NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Angel Abilla

Pernikahan yang kukira pelabuhan cinta, ternyata hanyalah jerat maut yang dirancang suamiku sendiri. Namaku Aruna, putri keluarga Adiwangsa yang dicap lugu oleh dunia. Namun di malam pengantinku yang penuh duri, aku menyaksikan pengkhianatan Tristan dan selingkuhannya tepat di depan mataku.
​Tristan ingin hartaku, ia ingin membuangku ke desa terpencil hingga aku membusuk. Namun, ia melakukan satu kesalahan besar: membiarkan Aruna Adiwangsa pergi dengan liontin warisan ibunya.
​Sebuah Ruang Ajaib terbuka dari tetesan darah rasa sakitku. Di sana, aku membangun kekuatan, mengumpulkan harta, dan menyusun strategi yang tak terduga. Tristan, nikmatilah sisa kejayaanmu, karena saat aku kembali, aku akan memastikan kau berlutut memohon ampun di bawah kakiku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angel Abilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Tamu dari Masa Lalu

Keheningan koridor rumah sakit kembali terusik oleh suara gesekan roda yang mendekat perlahan. Dari ujung lorong, muncul seorang pria paruh baya yang duduk di atas kursi roda. Wajahnya terlihat letih dan pucat, namun garis rahangnya yang tegas sangat mirip dengan Aruna.

Di belakangnya, seorang pengawal tegap berseragam khas keluarga Adiwangsa mendorong kursi roda itu dengan langkah yang teratur. Rian, yang tubuhnya sempat menegang dalam posisi siaga penuh, seketika mengembuskan napas lega. Ketegangan di bahunya merosot saat ia mengenali pria tersebut.

Rian melangkah maju dan memberikan hormat kecil. Ayah Aruna mengangkat kepalanaya, menatap Rian dalam diam seolah sedang mencari sesuatu di mata pemuda itu. Keheningan itu berubah saat wajahnya yang pucat perlahan memperlihatkan senyum lemah sebuah tanda terima kasih yang tulus tanpa perlu banyak kata.

​"Bagaimana kondisinya?" tanya Ayah Aruna, suaranya pelan namun berwibawa.

Rian melirik ke arah pintu ruang perawatan. "Dokter sedang melakukan pemeriksaan terakhir, Pak. Dia sudah sadar. Keadaannya... stabil, secara ajaib."

Ayah Aruna menghela napas panjang, jemarinya yang kurus memegang pinggiran kursi roda. "Sanubari tidak pernah membiarkan darahnya tumpah sia-sia. Begitu juga dengan ibunya yang selalu menjaganya dari sana."

Pak Baskara mendekat, menyambut tangan pria itu dengan gerakan yang sangat sopan dan penuh rasa hormat. Kehadiran Ayah Aruna di sana seolah membawa suasana baru; sebuah perlindungan yang selama ini tidak Aruna miliki sejak ia berada di Jakarta.

Pak Baskara sedikit membungkukkan badannya, mendekatkan telinganya pada bibir Pak Adiwangsa yang kini terlihat sangat serius. Tatapan pria paruh baya itu tidak lepas dari Aruna yang masih berada di balik pintu kaca, seolah ada beban besar yang ingin ia sampaikan namun tertahan oleh keadaan.

​"Baskara," bisik Pak Adiwangsa dengan suara yang sangat rendah, hampir tenggelam oleh suara kesibukan di koridor rumah sakit. "Pastikan dokumen kedua yang tadi hendak kamu bacakan tetap aman. Jangan sampai siapa pun dari dewan direksi, atau bahkan keluarga jauh itu, tahu bahwa kunci terakhir Sanubari bukan hanya ada pada kristal di lehernya."

Mata Pak Baskara sedikit melebar mendengar bisikan itu, namun ia dengan cepat menguasai dirinya dan mengangguk pelan. "Saya mengerti, Pak. Segalanya berada dalam pengawasan ketat Rian dan tim saya."

Pak Adiwangsa kemudian beralih menatap Rian yang masih berdiri tidak jauh dari mereka. "Rian, bawa aku masuk. Aku ingin melihat putriku."

Rian segera mengambil alih pegangan kursi roda dari pengawal sebelumnya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia mendorong Pak Adiwangsa masuk ke dalam ruang perawatan yang tenang itu. Saat kursi roda berhenti di samping tempat tidur, Pak Adiwangsa meraih tangan Aruna yang bebas dari infus.

