Di puncak Gunung Qingyun yang berkabut, gerbang Sekte Aliran Abadi telah miring dimakan rayap. Tidak ada teknik dewa, tidak ada tumpukan batu roh, tidak ada ribuan murid yang bersujud. Hanya ada Su Lang, pemuda biasa dengan tulang kultivasi rata-rata, dan sebuah plakat kayu tua warisan mendiang gurunya.
Su Lang memiliki sebuah "Sistem Pondasi Sekte". Benda itu tidak memberinya kekuatan instan. Sistem itu hanya sebuah panduan kaku yang menuntut keringat darah. Ingin beras? Cangkul tanah di belakang gunung. Ingin teknik pernapasan dasar? Perbaiki atap aula utama dengan tangan sendiri. Ingin menjadi kuat? Latih satu gerakan pedang sepuluh ribu kali di bawah air terjun musim dingin.
Ini bukan kisah tentang penaklukan dunia atau pembantaian musuh yang arogan. Ini adalah catatan harian seorang pemuda yang menolak membiarkan api sektenya padam membangun kembali kejayaan dari serpihan genting pecah satu napas , satu langkah satu hari pada satu waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17 debu bintang dan retakan naga
Suara ledakan itu tidak berakhir dengan gema, melainkan dengan keheningan mutlak yang mencekam.
Di puncak Puncak Qingyun, kawah besar menganga di tempat Su Lang dan Gu Tian bentrok. Salju di radius lima puluh meter telah menguap sepenuhnya, menyisakan tanah hangus yang mengepulkan asap hitam berbau belerang dan daging terbakar.
Li Yun dan Lin Yue, yang terlempar ke pinggir arena pertarungan, merangkak bangkit dengan telinga berdenging. Pandangan mereka kabur tertutup debu.
"Guru..." suara Li Yun serak, nyaris tak terdengar.
Debu perlahan menipis, disapu oleh angin gunung yang dingin.
Di tengah kawah, satu sosok masih berdiri.
Su Lang.
Dia berdiri dengan punggung membungkuk, menumpukan berat badannya pada Pedang Angin Murni yang kini hanya tinggal separuh. Bilah pedang tingkat roh itu telah patah, tidak kuat menahan ledakan energi Nadi Naga. Tangan kanan Su Lang, yang memegang gagang pedang, hangus menghitam. Kulitnya retak-retak seperti tanah kemarau, memancarkan cahaya merah samar dari dalam dagingnya—tanda bahwa meridian di lengannya telah hancur lebur.
Di depannya, Gu Tian tidak lagi berdiri.
Ketua Balai Tujuh Bintang, seorang ahli Qi Condensation Tingkat 8 yang ditakuti di wilayah selatan, kini hanyalah gundukan daging yang tak berbentuk di tanah. Perisai Bintang Tujuh miliknya hancur berkeping-keping, pecahannya berserakan seperti kaca di sekitar mayatnya. Serangan Overdrive Su Lang tidak memotongnya; serangan itu meremukkannya dengan tekanan murni yang setara dengan jatuhnya gunung.
"Ketua... mati?"
Salah satu Wakil Ketua Balai Tujuh Bintang yang masih hidup menjatuhkan senjatanya. Wajahnya pucat pasi, matanya melotot menatap mayat pemimpin mereka yang tak dikenali.
"Lari! Dia Iblis! LARI!"
Kepanikan menyebar seperti wabah. Sisa-sisa Pasukan Bintang yang masih hidup—kebanyakan terluka parah—tidak lagi memiliki keinginan bertarung. Mereka membuang senjata, bendera, dan kehormatan mereka, berlari menuruni tangga batu, saling injak demi menjauh dari sosok Su Lang.
Li Yun ingin mengejar, ingin membantai mereka semua, tapi teriakan Lin Yue menghentikannya.
"Li Yun! Jangan kejar! Lihat Guru!"
Li Yun menoleh dan jantungnya seakan berhenti berdetak.
Su Lang, yang berdiri tegak seperti patung kemenangan, tiba-tiba memuntahkan darah segar dalam jumlah banyak. Tubuhnya ambruk ke depan.
