Sebuah insiden pahit dalam hidup seorang gadis tangguh, yang mengharuskan dia rela melawan para orang orang yang begitu menginginkan nya mati. saat truk melintas ke arah depan mata nya, gadis itu tak sempat menghindar dan hanya bisa memejamkan mata, namun bukannya mati dengan tenang, jiwa nya malah masuk ke dalam tubuh seorang wanita yang begitu di takuti dan hormati di negri tersebut.
bagaimana cara nya bertahan hidup, dalam menghadapi konflik konflik tersebut? akan kah gadis itu bisa bertahan, atau malah sebaliknya!!
selamat membaca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrinw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.5
"Nona, apakah nona muda baik baik saja?" tanya bibi sare dengan pandangan cemas dan khawatir nya.
Sebab tadi, Elli tertidur dengan memanggil sebutan nenek. Hal itu membuat bibi sare merasa khawatir. Takut terjadi sesuatu dengan lady Elli ini.
"Bibi, berapa lama saat ini aku tertidur?' tanya nya memastikan bahwa tidur nya cukup untuk bisa memulihkan kondisi tubuh nya.
"Nona hanya tidur 2 jam lama nya, tapi sepertinya nona bermimpi buruk."
mendengar jawaban dari bibi sare, Elli pun langsung berusaha bangkit dari tempat tidur nya itu. Dai harus banyak bergerak agar kondisi nya cepat pulih. sebelum itu, dia melihat ke arah tangan nya, cicin itu masih ada di jari manis nya. kenapa dia baru sadar, dan apakah benar apa yang di ucapkan nenek itu, bahwa cincin ini merupakan cincin suci?
"Bibi, bisakah bibi membantu ku berjalan."
"Nona, tapi kondisi nona masih harus istirahat. Apakah nona butuh sesuatu, biar bibi ambilkan saja."
"Bibi, aku ingin berjalan cepat, agar tak menyusahkan bibi. Aku akan pulih dan akan bisa kembali berjalan normal seperti semula lagi."
mendengar ucapan nona nya itu, membuat bibi sare merasa kasihan dengan nona muda nya itu.
"Baiklah nona, tapi bibi sama sekali tak merasa di repotkan oleh nona. Ini sudah menjadi tugas bibi merawat nona hingga sembuh total."
"Terima kasih bibi." ucap nya dengan tulus.
Perlahan lahan Elli mencoba bangkit, dan mencoba beberapa langkah berjalan di bantu oleh bibi sare yang masih memapah jalan nya.
"Awwshhh,"
"Pelan pelan saja nona, kaki nona masih bisa di gerakan." ucap Bibi sare yang merasa senang dengan kaki nona nya yang mulai bisa di gerakan perlahan.
"Iya bibi, itu artinya kaki ku masih bisa berfungsi. Tolong bibi lepaskan pegangan tangan bibi. Aku akan mencoba berjalan perlahan."
"Nona, tapi nanti nona akan terjatuh."
"Tidak apa apa bibi, aku harus bisa sembuh dengan cepat saat ini."
"baiklah, nona harus janji, akan berhati hati dan jangan terlalu di paksakan."
"Baik bibi."
Dengan perlahan bibi sare melepaskan tangan nya. Hampir saja Elli terjatuh, tapi dia berusaha agar tubuh nya tetap seimbang saat berdiri di tempat.
perlahan lahan, kaki nya mencoba di gerakan. Akhirnya bisa walaupun tak lama. Tapi ini adalah awal yang bagus. beberapa hari lagi, mungkin dia akan bisa berjalan dengan baik, tanpa bantuan alat tongkat.
"Lihat bibi, aku bisa berdiri dan berjalan beberapa langkah." pekik nya dengan girang.
"Nona hebat, nona sangat hebat." ucap bibi sare sambil meneteskan air mata penuh haru dan rasa bahagia nya.
****
Di kediaman sang jendral besar, Ella atau kembaran nya Elli duduk dengan anggun sambil membaca beberapa kitab di tangan nya itu. tak lama kemudian pelayan setia nya, memberikan kabar tentang kondisi kesehatan kembaran nya itu.
"Salam lady Ella, hamba datang ingin menyampaikan informasi tentang lady Elli." ucap pelayan muda itu yang ditugaskan oleh lady Ella untuk menjadi mata mata tentang kondisi kesehatan kembaran nya itu.
