NovelToon NovelToon
TIRAKAT 2

TIRAKAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Tumbal
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Berdasarkan kisah nyata.

Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.

Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?

SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!

Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KE RUMAH USTADZ FURQON

Saat terdengar suara benturan tubuhku ke kusen pintu, bapak langsung bereaksi dari dalam kamarnya.

"Nis?! Nisa?! Suara apa itu?!"

"Aaakkhh..."

Aku tak bisa menjawab, terasa sesak dadaku akibat benturan yang tepat mengenai bagian belakang dadaku.

Bapak terlihat ingin menghampiriku dengan langkahnya yang tertatih, "Astaghfirulloh! Nak?! Kenapa kamu?!"

"Jangan ke sini Pak, biar... Aakkhh... Biar aku bangun sendiri Pak..."

"Kamu kenapa Nis?!"

Aku tak menjawabnya, dan segera berusaha bangun. Sambil memegangi dadaku yang terasa sesak.

Aku segera masuk ke dalam, menutup dan mengunci pintu depan. Dan aku berjalan, hendak masuk ke dalam kamarku. Melewati bapak yang berdiri di depan pintu kamarnya.

"Nisa?! Kamu kenapa?! Kok tiba-tiba udah jatuh di depan pintu?"

"Gak apa-apa Pak..." jawabku sambil memegang kusen pintu kamarku.

Aku menatap wajah Bapak sesaat. Dan seketika itu juga bapak seperti paham apa yang sudah terjadi...

"Ya Alloh Nisa... Kamu... Mau coba cara itu lagi?" katanya.

Aku hanya mengangguk pelan, masih berpegangan kusen pintu kamar, dan satu tanganku memegangi dadaku.

"Nisa... Jangan pakai cara itu lagi Nak. Bapak gak mau kejadian setahun lalu terulang lagi Nak."

"Cuma ini yang aku bisa lakukan Pak, aku mau bantu Farhan biar bisa pulang..."

Bapak menatapku dengan ekspresi wajah yang takut, khawatir, namun dirinya tak bisa menghalangiku.

Aku segera melangkah masuk kamar. Dan segera duduk di atas kasurku sendiri. Bapak tampak menyusul masuk, dan berdiri di samping meja kamarku.

"Nisa... Jangan kamu nekat Nak. Bapak tau kamu mau bawa Farhan pulang. Tapi jangan sendirian Nis... Bahaya... Bahaya!"

Aku mencoba mengatur napas. Supaya rasa sesak di dadaku segera berkurang.

"Besok saja Nis, minta bantuan sama Ustadz Furqon aja. Itu jauh lebih aman Nis. Dari pada kamu nekat sendirian. Bapak gak mau!"

Bapak lalu segera duduk di sampingku...

"Jangan dipaksain Nak... Besok aja ya... Kamu dateng ke rumah Ustadz Furqon. Minta ditemani buat bawa Farhan pulang. Bapak mohon sama kamu... Bapak gak mau kamu kayak setahun lalu..."

Akhirnya, aku yang mendengar bapak sampai memohon itu, menuruti saran bapakku.

"Iya Pak, besok saja..." jawabku sambil meangguk pelan ke arahnya.

 

☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️

 

Keesokan harinya, aku datang ke rumah Ustadz Furqon pada jam 5 sore. Tampak pendoponya yang sepi. Karena sejak kejadian hilangnya Farhan, seluruh aktifitas mengaji anak-anak dihentikan sementara oleh Ustad Furqon sendiri.

Tapi... Tampak di depan teras rumahnya, sudah ada beberapa tetangga Pak Hasan dan Bu Wati, orang tua Farhan.

Aku dengan niat yang ingin membantu Farhan pulang, berjalan ke arah rumah Ustadz Furqon.

"Eh, Pak Hasan, Pak Ustadz, itu Nisa dateng!" ucap salah seorang tetangga itu saat melihat kehadiranku.

"Assalamu'alaikum..." ucapku sambil agak sedikit tertunduk

"Wa'alaikumsalam..." jawaban mereka agak ketus. Sambil menatap ke arahku agak sinis.

"Maaf, Pak Ustadz Furqon, ada?" tanyaku berbasa-basi singkat.

"Ada tuh, di dalem. Lagi sama orang tua Farhan!" jawab tetangga yang lain.

"Wa'alaikumsalam... Nisa? Masuk sini..." terdengar suara Ustadz Furqon dari dalam.

"Izin Pak, saya mau masuk..." ucapku pada para tetangga yang berdiri di teras.

Aku melangkah masuk dalam ruang tamu Ustadz Furqon. Dan ternyata selain kedua orang tua Farhan, di sana juga sudah ada Mas Ahmad dan Mas Iko.

