Elora tak pernah percaya dongeng. Hingga suatu malam, ia membacakan kisah Pangeran Tidur dan terbangun di dunia lain.
Sebuah taman cahaya tanpa matahari,tempat seorang laki-laki bernama Arelion.
Arelion bukan sekadar penghuni mimpi. Di dunia nyata, ia adalah pewaris keluarga besar yang terbaring koma, terjebak di antara hidup dan mati. Setiap pertemuan mereka membuat sunyi berubah menjadi harapan, namun juga menghadirkan dilema yang menyakitkan.
Jika Arelion terbangun,ia akan kehilangan semua ingatannya bersama Elora ,
Jika Arelion tetap tertidur, dunia nyata perlahan kehilangannya.
" Bangunlah Arelion..meski dalam ingatanmu, aku tak akan ada.." ~ Elora ~
"Aku terjebak dalam tidur panjang
sampai dia datang
dan membuat sunyiku bernama" ~Arelion~
Ini bukan kisah putri tidur.
Ini adalah kisah tentang dua hati
yang dipertemukan dalam mimpi.
Tentang cinta yang tumbuh diantara dua dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati yang tak lagi sama
Elora menahan napas.
Matanya membola seketika saat wajah laki-laki di hadapannya itu terlihat jelas..terlalu jelas untuk sekadar kebetulan.
Garis rahangnya, sorot matanya, bahkan cara ia berdiri… semuanya sama. Yang berbeda adalah
dia tidak mengenalku ,bisik hati Elora pedih .
“Arelion…” ucap Elora sangat pelan, nyaris seperti bisikan yang hanya ditujukan pada dirinya sendiri .
Laki-laki itu terhenti sesaat.
Hanya sedetik.
Namun cukup untuk membuat jantung Elora nyaris runtuh.
Arelion menoleh sekilas. Tatapannya kosong, dingin, seolah nama itu tak memiliki arti apa pun. Tak ada kilat pengenalan. Tak ada getaran rindu. Hanya kebingungan yang cepat ia sembunyikan.
Lalu ia melangkah pergi.
Langkahnya cepat, tegas seakan ingin menjauh dari sesuatu yang mengusiknya tanpa alasan jelas.
Elora terpaku.
“Kau sungguh melupakanku .." ucapnya lirih .Terselip pedih .Tubuhnya bergetar ,sudut matanya mengembun .
Haruskah aku mengingatkanmu ?
Ia ingin mengejarnya. Ingin memanggil namanya lebih keras. Namun kakinya terasa berat, seperti tertahan oleh ketakutan yang tak ia pahami: takut bahwa jika ia mendekat, kenyataan akan benar-benar merenggut harapannya.
Dari awal ia tahu jika Arelion akan kehilangan ingatannya saat ia terbangun .
Namun kenapa hatinya terasa sesak.
Di ambang pintu toko, Arelion berhenti lagi. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
Dadanya berdenyut aneh. Nama itu… menggema terlalu dalam untuk diabaikan.
Elora.
Ia tak tahu siapa gadis itu.
Namun mengapa hatinya terasa seperti baru saja kehilangan sesuatu yang sangat penting?
Tanpa menoleh lagi, Arelion melangkah keluar meninggalkan Elora dengan mata basah dan dada yang penuh tanda tanya.
Saat kembali ke kediaman Maria, Elora turun dari mobil dengan langkah yang masih terasa goyah.
Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya dipenuhi satu wajah.. tatapan singkat yang dingin, namun meninggalkan jejak hangat yang menyakitkan. Nama itu terus berputar di kepalanya, tak mau pergi.
Arelion.
Kenapa takdir mempertemukannya lagi ?
Ia menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri, lalu mengikuti langkah Hana menuju dapur melalui pintu belakang. Dapur itu luas, bersih, namun terasa sama sunyinya dengan bagian rumah yang lain. Cahaya siang masuk melalui jendela besar, memantul di permukaan meja kayu.
