NovelToon NovelToon
Kehidupan Yang Tercuri

Kehidupan Yang Tercuri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Misteri / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Mata Batin
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.

Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Jam Dinding Mati

Langkah kaki Arlan tidak lagi menghasilkan suara. Saat ia keluar dari celah pintu besi Hotel Memoria menuju koridor lantai dasar Blok Apartemen Sektor Tujuh, ia merasa seolah-olah baru saja melompat ke dalam sebuah foto tua yang dibekukan. Udara di lobi itu tidak lagi bergerak; partikel debu menggantung statis di udara seperti bintik-bintik perak yang dipaku oleh gravitasi yang rusak. Arlan berhenti, paru-parunya terasa kaku saat mencoba menarik napas manual di tengah atmosfer yang sepadat gelatin.

"Dante? Kau masih di sana?" bisik Arlan.

Suara itu mati hanya beberapa sentimeter di depan bibirnya. Tidak ada gema. Tidak ada pantulan. Lobi apartemen ini telah menjadi zona hampa akustik total yang diperparah oleh pembekuan temporal. Arlan menoleh ke arah dispenser air di sudut ruangan. Sebuah tetesan air menggantung di ujung keran, memanjang namun menolak untuk jatuh, berkilau seperti permata cair yang terjebak dalam detik abadi.

Di dekat lift, seorang wanita penghuni apartemen berdiri dengan satu kaki terangkat, wajahnya terhenti dalam ekspresi tawa yang lebar. Namun, tanpa suara tawa dan tanpa gerakan mata, ekspresi itu justru terlihat seperti teriakan bisu yang mengerikan. Arlan merasakan suhu tubuhnya merosot drastis—bukan karena pendingin ruangan, melainkan karena efek endotermik lokal yang sedang menyedot kehidupan dari area ini.

"Kenapa kau masih bergerak, Nak?" sebuah suara lembut, namun tanpa nada, muncul di benaknya—bukan di telinganya.

Arlan tersentak. Ia melihat bayangan dirinya di lantai marmer. Bayangan itu tidak mengikuti gerakannya; bayangan itu tetap berdiri diam di posisi saat Arlan pertama kali masuk. Ia menyadari kulit lengannya mulai memucat, berubah menjadi abu-abu kusam seperti semen kering.

"Aku tidak akan membiarkan kalian menghentikan waktuku," gumam Arlan.

Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan jam pegas mekanik milik ayahnya. Jarum detiknya masih bergerak, mengeluarkan bunyi tik-tok yang sangat lirih namun terasa seperti dentuman meriam di tengah kesunyian yang mencekam. Arlan menutup matanya, memfokuskan seluruh kesadarannya pada bunyi mekanik itu.

"Satu... dua... tiga..." Arlan mulai menghitung napasnya, menyinkronkannya dengan gerakan roda gigi jam tersebut.

Setiap kali jarum jam berdetak, Arlan merasakan sensasi hangat mengalir dari telapak tangannya menuju dadanya. Ini adalah strategi ketiga: jika dunia berhenti, ia harus menciptakan dunianya sendiri di dalam pikirannya. Selama jantungnya berdetak dalam irama yang sama dengan jam analog itu, sistem penghapusan Eraser tidak bisa sepenuhnya membekukannya.

"Arlan... segera... ke lobi... belakang..." Suara Dante muncul sekejap di komunikator, pecah dan terdistorsi parah.

"Dante! Aku terjebak! Semuanya membeku!"

"Gunakan... jam itu... sebagai jangkar... waktu adalah... persepsi... jangan... percaya... pada mata..."

Arlan membuka matanya kembali. Ia melihat seorang petugas kebersihan di dekat tangga darurat yang sedang memegang sapu. Mata petugas itu terbuka lebar, namun bola matanya tidak memiliki pembuluh darah; hanya ada lapisan perak yang halus. Saat Arlan melangkah melewatinya, ia merasa seolah-olah sedang menembus lapisan es tipis yang tidak terlihat.

"Kau membawa beban yang berat, Kurir. Lepaskan koin itu, maka kau bisa beristirahat dalam detik yang indah ini," bisik suara itu lagi, kali ini terasa lebih dekat.

"Istirahat kalian adalah kematian bagi mereka yang ingin hidup!" balas Arlan dalam hati.

Ia melihat ke arah jam dinding besar di atas meja resepsionis. Jarumnya berhenti tepat di angka dua belas, namun anehnya, bayangan jarum itu di tembok terus bergerak mundur dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Arlan menyadari bahwa Eraser tidak hanya menghentikan waktu; mereka sedang mencoba memutar balik eksistensi blok ini untuk menghapusnya dari sejarah.