Namun, tanpa basa-basi, dan tanpa kelembutan, Bu Wati berucap padaku,

"Ngapain kamu ke sini?! Pulang aja sana!"

Aku yang mendengar ucapannya itu, sedikit merasa ingin marah. Namun segera aku dapat menenangkan diri, dan ingat dengan tujuanku untuk datang ke sini.

"Maaf Bu Wati, saya dateng ke sini, buat bantu Farhan pulang Bu." jawabku sambil agak menunduk.

"Gak butuh saya bantuan kamu!" jawab Bu Wati semakin ketus.

"Husss! Bu! Gak boleh gitu! Ini kita lagi di rumah Pak Ustadz, malu ah!" kata Pak Hasan.

"Sudah-sudah, tenang dulu Bu... Istighfar... Nisa, ayok duduk dulu..." ucap Ustadz Furqon.

Mas Ahmad dan Mas Iko duduk agak tegang wajahnya. Mereka berdua tak bicara satu kalimat pun.

"Bu, air minumnya satu lagi... Ada Nisa dateng Bu..." pinta Ustadz Furqon kepada istrinya, Bu Fatimah.

"Iya Pak, sebentar... Masih bikin kopi sama teh dulu..." jawab Bu Fatimah dari arah dapur belakang.

"Ngapain sih dikasih minum Pak Ustadz?! Suruh aja dia pulang!" ucap Bu Wati lagi sambil menunjuk ke arah wajahku.

"Heh! Bu! Bisa tenang gak?!" Pak Hasan membalas ucapan Bu Wati sambil mengusap pundak istrinya itu.

Akhirnya, beberapa saat Ustadz Furqon tampak mengobrol sebentar dengan kedua orang tua Farhan. Dan Mas Ahmad serta Mas Iko hanya duduk saja. Namun wajahnya masih agak tegang.

Sedangkan aku, duduk diam, tak bicara sekata pun. Dan terdengar juga beberapa warga yang ada di luar, mengobrol masing-masing. Tapi tetap satu topik bahasan, Farhan.

Selang beberapa menit kemudian, Bu Fatimah datang dari dapur membawa nampan yang berisi beberapa gelas kopi, teh, dan air putih.

Ia taruh masing-masing gelas itu di hadapan semua tamunya. Termasuk aku yang disuguhkan air putih.

Saat menaruh gelas itu di depanku, Bu Fatimah menyentuh tanganku, dan berkata...

"Yang sabar ya Nisa..." dengan tatapan kasihan padaku. Dan aku membalasnya hanya dengan senyuman yang terasa agak berat di bibirku.

Lalu, Ustadz Furqon membuka pembicaraan terlebih dahulu padaku...

"Nisa, gimana kabar kamu hari ini?"

"Alhamdulillah, sehat Ustadz..."

"Alhamdulillah..."

Beberapa saat Ustadz Furqon tampak ingin bicara, namun seperti sedang memilih kalimat yang tepat.

"Nisa... Kamu udah tau kan gimana perkembangan pencarian Farhan?" tanya Ustadz Furqon padaku.

"Iya Ustadz..." jawabku singkat.

"Tadi, pas kamy dateng, kamu bilang mau bantu Farhan pulang?"

Aku menjawab dengan anggukan saja.

"Emangnya kamu tau dimana Farhan? Kalau memang tau, kenapa gak dari kemarin-kemarin bilang?"

"Ma-maaf Ustadz, saya tau di mana Farhan. Tapi..." aku agak tertahan ingin menjelaskan.

"Tapi? Tapi apa Nis?" tanya Ustadz Furqon.

"Jawab dong! Jangan diem aja kamu!" Bu Wati kembali emosi. Dan tampak Pak Hasan memintanya untuk diam dulu.

"Tapi... Maaf kalau saya tau di mana Farhan berada, caranya agak gak masuk akal..." akhirnya aku memilih kalimat itu sebagai jawabannya.

"Maksudnya gimana Nisa?" Ustadz Furqon semakin penasaran.

Tiba-tiba, Mas Iko menyela...

"Maaf kalau saya memotong, mungkin cara yang dimaksud sama Mbak Nisa ini, seperti cara yang kemarin saya ceritakan ke Pak Ustadz."

"Oh... Begitu..." Ustadz Furqon tampak mengangguk mendengar Mas Iko.

"Jadi Mas Iko kemarin coba jelaskan ke saya, ada salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menemukan keberadaan Farhan. Cuma lewat jalur mistik. Apa benar begitu Nisa?" kata Ustadz Furqon.

"Iya... Ustadz..." jawabku.

Seketika itu juga, semua orang yang ada du sekitarku tampak heran dengan jawabanku. Seolah mereka tampak meragukan. Dan tampak mereka ada kecurigaan lebih besar jika aku ternyata bisa dalam hal mistik yang dimaksud.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!