Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.
Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.
Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Greta Keluar Diam-diam
Cahaya mentari naik perlahan, membangunkan Greta yang tidur ditengah-tengah kedua orang tuanya.
Langit di luar jendela masih belum sepenuhnya pagi. Cahaya tipis menyelinap di antara tirai, cukup untuk menerangi lantai batu yang dingin.
Di ranjang besar itu, Arion dan Chelyne masih tertidur. Napas mereka teratur, meski Chelyne sesekali terbatuk pelan, seperti malam-malam sebelumnya.
Greta duduk perlahan diatas ranjang.
Ia menoleh ke arah kedua orang tuanya, memastikan tak ada yang bergerak.
Dunia baginya masih sederhana. Ia belum mengenal kata bahaya, belum memahami larangan.
Yang ia tahu hanyalah ingatan tentang air yang berkilau, suara gemericik yang menyenangkan, dan cahaya pagi yang kemarin membuat hatinya berdebar senang.
Dengan langkah kecil dan hati-hati, Greta turun dari ranjang.
Ia dengan berani membuka pintu kamar perlahan. Engsel tua itu nyaris tidak bersuara, seolah ikut menjaga rahasianya. Lorong castle masih sepi. Tak ada pengawal berjaga di bagian dalam pada jam sedini ini.
Greta berjalan sendiri. Langkah kakinya membawa ia keluar dari castle, melewati halaman dalam, menuju tempat yang ia ingat dengan jelas.
Air pancuran tua yang Ia kunjungi bersama ayahnya kemarin. Saat Greta tiba, embun masih ada di batu-batu tua.
Ia mendekat ke air pancuran, menepuk-nepuk permukaannya seperti kemarin. Tawa kecil keluar dari bibirnya. Namun kali ini, ia tidak sendiri.
Kupu-kupu kaca bening mulai berdatangan. Sayap kupu-kupu itu nyaris seperti tak terlihat.
Greta menengadah, matanya berbinar. Ia tertawa, mencoba menangkap salah satunya, tapi tangannya hanya menyentuh udara.
Tak lama kemudian, makhluk lain datang. Seekor capung jarum berwarna biru hinggap di ujung jari Greta. Lalu kumbang koksi kecil merayap di atas batu dekat kakinya.
Greta jongkok, mengamati dengan penuh rasa ingin tahu. Ia tidak mencubit, tidak menginjak. Ia hanya menatap, lalu membiarkan mereka bergerak bebas di sekelilingnya.
Pagi itu, Grace sudah berada di dapur castle. Ia datang lebih awal dari biasanya. Ada kebiasaan lama yang masih ia pegang, datang sebelum Ratu Chelyne bangun.
Saat membawa keranjang berisi bahan dapur melewati halaman, langkahnya terhenti. Grace melihat Greta diluar castle sepagi ini.
Putri kecil itu berdiri sendirian di dekat air pancuran, dikelilingi kupu-kupu bening yang berkilau seperti kaca. Capung jarum dan kumbang kecil bergerak di sekitarnya, seolah dunia kecil itu tunduk pada kehadiran Greta.
"Ya Tuhan..." bisik Grace.
Rasa panik langsung menyergapnya. Ia melangkah cepat, takut Greta terluka, takut sesuatu yang tak terlihat terjadi. Namun saat ia mendekat, kupu-kupu itu langsung bergerak menjauh.
Mereka terbang naik, menyebar ke udara, lalu kembali mengepakkan sayap di area castle tanpa pergi meninggalkan Greta.
Greta menoleh ke arah Grace, gadis kecil itu tersenyum polos. Grace lalu berhenti dan tangannya gemetar sedikit. Apa yang baru saja ia lihat terlalu nyata untuk diabaikan, terlalu tenang untuk disebut kebetulan.
Mitos itu kembali terlintas di kepalanya. Tentang anak dengan mata berbeda. Tentang makhluk bening yang hanya muncul pada mereka yang dilahirkan di antara dua takdir.
Grace menunduk sedikit. Ia tidak berkata apa-apa pada Greta. Hanya tersenyum tipis, lalu berbalik menuju dapur, membawa pertanyaan yang tidak berani ia ucapkan.
"Kau dari mana?" tanya salah satu pelayan yang sudah menunggu Grace didapur sejak tadi
Grace berusaha menenangkan diri dan menjawab pertanyaan itu dengan hati-hati supaya Ia tidak keceplosan lagi.
"Tadi ada ketinggalan, aku kembali ke rumahku sebentar." Ujarnya berbohong.
Pelayan itu mengangguk dan percaya saja.