​"Kamu terlalu berani, Aruna," gumam ayahnya sambil mengelus tangan putrinya dengan sayang. "Sama persis seperti ibumu. Tapi ingat, keberanian tanpa perhitungan hanya akan membuat Sanubari kehilangan akarnya."

Aruna, yang masih merasa sedikit pusing, menatap ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tidak menyangka ayahnya akan datang secepat ini dari tempat peristirahatannya. Kehadiran Pak Adiwangsa seolah memberikan energi tambahan yang lebih nyata daripada obat-obatan medis mana pun.

Namun, di balik momen haru itu, Rian teringat kembali pada bisikan misterius Pak Adiwangsa kepada Pak Baskara tadi. Kunci terakhir Sanubari? Rian menyadari bahwa pertempuran ini ternyata jauh lebih dalam dari sekadar perebutan kursi direktur Operasional

Rian hanya terdiam di sudut ruangan, memperhatikan interaksi antara ayah dan anak itu. Pikirannya masih berputar pada istilah "Kunci terakhir Sanubari" dan ancaman dari "keluarga jauh" yang disebutkan tadi. Silsilah dan rahasia keluarga Adiwangsa terasa seperti labirin yang semakin ia masuki, semakin membuatnya tersesat.

Namun, Rian segera menggelengkan kepalanya pelan, mengusir rasa penasaran itu. Sial, fokus Rian. Yang penting dia sudah bangun, batinnya sambil menatap Aruna. Baginya, melihat rona merah mulai kembali di wajah Aruna sudah lebih dari cukup untuk saat ini. Urusan perebutan kekuasaan atau rahasia kuno bisa menunggu; prioritasnya hanyalah memastikan Aruna tetap bernapas.

Tiba-tiba, lamunan Rian kembali terhenti. Pak Adiwangsa melepaskan genggaman tangan Aruna, lalu memutar kursi rodanya sedikit ke arah Rian. Pria tua itu kembali mengulurkan tangannya, menepuk bahu Rian untuk kedua kalinya hari ini. Kali ini, tepukannya terasa lebih berat dan memiliki penekanan yang berbeda.

​"Rian," panggil Pak Adiwangsa, suaranya kini terdengar jauh lebih tajam dan serius dari sebelumnya.

Rian tersentak kecil dan segera berdiri tegak. "Ya, Pak?"

Pak Adiwangsa menatap mata Rian dengan dalam, seolah sedang menguji apakah pria di hadapannya ini benar-benar punya kesetiaan yang tak tergoyahkan. Ia seolah ingin memastikan Rian siap memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya daripada sekadar menjadi pengawal.

"Tinggalkan kami berdua sebentar. Tapi jangan jauh-jauh dari pintu," perintah Pak Adiwangsa. Matanya kemudian melirik ke arah Aruna, lalu kembali ke Rian. "Setelah ini, aku mau bicara empat mata denganmu di lorong. Ada hal yang tidak bisa didengar oleh telinga tembok rumah sakit ini sekalipun."

Rian merasakan desir dingin menyebar di tengkuknya. Ia tahu perintah itu bukan sekadar obrolan biasa. Sambil melangkah mundur, ia membisikkan instruksi singkat pada alat komunikasi di kerahnya, memastikan anak buahnya berjaga lebih ketat sebelum ia benar-benar keluar dari ruangan. Di dalam hati, Rian sadar bahwa ketenangan singkat ini hanyalah jeda sebelum bahaya yang Sesungguhnya menimpa mereka.

Rian melangkah keluar dengan perasaan campur aduk. Ia menutup pintu tanpa suara, menjaga privasi di dalam sana. Sesuai perintah, ia tetap berjaga di posisi terdekat; ia menyandarkan bahunya ke dinding yang dingin, melipat tangan di depan dada, namun pandangannya tetap tajam memperhatikan sepanjang lorong.

Setiap perawat yang lewat atau bunyi denting lift di kejauhan membuatnya secara refleks meraba senjata tersembunyi di balik jasnya. Pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan kata-kata "Kunci Terakhir Sanubari". Apakah itu merujuk pada harta fisik, ataukah sesuatu yang lebih mistis berkaitan dengan kristal yang tadi menyelamatkan nyawa Aruna?