Hana mulai menata belanjaan, memotong sayur dengan gerakan terampil. Elora membantu, meski pikirannya tak sepenuhnya hadir.
Kamu kelihatan pucat,” ujar Hana tanpa menoleh. Tangannya tetap sibuk merapikan belanjaan.
“Istirahatlah, El. Biar ini ibu yang kerjakan.”
Ia tak tega melihat Elora.
Nada suaranya lembut, penuh iba. Hana melirik Elora sekilas ia tak tega melihat wajah gadis itu yang semakin pucat.
Elora hendak membuka mulut, ingin mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
Namun sebelum satu kata pun terucap, suara lain memotong udara dapur.
“Hana.”
Maria berdiri di ambang pintu, tubuhnya tegak, senyum tipis terukir di bibirnya senyum yang tak pernah benar-benar hangat.
“Biarkan Elora membantumu,” lanjutnya tenang. “Ia sudah terbiasa melakukan banyak pekerjaan di panti.”
Kata-katanya terdengar biasa. Namun cara ia mengucapkannya dingin, meremehkan membuat dada Elora mengencang.
Hana menunduk. “Baik, Nyonya.”
Elora menghela napas pelan, lalu mengangguk. “Tidak apa-apa, Bu Hana. Saya bisa.”
Maria melangkah masuk, menepuk meja dapur ringan seolah memberi penekanan. Tatapannya menyapu Elora dari ujung rambut hingga kaki, penuh penilaian.
“Anggap saja ini rumahmu,” ucapnya lirih namun tajam. “Setiap orang punya perannya masing-masing.”
Elora menunduk, menyembunyikan getar di jemarinya. Ia kembali bekerja, memotong sayur dengan hati-hati.
Sementara itu, di rumah Arelion—
Rumah besar itu kembali dipenuhi cahaya sore yang masuk lewat jendela-jendela tinggi. Namun sejak Arelion terbangun, rumah itu tak lagi terasa sama. Terlalu sunyi untuk ukuran rumah yang hampir setiap hari dipenuhi orang.
Arelion berdiri di depan jendela kamarnya. Tubuhnya sudah jauh lebih kuat, perban di lengannya hampir dilepas seluruhnya. Dokter menyebut pemulihannya “ajaib”. Keluarganya menyebutnya “anugerah”.
Namun bagi Arelion, ada satu hal yang tak pernah pulih.
Hatinya.
Ia menatap halaman depan, kosong. Tangannya terangkat tanpa sadar, menekan dadanya sendiri.
“Aneh…” gumamnya. “Kenapa rasanya seperti… ada bagian dari diriku yang tertinggal?”
Ia sering terbangun tengah malam dengan napas memburu. Dalam tidurnya, ia melihat cahaya taman luas, pohon besar, kupu-kupu berkilau. Dan seorang gadis.
Wajahnya tak pernah jelas.
Namun namanya selalu sama.
Elora.
“Arelion.”
Suara ibunya memecah lamunannya. Wanita itu berdiri di ambang pintu, matanya menatap putranya dengan campuran bahagia dan khawatir.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya lembut.
Arelion tersenyum tipis. “Aku baik, Ma.”
Ibunya melangkah masuk, menatapnya lekat. “Kamu sering melamun sejak pulang dari rumah sakit.”
Arelion terdiam sejenak. “Ma… apakah aku pernah bertemu seseorang sebelum aku koma?”
Pertanyaan itu membuat ibunya terhenti.
“Kenapa kamu bertanya begitu?”
“Aku tidak tahu,” jawab Arelion jujur. “Tapi setiap kali aku mencoba mengingat… ada nama yang muncul. Seperti gema.”
" Lion..satu-satunya wanita yang dekat denganmu hanyalah Althea ..apa kau lupa Jika kau tipe pemilih..?" Nyonya Arkaven mengingatkan .