"Grace, tadi malam aku mendengar batuk ratu yang semakin parah. Aku takut ada sesuatu yang terjadi pada ratu." Ujar pelayan itu
"Aku rasa kita harus lebih memperhatikan ratu." Balas Grace
...****************...
Di kamar kerajaan, Arion terbangun mendadak. Tangannya meraba sisi ranjang dan kosong. Ia langsung duduk.
"Greta?" panggilnya, suaranya penuh panik.
Chelyne terbangun, batuk kecil menyertai gerakannya.
"Ada apa, Arion?"
"Greta tidak ada," kata Arion, sudah berdiri.
Ia membuka pintu kamar dengan cepat, menyusuri lorong, memanggil nama putrinya.
Ketakutan lama kembali menyesakkan dadanya.
Namun sebelum ia melangkah lebih jauh, seseorang muncul dari ujung lorong. Itu putranya, Thaddeus.
Di tangannya, Greta digendong. Putri kecil itu tertawa kecil, sama sekali tidak sadar akan kepanikan yang baru saja terjadi.
"Ayah," kata Thaddeus panik.
"Dia keluar sendiri. Aku menemukannya di air pancuran."
Arion menghampiri mereka, memeluk Greta erat.
"Jangan pernah keluar tanpa ayah," katanya, suaranya tegas tapi gemetar.
Greta menatap ayahnya, lalu mengangguk kecil, meski belum sepenuhnya paham.
Thaddeus memperhatikan tangan Greta.
"Apa itu?" tanyanya.
Greta menunjukkan kumbang koksi kecil yang kini berada di telapak tangannya.
"Buang saja," kata Thaddeus. "Itu serangga."
Greta menggeleng. Ia memeluk tangannya, melindungi kumbang itu.
Akhirnya, di kamar, Greta memasukkan kumbang koksi ke dalam toples kecil. Ia memberi dedaunan dan lubang udara.
Untuk capung, ia terpaksa melepaskannya kembali ke luar jendela. Ia menatap lama saat capung itu terbang pergi, seolah mengerti perpisahan.
Arion akhirnya duduk, napasnya mulai tenang.
Chelyne kembali terbatuk, kali ini lebih lama.
"Greta, kau dari mana sayang?" tanya Chelyne yang masih terbaring diranjang.
Greta menghampiri ibunya, Ia tak menjawab, hanya menunjukkan kumbang koksi yang didapatkannya tadi.
"Kau menyukai itu?" tanya Chelyne sambil mengelus kepala Greta
"Iya" kata Greta singkat.
Batuk itu kembali menerjang Chelyne, Ia sengaja mendorong Greta menjauh darinya.
Arion menoleh.
"Thaddeus, tolong panggilkan Bibi Grace."
Tanpa bantahan, Thaddeus lalu pergi ke dapur dan memanggil Grace ke kamar mereka.
"Grace," panggil Arion
"Tolong buatkan air jahe lagi." Pintanya
Grace mengangguk, meski matanya sempat melirik Greta dengan ragu.
"Baik, tuan." Balasnya
Dengan sigap, Grace dan satu pelayan lagi membuatkan air jahe hangat untuk ratu.
Pelayan itu sekilas melihat Grace seperti memasukkan cairan mirip madu ke dalam air jahe itu yang sedang mendidih.
"Apa itu?" tanya pelayan itu ragu
Grace langsung terkesikap.
"Bukan apa-apa." Jawabnya.
Sekitar tiga puluh menit, air jahe itu sudah matang lalu Grace membawakannya ke kamar ratu.
"Yang Mulia, ini air jahenya sudah saya buatkan."
Arion membantu istrinya untuk duduk dan menyandarkannya pada ranjang.
Chelyne meminum perlahan air jahe itu sambil menghembuskannya sesekali.
"Apakah masih terlalu panas, Yang Mulia?" tanya Grace memasikan
"Tidak. Ini sudah pas." Balas Chelyne.
Setelah meminum satu gelas air, Chelyne menyerahkan gelas kosong itu pada Grace lalu ia permisi untuk kembali ke dapur.
Greta mendekati ibunya yang duduk lemas.
"Ibu kenapa?" tanya putrinya dengan mata polos itu.
Chelyne mengelus pelan kepala Greta.
"Hanya batuk ringan, sayang." Ujar Chelyne
Di luar jendela, beberapa kupu-kupu kaca bening kembali beterbangan seolah-olah menjaga Greta dari jarak jauh.
Arion kembali memperhatikan kupu-kupu itu, mitos itu kembali teringat dikepalanya.