"Apa? Anak perempuan lagi? Jika begini terus, maka kamu harus kembali hamil dan melahirkan anak laki-laki untuk ku."
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapi. Sebagai seorang istri yang baik, kamu harus menuruti semua perkataan suami mu ini."
"Ya. Baiklah."
Nasib baik tidak berpihak pada seorang wanita yang bernama Seruni. Ia di tuntut untuk terus melahirkan anak oleh suami nya. Di karenakan, ia belum bisa melahirkan anak laki-laki. Suami nya sama sekali tidak pernah membantu nya. Dengan lima anak perempuan yang masih kecil, wanita itu berjuang sendirian. Hingga akhir nya anak ke 6 lahir dan malapetaka itu pun terjadi. Seruni menyerah. Ia pergi dengan anak-anak nya meninggalkan sang suami yang sibuk dengan wanita lain.
Bagaimana kah perjalanan Seruni dan anak-anak nya?
Jangan lupa berikan komentar supaya author nya tambah semangat.
Terima kasih dan selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uul Dheaven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Hampir setiap hari pertengkaran itu terjadi. Seruni tidak tahu lagi harus melakukan apa supaya suami nya bisa ikhlas menerima takdir yang selama ini mereka jalani.
Janji manis di awal pernikahan dahulu, kini tinggal lah kenangan. Seruni terduduk sendirian sambil memangku bayi yang baru beberapa hari melihat dunia itu. Sungguh sangat kasihan, karena ia terlahir di keluarga yang ayah nya tidak menganggap nya.
"Maafkan ibu, nak. Ibu tidak bisa membuat Ayah mu bahagia."
Hiks
Seruni tersedu-sedu di malam itu. Bayi mungil yang masih belum mengerti apapun, hanya bisa melihat wajah sang Ibu.
"Bu, kenapa Ibu menangis? Apa karena Ayah?" Si sulung terbangun. Dan mungkin saja, ia sudah sejak tadi tidak bisa tertidur.
"Tidak, nak. Mata ibu kelilipan. Tadi ada debu."
"Ibu jangan bohong. Rima dengar semua apa yang tadi Ayah katakan. Adik-adik juga tahu kok kalau Ayah tidak suka kami. Ayah kan mau nya anak laki-laki.
"Rima sayang, jangan pikir hal yang tidak perlu kamu pikirkan. Yang penting, Ibu sayang kamu. Sekarang, tidur lah. Besok, kamu harus sekolah. Ibu tidak mau anak ibu terlambat besok."
"Tapi, kalau Rima sekolah, siapa yang jaga dan bantuin Ibu?"
"Ibu sudah kuat. Rima harus sekolah dan jadi pintar. Kalau Rima pintar, Ayah pasti bangga."
"Baiklah, Bu. Rima tidur dulu."
Rima pun kembali ke kamar nya. Sedangkan Seruni, akan berjaga malam itu. Ia harus memikirkan bagaimana uang yang diberikan suami nya cukup untuk semua anak-anak nya.
Seruni harus bangkit, ia tidak boleh manja. Rencana nya besok, ia akan memulai kembali aktivitasnya. Dengan modal ponsel butut, ia masih bisa mendapatkan pelanggan yang menyukai kue-kue buatan nya.
Dari sana lah Seruni bisa membiayai hidup anak-anak nya yang saat ini menjadi tanggungan nya sendiri.
Bagi wanita yang tidak berpendidikan tinggi seperti nya, hanya bisa melakukan pekerjaan berat seperti itu.
Syukurlah banyak yang menyukai kue-kue buatan Seruni karena enak. Kue-kue tradisional itu ternyata masih di minati oleh para warga yang tinggal di kota. Terbukti jika mereka masih memesan kue-kue itu ketika ada sebuah acara di tempat mereka.
Seruni pun melihat apa saja yang harus di siapkan untuk membuat kue. Syukur lah masih ada sedikit bahan untuk ia titipkan di warung yang ada di pinggir jalan.
Malam itu, ia siapkan bahan seadanya untuk pembuatan kue besok. Bagi Seruni, anak-anak itu adalah tanggung jawab nya. Jika suami nya tidak peduli, maka ada diri nya yang akan selalu ada untuk anak-anak nya.
*****
Keesokan hari nya, Seruni sudah siap menyelesaikan pekerjaan nya di pagi hari. Dua anak nya sudah bersiap untuk pergi ke sekolah.
Rima duduk di bangku kelas satu sekolah dasar. Sedangkan Tari, sekolah di taman kanak-kanak yang tidak jauh dari rumah mereka.
Dengan sarapan seada nya, mereka semua makan dengan lahap. Walaupun kekurangan, tempe, tahu dan telur pasti akan di usahakan oleh Seruni untuk makan anak-anak nya itu.
"Bu, mau kemana? Ibu mau jualan kue?"