Ibunya benar ,ia memang tak begitu suka berhubungan dengan wanita sembarangan .Bahkan saat di bangku sekolah ,hanya Althea yang selalu bersamanya selain Julian.
Tak lama sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan teras. Dari dalamnya, seorang perempuan turun dengan langkah anggun..Althea. Rambut panjangnya tergerai rapi, gaun krem sederhana membungkus tubuhnya dengan kesan elegan yang dingin.
“Arelion sudah pulang?” tanyanya pada kepala pelayan.
“Sudah, Nona. Tuan Arelion ada di ruang keluarga.”
Althea mengangguk singkat. Senyumnya terukir sopan.
Ia melangkah masuk. Rumah itu masih sama mewah, tenang, dan terasa terlalu besar. Namun ada satu hal yang berubah: aura Arelion.
Arelion berdiri membelakangi sofa, sedang menatap rak buku saat Althea masuk.
“Lion,” panggil Althea lembut.
Arelion menoleh. Tatapannya berhenti sejenak di wajah Althea asing, namun terasa… dikenali oleh logika, bukan hati.
“Althea,” ucapnya datar. “Kamu datang.”
Althea sedikit terkejut. Ia berharap sambutan yang lebih hangat. Dulu, Arelion selalu tersenyum setiap melihatnya.
" Bagaimana keadaamu ?" tanyanya seraya mendekat .
" Cukup baik.." jawabnya singkat .
“Aku khawatir,” katanya sambil mendekat. “Setelah kecelakaan itu… aku takut kehilanganmu.”
Arelion mengangguk pelan. “Terima kasih.”
Hanya itu.
Sunyi menyela di antara mereka.
Althea duduk, menyilangkan kaki. “Dokter bilang kamu mengalami amnesia parsial. Tapi kamu ingat aku, kan?”
Arelion terdiam cukup lama sebelum menjawab. “Aku ingat… bahwa kita pernah dekat.”
Althea tersenyum lega. “Pernah?” ulangnya kecil. “Rel, aku tunanganmu.”
Kata itu jatuh seperti benda berat.
Tunangan.
Arelion memijat pelipisnya. Tidak ada rasa bahagia. Tidak ada degup berlebih. Hanya kosong.
Kosong itu membuat Arelion tak nyaman.
Ia menatap Althea wajah yang seharusnya paling familiar, paling berarti. Namun yang ia rasakan justru seperti menatap seseorang yang ia kenal lewat cerita, bukan lewat hati.
“Aku tahu,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah.
Althea tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. “Kamu memang selalu begitu. Bahkan sebelum kecelakaan.” Ia meraih tangan Arelion, menggenggamnya erat. “Yang penting kamu masih hidup. Itu sudah cukup buatku.”
Arelion membiarkan genggaman itu. Tidak menepis. Tapi juga tidak membalas.
Tidak ada hangat yang merambat.
Tidak ada rasa pulang.
Ia menarik tangannya perlahan, sopan namun tegas. “Maaf… aku masih berusaha menata semuanya di kepalaku.”
Senyum Althea sedikit meredup, tapi ia cepat menyembunyikannya. “Tentu. Aku mengerti. Aku bisa menunggu.”
Menunggu.
Kata itu seharusnya menggetarkan. Namun justru membuat dadanya terasa sesak, seolah ia sedang terjebak dalam sesuatu yang bukan miliknya.
“Aku akan sering datang,” lanjut Althea. “Membantu kamu mengingat. Tentang kita.”
Tentang kita.
Althea bangkit, merapikan tasnya. Sebelum pergi, ia menoleh. “Lion… Semoga kamu tetap Arelion yang aku kenal."
Pintu tertutup perlahan.
Begitu suara langkah Althea menghilang, Arelion menjatuhkan diri ke sofa. Ia menatap langit-langit, napasnya terasa berat.
Namun mengapa… saat nama Elora terlintas saja, dadanya terasa berbeda?