Ledakan pada sebuah laboratorium saat anak kelas XII IPA sedang praktek fisika, menjadi sebuah tragedi yang menagkibatkan menyebarnya wabah.
Zach dan Carol serta murid yang lain menjadi korban peristiwa tragis itu. Wabah penyakit yang menyebabkan manusia berubah wujud menjadi kera.
Virus merajalela,korban berjatuhan. Semua orang berputus asa, akankah dunia kiamat.
Apakah akan ditemukan obat untuk menangkal virus jahat itu.
Siapakah sebenarnya Pak Edward, orang yang menyebabkan virus itu.
Berhasilkah Zach dan Carol menyelamatkan diri?
Siapakah Jhon sebenarnya? pria paruh baya yang mencoba menyelamatkan Zach dan Carol dari daerah pandemi?
apakah pemerintah akan membumi hanguskan kota kecil tempat tinggal.Zach dan Carol.
Yuk simak cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Menikah
Sikap Carol itu tentu saja membuat orang tua masing-masing shock. Betapa lembutnya Carol menenangkan hati Zach, di hadapan orang tua mereka. Seolah tidak ada lagi batasan antara mereka.
"Carol, apa-apaan kamu?" sentak Bu Rachel merasa malu sekali. Bisa-bisanya putrinya melakukan itu di depan mata mereka.
Carol kaget! Sikapnya pasti telah memperparah masalah mereka. Namun, membuat Zach bisa mengontrol emosinya.
"Mama malu sekali, Carol." isak Bu Rachel shock. Ternyata putrinya sendiri tanpa sadar memperlihatkan perasaannya pada Zach.
"Maaf Kak Rachel. Saya kira kita terlalu mudah terpancing emosi. Zach dan Carol sudah lama bersahabat. Sikapnya tadi cuma gerak spontan. Pasti tidak bermaksud apa-apa." Pak Dody berusaha menetralkan situasi.
"Keluarga kita sudah lama saling kenal Kak Rachel. Masalah seperti ini tidak seharusnya mempengaruhi hubungan kita. Saya sendiri sudah menganggap Carol seperti putri saya. Kalau anak saya telah melakukan sesuatu pada Carol. Kami tidak akan menutup mata. Kita cari solusi yang terbaik, Kak." tukas Bu Reya menimpali.
"Mereka sebaiknya kita nikahkan saja." vonis Bu Rachel, membuat semuanya kaget.
" Mama ....!" teriak Zach dan Carol bersamaan. Keduanya sangat kaget.
"E-gh, Kak Rachel. Apa itu tidak berlebihan. Mereka masih remaja Kak. Pernikahan bukan solusi yang terbaik." sela Bu Reya juga shock.
"Apakah akan menunggu sampai anak saya hamil duluan?" ucap Bu Rachel sewot.
"Mama! Kenapa Mama tidak percaya omongan Carol. Kami tidak pernah berbuat hal yang terlarang, Ma! Carol masih ingin sekolah, Ma!" Teriak Carol histeris.
"Baiklah, Tante. Zach akan menikahi Carol. Tapi hal ini harus disembunyikan. Aku tidak ingin orang-orang membully kami."
"Zack, kamu apa-apaan sih!" sentak Carol marah. "Mama, tolong hentikan semua ini." Carol mendekat ke mamanya. Memegangi tangan ibunya, yang kemudian ditepis oleh Bu Rachel.
"Kamu telah membuat Mama kecewa, Carol." sahut Bu Rachel dingin.
"Mama, harus bagaimana Carol menjelaskan Ma, biar Mama percaya." isak Carol putus asa.
"Jalan satu-satunya kalian tetap harus menikah. Jika pernikahan ini akan disembunyikan untuk sementara waktu, terserah. Yang terpenting kalian menikah saja dulu. Apakah kalian akan tetap tinggal dengan orang tua masing-masing? Hanya itu pilihan kalian.
"Kami mohon pamit dulu. Permisi." Bu Rachel berdiri diikuti suaminya. Carol masih tidak percaya dengan keputusan orang tuanya.
Sementara Bu Reya sendiri tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya menyetujui dengan terpaksa.
"A-hk ... Aku tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan, Pa. Zach! Apa benar kamu tidak menyentuh Carol? Apa kamu tidak tau batasan?" tuduh Bu Reya dingin.
"Mama, Zach tidak bohong. Memang kami duduk berdekatan karena kami sama-sama terguncang. Tidak lebih dari itu, Ma."
"Mama percaya sama kamu. Mama hanya heran sikap Bu Rachel. Mama tidak mengerti jalan pikiran beliau. Tapi disatu sisi, Mama juga mengerti apa yang dia khawatirkan. Mungkin Mama juga akan bersikap hal yang sama. Jika berada dalam posisinya.
"Menjaga anak gadis itu tidak mudah. Walaupun caranya berlebihan, Mama tidak bisa tidak berbuat apa-apa. Besok Papa dan Mama akan melamar Carol. Kalian akan menikah diam-diam dan hanya keluarga inti saja yang mengetahuinya."
"Mama sama saja mendorong kami ke jurang, Ma. Apakah pernikahan satu-satunya solusi, Ma. Kami belum siap untuk itu!" teriak Zach emosi.
"Sayang, ini cuma formalitas saja. Maksud Mama, hanya untuk menenangkan Tante Rachel. Mama juga tidak menduga kalau Tante Rahel begitu paranoid."
"Iya Zach. Kalaupun kalian telah menikah. Kalian tetap tinggal bersama kami. Tidak akan mengubah kebebasanmu dengan tanggung jawab sebagai suami. Kalian tetap boleh sekolah. Sampai kalian siap untuk langkah selanjutnya.
Zach terduduk lemas di sofa. Tadi dia mengiyakan begitu saja, hanya supaya pembahasan segera berakhir. Nyatanya malah semakin melebar.
* * *
Hanya disaksikan keluarga inti. Zach dan Carol menikah di gereja tua di kota Humbang. Tidak seperti pernikahan pada umumnya, setelah selesai prosesi pernikahan yang menegangkan. Zach dan Carol kembali ke rumah orang tua masing-masing.
Tidak ada pesta atau acara makan-makan. Layaknya sebuah pernikahan Yang ada adalah ketegangan antara orang tua pengantin dan pihak gereja. Pihak gereja menolak keras karena calon pengantin masih usia anak sekolah.
Belum ada persiapan. Akan berbahaya bagi masa depan mereka. Tapi entah negosiasi apa yang dilakukan oleh kedua orang mempelai, akhirnya pernikahan dadakan itu terjadi juga.
Pernikahan itu juga tidak perlu dipublikasikan. Demi keamanan sang pengantin. Sangat tidak masuk akal. Zach dan Carol sudah lelah membantah. Mau tidak mau mereka harus menerima kenyataan itu.
"Percayalah Carol, Mama hanya ingin melindungi kamu."
"Melindungi dari apa, Ma? Tidakkah Mama begitu egois. Mama mengekang kebebasanku dengan pernikahan manipulatif ini. Kami bisa bertunangan dulu. Tidak seperti ini. Mama sama saja telah mempermainkan pernikahan yang seharusnya sakral!" ceracau Carol sangat kecewa.
"Maafkan Mama telah bertindak sejauh ini. Tapi Mama melakukan ini bukan tanpa perhitungan. Semua ini dimulai dari firasat Mama. Mama benar-benar tidak bisa mengabaikannya.
Diluar sana keadaan sudah tidak sama lagi, setelah kejadian kebakaran di sekolahmu. Sebelum kejadian itu, Mama sudah didatangi mimpi, berkali-kali malah. Sehingga Mama tidak bisa mengabaikannya?"
'Apa? Mimpi? Ternyata semua ini berawal dari mimpi? Sama seperti yang dia alami? Sebenarnya apa yang akan terjadi menimpa kotanya ini?' Carol bergidik ngeri.
"Mama mimpi tentang apa sama Carol?" tatap Carol penuh harap.
"Mama melihatmu hamil. Bukan kehamilan yang biasa. Kamu akan punya anak. Tapi anakmu akan diburu oleh kegelapan."
"Maksud Mama? Mama melihat aku hamil dalam mimpi Mama? Lalu kenapa Mama malah mendorong aku untuk menikah. Harusnya Mama kan, menjauhkan aku dari pernikahan. Supaya mimpi Mama tidak menjadi kenyataan." Carol menggeleng keras. Sangat kecewa dengan keputusan ibunya yang tidak.masuk akal.
Hanya karena sebuah mimpi yang berulang. Ibunya malah nekad menikahkannya. Demi melindunginya. Melindungi dari apa?
Carol menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya lurus menatap plafon. Kosong! Otaknya terasa kosong, karena tidak mampu mencerna ucapan ibunya barusan.
Baiklah, dia akan mencoba menyesuaikan diri dengan keadaanya sekarang. Untunglah, meskipun sudah menikah mereka tidak diwajibkan tinggal satu rumah. Artiya pernikahan itu hanya formalitas. Menunggu sampai mereka memiliki kesiapan.
Drrrtt ....
Ponsel Carol bergetar. Nama Zach tertera. Segera Carol menerima panggilan itu.
"Kamu baik-baik saja, Carol?"
"Buruk! Tidak pernah seburuk ini." Carol mengaku jujur. Terdengar helaan nafas di ujung sana.
"Sudah. Kamu tidak perlu mengabiskan energi tentang pernikahan itu. Fokus saja pada masalah yang tengah kita hadapi. Kamu tau tidak, kasus warga yang terserang batuk semakin naik. Kita harus bergerak cepat ke rumah Pak Edward. Sebelum rumah itu di geledah pihak berwajib."
"Apakah pemerintah sudah mencium ada yang tidak beres, Zach? Terkait kebakaran itu maksudku. ***
"