NovelToon NovelToon
Bukan Sistem Biasa

Bukan Sistem Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:174.9k
Nilai: 4.6
Nama Author: Sarif Hidayat

Beberapa bulan setelah ditinggalkan kedua orang tuanya, Rama harus menopang hidup di atas gubuk reot warisan, sambil terus dihantui utang yang ditinggalkan. Ia seorang yatim piatu yang bekerja keras, tetapi itu tidak berarti apa-apa bagi dunia yang kejam.
​Puncaknya datang saat Kohar, rentenir paling bengis di kampung, menagih utang dengan bunga mencekik. Dalam satu malam yang brutal, Rama kehilangan segalanya: rumahnya dibakar, tanah peninggalan orang tuanya direbut, dan pengkhianatan dingin Pamannya sendiri menjadi pukulan terakhir.
​Rama bukan hanya dipukuli hingga berdarah. Ia dihancurkan hingga ke titik terendah. Kehampaan dan dendam membakar jiwanya. Ia memutuskan untuk menyerah pada hidup.
​Namun, tepat di ambang keputusasaan, sebuah suara asing muncul di kepalanya.
​[PEMBERITAHUAN BUKAN SISTEM BIASA AKTIF UNTUK MEMBERIKAN BANTUAN KEPADA TUAN YANG SEDANG PUTUS ASA!
APAKAH ANDA INGIN MENERIMANYA? YA, ATAU TIDAK.
​Suara mekanis itu menawarkan kesepakatan mutlak: kekuatan, uang,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarif Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Sepuluh hari telah berlalu

Di Rumah Pak Suhardi

​"Buk, Kak Rama belum kembali?" Bela baru saja pulang sekolah. Ia menaruh tas di meja, menyandarkan punggungnya pada kursi kayu, dan pandangannya langsung menyapu pintu kamar Rama.

​"Kamu ini, baru pulang kok Rama terus yang ditanya. Bapakmu yang setiap hari ke sawah saja tidak pernah kamu tanyakan kapan pulangnya," Ucap Bu Maya, yang sibuk mengepel lantai.

​"Ah, Ibu. Bapak, kan, memang pasti pulang. Tapi kalau Kak Rama... bagaimana kalau dia tidak kembali lagi?" Ekspresi cemas Bela membuat Bu Maya tersenyum samar sambil menoleh pada anak gadisnya itu.

​"Kamu ini, seperti seorang istri yang mengkhawatirkan suaminya saja," goda Bu Maya, memandangi putrinya.

​"Apa sih, Bu! Aku tidak mengkhawatirkan Kak Rama. Aku... aku hanya bingung saja kenapa dia belum kembali. Bukankah dia bilang hanya pergi sepuluh hari?" Bela cemberut. Itu sudah cukup membuat Bu Maya tersenyum tipis.

​"Ibu tu lho, tidak melarangmu kalau memang kamu suka sama Rama..."

​"Ibuuu!" Kesal, Bela langsung mengambil tasnya di atas meja dan bergegas masuk ke kamar dengan pipi memerah.

​"Bela? Lho, memangnya Ibu salah? Kamu kelihatan banget lho mengkhawatirkan Rama," ujar Bu Maya, yang tampaknya belum puas menggoda. Namun, Bela langsung menutup pintu kamarnya tanpa menimpali lagi.

​"Anak itu," Bu Maya menggelengkan kepalanya lalu kembali pada kegiatannya.

​-;;;;;;;;;

Hari sudah mulai gelap

​Setelah sepuluh hari berlalu, Rama akhirnya kembali. Ia berdiri di depan sebuah lahan, yang dulunya adalah rumahnya, kini hanya menyisakan puing-puing bangunan bercampur tanah.

​Rama menghela napas panjang melihat kondisi rumah masa lalunya. Kenangan bersama kedua orang tuanya memenuhi benaknya, kini hanya tersisa debu.

​Dari sana, Rama menuju pemakaman desa. Ia terduduk di atas makam kedua orang tuanya dan menangis tersedu-sedu. "Ayah, Ibu... maafkan Rama. Rama harus pergi dari desa ini. Rumah peninggalan Kakek sudah tidak ada lagi. Rama harus pergi ke kota untuk memulai hidup baru di sana. Maaf jika selama ini Rama belum bisa membahagiakan kalian."

​Selesai berdoa, Rama berdiri. Ia meninggalkan pemakaman itu, kembali menuju rumah Pak Suhardi.

​Malam itu

​Setelah makan malam, Pak Suhardi, Bu Maya, dan Bela berkumpul di ruang tamu. Bela fokus pada layar ponsel Android-nya, sementara Pak Suhardi sibuk dengan kebiasaannya: membaca koran.

