NovelToon NovelToon
Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romansa Fantasi / Cinta Terlarang / Obsesi / Perperangan / Dark Romance
Popularitas:838
Nilai: 5
Nama Author: HOPEN

Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Season 2 : Waktu Yang Berlalu

Waktu bergulir melampaui ambang pintu.

Tahun 723,

Membawa transformasi yang signifikan bagi penghuni kediaman Grozen. Dua tahun waktu yang lama bagi mereka yang membawa darah fana biasa. Namun bagi mereka kaum supranatural abadi, periode ini adalah fase akselerasi yang krusial.

Cloudet tidak lagi tampak seperti balita yang ringkih. Pertumbuhannya melesat jauh melampaui logika manusia fana biasa, di usianya yang secara kronologis baru menyentuh angka empat tahun, visualnya telah setara dengan gadis kecil berusia sepuluh tahun.

Kecantikannya mulai memahat diri dengan tegas garis rahang yang halus, mata kuning keemasan yang jernih, dan rambut hitam yang jatuh layaknya awan malam. Ia bukan lagi Cloudet yang pasif dan malas; ia telah berevolusi menjadi sosok yang dinamis, tanggap, dan yang paling menguras energi Calix, seorang pemberontak kecil yang cerdas.

Di sisi lain, Calix telah menanggalkan sisa-sisa wajah remajanya.

Dalam dua tahun, transformasinya dari pemuda enam belas tahun menjadi pria dengan rupa berusia dua puluh tahun tampak begitu dominan.

Postur tubuhnya tegap dengan bahu lebar yang kokoh, dibalut pakaian hitam yang selalu rapi namun fungsional. Gaya rambutnya yang messy—hitam pekat dan sengaja dibiarkan sedikit berantakan, memberikan kesan maskulin yang liar namun berkelas.

Pikirannya kian dewasa, namun ironisnya, beban hidupnya justru terasa kian berat. Menjadi pengawal sekaligus "pengasuh" di mansion ini adalah tugas yang lebih melelahkan.

Sore itu, taman samping mansion menjadi saksi bisu pengejaran yang tidak seimbang namun penuh drama.

"Berhenti di sana, Cloudet! Aku bersumpah, jika aku berhasil menangkapmu, kau tidak akan melihat cahaya matahari sampai besok!"

teriak Calix, suaranya kini lebih berat dan berwibawa, namun jelas mengandung nada frustrasi yang kental.

Cloudet tertawa nyaring, sebuah suara merdu yang memicu denyut di pelipis Calix.

“Kejar aku kalau bisa, Kakek Tua! Sarung tangan ini terlalu bagus untuk tangan kasarmu!"

Dengan lincah, Cloudet melompat ke arah pohon ek tua dan mulai memanjat dengan kecepatan predator.

Namun, Calix tidak lagi seceroboh dua tahun lalu. Sebelum Cloudet sempat meraih dahan yang lebih tinggi untuk menghilang di balik rimbunnya daun, tangan besar Calix melesat dan mencengkeram pergelangan kakinya dengan akurasi yang mematikan.

Calix berdiri di bawahnya, mendongak dengan senyum miring yang berbahaya. Sudut matanya berkedut, menahan emosi yang bergejolak antara ingin marah dan rasa gemas yang tak masuk akal.

"Mau lari ke mana lagi kau, hah?" desis Calix, suaranya rendah namun mengintimidasi.

"Kembalikan sarung tangan itu sekarang, atau aku akan menggantungmu terbalik di pohon ini."

Cloudet terengah, wajahnya memerah karena adrenalin. Ia menatap ke bawah, menyadari bahwa cengkeraman Calix pada kakinya tak tergoyahkan.

Alih-alih menyerah, sebuah ide gila yang berisiko tinggi terlintas di benak cerdiknya.

Tanpa peringatan, ia melepaskan pegangan tangannya pada dahan pohon dan sengaja menjatuhkan seluruh berat tubuhnya ke bawah—tepat ke arah Calix.

"Cloudet—!"

Calix tersentak kaget. Secara instingtual, ia tidak menghindar. Ia justru merentangkan kedua tangannya dengan sigap untuk menangkap tubuh adiknya.

Benturan itu cukup keras hingga membuat mereka berdua terjatuh ke atas hamparan rumput hijau yang empuk. Calix mendarat dengan punggungnya terlebih dahulu, sementara Cloudet tertawa puas terbaring di atas dadanya.

Amarah Calix sebenarnya sudah berada di ubun-ubun, siap meledak dalam bentuk omelan panjang.

Namun, ketika ia melihat wajah Cloudet yang bersinar penuh kemenangan dari jarak sedekat ini, amarah itu luruh seketika, menguap ditelan kehangatan yang asing.

Calix terkekeh rendah, sebuah tawa maskulin yang terdengar tulus. Ia tidak melepaskan Cloudet; justru ia mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil adiknya itu, membenamkan wajahnya sejenak di perpotongan leher Cloudet.

Secara spontan, Calix mengecup pipi Cloudet dengan gemas, sebuah tindakan protektif yang menunjukkan bahwa seberapa pun menyebalkannya Cloudet, ia tetaplah pusat dari alam semesta nya.

"Kau benar-benar anak nakal,"

gumam Calix di sela tawanya, sementara Cloudet hanya mendengus bangga, akhirnya menyerahkan sarung tangan hitam tanpa kari itu ke tangan pemiliknya.