Tak lama kemudian, pintu terbuka sedikit. Pak Baskara keluar lebih dulu dengan wajah yang terlihat lebih tegang dari biasanya. Tak lama, pengawal Pak Adiwangsa mendorong kursi roda sang tuan keluar dari ruangan. Aruna sepertinya telah kembali tertidur karena pengaruh obat-obatan dan kelelahan emosional.

Pak Adiwangsa memberi kode dengan telunjuknya agar Rian mendekat. Mereka bergerak menjauh dari pintu kamar Aruna, menuju area lorong yang lebih sepi di dekat jendela besar yang menghadap lampu-lampu kota Jakarta.

"Rian," Pak Adiwangsa memulai. "Kamu sudah melihat sendiri keajaiban kristal itu di ruang UGD. Musuh yang sebenarnya sedang dalam perjalanan setelah mendengar kabar ini. Mereka datang untuk memastikan apakah 'kunci' itu masih berfungsi. Mulai sekarang, aku ingin kamu secara resmi menjaga rahasia Sanubari."

Rian terdiam sejenak, lalu menyahut dengan suara rendah namun tegas. "Maaf, Pak. Sepertinya Bapak keliru. Saya di sini bukan karena kontrak perusahaan atau perintah direksi. Saya berada di sisi Aruna sejak saya mengambilnya dari tangan Siska. Saya melindunginya karena kemauan saya sendiri."

Pak Adiwangsa tertegun, lalu sebuah senyum penuh penghargaan muncul di wajah tuanya. "Begitu ya? Kamu melakukannya atas dasar pilihan pribadi. Itu justru membuatmu jauh lebih berbahaya bagi musuh kami, Rian. Karena kesetiaan yang lahir dari hati jauh lebih sulit dihancurkan daripada uang."

​Pria tua itu menatap lurus ke mata Rian. "Kalau begitu, tetaplah di sisinya. Bukan sebagai pengawal, tapi sebagai orang yang memegang nyawanya. Karena kunci terakhir Sanubari ada pada detak jantung putriku. Jika dia berhenti bernapas, maka Sanubari akan hilang selamanya."

Rian mengencangkan rahangnya, merasakan sebuah keyakinan yang makin kokoh mengakar di dalam hatinya. Ia tidak peduli seberapa gelap rahasia keluarga Adiwangsa atau seberapa besar bahaya yang mengintai di luar sana. Baginya, tugas ini sudah berubah; ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh Aruna, bahkan jika ia harus mempertaruhkan nyawanya sendiri.

"Bapak tidak perlu meminta," jawab Rian mantap. "Selama saya masih bernapas, tidak akan ada yang bisa menyentuh Aruna. Siapa pun mereka."

1
Ida Kurniasari
seruu bgt thorr😍
Angel: Wah, makasih banyak ya Kak Ida! 🥰 Senang banget kalau ceritanya menghibur. Bagian mana nih yang paling bikin nagih?
total 1 replies
Angel
keren
Nadira ST
💪💪💪💪💪💪☕☕☕☕🥰🥰🥰🥰☕
Angel: Wuih, deretan semangatnya sampai sini nih! Terima kasih ya, Nadira ST. Menurut kamu, apa bagian paling menarik dari bab ini? Ditunggu komentarnya lagi ya! 💪🔥
total 1 replies
Murni Dewita
💪💪💪💪
Angel: Aruna emang makin tangguh nih, Kak! 💪 Tapi kira-kira dia sanggup nggak ya ngadepin Paman Hendrawan yang jauh lebih licik? Pantau terus kelanjutannya ya, Kak Murni!
total 1 replies
Lala Kusumah
good job Aruna 👍👍👍👍
Angel: Terima kasih Kak Lala! Aruna emang pantes dapet apresiasi setelah semua pengkhianatan itu. Tapi ujian sebenarnya baru aja dimulai nih. Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Murni Dewita
👣👣
Angel: Wah, jejak Kak Murni sudah sampai sini nih! Menurut Kakak, apa yang bakal terjadi sama Aruna setelah ini? Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Lala Kusumah
astaghfirullah 😭
Angel: Jangan nangis dulu, Kak! Habis ini Aruna bakal kasih kejutan yang jauh lebih besar buat Tristan. Kira-kira apa yang bakal Aruna lakukan selanjutnya ya? Pantau terus besok jam 7 malam ya! 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!