"GURU!"
Lin Yue dan Li Yun berlari sekuat tenaga. Lin Yue sampai lebih dulu, menangkap tubuh Su Lang tepat sebelum wajahnya menghantam tanah panas.
Tubuh Su Lang membara. Panasnya begitu tinggi hingga tangan Lin Yue melepuh saat menyentuh kulit Su Lang. Tapi Lin Yue tidak melepaskannya. Dia mendekap kepala Su Lang ke dadanya, air mata mengalir deras di wajahnya yang kotor oleh debu dan darah.
"Guru... bangun... musuh sudah pergi... Guru..."
Mata Su Lang terbuka sedikit, tatapannya kosong dan berkabut.
"Lin... Yue..." suaranya terdengar seperti gesekan kertas pasir. "Kunci... gerbang..."
Setelah mengucapkan dua kata itu, kesadaran Su Lang tenggelam ke dalam kegelapan pekat.
[Peringatan Kritis!]
[Kondisi Pengguna: Sekarat.]
[Meridian Utama: 60% Hancur.]
[Dantian: Retak (Kebocoran Qi Parah).]
[Status Nadi Naga: Tidak Stabil - Kembali ke Mode Tidur.]
Di dalam kegelapan komanya, Su Lang hanya bisa mendengar suara notifikasi sistem yang berdenging tanpa henti, namun dia tidak bisa merespons. Tubuhnya terasa seperti dihancurkan dan disusun ulang berulang kali. Menggunakan 100% energi Nadi Naga pada tubuh Tingkat 4 adalah tindakan bunuh diri, dan dia sedang membayar harganya sekarang.
Tiga hari berlalu.
Suasana di Sekte Aliran Abadi sangat suram. Aula Utama telah diubah menjadi bangsal perawatan darurat.
Lin Yue tidak tidur selama 72 jam. Dia duduk di tepi tempat tidur Su Lang, wajahnya telihat sangat lelah, lingkaran hitam tebal menggantung di bawah matanya. Tangannya terus menempel di dada Su Lang, menyalurkan Qi Yin-nya sedikit demi sedikit untuk mendinginkan organ dalam Su Lang yang terbakar.
Tanpa Tubuh Yin Murni Lin Yue, Su Lang pasti sudah mati terbakar dari dalam pada malam pertama.
"Kak Lin..."
Xiao Me masuk membawa mangkuk bubur herbal. Matanya bengkak karena menangis. "Kak Lin makan dulu. Biar Xiao Me yang pegang tangan Guru."
"Aku tidak lapar," jawab Lin Yue datar, matanya tidak lepas dari wajah Su Lang. "Bagaimana keadaan di luar?"
Li Yun masuk dari pintu depan, membawa tumpukan barang yang masih berlumuran darah kering. Dia tampak lebih dewasa dalam tiga hari ini. Wajah kekanak-kanakannya hilang, digantikan tatapan tajam dan waspada.
"Semua mayat musuh sudah saya buang ke Jurang Pemakan Tulang di belakang gunung," lapor Li Yun. "Saya juga sudah mengumpulkan semua kantong penyimpanan mereka. Total ada 48 kantong penyimpanan murid biasa, 2 kantong Wakil Ketua, dan... milik Gu Tian."
Li Yun meletakkan sebuah cincin emas di meja. Cincin Ketua Balai Tujuh Bintang.
"Bagus," kata Lin Yue pelan. "Simpan semuanya. Jangan buka apa pun sampai Guru sadar. Dan formasi?"
"Formasi Kabut masih aktif menggunakan sisa Batu Roh. Tidak ada yang berani mendekat. Rumor mengatakan bahwa ada Iblis Besar yang menjaga puncak ini. Bahkan hewan buas pun menjauh."
Tiba-tiba, tubuh Su Lang kejang.
"Guru!" Lin Yue panik. Suhu tubuh Su Lang melonjak lagi.
"Sakit... Panas..." racau Su Lang dalam tidurnya.
