Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.
Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.
Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.
Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....
Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....
"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27 : Ketika semua mulai membaik
Hari ini adalah hari pertama Alena menjalani kehidupannya di Bandung, menjalani tugasnya sebagai seorang istri dengan lembaran baru. Meski dia masih merasa kesal dan trauma, tapi perjalanan kemarin bisa dikatakan sedikit membuat hatinya melunak.
Ia sekarang sedang sibuk di dapur, mengurus masakan kesukaan Alea, sayur sup hangat telur puyuh, ditambah dengan tempe goreng, ikan goreng dan sedikit sambal.
Alena terlihat begitu telaten mengerjakan masakannya itu, sementara Yani sudah sibuk mengurus Alea yang kebetulan saja sudah bangun lebih pagi dari biasanya. Gadis kecil itu masih setengah mengantuk dan sedang berusaha untuk ditidurkan lagi oleh Yani atas permintaan Alena karena kasihan, Alea pasti masih kecapean habis pergi seharian. Dia butuh tidur lebih panjang.
Tak lama Arinta pun bangun, dia juga harus ke kantor pagi-pagi. Ini hari pertamanya bekerja di kantor yang baru. Harus disiplin.
"Masak apa, Len?" Pria itu ternyata sudah berdiri di belakang Alena yang sedang fokus memotong sayuran.
Wanita itu terkejut dan langsung menoleh ke samping belakangnya. Reflek Alena menggeser tubuhnya sedikit ke samping saat Arinta berada begitu dekat dengan pundaknya.
"Jangan bikin kaget, ah!" Ucap Alena yang memang beneran terkejut.
"Kenapa sih, Len? Aku cuma mau liat dari dekat, masa gak boleh?" Arinta protes kecil.
"Iya, tapi jangan tiba-tiba muncul seperti itu. Kalau aku jantungan gimana?" Balas Alena sedikit mengomel tapi sedikitnya mungkin bercanda. Arinta tersenyum melihat respon Alena.
"Maaf, ya," ujar Arinta yang tiba-tiba saja jadi romantis.
Dia mengecup lembut kepala wanita itu yang sudah terpasang hijab. Alena sempat tersentak mendapat perlakuan ini. Jantungnya berdegup keras. Lalu Arinta segera pergi masuk ke kamar mandi.
Alena masih terpaku, ada suatu perasaan hangat yang menyusup kembali ke dalam hatinya untuk pria itu. Dalam hati ia berbisik agar semua ini menjadi tanda yang baik bagi rumah-tangganya.
.
.
Tak berapa lama mereka semua berkumpul di meja makan. Alea tampak ceria. Wajahnya segar dan wangi. Dia terlalu senang sampai terus berceloteh mengenai liburan kemarin.
"Kamu jadi ke rumah Mama hari ini?" Tanya Arinta di sela-sela makan.
"Iya, sekalian jenguk. Sudah lama aku gak ke tempat Mama. Mumpung di sini dan Alea masih cari sekolah, aku mau pakai buat silaturahmi ke sana," jawab Alena yang sebelumnya sudah ijin dulu ke Arinta kalau dia hendak menemui sang ibunda yang tak begitu jauh, masih berada di kawasan kota Bandung juga.
"Kalau gitu, aku titip salam ya," balas Arinta sambil mengunyah tempe goreng buatan Alena, tampak sangat menikmati.
"Asik, mau ke rumah Nene!" Alea lagi-lagi bersorak. Keceriaannya membuat suasana semakin hangat.
"Tapi Alea jangan nakal ya. Di sana harus nurut sama omongan Mamih," ucap Arinta tegas namun dengan nada lembut.
"Iya deh, Papih. Alea enggak bakal nakal kok, cuma dikiiiiiit ajah!" Celetuk balita itu dengan gaya yang menggemaskan.
"Kok nakal dikit sih Alea?" Arinta geregetan dan mencubit pelan wajah putrinya itu.
"Nakal dikit juga gak boleh Alea, nanti keterusan, khilaf kayak Papih!" Sambar Alena reflek. Dia gak sengaja mengatakannya tapi berhasil membuat Arinta langsung terdiam.
Suasana mendadak jadi canggung. Arinta berdeham sedikit dan melanjutkan sarapannya, sementara Alena juga langsung diam, menyadari dia mungkin sudah merusak suasana hangat tadi, namun dia masih ego untuk meminta maaf. Merasa apa yang dikatakannya memang benar.
Alena mencoba melirik sedikit ke arah Arinta yang sepertinya sudah kembali makan dengan biasa. Diam-diam, ia bernapas lega.
"Ya udah, aku berangkat dulu ya, Len," ujar pria itu setelah menyelesaikan sarapannya.
Ia beranjak dari tempat duduk lalu mendekati Alea yang sedang fokus dengan makanannya. Arinta memberi kecupan hangat untuk sang buah hati di pipi tembamnya.
"Papih pergi dulu ya, Alea," katanya sambil sedikit mengacak rambut si kecil secara lembut.