"Dilema martabat... jika aku lari sekarang, wanita itu akan terhapus selamanya," Arlan menatap penghuni apartemen yang membeku.

Ia mendekati wanita itu, mencoba menyentuh tangannya. Kulitnya terasa seperti es padat. Arlan merasakan koin perak di sakunya bergetar hebat, mengeluarkan rasa pedih yang menusuk tulang. Koin itu seolah-olah berteriak menentang pembekuan ini.

"Maafkan aku... aku belum cukup kuat untuk membawa kalian semua," bisik Arlan, matanya memanas.

Rasa bersalah menghantam batinnya. Sebagai kurir, tugasnya adalah memastikan kiriman sampai ke tujuan. Tapi sekarang, ia dipaksa menjadi saksi atas pengiriman manusia yang digagalkan oleh sistem. Tangannya gemetar hebat saat ia menarik diri. Ia tahu jika ia tetap di sana lebih lama, jam mekaniknya akan kalah oleh tekanan temporal yang kian masif.

"Tetaplah bernapas, Arlan. Jangan biarkan ritmenya hilang," perintahnya pada diri sendiri.

Ia mulai berlari menuju tangga darurat, namun setiap langkah terasa seperti sedang mendaki gunung yang sangat curam. Gravitasi di zona ini menjadi tidak stabil; terkadang kakinya terasa sangat ringan hingga ia hampir melayang, namun di detik berikutnya, ia merasa seberat timah.

Di tangga darurat, ia melihat uap napasnya sendiri menggantung di depan wajahnya, mengkristal menjadi butiran es kecil yang jatuh ke lantai dengan bunyi gemerincing yang aneh. Arlan menatap jam pegasnya. Jarumnya mulai melambat. Minyak di dalam roda gigi jam itu tampaknya mulai membeku.

"Jangan berhenti... tolong, jangan sekarang..." pinta Arlan.

Ia mendekatkan jam itu ke dadanya, mencoba memberikan panas tubuhnya yang tersisa pada logam tua tersebut. Ia teringat ayahnya yang selalu membersihkan jam ini setiap minggu pagi di meja makan Sektor Tujuh yang kini sudah hilang. Kenangan itu—panasnya sinar matahari pagi dan aroma kopi ibu—menjadi bahan bakar emosional yang ia suntikkan ke dalam kesadarannya.

Tik.

Jarum jam itu bergerak satu langkah lebih kuat. Arlan merasakan gelombang kejut kecil terpancar dari jam tersebut, memecahkan kebekuan di sekelilingnya sejauh satu meter. Ia segera memacu kakinya, menaiki anak tangga satu demi satu.

"Kau tidak bisa lari dari keabadian, Arlan!" sebuah bayangan hitam muncul di dinding tangga, memanjang dan bergerak mendahuluinya meskipun tidak ada sumber cahaya yang jelas.

"Keabadian kalian hanyalah penjara tanpa jiwa!" teriak Arlan.

Ia mencapai lantai dua dan melihat sebuah pemandangan yang membuatnya tertegun. Pintu-pintu apartemen di koridor ini mulai memudar, berubah menjadi transparan seperti kaca yang ditiup. Di dalam kamar-kamar itu, ia bisa melihat warga asli yang tertidur, tidak menyadari bahwa dinding realitas mereka sedang dikuliti oleh sistem.

"Dante! Aku di lantai dua! Semuanya mulai menghilang!"

"Cari... Satpam... asli... dia punya... sesuatu..."

Arlan teringat petugas satpam asli yang ia lihat di lobi bawah pada bab sebelumnya—sosok yang matanya mengeluarkan cairan perak. Namun, Dante menyebutkan satpam asli. Arlan menyadari bahwa di gedung yang penuh salinan ini, pasti ada setidaknya satu manusia lain yang bertahan selain dirinya.

Ia berlari menyusuri koridor yang kian samar. Suhu di sana turun hingga ia bisa merasakan bulu kuduknya membeku. Tiba-tiba, ia melihat sebuah pintu yang tidak transparan. Pintu itu terbuat dari kayu jati tua yang tampak sangat kokoh, sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya yang mulai menjadi digital.

"Di sini," gumam Arlan.

Ia mencoba memutar kenop pintu, namun terkunci. Ia tidak punya waktu untuk mencari kunci. Ia merogoh saku tasnya dan mengeluarkan salah satu koin perak memori yang ia miliki. Ia menempelkan koin itu ke lubang kunci.

"Buka..." perintahnya.

Koin itu bersinar biru redup, dan pintu itu terbuka dengan sendirinya. Di dalam ruangan sempit itu, Arlan menemukan seorang pria berseragam satpam yang sedang duduk di pojok ruangan, memeluk sebuah radio analog tua. Pria itu tidak membeku seperti yang lainnya, namun matanya menatap kosong ke depan.

