tanah yang amblas.

Xinyi mendarat perlahan di tepi kawah, mengepalkan tangannya yang masih berasap. Uap tipis mengepul dari kulitnya, bercampur dengan debu yang belum sepenuhnya turun.

"Huh..."

Ia mundur selangkah.

Instingnya berteriak bahwa pertarungan ini belum selesai. Jian Yu tidak akan tumbang hanya dengan satu pukulan. Xinyi bisa merasakan energi di dalam tubuh pria itu semakin menggila, semakin padat, semakin berbahaya. Dalam hitungan detik ia akan bangkit dan menyerang lagi.

"Benar-benar menyebalkan." Jian Yu kembali bangun, udara di sekitarnya langsung berubah berat.

Tekanan menyebar seperti gelombang tak kasatmata. Tanah di sekitar kawah bergetar halus, dedaunan berdesir tanpa arah.

Meski berdiri cukup jauh, Xinyi tetap bisa merasakan beban dari aura Jian Yu. Namun ia tidak bergerak. Tidak terlihat kesulitan bernapas ataupun goyah. Seolah tekanan itu tidak cukup untuk menahannya.

Angin bertiup pelan, membawa sisa debu menjauh. Energi sihir mulai memenuhi udara, membuat suasana terasa panas dan tegang.

"Kau ini, apa yang sebenarnya kau inginkan." Xinyi melangkah mundur perlahan. Tangannya terangkat, siap menahan atau membalas kapan saja.

"Kami harus menyingkirkan kalian semua." Jian Yu bergerak. "Tidak ada yang perlu dibicarakan!"

Tiga dorongan kuat menghantam tanah.

Dalam sekejap ia sudah berada tepat di depan Xinyi.

Tangannya terayun dan pukulan bertubi tubi dilayangkan tanpa jeda.

Xinyi menahannya dengan kedua tangan. Benturan demi benturan membuat tubuhnya terdorong mundur. Lengan dan bahunya bergetar menahan kekuatan yang nyaris brutal.

Kakinya bergeser di tanah, meninggalkan jejak panjang sebelum akhirnya ia menancapkan tumit dan menyeimbangkan fondasinya.

"Kuat, cepat. Lengah sedikit saja aku bisa kalah," gumamnya.

Cahaya putih mulai menyelimuti kedua kakinya.

Xinyi melesat.

Ia memanfaatkan batang batang pohon sebagai pijakan. Satu langkah di batang, satu lompatan ke cabang, lalu meluncur turun dengan sudut tak terduga. Gerakannya lincah dan sulit dibaca.

Dengan satu trik putaran, ia muncul di sisi Jian Yu.

Menggunakan batang pohon sebagai tumpuan, ia berayun dan melepaskan tendangan keras ke arah wajah Jian Yu.

BUGH!

Angin berputar kencang akibat benturan itu.

Tubuh Jian Yu terdorong ke samping beberapa langkah, namun ia tidak jatuh. Ia tetap berdiri tegak seperti tembok batu yang tak tergoyahkan.

"Terlalu lemah!" seru Jian Yu.

Xinyi mendarat dan tidak berhenti sedetik pun. Begitu kakinya menyentuh tanah, ia kembali melesat. Debu terangkat tinggi, menutup pandangan sesaat dan menunjukkan betapa cepat gerakannya.

"Sihir Peningkatan Kekuatan: Physical Boost, Gravity!"

Tekanan di sekitar tubuhnya berubah. Tanah di bawah pijakannya retak halus akibat peningkatan beban dan dorongan.

Jian Yu memejamkan mata sepersekian detik, merasakan pergerakan udara.

"Kanan."

Dari sisi kanan, Xinyi menerjang.

Tangannya diselimuti energi hitam pekat yang berputar ganas. Mata merahnya bersinar tajam, memancarkan tekad tanpa ragu saat ia menukik lurus ke arah Jian Yu.

"HAGHH!"

Jian Yu tidak menghindar.

Ia menentang.

Tinju Xinyi menghantam perutnya dengan kekuatan penuh. Benturannya dahsyat. Angin meledak ke segala arah, debu terangkat tinggi, daun daun bergetar hebat seolah hutan ikut menjerit oleh benturan itu. Tanah di bawah kaki mereka bergetar keras.

"Huhh..."

Saat debu perlahan menipis, sosok Jian Yu terlihat jelas.

Ia masih berdiri.

Tidak bergeser sedikit pun.

"Tembok?" gumam Xinyi. Tinjunya masih menempel di perut Jian Yu, namun seolah ia memukul batu karang.

Tanpa ragu ia meloncat mundur beberapa kali, menjaga jarak saat firasat buruk menyergap.

"Kau menyadarinya? Kekuatan kita berdua sangat berbeda. Malah terlalu jauh."

Napas Xinyi memburu. Dadanya naik turun tak teratur. Tubuhnya membutuhkan jeda, meski pikirannya masih memaksa untuk bertarung.

"Sekarang... tidak ada kesempatan lagi untukmu."

Jian Yu menghentakkan kakinya ke tanah.

Permukaan tanah retak dan terangkat, bongkahan bongkahan melayang di udara. Saat ia menggenggam telapak tangannya, semuanya hancur menjadi debu halus.

"Sihir Penciptaan Angin: Whirlwind!"

Angin kencang berputar mengelilingi Xinyi. Debu yang tadi terangkat kini berubah menjadi tirai pekat yang menutup seluruh pandangan. Pusaran itu semakin rapat, semakin liar.

Xinyi tidak bisa melihat apa pun.

Ia tidak berani bergerak sembarangan di dalam badai debu itu.