​"Lihatlah bapakmu, Bela. Entah sudah berapa kali koran itu dibaca berulang-ulang, seperti tidak ada koran baru saja," sindir Bu Maya, membuat Bela sedikit menoleh ke arah Pak Suhardi.

​"Iya, Bapak aneh banget. Padahal kalau memang suka membaca, Bela bisa belikan koran baru. Kebetulan di dekat sekolah ada yang jual berita terbaru," sahut Bela.

​Pak Suhardi menurunkan koran dari pandangannya, menoleh pada istri dan anaknya itu bergantian. "Siapa yang bilang Bapak mencari berita baru? Bapak cuma mencari cara menanam padi agar tidak gagal panen."

​Bu Maya dan Bela seketika saling pandang sekilas, menahan tawa. "Humph... Pantas saja korannya itu-itu saja," dengus Bela, kembali memandangi layar ponselnya.

​"Lho, mending Bapak baca koran sambil belajar. Daripada kamu? Bilangnya sama Bapak beli ponsel untuk belajar, tapi yang Bapak lihat kamu malah menggunakannya sekadar untuk hiburan," ujar Pak Suhardi.

​"Aku... aku menggunakannya untuk belajar, kok," jawab Bela cepat.

​"Belajar apa? Belajar menonton video?" ucap Pak Suhardi. Ketika Bela hendak membalas, Bu Maya menimpali, "Bela, kamu kunci pintu luar, Nak. Sudah malam, kamu juga harus tidur untuk sekolah besok."

​"Baru juga pukul 22.00, lagipula besok kan libur, Bu. Sebentar lagi, ya, Bela sedang—" ucap Bela terpotong.

​"Kunci dulu pintunya, Bela," desak Bu Maya, meskipun nadanya lembut, tetapi tidak dapat dibantah.

​"Iya-iya, Ibu yang cantik," Bela beranjak dari duduknya dengan malas.

​"Gadis itu..." lirih Bu Maya.

​"Dia sudah semakin besar. Kita sudah tak bisa lagi mengaturnya sesuai kemauan kita. Dia sudah punya pendiriannya sendiri," ucap Pak Suhardi.

​Di luar pintu, Bela terkejut. Tepat ketika ia hendak mengunci, seseorang mengetuk. Tentu saja Bela langsung membukanya.

​"K-Kak Rama..."

​Rama tersenyum pada gadis itu. "Kamu belum tidur?" sapanya.

​"Kak, kenapa malam-malam begini baru kembali? Aku baru saja mau mengunci pintu." Bela menatap Rama dengan seksama, seolah mencari tahu apakah pemuda itu baik-baik saja atau terluka.

​"Maaf. Tadi aku mengunjungi makam Ayah dan Ibuku dulu, jadi pulangnya agak telat," jawab Rama.

​"Bela, kamu bicara dengan siapa, Nak? Cepat kunci pintunya!" Suara Bu Maya terdengar dari ruang tamu.

​"I-Iya, Bu, sebentar!" sahut Bela. Ia lalu berbisik pada Rama, "Kak, ayo masuk. Bapak sama Ibu masih di ruang tamu."

​Di Ruang Tamu

​Pak Suhardi baru saja hendak bangkit dari duduknya, ketika suara Bela membuatnya menoleh. "Kak Rama pulang!"

​"Lho, Rama... kok pulangnya malam, Nak?" Bu Maya segera memperhatikan pemuda itu dari atas sampai bawah, lega karena Rama terlihat baik-baik saja.

​"Itu, Bu. Katanya Kak Rama tadi sempat pergi ke pemakaman, jadi dia kemalaman," jawab Bela.

​"Kamu baik-baik saja, Ram? Terus, bagaimana dengan urusanmu? Apa semuanya sudah beres?" Pak Suhardi ikut bertanya.

​"Sudah, Pak," jawab Rama.

​"Ya sudah kalau begitu. Kamu pasti belum makan, kan? Sana pergi makan dulu sebelum beristirahat. Ibu sama Bapak mau ke kamar duluan," kata Bu Maya penuh kehangatan.

​"Iya, Bu," jawab Rama sembari mengangguk pelan.

​Setelah memastikan Rama baik-baik saja, Bu Maya dan Pak Suhardi tidak bertanya lagi dan langsung memasuki kamar. Bela kembali memandangi Rama. "Kak... jadi kapan kak Rama pergi ke kota?"

​Rama mengusap kepala gadis itu pelan. "Mungkin dua hari lagi," jawabnya.

​"Kak—" Bela hendak mengatakan sesuatu, tapi Rama kembali berkata, "Tidurlah. Besok aku akan mengajakmu ke pasar."

​Bela langsung mendongak menatap wajah Rama. "Ke-ke pasar...?"

