NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Predator Dingin

Obsesi Sang Predator Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Mafia / Enemy to Lovers / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: your grace

Alana bukan sekadar penebus hutang judi pamannya; dia adalah obsesi gelap Dante Volkov. Di tangan sang Ice King, Alana harus memilih: menjadi mawar yang indah di dalam penjara emas, atau hancur saat musuh mulai mengincar nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: OTAK MȧÚM SANG PREDATOR

Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah-celah gorden sutra yang tebal, membangunkan Alana dari tidur nyenyaknya. Untuk sesaat, ia lupa di mana ia berada sampai aroma mewah ruangan itu menyadarkannya bahwa ia tidak lagi berada di flat sempitnya yang berbau apek.

Alana bergegas mandi, membasuh tubuhnya di bawah pancuran air hangat yang terasa seperti pijatan lembut. Namun, saat ia berdiri di depan cermin besar untuk mengeringkan rambut, ia mematung. Di lehernya yang putih, terdapat tiga bercak merah keunguan yang kontras.

"Nyamuk di sini besar sekali ya?" gumamnya polos sambil menyentuh bercak itu. Ia sedikit meringis, namun karena sifatnya yang lugu, ia hanya mengedikkan bahu. Ia mengira mungkin suhu lembap hutan di sekitar mansion ini mengundang serangga ganas. Ia tak menaruh curiga sedikit pun bahwa "serangga" yang menggigitnya semalam adalah seorang pria dengan setelan jas mahal.

Setelah selesai mandi, Alana keluar hanya dengan balutan bathrobe handuk putih yang terasa sangat lembut di kulitnya. Masalah baru muncul: ia tidak membawa satu pun helai pakaian dari flatnya. Dengan ragu, ia mendekati lemari walk-in closet yang sangat besar di sudut kamar.

Begitu pintu lemari terbuka, Alana terperangah hingga tak mampu menutup mulutnya. Deretan gaun-gaun cantik dengan berbagai warna, bahan sutra yang mengilap, hingga kain renda yang halus tersusun sangat rapi. Ada pula sepatu-sepatu hak tinggi dan tas bermerek yang harganya mungkin setara dengan biaya hidupnya selama sepuluh tahun. Semuanya tampak baru dan—yang paling mengejutkan—semuanya tampak sesuai dengan ukuran tubuhnya yang mungil.

Apakah ini milik orang lain? Jika aku memakainya, apakah Tuan Dante akan marah? Alana bergelut dengan pikirannya. Ia takut dianggap tidak sopan atau dituduh mencuri. Ia hanya berdiri mematung di depan lemari, jarinya ragu-ragu ingin menyentuh salah satu gaun sutra berwarna biru pucat.

BRAK!

Suara pintu yang dibuka dengan kasar membuat Alana terlonjak. Ia berbalik dengan cepat, tangannya spontan menyilang di depan dada untuk mengeratkan bathrobe-nya yang longgar. Jantungnya seakan melompat ke tenggorokan saat melihat Dante Volkov berdiri di ambang pintu.

Pria itu tampak sangat rapi dengan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, memberikan kesan maskulin yang berbahaya. Tatapannya tajam, mengunci sosok Alana yang tampak rapuh dan ketakutan.

"Aku menunggumu di meja makan selama lima belas menit," suara Dante terdengar berat dan dingin, menggema di seluruh ruangan. "Kenapa kau hanya berdiam diri di depan lemari seperti patung?"

Alana menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani menatap mata sebiru es itu. Tubuhnya sedikit gemetar karena aura dominasi Dante yang memenuhi ruangan. "A-aku... aku tidak membawa pakaian ke sini, Tuan. A-apakah aku boleh menggunakan baju yang ada di lemari ini?" tanyanya dengan nada suara yang nyaris hilang.

Karena posisi Alana yang menunduk, rambutnya tersibak ke samping, memamerkan dengan jelas tiga bercak merah di lehernya yang merupakan hasil karya Dante semalam. Melihat itu, sebuah senyum smirk tipis muncul di sudut bibir Dante. Sang predator merasa puas melihat tandanya terpampang nyata.

"Pakailah. Semuanya yang ada di sana adalah milikmu. Kau bebas memakainya," jawab Dante dingin. Ia melangkah masuk ke dalam kamar, memperkecil jarak di antara mereka. "Atau kau butuh bantuan? Apa perlu aku yang memakaikannya untukmu?"

Mata Alana membelalak. Ia buru-buru menggeleng kuat hingga rambutnya berkibar. "T-tidak, Tuan! Terima kasih! Aku... aku bisa memakainya sendiri!"