Di kejauhan, dari balkon lantai dua, Jover mengamati momen itu dalam diam sambil tersenyum lembut. Sebuah pemandangan yang langka, di mana dua anak nya malam itu bisa berbagi kebahagiaan sederhana di bawah langit pagi yang damai.

...----------------...

Momen hangat di taman itu terputus secara instan. Di tengah tawa kemenangannya, telinga Cloudet tiba-tiba berkedut tajam. Kemampuan pendengaran hellhound-nya yang superior menangkap sebuah frekuensi yang melintasi jarak dinding-dinding tebal mansion—sebuah lengkingan halus yang bagi orang biasa mungkin hanya terdengar seperti deru angin, namun bagi Cloudet, itu adalah alarm prioritas.

Edeline menangis.

Tanpa sepatah kata pun, Cloudet melepaskan diri dari dekapan Calix dengan kelincahan seorang pemangsa. Ia melesat, kakinya nyaris tak menyentuh rumput saat ia berlari menuju pintu samping mansion.

Calix yang masih terbaring di tanah hanya bisa menghela napas panjang sembari membersihkan sisa rumput di pakaiannya, menyadari bahwa di hadapan Edeline, otoritasnya sebagai kakak selalu kalah telak.

Cloudet menaiki tangga dengan kecepatan yang mustahil bagi anak seusianya, melintasi lorong-lorong dengan presisi hingga ia tiba di depan kamar utama.

Ia mendorong pintu yang sedikit terbuka dan langsung menuju pusat ruangan.

Di sana, di bawah cahaya sore yang menembus jendela kaca besar, Irina sedang berdiri, mengayun pelan sembari menimang sosok mungil dalam dekapannya. Edeline kecil, berusia dua tahun, sedang meronta dengan wajah memerah dan isakan yang mulai mereda menjadi rengekan manja.

Tanpa ragu, Cloudet melompat naik ke atas ranjang besar yang empuk. Ia merangkak mendekat, wajahnya yang biasanya dipenuhi seringai nakal kini berubah menjadi sangat serius dan lembut.

Ia memposisikan dirinya tepat di depan Irina, menatap langsung ke dalam mata biru jernih milik Edeline.

"Edeline... aku di sini,"

bisik Cloudet, suaranya yang biasanya lantang kini merendah, menenangkan.

Begitu mata Edeline menangkap bayangan Cloudet, keajaiban kecil terjadi. Isakannya berhenti seketika. Bibir mungilnya yang bergetar perlahan melengkung membentuk senyum lebar yang memperlihatkan deretan gigi susunya yang rapi.

Dengan tawa kecil yang renyah, Edeline menjulurkan tangan-tangan mungilnya yang gempal, berusaha meraih apa pun yang ada di hadapannya.

Hup!

Tangan mungil Edeline berhasil menangkap salah satu telinga hellhound Cloudet yang mencuat di sela rambut hitamnya.

Ia menariknya dengan gemas, sebuah tarikan yang cukup kuat hingga membuat kepala Cloudet sedikit miring ke depan.

Alih-alih merasa sakit, Cloudet justru membiarkan dirinya ditarik, matanya berkilat penuh kasih sayang.

Edeline tertawa semakin keras, tubuhnya menggeliat hebat dalam usaha untuk melepaskan diri dari pelukan Irina. Ia ingin turun, ingin menyentuh rambut hitam lembutnya itu lebih dekat lagi.

Irina tertawa kecil, suara tawanya hening dan penuh kelegaan. Ia merasakan beban di tangannya menjadi lebih ringan saat melihat interaksi kedua malaikat kecil ini.

Dengan gerakan lembut, ia membiarkan Edeline bersandar manja pada Cloudet di atas kasur.

"Aduh, anak ini... benar-benar terlalu aktif,"

ucap Irina lembut, jemarinya menyisir rambut perak Edeline yang berkilau.

“Sepertinya dia memang tidak bisa jauh darimu, Cloudet. Kau adalah salah satu orang paling dia sukai di dalam mansion ini."

Cloudet hanya tersenyum tipis, ia membiarkan Edeline memeluk lehernya dan terus memainkan telinganya.

Nampaknya, Edeline kecil sangat menyukai bulu dan rambut Cloudet yang selembut awan malam.

Bersambung

1
Im_Uras
🤭🤭
Im_Uras
😍
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
lucu itu.. namanya juga masih masa pertumbuhan🤭🙏
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
wah.. pasti cakep banget
j_ryuka
namanya juga anak-anak
Tulisan_nic
ikut aku aja cloudet
Tulisan_nic
unyu banget,🫣
chrisytells
Kalau nggak keras, bukan kepala namanya 🤭😄
chrisytells
Udah otot kawat, tulang besi dari sononya nih si Cloudet
chrisytells
Gimana rasanya tuh, ditempelin? 🤣
Panda%Sya🐼
Benar kamu harus tumbuh jadi kuat
Blueberry Solenne
Cloudet masih masa pertumbuhan dan bimbingan orang dewasa, dan seusia dia lagi Lucu-lucunya
Vanillastrawberry
kasian nggak tau wajah ibunya 😥
Mentariz
siapp ntar kamu akan jatuh hati padanya😁
Mentariz
Kekuatannya emang gak main-main yaa 😂
Mentariz
Wuuiihh pasti cantik banget nih cloudet😄
j_ryuka
nyebelin tapi lucu
chrisytells
Iseng banget sih🤣
chrisytells
Udah nakutin, body shaming lagi😄
chrisytells
Nggak kebayang gimana karakternya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!