Pendengarannya ia paksa bekerja. Ia mencoba menangkap jejak napas, langkah, gesekan kain. Namun tidak ada.

"Menghalangi pandanganku dengan debu. Dia ini memang lawan yang merepotkan," gumamnya.

Kewaspadaannya meningkat.

Ia sadar. Seorang penyihir tidak seharusnya terus bertarung jarak dekat seperti ini. Ia terlalu terjebak dalam ritme Jian Yu.

Ia membuat kesalahan.

Kesalahan besar.

Di balik tirai debu, Jian Yu bergerak tanpa suara.

Tangannya meraih pisau di pinggangnya.

Ia melesat dari belakang Xinyi.

Xinyi merasakan sesuatu. Instingnya menjerit. Ia berbalik secepat mungkin.

"Pisau?! Sial, aku terlalu fokus dengan kekuatan fisiknya, sampai melupakan kemungkinan ia memiliki senjata," pikir Xinyi.

Namun Jian Yu lebih cepat.

"Reflek yang sangat bagus. Padahal sudah dihalangi oleh debu, tapi masih bisa menyadari keberadaanku."

Jian Yu mengerahkan seluruh kekuatannya. "Namun, sudah terlambat. Dalam waktu sesingkat ini, aku akan lebih dulu!"

Hanya terjadi dalam sepersekian detik.

Pisau itu menembus leher Xinyi.

Darah menyembur hangat. Merah pekat membasahi bilah pisau sebelum menetes deras ke dedaunan kering di bawah.

Mata Xinyi melebar.

Mulutnya terbuka.

Ia hendak berteriak.

Namun tak ada suara keluar. Hanya darah yang membanjiri tenggorokannya dan muncrat dari bibirnya. Tangannya meraih pisau itu, jari jarinya gemetar mencengkeram bilah tajam, berusaha menariknya keluar.

Terlalu lemah.

Terlalu lambat.

Jian Yu mencabutnya lebih dulu.

Tubuh Xinyi terhuyung. Darah terus memancar dari lehernya. Ia memuntahkan merah pekat dari mulutnya, membasahi dagu, pakaian, dan tanah di bawah kakinya. Pandangannya mulai kabur, namun ia masih berdiri. Masih bertahan.

Jian Yu menunduk cepat, matanya menangkap paha Xinyi yang gemetar menahan tubuhnya.

Ia menusuk.

Satu tusukan. Daging tercabik.

Dua tusukan. Darah menyembur membasahi tangannya.

Tiga tusukan. Pisau masuk, diputar sedikit, lalu ditarik keluar bersama semburan merah terakhir.

Keseimbangan Xinyi runtuh. Rasa sakit menjalar dari leher yang robek dan paha yang hancur.

Jian Yu tidak berhenti.

Ia melempar pisaunya ke sembarang arah. Lalu melangkah maju dan mengayunkan tinjunya.

"Kau kalah."

BUGH!

Pukulan itu menghantam tanpa ampun.

Tubuh Xinyi terpental jauh dan jatuh tanpa suara.

Ia terbaring di tanah. Matanya kosong, seperti milik seseorang yang sudah mati. Air mata perlahan mengalir dari sudut matanya, bercampur dengan darah yang masih merembes dari lukanya. Tubuhnya tak bergerak.

Sementara itu, Jian Yu membalikkan badan.

Ia mengangkat Han Jiuye yang masih pingsan ke pundaknya.

Tanpa menoleh lagi, ia berjalan menjauh, meninggalkan tubuh Xinyi yang tergeletak sunyi di antara pepohonan.​

1
Kabuki
turut lega thor. akhirnya Xinyi berhasil ngalahin petaka petir ketiga 😭
Kabuki
aww co cwitt
Kabuki
ini klo di anime, lagu opening udh di stel nih🤭
Anindita Annazwa: bwahahaha😭 iya lagi
total 1 replies
Kabuki
ahh souka? agak kejam juga tetua Yuan xi. menyuruh orang luar yang tak tahu apa², untuk membebaskan kaum darah berdosa dari kutukan dengan ritual petaka petir/Frown/
Anindita Annazwa: karena dia di anggap sebagai 'orang itu' yg entah siapa🗿
total 1 replies
Kabuki
kecewa? buat apa penduduk asli kecewa terhadap orang luar? bukannya mereka cuma penasaran aja sama xinyi?😌
Anindita Annazwa: udh nyentuh petir ke 3 soalnya, satu2nya yg berhasil kesitu
total 1 replies
Kabuki
biasa gundule. dia imo jir
Kabuki
slurrppp ak jga mw😋
ユリ
sadis
ユリ
mengejutkan😱
ユリ
entah kenapa dia terlalu percaya diri
ユリ
terlalu op😱
元元
Masterpiece, dah gtu aj
元元
KOK BISA GINIII!
元元
bjirr, apa-apaan iniii
Panda
aku penasaran sama nama malingsheng ini deh kak

apa ada sejarah dengan nama itu?
Jing_Jing22
dia tangguh dan kuat kita lihat saja apa yang akan terjadi dengan xinyi, sementara takdir dia tidak bisa mati
Jing_Jing22
xinyi masih bisa bertahan saja itu sudah keajaiban untukmu
CACASTAR
petaka petir apa itu
CACASTAR: iya dah, apa kata Thor deh, saya nyimak baca cerita aja
total 3 replies
putri bungsu
seperti nya dia terlalu bersemangat untuk menguji kekuatan nya sendiri
Kabuki
ganbatte Xinyi! teruslah bertahan. karena tinggal satu Sambaran petir lagi/Determined//Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!