Dante berjalan ke arah Alana dan berhenti tepat di depannya, aromanya yang dominan kini mengurung Alana. Ia bersedekap dada, menatap Alana dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kalau begitu, kenakan sekarang. Di depanku."

Alana yang sedari tadi menatap lantai langsung mendongak kaget. Mata bulatnya membola lucu, menatap Dante tak percaya. "A-apa? S-sekarang? Di depan Tuan?"

"Kenapa? Apa kau malu?" Dante menaikkan satu alisnya, wajahnya tetap datar namun intimidasi yang ia pancarkan luar biasa. "Aku sudah memberimu cukup waktu sejak tadi untuk bersiap, dan kau hanya menyia-nyiakan waktuku yang berharga."

Bibir Alana bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca. Seumur hidupnya, ia adalah gadis yang sangat menjaga harga dirinya. Jangankan di depan pria asing, ia selalu berpakaian sangat sopan. Membayangkan harus mengganti pakaian di bawah tatapan predator pria ini membuatnya merasa ingin menghilang dari bumi.

Melihat mata bulat itu mulai digenangi air mata, Dante mendengus keras—entah karena kesal atau karena ia tidak tahan melihat tatapan memohon gadis itu yang bisa meruntuhkan pertahanannya.

"Lima menit," desis Dante sambil berbalik memunggungi Alana. "Jika dalam lima menit kau belum selesai, jangan salahkan aku jika aku yang akan turun tangan memasangkan baju itu ke tubuhmu."

BRAK!

Pintu kamar ditutup dengan bantingan keras dari luar. Alana tersentak, bahunya merosot lega. Ia tidak membuang waktu lagi. Dengan tangan gemetar, ia menyambar sebuah gaun berwarna putih tulang yang terlihat paling sederhana di antara yang lain. Meskipun sederhana, Alana tahu dari tekstur kainnya bahwa harga gaun ini mungkin setara dengan gajinya selama satu tahun.

Ia berpakaian secepat kilat, mengancingkan ritsleting di punggungnya dengan susah payah sambil sesekali melirik ke arah pintu, takut sang predator akan mendobrak masuk lagi sebelum waktunya habis.

***

Dante Volkov duduk dengan tegap di kursi kebesaran di ujung meja makan panjang yang terbuat dari kayu mahogani mengilap. Di hadapannya, lilin-lilin perak dan peralatan makan kristal tertata dengan presisi militer. Ia sedang menyesap kopi hitam tanpa gula, matanya menatap lurus ke depan dengan kekosongan yang mematikan, sampai sebuah suara memecah keheningan mansion yang mencekam itu.

Plak... plak... plak...

Suara langkah kaki yang dibalut sandal rumahan berbulu halus terdengar menuruni tangga pualam. Dante mengalihkan pandangannya. Untuk sejenak, napas pria itu tertahan di tenggorokan.

Alana muncul dengan gaun putih tulang yang tadi ia pilih. Gaun itu melekat pas di tubuhnya, menonjolkan lekuk pinggangnya yang ramping namun tetap terlihat sangat sopan. Rambutnya yang masih sedikit lembap dibiarkan terurai alami, membingkai wajahnya yang bersih tanpa sentuhan makeup sedikit pun. Bibirnya yang masih sedikit membengkak kemerahan akibat ¢ïµmåñ rakus semalam terlihat sangat kontras dengan kulit pucatnya.

Kecantikan Alana begitu murni, begitu rapuh, seolah-olah satu sentuhan kasar saja bisa menghancurkannya. Namun, bagi pria seperti Dante, kemurnian itu justru memicu insting purbanya yang gelap. Ia tidak ingin melindungi kemurnian itu; ia ingin mengotorinya. Ia ingin melihat wajah þðlð§ itu berubah penuh gåïråh dan kê§åkï†åñ di bawah hêñ†åkåññɏå. Dante menggelengkan kepalanya pelan, mengusir bayangan mê§µm yang tiba-tiba memenuhi benaknya, lalu kembali memasang topeng dingin yang tak tertembus.

Alana berjalan dengan kepala tertunduk, tangannya meremas pinggiran gaunnya karena gugup. Saat sampai di ruang makan yang luasnya hampir seluas seluruh rumah lamanya, ia mendengar suara berat Dante.

"Duduklah," perintah Dante pendek. Nada suaranya tidak menerima bantahan.

Alana mengangguk kecil. Dengan gerakan hati-hati, ia menarik kursi yang berada di ujung paling jauh dari Dante. Ia ingin menciptakan jarak sebanyak mungkin, berharap dengan menjauh, ia bisa sedikit bernapas lega dari aura mengintimidasi yang dipancarkan pria itu.

Srak!