Lin Yue menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Qi Yin-nya sudah hampir habis. Jika dia memaksakan diri, dia bisa merusak fondasi kultivasinya sendiri. Tapi melihat Su Lang menderita, dia tidak peduli.
"Li Yun, Xiao Me, keluar sebentar. Tutup pintunya," perintah Lin Yue tegas.
"Tapi Kak..."
"KELUAR!" bentak Lin Yue, untuk pertama kalinya dia meninggikan suara.
Kedua anak itu terkejut dan segera mundur, menutup pintu rapat-rapat.
Di dalam kamar yang remang-remang, Lin Yue menatap wajah Su Lang. Dia melepaskan jubah luarnya, menyisakan pakaian dalam sutra tipis. Dia naik ke atas tempat tidur, membaringkan tubuhnya di samping Su Lang.
Dia tidak melakukan hal yang tidak senonoh. Dia menggunakan metode kuno Resonansi Tubuh—memeluk Su Lang erat-erat, kulit bersentuhan dengan kulit, membiarkan Tubuh Yin Murni-nya menjadi kolam pendingin raksasa bagi api di tubuh Su Lang.
"Ambil semua yang Anda butuhkan, Guru..." bisik Lin Yue di telinga Su Lang. "Nyawaku adalah milikmu."
Cahaya biru redup menyelimuti mereka berdua di bawah selimut. Rasa dingin yang menusuk tulang merambat dari Lin Yue ke Su Lang, sementara rasa panas yang membakar merambat dari Su Lang ke Lin Yue. Itu adalah siksaan bagi Lin Yue, rasanya seperti memeluk bara api, tapi dia tidak melepaskannya. Dia menahan erangan sakitnya agar tidak terdengar keluar.
Hari kelima.
Su Lang membuka matanya.
Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kayu cendana yang familiar. Hal kedua yang ia rasakan adalah aroma bunga lili yang sangat dekat.
Dia mencoba bergerak, tapi tubuhnya terasa berat seperti timah. Dia menoleh ke samping dan tertegun.
Lin Yue tertidur di sampingnya, masih memeluk lengan kirinya. Wajah wanita itu pucat pasi, bibirnya membiru, dan tubuhnya menggigil dalam tidurnya.
Memori pertempuran dan rasa sakit di hari-hari terakhir membanjiri pikiran Su Lang. Dia segera menyadari apa yang terjadi. Lin Yue telah menggunakan esensi hidupnya sendiri untuk menekan cedera Su Lang.
"Bodoh..." bisik Su Lang, suaranya parau. Matanya terasa panas. "Kenapa kau melakukan ini..."
Su Lang mencoba mengalirkan Qi untuk menghangatkan Lin Yue, tapi...
Kosong.
Dantian-nya kosong. Retak. Dia tidak bisa merasakan setetes pun Qi.
Kepanikan melanda sesaat. Seorang kultivator tanpa Qi sama dengan orang cacat. Apakah dia telah menjadi sampah lagi?
[Sistem Reboot...]
[Analisis Kondisi Tuan Rumah: Selesai.]
[Status: Lumpuh Sementara.]
[Meridian: Sedang dalam perbaikan otomatis (Estimasi: 30 hari).]
[Dantian: Retak (Membutuhkan 'Pil Penyambung Surga' atau Material Tingkat Tinggi untuk pulih).]
[Peringatan: Sampai Dantian pulih, Tuan Rumah tidak bisa menggunakan Qi lebih dari 1% kapasitas.]
Su Lang menghela napas lega. Sementara. Itu kata kuncinya. Selama dia masih hidup dan memiliki sistem, selalu ada jalan.
Dia bergerak pelan, melepaskan pelukan Lin Yue dan menyelimutinya dengan tebal. Dia memaksakan diri untuk duduk. Rasanya seperti seluruh tulangnya diganti dengan kaca retak.
Dia turun dari tempat tidur, kakinya goyah. Dia mengambil jubah ganti dan mengenakannya.
Su Lang berjalan keluar kamar.
