Novel Keempat belas🌶
(area 🌶. no bocil-bocil please)
Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.
Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.
Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'
Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Dilarang Bertemu
Bian selesai dengan semua rutinitasnya sebelum tidur. Tadi, ketika pulang, ia langsung saja masuk ke kamar dan membersihkan diri. Ia berendam di bathtub kamarnya agar tubuhnya menjadi lebih segar. Juga, agar pikirannya bisa sedikit lebih refresh. Sebelum mandi, Bian mengecek ponsel. Tak ada pesan dari Theo. Setelah mandi pun, masih tak ada.
Lanjut Bian menggunakan perawatan kulitnya, dan kemudian membaringkan tubuhnya. Ia berpikir tidur akan membuatnya melupakan rasa sedihnya dan tidak perlu berpikir terus menerus tentang Theo.
Baru saja ia membaringkan tubuh, pintunya diketuk. Dan saat itulah Saga datang ke kamar Bian dan menciumnya.
Anehnya, saat itu Bian merasa begitu lelah. Ia merasa tak punya tenaga lagi untuk mendorong jauh Saga yang sedang menikmati bibirnya. Sehingga ia membiarkannya begitu saja.
Setelah beberapa saat, Saga menjauh dan menatap Bian dengan sendu. "Jangan sedih terus, dong. Ada Kakak di sini," lirihnya.
Bian hanya diam. Saat itu entah mengapa ciuman Saga begitu menenangkannya. Hingga tanpa sadar, Bian mencium Saga lebih dulu. Dan tentu saja Saga membalasnya dengan lebih beringas.
Namun setelah beberapa saat akhirnya Bian mendorong pundak Saga menjauh. Sehingga bibir mereka yang masih tertaut pun terlepas.
"Kenapa? Kok berhenti?" tanya Saga.
"Udah. Cukup," sahut Bian dengan wajah dingin. "Gue udah cukup terhibur dengan ciuman lo. Sekarang pergi, biasanya bokap gue suka ngecekin gue kalau gue mau tidur. Gue gak mau lo di sini pas bokap dateng."
"Yakin ciumannya cukup?" tanya Saga nakal.
"Cukup. Sama lo, cuma cukup sampai sini. Tapi kalau sama cowok gue, beda lagi."
"Kamu udah pernah sama Theo?"
"Kepo banget sih?" Bian mendorong Saga keluar kamar. "Bye!" Kemudian ia tutup pintu kamarnya.
Pagi harinya, Bian terbangun. Ketika ia membuka matanya, rasa penasaran menyergapnya lagi. Ia segera menyambar ponselnya yang ia letakkan di nakas. Ia membuka aplikasi perpesanan dan sebuah nomor asing mengiriminya pesan. Seketika hati Bian luar biasa lega, ternyata nomor itu nomor Theo. Theo akhirnya membalasnya.
[Theo]: Yang, maaf banget. Aku kemarin gak boleh keluar rumah lagi sama mama. HP aku disita lagi. Ini nomor aku yang baru, aku baru sempet beli HPnya. Kamu pasti udah tidur? Ya udah, selamat tidur ya, mimpi indah. Besok kita ketemu di sekolah.
Bian segera bersiap. Ia tak sabar ingin memarahi Theo secara langsung. Kemudian ia sudah berada di sekolah, Bian menunggu Theo di parkiran. Beberapa saat kemudian mobil Theo terlihat memasuki parkiran. Saat mobil itu berhenti dan mesinnya mati, Bian masuk ke kursi penumpang.
Bian terlonjak kaget. Di kursi penumpang itu ada seorang perempuan yang Bian langsung ketahui siapa. Perempuan itu menatap tajam pada Bian.
"Se-selamat pagi, Tante!" Saking gugup dan terkejutnya karena tiba-tiba di kursi penumpang ada ibu dari sang pacar, Bian sampai tanpa sadar berteriak saat memberikan salam.
Julia keluar dari kursi penumpang. Ia melipat tangannya di dada dan menatap Bian tajam. "Sedang apa kamu di sini dan tiba-tiba aja buka pintu mobil orang lain? Kamu tahu itu gak sopan?" geram Julia.
"Maaf, Tante. Saya kira gak ada orang," ujar Bian menyesal.
"Kamu Bianca 'kan?" tanya Julia galak.
"I-iya, Tante. Saya Bianca. Maaf saya belum memperkenalkan diri sama Tante," ujar Bian seraya mengulurkan tangannya pada Julia, berniat menyalami Julia. Namun Julia malah menangkis tangan itu. Seketika Bian syok mendapatkan perlakuan itu.
"Mah!" Theo sendiri tak terima Bian diperlakukan seperti itu. Segera ia membentengi Bian dari Julia. Theo menatap Julia dengan penuh amarah. Namun tak ada kata yang terucap dari mulutnya.