​"Ya, bukankah aku sudah berjanji setelah aku kembali akan mengajakmu ke pasar?" ucap Rama. Bela menatapnya dengan bola mata bulat, mencari tahu keseriusannya.

​Melihat tak ada ketidakseriusan di wajah Rama, Bela hanya bisa mengangguk pelan.

"O-oke, kalau begitu Bela tinggal ya, Kak. Selamat beristirahat."

​Rama mengangguk. "Selamat beristirahat."

Setelah Bela masuk ke kamar, Rama menghela napas berat, bergumam dalam hati, "Gadis itu... sepertinya merasa berat aku tinggalkan." Sejak resmi menjadi seorang kultivator, ia lebih sensitif terhadap hal di sekitarnya, termasuk adanya ketidaknyamanan di hati seseorang yang sedang berdekatan dengannya,

1
Dirman Ha
gc ckp
Dirman Ha
ig go
Zulterry Apsupi
yang ini masuk polisi pasti lewat koneksi atau melalui sogokan
Zulterry Apsupi
terlalu naif si mc
Dirman Ha
g book
Dirman Ha
I g nk
Zulterry Apsupi
MC idiot
Memyr 67
𝗋𝖺𝗇𝖽𝗒 𝗂𝗍𝗎 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗌𝖺𝗅𝖺𝗁 𝖺𝗌𝗎𝗁𝖺𝗇 𝗒𝖺?
Memyr 67
𝗁𝖺𝗁? 𝗐𝗂𝖽𝗒𝖺? 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗒𝗀 𝖻𝗂𝖺𝗌𝖺 𝖽𝗂𝗉𝖺𝗄𝖺𝗂 𝗉𝗋𝖾𝗆𝗉𝗎𝖺𝗇, 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗌𝖾𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄?
Memyr 67
𝗍𝗎 𝗄𝖺𝗇? 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍. 𝖻𝖺𝗀𝖺𝗂𝗆𝖺𝗇𝖺 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗒𝗀 𝗌𝗎𝗉𝖾𝗋𝗂𝗈𝗋 𝗆𝖺𝗎 𝖽𝗂𝗉𝖺𝗌𝖺𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂, 𝗒𝗀 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗅𝗎 𝖽𝗂𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇 "𝗆𝖾𝗇𝗒𝖾𝗅𝖺𝗆𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇" 𝗋𝖺𝗆𝖺. 𝗋𝖺𝗆𝖺? 𝖽𝗂𝗌𝖾𝗅𝖺𝗆𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍? 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋𝖺𝗇 𝖺𝖻𝗌𝗎𝗋𝖽 𝗌𝗂𝗁 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺, 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗂𝗍𝗎
Memyr 67
𝗌𝖾𝗆𝗈𝗀𝖺 𝗁𝗎𝖻𝗎𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖺𝗇 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖾𝖻𝖺𝗍𝖺𝗌 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 𝖼𝗈𝖽𝖾𝗍, 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁. 𝗄𝖺𝗌𝗂𝖺𝗇 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝖻𝖾𝗋𝗉𝖺𝗌𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗌𝖾𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂. 𝖻𝖾𝗋𝗎𝗌𝖺𝗁𝖺 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗉𝖺𝖽𝖺𝗁𝖺𝗅 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝖽𝗂𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗇𝖽𝗂𝗋𝗂 𝗌𝖺𝗃𝖺 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗆𝗉𝗎.
Manusia Biasa
lucu gw suka interaksi bela x rama😁
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗂𝗇 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗃𝗎𝗀𝖺 𝗉𝖾𝗅𝗎𝗉𝖺. 𝖽𝗂𝖺 𝗌𝖺𝗃𝖺 𝖽𝗂𝗍𝗈𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗅𝗂𝗆𝖺 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗇𝖽𝖺𝗅𝖺𝗇. 𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌𝖺 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗉𝖾𝗋𝗅𝗎 𝗆𝖾𝗆𝗉𝖾𝗋𝗂𝗇𝗀𝖺𝗍𝗂 𝗋𝖺𝗆𝖺?
Memyr 67
𝗅𝖺 𝗂𝗇𝖿𝗈𝗋𝗆𝖺𝗌𝗂 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝗌𝗁𝖾𝗋𝗅𝗂𝗇 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖾𝗉𝖺𝗋𝗈. 𝗉𝖾𝗇𝗀𝖺𝗐𝖺𝗌𝖺𝗇 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗁𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗒𝖺
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺 𝗋𝗂𝖼𝗈 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁𝗇𝗒𝖺 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖼𝗈𝖽𝖾𝗍. 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗀𝗎𝗇𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗍𝗈𝗍 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖻𝖾𝗋𝗄𝗎𝖺𝗌𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋.
Dirman Ha
hv gi
Dirman Ha
yd dg
Dirman Ha
hv no
Dirman Ha
ig gi
Dirman Ha
ih bko
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!