Di Aula Utama, Li Yun sedang tertidur sambil duduk di dekat pintu, memeluk pedang Cakar Angin-nya. Xiao Me tertidur di karpet, berbantal buntelan kain. Mereka berjaga.
Melihat pemandangan ini, hati Su Lang yang biasanya keras terasa diremas. Dia hampir kehilangan segalanya karena kesombongannya menantang Tingkat 8 secara frontal. Namun, dia juga mendapatkan segalanya: sebuah keluarga yang setia sampai mati.
"Guru?"
Li Yun terbangun karena suara langkah kaki yang menyeret. Matanya membelalak. "GURU SUDAH SADAR!"
Teriakan itu membangunkan Xiao Me. Gadis kecil itu langsung melompat dan memeluk kaki Su Lang sambil menangis meraung-raung.
"Sstt... jangan berisik. Kakak Lin sedang istirahat," kata Su Lang lemah, mengusap kepala Xiao Me.
Li Yun segera membantu memapah Su Lang duduk di kursi besarnya.
"Bawa cincin Gu Tian ke sini," perintah Su Lang.
Li Yun menyerahkan cincin emas itu.
Su Lang memegang cincin itu. Dia tidak bisa menggunakan Qi untuk membukanya secara paksa, tapi sistem bisa.
"Sistem, bobol segel cincin ini."
[Memproses... Menggunakan sisa Poin Dedikasi (5 Poin). Segel Terbuka.]
Isi cincin itu tumpah ke dalam inventaris sistem, dan Su Lang memproyeksikannya ke atas meja.
Mata Su Lang berbinar. Gu Tian, sebagai ketua sekte yang sudah berkuasa puluhan tahun, memiliki kekayaan yang luar biasa.
15.000 Batu Roh Rendah.
2.000 Batu Roh Menengah.
Senjata Tingkat Roh Tinggi: Tombak Bintang (Sayangnya Su Lang pengguna pedang).
Buku Manual: Formasi Tujuh Bintang (Lengkap).
Peta Kuno Wilayah Pegunungan Utara.
Dan satu benda yang paling menarik perhatian Su Lang: Sebuah kotak kayu hitam yang disegel dengan mantra darah.
"Apa ini?"
Su Lang meminta Li Yun membukanya karena dia tidak punya tenaga.
Saat kotak terbuka, sebuah aura panas menyembur keluar. Di dalamnya terdapat sebongkah kristal merah menyala yang berbentuk seperti jantung.
[Item Terdeteksi: Jantung Api Bumi (Earth Flame Heart).]
[Tingkat: Material Alam Tingkat 3.]
[Fungsi: Sumber api abadi untuk alkimia atau penempaan. Bahan utama untuk memperbaiki Dantian yang rusak jika digabungkan dengan teknik medis tinggi.]
Su Lang tertawa lemah. Tawa yang terdengar gila namun lega.
"Langit tidak buta... Langit tidak buta!"
Jantung Api Bumi. Ini adalah bahan bakar yang sempurna untuk Pecahan Kuali Penempa Surga. Dengan benda ini, dia tidak perlu lagi menggunakan Qi-nya sendiri untuk menyalakan kuali. Dan lebih penting lagi, sistem mengatakan ini bisa memperbaiki Dantian-nya.
"Li Yun," panggil Su Lang.
"Ya, Guru!"
"Mulai hari ini, tutup gerbang sekte rapat-rapat. Kita akan melakukan isolasi tertutup (Closed Door Cultivation). Tidak ada yang boleh keluar atau masuk."
"Untuk berapa lama, Guru?"
"Sampai aku pulih. Dan sampai aku menempa ulang sekte ini menjadi benteng yang bahkan dewa pun harus mengetuk pintu sebelum masuk."
Su Lang menatap Jantung Api Bumi itu. Dia kehilangan kekuatannya, tapi dia mendapatkan sumber daya yang bisa membawanya ke tingkat yang jauh lebih tinggi.
Tiba-tiba, pintu kamar tidur terbuka. Lin Yue berdiri di sana, berpegangan pada kusen pintu, wajahnya masih pucat tapi tersenyum melihat Su Lang duduk di kursinya.