"Pak? Kau mendengarku?" Arlan mendekat perlahan.

"Waktunya sudah habis, Nak. Jam dinding sudah mati," ucap satpam itu dengan suara yang terdengar seperti gesekan amplas.

"Aku punya jam yang masih berdetak. Ikut aku!"

Satpam itu menoleh perlahan, dan saat itulah Arlan menyadari dilema yang sesungguhnya. Kaki satpam itu sudah menyatu dengan lantai beton; ia telah menjadi bagian dari struktur bangunan yang sedang dihapus.

Arlan berlutut di depan satpam itu, mengabaikan rasa dingin yang kini mulai merayap naik dari lantai beton ke lututnya. Ia melihat kaki pria itu perlahan-lapan kehilangan pigmennya, berubah menjadi substansi kelabu yang keras dan menyatu dengan pondasi gedung. Ini bukan sekadar pembekuan; ini adalah asimilasi materi.

"Pak, dengarkan aku. Aku tidak bisa membiarkanmu tetap di sini," ucap Arlan, suaranya bergetar menahan emosi yang memuncak.

Satpam itu tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang tampak sangat letih. "Aku sudah berjaga di sini sejak tahun dua ribu dua belas, Nak. Sejak api itu mencoba memakan kita semua. Aku tidak pergi saat itu, dan aku tidak akan pergi sekarang."

"Tapi gedung ini sedang dihapus! Kau akan hilang bersamanya!"

"Aku tidak akan hilang. Aku akan tetap berada di memori beton ini. Tapi kau... kau punya darah murni," satpam itu merogoh saku baju seragamnya dengan gerakan yang sangat lambat, seolah tangannya terbuat dari batu. "Ambil ini. Ini adalah beban yang tidak sanggup kubawa lagi."

Sebuah benda perak jatuh dari jemarinya yang kaku ke telapak tangan Arlan. Koin Perak Kedua. Begitu logam itu menyentuh kulit Arlan, sebuah gelombang kejut memori menghantam kepalanya. Arlan memejamkan mata, merasakan kilas balik kematian tragis satpam ini yang sebenarnya—bagaimana ia mencoba mengunci pintu darurat untuk menahan api agar warga di lantai atas bisa kabur, sementara ia sendiri terjebak di lobi.

"Kenapa kau memberikan ini padaku?" bisik Arlan, air mata menetes dan seketika membeku menjadi butiran kristal di pipinya.

"Karena kau adalah Kurir Barang Hilang. Tugasku sebagai penjaga sudah selesai. Sekarang, tugasmu adalah memastikan duka kami tidak menjadi sia-sia," satpam itu terbatuk, mengeluarkan serpihan perak dari mulutnya.

"Aku berjanji, Pak. Aku akan membawanya," Arlan menggenggam koin itu erat-erat. "Dante! Aku mendapatkan koin kedua! Tapi satpam ini... dia menyatu dengan gedung!"

"Arlan... segera keluar... zona pembekuan... akan mencapai... titik absolut..." suara Dante terdengar sangat lemah di tengah statik yang tajam.

"Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja!"

"Kau harus pergi, Nak!" teriak satpam itu, suaranya tiba-tiba menggelegar, memecahkan kesunyian hampa akustik di ruangan itu. "Jangan biarkan detak jam ayahmu berhenti karena rasa kasihan yang salah tempat! Lari!"

Arlan berdiri dengan sentakan yang menyakitkan. Ia menatap pria tua itu untuk terakhir kalinya. Di bawah cahaya lampu neon yang berkedip hijau-kebiruan, sosok satpam itu mulai retak, permukaannya pecah menjadi partikel-partikel cahaya yang tersedot ke arah langit-langit.

"Terima kasih," bisik Arlan.

Ia berbalik dan memacu langkahnya kembali ke koridor. Kali ini, ia merasakan kekuatan tambahan dari koin kedua di sakunya. Getaran kedua koin itu saling bersahutan, menciptakan irama frekuensi yang lebih kuat untuk menembus kebekuan udara. Arlan berlari melewati warga yang membeku, melewati lift yang tergantung di antara lantai, dan melompat ke arah jendela di ujung koridor lantai dua.

Prang!

Kaca jendela itu pecah, namun alih-alih jatuh sebagai kepingan tajam, kaca itu menguap menjadi debu perak sebelum menyentuh tanah. Arlan mendarat di atas tumpukan sampah di gang samping dengan posisi berguling. Begitu ia menyentuh tanah di luar blok apartemen, ia merasakan gravitasi kembali normal. Suhu udara naik secara drastis, dari beku menjadi panas yang menyengat.

"Hah... hah..." Arlan merangkak keluar dari tumpukan sampah, dadanya naik-turun dalam napas manual yang memburu.