"Enggak sayang. Ibu hanya menitipkan kue-kue ini di warung depan jalan. Kebetulan ada sisa bahan buat kue. Habis ini, Ibu mau sekelian belanja."
"Bu, maafkan Rima. Seandainya Rima udah besar, pasti Rima akan membantu Ibu. Jadi, Ibu bisa istirahat di rumah sambil menjaga adik."
"Sayang, kamu anak Ibu. Kamu jadi tanggung jawab Ibu. Ibu berdosa jika menelantarkan kalian."
"Apa Ayah juga akan berdosa? Pasti dosa Ayah lebih besar kan, Bu."
Seruni tertegun saat mendengar apa yang dikatakan oleh anak nya. Ia tidak menyangka jika Rima bisa berpikir demikian. Memang, umur nya baru 6 tahun. Tapi, anak sulung nya itu begitu dewasa.
"Sudah. Jangan di bahas lagi. Sekarang waktu nya sekolah. Nanti kalian telat."
"Baik, Bu. Kami pergi dulu."
Dengan berjalan kaki, mereka pergi ke sekolah. Seruni selalu mengantar kan anak-anak nya sendiri sambil menikmati udara di pagi hari.
Setelah selesai mengantar dua anak nya ke sekolah, kini ia akan mampir ke warung untuk menitipkan dagangan nya.
"Loh, ini bayi siapa?" Tanya si pemilik warung.
"Ini bayi ku loh."
"Bayi mu? Kamu sudah melahirkan? Kapan?"
"Itu, beberapa hari yang lalu."
"Runiiii,,, Runiii,, kamu baru lahiran kok ya udah jalan-jalan dan buat kue. Anak mu udah lima loh nduk. Kamu masih sanggup apa mengurus mereka?"
"Ya mau gimana lagi Buk Jum. Suami ku pengen anak laki-laki."
"Lah terus, Kowe mau? Kamu masih cantik, pinter buat kue. Ngurus anak pun oke. Tinggal kan aja laki-laki bodoh mu itu, Runiiiii."
Buk Jum si pemilik warung berbicara dengan gemas. Sudah sejak lama ia tahu tentang suami nya Seruni. Ia begitu kesal pada laki-laki yang hanya mementingkan diri nya sendiri.
"Astaghfirullah Buk eee. Nggak boleh bicara hal seperti itu. Dosa. Allah SWT tidak menyukai yang nama nya perceraian."
"Runi,, buka mata mu lebar-lebar. Jika suami sudah tidak menafkahi istri, kamu bisa minta cerai."
"Tapi, Bang Hamdan masih menafkahi ku."
"Berapa rupa nya uang dari nya? Kok kamu masih jualan dan berjalan kaki sendirian ke sana ke mari."
"Lima ratus ribu sebulan."
"Apa? Lima ratus ribu sebulan dengan kalian yang serame ini? Runi, kamu mau mati muda? Trus, kalau kamu mati, siapa yang akan ngurus anak-anak mu ini."
Seruni terdiam. Bukan satu dua orang yang sudah menasehati diri nya. Namun, ia bukan nya tidak mendengar kan nasehat itu. Jika ia bercerai dengan Hamdan, kemana ia harus pergi.
Ia tidak memiliki apapun. Orang tua nya di desa pun sakit-sakitan saat ini. Ia tidak ingin menyusahkan siapapun jika ia harus pergi dari kehidupan sang suami. Lalu bercerai, bagaimana cara nya pun ia tak tahu.
Saat Seruni sedang berada di warung itu, Mobil suami nya lewat. Namun, yang paling membuat nya sakit hati adalah, di samping sang suami ada seorang wanita cantik yang sedang duduk di samping nya.
Bukan itu saja, seorang anak laki-laki pun ikut duduk di belakang. Seruni bisa melihat hal itu karena kaca mobil di buka. Mobil itu pun berjalan dengan perlahan karena macet.
"Ibu, itu Ayah. Kok Ayah dengan perempuan lain? Ayo, Bu. Kita panggil."
Anak-anak nya Seruni memanggil Ayah mereka. Namun, pria itu hanya melihat sekilas Seruni lalu membuang muka.
"Sudah anak-anak. Jangan di panggil lagi. Ayah kalian sudah kena virus anjing gila. Lebih baik, kalian jangan dekat-dekat dulu."
"Hah! Anjing gila? Apa itu Ibu?"
Dua wajah polos kini menatap Seruni. Seruni tidak tahu harus berkata apa. Saat ini, Hamdan benar-benar menyakiti nya begitu dalam. Entah lah, apakah ia dan Hamdan memang harus bercerai? Lalu, siapa yang akan membantu nya....
bersinar 😮
sebentar lagi baru akan paham apa arti
dari semua kejadian yang sudah dia lakukan terhadap anak istri