"Ayo kita masuk, Yang," ujar Theo akhirnya seraya menggenggam tangan Bian dan membawanya pergi.
Di lorong menuju kelas Theo masih bungkam. Bian tak pernah melihat wajah Theo seperti itu, dikuasai amarah sebesar itu. Sebelum ke kelas, Bian melihat Saga akan memasuki ruang guru.
"Pak Saga!" panggil Bian. Saga pun menoleh dan melihat Bian berlari ke arahnya sambil bergandengan tangan dengan Theo. "Pak Saga pinjam kunci ruang listening. Sebentar aja, boleh 'kan?" pinta Bian tanpa tersenyum. Meskipun kata-katanya sopan, tapi nada bicaranya sama sekali tidak.
Saga menatap keduanya bergantian. Ia merogoh sakunya dan memberikan kunci itu pada Bian.
"Terima kasih, Pak," ujar Bian angkuh. Ia tak menyangka juga Saga akan langsung memberikan kunci itu padanya.
Kemudian tibalah Bian dan Theo di ruang listening itu. Bian membawa Theo duduk di sofa dan melepas tas punggung yang dikenakannya.
"Yang, kenapa kita ke sini? Bentar lagi bel," ujar Theo.
"Kamu gak lihat grup? Sekarang guru-guru ada rapat dulu dua jam pertama," terang Bian mengingatkan. "Sekarang, bilang sama aku, ke mana kamu kemarin?"
Theo malah mengecup punggung tangan Bian beberapa kali. "Maaf, Yang," sesal Theo.
Bian menarik tangannya dan melipat kedua tangannya di dada. Jelas ia masih belum bisa menerima Theo yang membiarkannya menunggu tanpa kejelasan seperti kemarin.
"Jawab dulu pertanyaan aku. Bukan malah minta maaf. Aku butuhnya penjelasan," tegas Bian galak.
Theo menghembuskan nafasnya dan menunduk dengan raut wajah menyesal. "Kemarin, aku disuruh pulang. Dan aku gak harus..."
"Harus apa?" tanya Bian tak sabar karena Theo menjeda ucapannya.
"Harus belajar, Yang. Dan mama gak suka sama hubungan kita..." dusta Theo. "Mulai hari ini, aku gak boleh bawa mobil sendiri. Mama akan antar aku kayak tadi. Begitu juga pulangnya."
"Kenapa kamu ajak aku bolos waktu itu, sih? Jadi gini 'kan jadinya," gerutu Bian kecewa. "Jadi selain weekend, pulang sekolah pun kita gak bisa ketemu?"
"Iya, Yang," cicit Theo. "Maaf. Aku bener-bener gak bisa apa-apa."
Bian kesal bukan main. Mendadak hubungannya dengan Theo menjadi sangat melelahkan.
"Yang, tapi aku mohon, kamu jangan ajak aku putus. Aku tahu sekarang hubungan kita jadi kayak gini, tapi aku sayang banget sama kamu. Aku gak bisa kehilangan kamu. Sebisa mungkin aku bakal selalu kasih kabar buat kamu. Aku udah punya HP cadangan, itu bakal aku sembunyiin dari mama. Please, aku gak bisa kalau gak ada kamu." Theo meraih tangan Bian dan memberikan banyak kecupan pada tangan yang tengah digenggamnya.
Bian menghembuskan nafasnya panjang. "Aku juga sayang banget sama kamu. Tapi kenapa sih harus kayak gini," balas Bian kecewa. Namun kesalnya sedikit mereda, bukan salah Theo juga semuanya harus jadi seperti ini.
"Makasih, Yang, kamu udah ngertiin aku."
Theo pun mendekat dan mengecup bibir Bian. Lalu ia segera menjauh. "Yang, ini kita gak apa-apa ada di sini? Kenapa kamu bisa minjem kunci ruangan ini dari Pak Saga?"
Bian agak sedikit gelagapan. "Itu... Karena aku pernah ditegur sama Kak Saga, soalnya 'kan kita sering kelihatan bareng, pegangan tangan, di lingkungan sekolah. Kata Kak Saga daripada gitu, kalau mau ngobrol sambil pegangan tangan kayak gitu, mending pinjem ruangan ini aja, cuma dia bilang kita tetep harus jaga batasan."
"Oh gitu..."
"Tapi kalau pulang sekolah kita gak bisa ketemu lagi, weekend kita gak bisa ketemu lagi. Ditambah sekarang kita lagi jamkos..."
Belum selesai Bian berbicara, Theo sudah tahu apa yang Bian akan katakan. Hingga Theo pun mulai mencium Bian dan mereka melakukannya pagi itu.
mending td ga usah ditolongin aja, biar kamu terbebas dr obsesi ibu yg ga ada akhlaknya itu