Suara gesekan logam terdengar tajam. Rahang Dante mengeras seketika, otot-otot di lehernya menegang. Ia merasa tersinggung. Di dunia bawah, orang-orang memohon untuk bisa berada di dekatnya, namun gadis kecil ini justru memperlakukannya seolah-olah dia adalah wabah mematikan.

"Apa aku menyuruhmu untuk duduk di sana?" suara Dante meninggi satu oktav, penuh dengan ancaman yang tertahan. "Pindah ke sini. Sekarang."

Dante menunjuk kursi kosong tepat di sebelah kanannya dengan tatapan mata yang seolah bisa melubangi dinding. Alana tersentak, bahunya berjingkat kaget. Ia melihat kemarahan yang mulai berkilat di mata biru es itu. Tanpa berani membantah lagi, Alana bangkit dan berjalan dengan langkah gemetar menuju kursi yang ditunjuk Dante. Ia duduk dengan kaku, punggungnya tegak lurus, bahkan tidak berani menyandarkan tubuhnya.

Dante melirik pelayan yang berdiri tak jauh dari sana. "Siapkan makanannya."

Dalam sekejap, barisan pelayan datang membawa nampan-nampan perak berisi berbagai macam hidangan. Mulai dari omelette truffle, potongan daging asap premium, roti-roti yang baru dipanggang dengan berbagai selai buatan tangan, hingga buah-buahan eksotis yang bahkan Alana tidak tahu namanya.

Alana hanya bisa terpaku. Mulutnya sedikit menganga, matanya berkedip tidak percaya melihat gunungan makanan yang memenuhi meja panjang itu. Ini semua hanya untuk kami berdua? batinnya terkejut. Orang kaya memang benar-benar berbeda. Paman bahkan sering mengeluh jika aku meminta telur tambahan untuk sarapan...

Ekspresi polos Alana yang menatap makanan dengan mulut terbuka itu adalah pemandangan yang sangat berbahaya bagi kewarasan Dante. Pria itu meremas pisau dan garpu perak di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Bayangan semalam kembali menghantamnya—bagaimana mµlµ† mungil itu terasa sangat manis, bagaimana ßïßïr plumpy itu mêlêñgµh di bawah ¢ïµmåññɏå, dan bagaimana rasa haus yang ia rasakan tidak kunjung padam.

Dante menatap bibir Alana dengan låþår, lebih lapar daripada rasa lapar akan makanan di depannya. Ia ingin mêñ¢ï¢ïþï bibir itu lagi, mêñghï§åþñɏå hingga Alana tidak bisa lagi mengeluarkan suara kecuali namanya.

"Makan," desis Dante, suaranya terdengar serak karena menahan gejolak di dalam dirinya. "Atau kau ingin aku menyuapimu dengan cara yang berbeda, Alana?"

Alana tersentak dari lamunannya, segera mengambil garpu dengan tangan gemetar, tidak menyadari bahwa sang predator di sebelahnya sedang berjuang keras untuk tidak mêñêrkåmñɏå di atas meja makan itu juga.

1
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
sesak nafas
Fitria Syafei
hadeh kejam juga yaa si Dante 🙄 KK cantik semangat 😍😍
Fitria Syafei
yang sabar ya Alana 😔 KK cantik kereen 😍😍
Mia Camelia
sadis😂😂😂😂
Mia Camelia
sweet banget pasangan inii🥰🥰🥰
lanjut thor👍😄
Fitria Syafei
yang sabar ya Alana 😔 KK cantik kereen 😘😘
Rani Saraswaty
knp gk cara instan dg jebakan2 spt yg laim😄😄😄😄
Rani Saraswaty
🤣🤣🤣🤣🤣 ngakak berjamaah🤣🤣🤣
Rani Saraswaty
gpp mbk, kmu sah dinikahi drpd dicoba dl sblm dipake
Rani Saraswaty
sage grèen kn td?
Mia Camelia
dante lapaaar terus🤣🤣🤣
Fitria Syafei
KK cantik terimakasih 😘😘 kereeeen😍
Fitria Syafei
KK cantik mantaf 😍😍 terimakasih 😘
Fitria Syafei
resmi sudah Alana menjadi Nyonya Dante 😊 KK cantik kereen 😍😍
Bedjho
Counternya Dante cuman ada satu istrinya sendiri🤧
+39 🔕
JANGAN ADA PELAKOR YA 🦖
+39 🔕
merinding 🖕😭
Mia Camelia
akhir nya dante dapet jatah🤣🤣🤣🤣
ayo thor bikin alana jd bucin dong😄
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😍😍 terimakasih 🥰
Mia Camelia
dunia gelap dante😂
lanjut thor yg banyak dong😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!