Mendengar ucapan pelayan nya itu, membuat aktifitas membaca nya langsung terhenti. Dia menoleh dengan tatapan tajam ke arah pelayan muda itu.
Dengan perasaan gugup, pelayan itu menjelaskan kondisi lady Elli yang saat ini sudah sadar dari tidur panjang nya.
"Hmmm, katakan apa yang kau ingin sampaikan?" tanya nya dengan tatapan malas.
"Hamba melihat sendiri, bahwa lady Elli telah bangun kembali nona."
"Prangg..... Dengan perasaan merah dan emosi nya, dia menjatuhkan vas bunga kaca itu hingga puing puing kaca nya berserakan di tempat.
"Kenapa dia tidak mati saja!" gumam nya dengan penuh tatapan benci.
"Lalu, apakah gadis sialan itu sudah bisa berjalan?" tanya nya lagi tentang kondisi kesehatan Elli.
"Saat ini belum nona, bahkan dia hanya terbaring di ranjang usang sedari pagi." ucap pelayan itu yang tak mengetahui bahwa kaki Elli saat ini bisa di gerakan.
"Hmmm, bagus. Jangan sampai dia sembuh dan membuat kekacauan di kediaman jendral besar. awasi dia terus, dan laporkan apa yang gadis itu lakukan!" perintah ella dengan nada angkuh nya itu.
"Baik nona." ucap pelayan itu, yang langsung beranjak pergi. karena takut kena amukan dari lady arogan itu.
Setelah pelayan pergi, Ella duduk dengan wajah datar nya. Dengan memikirkan cara untuk menyingkirkan kembaran nya dari rumah jendral ini. Dia harus membuat gadis itu sengsara dan nama nya yang akan menjadi sorotan di kota dusch ini.
Dia pergi menuju ke kediaman sang ibu yang tak jauh dari tempat nya itu. Dia ingin membahas tentang kembaran nya itu
Tok....tok...tok...
"Cklek.... Salam lady Elly." ucap pelayan setia ibunya itu.
"Dimana nyonya jendral?" tanya Ella dengan wajah angkuh nya saat berbicara dengan pelayan setia ibunya.
"Nyonya saat ini sedang duduk di halaman belakang lady."
"Hmm, antarkan aku kesana!'
"baik lady, silahkan lewat dari sini."
"Salam ibu, semoga umur mu panjang dan penuh keberkahan." ucap Ella yang tak lupa memberikan salam kepada ibu nya itu
"Selamat datang di kediaman ibu, putri ku. tumben sekali kau berkunjung ke sini."
"Ada yang ingin aku sampaikan Bu, dan ini terkait dengan kembaran ku, Elli."
"Apa yang gadis itu, lakukan lagi dengan mu?" tanya ibunya seolah Elli merupakan biang onar selama ini, karena sering menyakiti Ella putri kesayangannya. padahal selama ini, Ella lah yang sering menyakiti Elli, dan seolah membuat dirinya tertindas oleh kembaran nya sendiri.
"Kata pelayan setia ku, dia sudah sadar dari tidur panjang nya, Bu. Aku takut dia akan melukai ku lagi." ucap nya dengan tatapan sendu saat mengatakan, rasa takut nya.
"Tenang saja putri ku, dia tak akan bisa menyentuh mu. Ibu akan selalu menjaga mu, dan bila nanti ayah mu kembali dari perbatasan, ibu akan bilang semua kelakuan gadis sialan itu."
"Ibu terima kasih, sudah mau membela ku."
"Sama sama sayang, kau adalah penerus sang jendral besar, jadi susah sepantasnya ibu membela mu."
"Bu, apakah boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Ella yang sebenarnya ragu ibunya akan menjawab.
"Tentu saja, tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan."
"kenapa ibu juga membenci kembaran ku. padahal dia juga anak kandung ibu?" ucap Ella yang masih begitu penasaran.
Mendengar ucapan putri kesayangannya, wajah nyonya voil langsung berubah menjadi datar. Dia tak suka, bila Ella menanyakan hal tersebut.
"Jangan di bahas soal gadis sialan itu. Fokus saja dengan pendidikan mu. Dan jangan melewatkan pembelajaran tentang etika mu nanti nya. Agar reputasi putri sang jendral besar menjadi semakin populer di kota dusch ini." ucap nyonya voil yang begitu mendukung putri nya.
"Baiklah Bu." ucap Ella yang tak bertanya lagi, karena takut ibu nya akan murka.
lanjut up yg banyak thor