Alena hanya memperhatikan sikap ayah dan anak itu dalam diam.
"Len, nanti kalau sudah sampai di rumah Mama, kabari aku ya," ucapnya yang pandangannya beralih ke arah sang istri.
"Ya...," jawab wanita itu begitu singkat.
Arinta terlihat sedikit menghela napas. Tapi dia tidak protes atau mengeluh. Dia menganggap sikap Alena itu SANGAT WAJAR dan masih butuh waktu untuk membangun kepercayaannya lagi.
Dia tak banyak bicara setelah berpamitan iia segera pergi keluar rumah. Alena tak mengantar, tetap terfokus pada meja makan dan Alea. Ah, dia tidak marah atau kurang ajar, tapi dia memang sudah seperti ini sejak awal menikah dengan Arinta. Sejujurnya pria itu tidak terlalu banyak menuntut untuk harus dilayani seperti bagaimana, apalagi setelah punya anak yang fokusnya pasti pindah ke Alea seutuhnya.
Setelah sarapan, Alena segera merapihkan semua peralatan makanan di atas meja lalu meminta Yani untuk mengajak Alea bermain.
"Bi, Alea dibawa keluar dulu ya. Saya mau beres-beres. Sama nanti agak siangan, tolong dimandiin," ujarnya sambil mengangkat beberapa piring kotor bekas sarapan tadi.
"Baik, Bu." Yani mengangguk patuh lalu menuntun, mengajak Alea pergi ke taman halaman depan.
.
.
Alena duduk bersandar di bangku dapur. Semua pekerjaannya sudah beres, dan Alea masih bermain di depan. Ia membuka ponsel yang baru saja diambilnya dari kamar, untuk mengecek pesan atau semacamnya, juga ingin mengabarkan kepada keluarga kalau hari ini dia akan berkunjung.
Hal pertama yang ia lakukan, mengecek pesan masuk dari Andini.
Gimana Len? Sudah sampai kah? Jangan lupa kabarin gue....
Alena tersenyum setelah membaca pesan masuk itu. Ia pun mulai mengetikkan sesuatu.
Iya nih Din, udah sampai. Tapi maaf ya, baru balas sekarang. Soalnya gue sibuk kemarin. Ada acara keluarga sama Arinta....
Balas Alena sedikit tidak enak karena terlambat memberi informasi.
Kemudian tatapannya beralih ke nomor kontak yang lain. Satu nama yang sangat berarti baginya. Ibunda sayang.
Itu adalah nama untuk nomor sang ibu. Alena menekan tombol nama itu. Tak lama seseorang mengangkat panggilannya.
"Assalamualaikum, Bu...," ucapnya setelah telepon itu diangkat.
"Waalaikumsalam, Len?? Apa kabar?" Suara lembut sang bunda langsung masuk ke telinga seperti penyejuk hati.
"Alena baik, Bu...," jawabnya sembari tersenyum. Ada rasa haru terselip. Rasanya ia sudah lama sekali tidak mendengar suara sang bunda.
"Ibu di sana bagaimana, baik 'kan? Bapak juga? Yang lain juga bagaimana?" Tanya Alena tanpa bisa menahan perasaan rindu yang begitu kuat.
"Alhamdulillah semua baik. Kamu kapan mau main? Ibu sudah kangen lho!" Balas ibunya sambil tertawa bercanda. Dia tau Arinta itu sedang sibuk-sibuknya. Gak mungkin juga Alena ada waktu untuk sekarang ini.
"Justru itu Alena telepon. Hari ini Lena mau ke rumah Ibu sama Alea," balasnya yang langsung membuat wajah sang ibu di seberang sana merekah.
"Beneran kamu, Len??" Dari nada bicaranya sang ibu terdengar sangat terkejut sekaligus bahagia.
"Iya, beneran. Nanti sebelum jam makan siang, Alena sudah sampai sana," ucapnya sambil menahan tawa. "Pokoknya Ibu tunggu Alena sama Alea di rumah ya, jangan kemana-mana," sambungnya sedikit menggoda.
"Pasti Ibu tungguin kamu, Len!" Wanita itu menjawab antusias. "Aduh, tau begini Ibu siapin makanan kesukaan kamu, lho! Masih sempat gak ya...." Wanita itu terlihat sedang melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 08:00 pagi.
"Gak usah repot ah, Bu. Bisa ke sana saja Alena sudah seneng," sambar Alena dengan cepat melarang ibunya untuk merepotkan diri. "Pokoknya Ibu tunggu aja, ya. Alena pasti datang."
"Iya, iya, Ibu bakal kabarin Bapak sama saudara yang lain!"
Begitulah percakapan itu pun usai sambil meninggalkan jejak rasa hangat yang sudah lama tak dirasakan oleh Alena. Dia rindu keluarganya terutama orangtuanya. Ia tersenyum bahagia, membayangkan nanti saat sudah tiba di sana.
.
.
Bersambung....
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang