NovelToon NovelToon
Di Manja Suami Om-Om

Di Manja Suami Om-Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta setelah menikah / Cintamanis
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Sore harinya akhirnya Arkan menutup laptopnya lebih cepat. Tentunya setelah mendapatkan asupan cinta.

“Jadi, mau naik eskalator sekarang?” tanya Arkan ringan.

Mata Nara langsung berbinar.

“Mau!” jawab Nara.

Mereka berdua pergi ke mal besar di pusat kota. Lampu-lampu terang, etalase berkilau, dan aroma wangi dari berbagai toko menyambut Nara dan juga Arkan.

Nara berjalan santai di samping Arkan, sesekali tangannya menggenggam lengan suaminya. Ia tahu hidupnya berubah drastis sejak menikah dengan Arkan.

Dan kali ini, ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan menikmati momen. Bukan untuk berfoya-foya. Tapi untuk merasakan kehidupan yang sama sekali tidak terpikirkan oleh Nara.

Nara mengajak suaminya masuk ke restoran Jepang yang elegan. Interior kayu hangat, lampu temaram, dan suara lembut musik tradisional membuat suasana terasa mahal.

Nara membuka menu dengan hati-hati. Harga-harganya membuat alisnya sedikit terangkat.

“Minumannya saja segini…” gumam Nara pelan.

Arkan mendengar dan tersenyum.

“Pesan saja yang kamu mau.”

Nara akhirnya memesan satu minuman yang menurutnya mahal, mahal untuk ukuran dirinya dulu.

Ketika gelas itu datang dengan penyajian cantik dan aroma khas, Nara memegangnya hati-hati seolah itu benda berharga.

“Enak?” tanya Arkan.

Nara menyeruput pelan, lalu tersenyum puas.

“Enak banget.”

Arkan memperhatikan istrinya dengan tatapan lembut.

Bagi Arkan harga secangkir minuman itu tak berarti apa-apa.

Tapi melihat Nara menikmati hal sederhana seperti itu, terasa jauh lebih berharga.

Setelah makan, mereka berjalan mengelilingi mal. Nara berhenti di beberapa etalase pakaian, tapi hanya melihat sekilas.

“Ngga mau masuk?” tanya Arkan.

Nara menggeleng. “Kemarin sudah belanja sama Sandra. Lagian stok dari Mama juga masih banyak."

Nara memang tidak tertarik membeli apa pun lagi. Lemari pakaiannya sudah penuh. Ibu mertuanya bahkan sering mengirim pakaian-pakaian cantik yang masih baru.

Arkan mengangguk pelan.

Lalu tanpa banyak bicara, ia menggenggam tangan Nara dan membawanya ke lantai atas.

Langkah mereka berhenti di depan sebuah toko perhiasan mewah.

Etalasenya berkilau. Lampu-lampu kecil menyorot cincin, kalung, dan gelang yang tersusun rapi di balik kaca tebal.

Nara langsung paham.

“Sayang…” Nara menoleh, sedikit waswas.

“Aku nggak butuh.” kata Nara.

Arkan menatap istrinya, “Aku tahu.” kata Arkan.

“Terus?” tanya Nara

“Kamu tadi tertarik lihat desain perhiasan, kan?” pertanyaan Arkan menbuat Nara terdiam.

Ia memang tertarik. Bukan untuk memiliki. Tapi untuk membuat.

Arkan membuka pintu toko itu dan mempersilakan Nara masuk lebih dulu.

“Ayo. Siapa tahu kamu dapat inspirasi.” kata Arkan.

Nara melangkah masuk dengan perasaan campur aduk. Bukan karena tergiur kemewahan.

Tapi karena ia merasa dilihat. dan juga didukung.

Arkan tidak hanya ingin memanjakannya.

Ia juga memperhatikan apa yang Nara sukai.

Di dalam toko, seorang pramuniaga menyambut ramah. Nara mendekati etalase, memperhatikan detail ukiran, potongan batu, bentuk rangka logamnya. Matanya tidak berbinar karena harga.

Tapi karena ide.

“Kalau batu kecilnya lebih tipis… terus bentuknya nggak terlalu ramai…” gumam Nara pelan.

Arkan yang berdiri disamping Nara berkata tiba-tiba, “Bikin saja,”

Nara menoleh. “Bikin?”

“Iya. Desain sendiri. Aku wujudkan.” kata Arkan.

Jantung Nara berdetak sedikit lebih cepat.

Ia tidak pernah meminta perhiasan mahal.

Tidak pernah membayangkan punya desain sendiri.

Namun di hadapannya sekarang, bukan hanya toko perhiasan yang berkilau.

Tapi kesempatan. Nara merasa, hidup barunya bukan sekadar keberuntungan.

Melainkan pintu untuk tumbuh lebih jauh.

***

Nara sudah selesai ujian, bahkan Nara sudah mulai mendesain perhiasan dan Arkan tentunya mendukung penuh keinginan istrinya.

Saat Nara libur kuliah, Arkan rencananya akan mengajak Nara untuk honeymoon, namun Indah meminta acara resepsi terlebih dahulu di gelar, dan baru Arkan dan Nara pergi bulan madu.

Apalagi Indah yang bertugas mempersiapkan pesta pernikahan, sudah sibuk sejak lama dan tentunya sudah ingin pesta segera di mulai.

Persiapan pesta pernikahan Nara dan Arkan disiapkan Indah sebagai ibu mertua benar-benar totalitas. Gedung mewah sudah dipesan, gaun dirancang khusus, katering terbaik dipilih untuk memanjakan lidah para tamu. Semua terlihat sempurna dari luar.

Namun siapa sangka hidup tak pernah benar-benar tanpa badai.

Siang itu, rumah terasa sunyi. Arkan masih di kantor. Nara sendirian di rumah.

Bel rumah berbunyi.

Nara tentunya bingung siapa yang datang, karena jika Arkan atau mertuanya pasti akan langsung masuk. Nara akhirnya memutuskan untuk membuka pintu dan Nara langsung mengenali wajah yang ada di hadapannya. Yaitu Karina.

Influencer cantik yang sering muncul di beranda media sosial milik Nara. Bahkan Nara adalah salah satu pengikutnya. Wajahnya flawless, gayanya elegan, dan jumlah pengikutnya jutaan.

Jantung Nara berdegup lebih cepat. Tetapi ia tetap tersenyum sopan.

“Silakan masuk.” kata Nara.

Karina melangkah masuk dengan percaya diri. Tas branded menggantung di lengannya. Parfumnya lembut tapi tajam.

Begitu duduk, tanpa basa-basi panjang, Karina langsung menatap Nara.

“Kamu Nara, kan?”

“Iya.” jawab Nara.

“Aku nggak mau muter-muter,” ucap Karina dingin. “Aku datang karena ada hal penting.”

Nara berusaha menjaga ekspresinya tetap netral.

Karina membuka tasnya. Mengeluarkan sebuah amplop cokelat.

“Aku hamil.” ucap Karina.

Dunia seperti berhenti sesaat. Nara tidak langsung bereaksi.

Karina melanjutkan, suaranya stabil.

“Dan anak ini… anak Arkan.” kata Karina.

Amplop coklat yang dibawa Karina dibuka oleh Nara.

Beberapa lembar hasil USG diletakkan di atas meja. Ada juga foto-foto. Foto Arkan dan Karina di sebuah kamar hotel. Terlihat jelas mereka bersama.

Tangan Nara terasa dingin. Dadanya sesak. Tapi wajahnya tetap tenang.

Nara menatap hasil USG itu perlahan, lalu mengangkat pandangannya.

“Kamu yakin?” tanya Nara pelan.

Karina tersenyum tipis. “Buktinya sudah jelas.” jawab Karina. Ada kepuasan samar di mata Karina. Seolah menunggu Nara menangis. Atau marah. Atau mengusirnya.

Namun Nara hanya menyandarkan punggungnya perlahan.

Di dalam diri Nara, badai sedang mengamuk.

Arkan? Pria yang memeluknya kemarin. Yang berkata ia tidak melihat wanita lain. Yang mengajaknya membuat desain perhiasan sendiri. Apakah semua itu kebohongan? Semua pertanyaan itu berputar diotak Nara.

Tapi Nara bukan gadis lemah. Ia menarik napas dalam-dalam.

“Kenapa baru datang sekarang?” tanya Nara lagi, tetap tenang.

Karina sedikit terdiam. “Aku nggak mau anakku lahir tanpa pengakuan.”

Sunyi memenuhi ruangan. Di luar, matahari masih bersinar terang. Persiapan pesta masih berjalan. Semua orang mengira hidup Nara sempurna.

Padahal saat ini, retakan besar baru saja muncul di fondasi rumah tangganya.

Dan Nara tahu. Mulai hari ini, ia tidak hanya menghadapi iri hati di kampus. Ia menghadapi kemungkinan pengkhianatan.

"Berapa usianya?" tanya Nara.

"Empat bulan." jawab Karin.

Nara mengernyit, "Empat bulan? Kenapa baru datang? Seharusnya kalau datang lebih awal, kamu bisa menikah dengan Arkan." kata Nara yang tetap tenang.

Karina hanya tersenyum tipis, " Karena aku baru tahu kalau aku hamil." jawab Karina.

Nara menghele nafas, "Pastikan dulu itu anak siapa, kalau memang anak suamiku, aku akan bertanggung jawab." kata Nara yang kemudian menyuruh Karina untuk pergi.

Setelah Karina pergi, Nara merasa campur aduk, tapi Nara tetap berusaha tenang, Nara tidak mau gegabah dan akan membicarakan hal ini terlebih dahulu dengan Arkan.

1
Risma Surullah
alurnya bagus
Mita Paramita
hempaskan pelakor 🤣🤣🤣
Drama Queen
lanjut
piah Hasan
1001 ya cara pwrempuan mau jadi pelakor..
Uthie
keep dulu ya 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!