Ia menoleh ke belakang. Blok apartemen Sektor Tujuh itu kini tampak terbungkus dalam kabut tebal yang tidak bergerak. Dari kejauhan, ia melihat jam dinding besar di menara lobi yang tadinya berhenti di angka dua belas, tiba-tiba jarumnya berputar liar searah jarum jam dengan kecepatan gila, sebelum seluruh bangunan itu memudar dan menghilang dari pandangan mata.

"Blok itu... sudah hilang," gumam Arlan, menatap ruang kosong yang kini hanya menyisakan aspal rata tanpa bekas bangunan apa pun.

"Arlan? Kau masih hidup?" suara Dante terdengar jernih sekarang di komunikatornya.

"Aku berhasil keluar, Dante. Aku membawa koin kedua. Tapi satpam itu... dia ikut terhapus bersama gedung."

"Dia tidak terhapus, Arlan. Dia sudah berada di dalam sakumu sekarang. Memorinya aman bersamamu," jawab Dante dengan nada yang lebih lembut.

Arlan merogoh sakunya, mengeluarkan kedua koin perak itu. Koin pertama terasa dingin dan penuh kerinduan, sementara koin kedua terasa panas dan penuh dengan pengorbanan. Ia menyadari bahwa setiap koin yang ia kumpulkan akan menjadi beban yang semakin berat bagi jiwanya.

"Di mana aku harus menemuimu? Sektor tujuh sudah tidak ada lagi di peta," tanya Arlan sambil menyeka debu perak dari wajahnya.

"Ikuti rel kereta bawah tanah yang kau temukan di Hotel Memoria tadi. Jalan terus ke arah timur sampai kau menemukan tanda buku yang dililit rantai. Jangan bicara pada siapa pun di jalan."

"Bagaimana dengan orang-orang yang membeku tadi? Apakah mereka juga terhapus?"

"Hanya mereka yang sudah sepenuhnya disalin yang akan hilang. Mereka yang masih memiliki residu manusia akan dipindahkan ke zona penampungan. Kita akan mencari mereka nanti, Arlan. Sekarang, prioritas kita adalah mengamankan koin-koin itu."

Arlan berdiri, kakinya masih gemetar namun tatapan matanya menjadi lebih tajam. Ia melihat ke arah langit yang kini kembali berwarna kelabu datar tanpa saturasi. Ia menyadari bahwa perjuangannya bukan lagi sekadar bertahan hidup, tapi menjadi wadah bagi semua nyawa yang dianggap "cacat" oleh sistem para Peniru.

"Aku akan sampai di sana dalam satu jam, Dante."

"Hati-hati, Kurir. Eraser sedang melakukan patroli spektrum di area transisi. Jangan biarkan bayanganmu tertinggal di permukaan reflektif."

Arlan mulai melangkah menuju pintu masuk terowongan yang tersembunyi. Ia menyelipkan jam tangan ayahnya kembali ke saku, merasa bersyukur karena roda gigi mekaniknya telah menyelamatkannya dari detik yang mematikan. Di bawah lampu jalan yang mulai menyala dengan warna yang salah, Arlan berjalan dengan martabat seorang manusia yang menolak untuk dibekukan oleh waktu yang palsu.

Ia tahu, di babak selanjutnya, ia akan mulai menyerap memori dari koin-koin ini, dan ia tidak yakin apakah kewarasannya akan tetap utuh setelah merasakan duka dari begitu banyak orang yang telah terhapus. Namun, bagi Arlan, lebih baik gila karena terlalu banyak mengingat daripada mati sebagai salinan yang lupa segalanya.

1
prameswari azka salsabil
tetap berjuang arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
semangat arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
novel.misteri yang unik
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
wah gimaba nih. di mana yang aman
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan ungkap misterinya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
,wuih maduk ruang mayat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan semangat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
misteri yang bagus
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
tetap semabgat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
gigi susunya dulu😄
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
kondisi yang sungguh misteriys
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 4 replies
prameswari azka salsabil
ayo tetap semangat arlan
Indriyati: mantap deh
total 3 replies
prameswari azka salsabil
cerianya bagus dan tanpa horor mistis
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
wah benar benar misteri yang kebtal
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
oh tokih seorang kurir ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 7 replies
Indriyati
novel ini memberikan nuansa misteri yang kuat sejak awal. ddan nuansa misterinya bukan mengarah ke horor sehingga cocok untuk pembaca yang tidak suka novel horor yang seram. cerita di.novel ini sungguh membuat saya penasaran mengenai apa yang terjadi sebemarnya. novel ink cukup menghibur dan tidak membosankan. semoga penulis tetap membuat karya yang bagus dan menarik. semangat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 11 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!