"Selamat kembali, Guru," bisiknya.
Su Lang menatap wanita itu. Dia bersumpah dalam hati, dia akan membuatkan pil terbaik untuk memulihkan kondisi Lin Yue, bahkan jika dia harus membakar seluruh hutan gunung ini sebagai bahan bakar.
"Aku kembali, Lin Yue. Dan kali ini, kita akan menjadi raja yang sesungguhnya."
Dua Bulan Kemudian.
Sekte Aliran Abadi masih tertutup kabut. Dunia luar mengira sekte itu hancur bersama Balai Tujuh Bintang, atau Iblis yang menjaganya sedang tidur. Tidak ada yang berani mendekat.
Namun, di dalam kabut itu, suara palu penempaan terdengar siang dan malam.
TANG! TANG! TANG!
Di dalam Paviliun Penempaan, Su Lang—yang tubuhnya kini sudah pulih sepenuhnya dan tampak lebih berotot—sedang berdiri di depan kuali yang menyala dengan api merah abadi (Jantung Api Bumi).
Dantian-nya tidak hanya sembuh. Berkat Jantung Api Bumi yang diolah sistem menjadi obat, Dantian-nya kini memiliki elemen api samar, membuat Qi-nya lebih eksplosif.
Kultivasinya kembali ke Qi Condensation Tingkat 4, tapi fondasinya sekeras berlian.
Di depannya, melayang sebuah pedang baru yang sedang ia tempa. Pedang ini dibuat dari pecahan Pedang Angin Murni, dilebur dengan senjata-senjata rampasan Pasukan Bintang, dan ditempa ulang menggunakan Api Bumi.
Bilahnya hitam pekat, namun memiliki garis merah menyala di tengahnya.
[Penempaan Selesai: Pedang Naga Hitam (Black Dragon Sword).]
[Tingkat: Roh Kelas Puncak (Hampir menyentuh Tingkat Bumi).]
[Atribut: Efek Bakar, Berat Ekstrem (Hanya bisa diangkat oleh pengguna teknik naga), Ketajaman Mutlak.]
Su Lang menggenggam pedang itu. Berat. Sangat berat. Tapi terasa pas di tangannya.
"Sudah waktunya," gumam Su Lang.
Dia berjalan keluar.
Halaman sekte kini jauh berbeda. Li Yun dan Lin Yue sedang berlatih tanding. Li Yun sudah mencapai Tingkat 3, dan Lin Yue... wanita itu jenius. Dia sudah mencapai Tingkat 3 Puncak, hampir menyusul Su Lang.
Xiao Me berlari menghampiri Su Lang. "Guru! Guru! Telur ayamnya menetas! Lihat, anak ayamnya punya bulu emas!"
Su Lang tersenyum. Kehidupan telah kembali.
Namun, kedamaian ini hanyalah persiapan. Su Lang tahu, dengan kekayaan yang dia miliki sekarang, dia harus mulai memperluas pengaruh.
Dia melihat ke arah peta kuno yang diambil dari cincin Gu Tian. Ada sebuah tanda merah di peta itu, menunjuk ke sebuah lokasi di Lembah Seribu Obat, jauh di timur.
Di sana tertulis: "Lokasi dugaan Api Roh Langit Biru."
Api Roh.
Jika Jantung Api Bumi adalah api tingkat 3, maka Api Roh adalah harta karun tingkat 5 ke atas. Itu adalah satu-satunya hal yang bisa membangkitkan fungsi sejati Kuali Penempa Surga ke tahap selanjutnya.
"Siapkan barang-barang," perintah Su Lang kepada murid-muridnya. "Kita akan melakukan perjalanan jauh."
"Ke mana, Guru?" tanya Li Yun bersemangat.
"Ke timur. Kita akan mencari api, dan mungkin... mencari beberapa murid baru untuk meramaikan tempat ini."
Sekte Aliran Abadi, yang bangkit dari abu kehancuran, kini siap melebarkan sayapnya keluar dari kandang kecil Puncak Qingyun.