Lima tahun lalu, Kiara diceraikan Jonathan, alasan perceraian itu tidak lain karena cinta pertama Jonathan kembali. Tanpa Jonathan tau, ternyata Kiara membawa benih darinya.
Setelah Lima tahun kemudian, Kiara dan Jonathan dipertemukan kembali dalam sebuah acara perayaan ulang tahun perusahaan tempat Kiara bekerja. Tak disangka, pertemuan itu menghadirkan kembali cinta yang telah lama menghilang di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling Memikirkan
Kiara tak mau ambil pusing dengan sikap Jonathan yang selalu ingin membuatnya marah. Ia tetap berusaha bekerja dengan sebaik mungkin. Karena baginya, yang bisa membuat orang sukses adalah kesungguhannya dalam bekerja, bukan menebar sensasi yang tak penting. Namun sayang, niatnya bekerja lebih rajin dan enggan mendengarkan gosip tak penting tentang dirinya dan juga atasan barunya, malah justru membuat beberapa orang yang ada di sekitarnya jad cemburu.
"Iyalah santai, dia kan kesayangan bos," ucap salah satu tan Kiara yang tampak iri dengan kedekatannya dengan bos baru mereka.
"Kamu benar Is, mana ada karyawan biasa bisa masuk ke ruangan bos besar, kalo ga jual harga diri," balas salah satunya lagi.
"Paling-paling juga di ajak tidur, nggak mungkin enggak lah," tambah satunya lagi.
Kiara hanya diam dan mendengarkan, tapi Ita, sebagai sahabat tidak terima karena ia tahu sebaik apa Kiara.
"Kalian tu ya, kalo iri bilang aja. Wajarlah kalo bos suka sama Kiara dia tu rajin, ga suka cari muka kek kalian," jawab Ita, kesal.
"Huus, sudah Ta, jangan diladenin, ga enak kalo didengar bos," cegah Kiara, enggan terjadi keributan.
"Halah, pantas saja membela, dia juga sama. Kamu naksir kan sama asisten bos, ih, tau diri deh lu, lu tu siapa, cuma cleaning room doang, sombong," balas salah satu dari mereka.
"Aku.. suka.. sama asisten, Bos? hah, kabar burung dari mana itu, bukankah kamu yang genit-genit sama Pak Soni, kesian deh lo ga di heranin," balas Ita, tak mau kalah.
Baru salah satu dari mereka mau mw nyaut, Tiba-tiba Soni datang menghampiri mereka.
"Ada apa ini? kenapa kalian ribut, kayak ga ada kerjaan aja," tegur Soni, tegas.
"Ini ni pak, geng suka bikin onar, ngatain teman saya yang enggak enggak," jawab Ita, tak mau kalah.
"Ish, sudah-susah, kalian ini, emang apa sih yang diributkan. Sudah bubar," ucap Soni lagi.
Spontan semua orang pun hendak membubarkan diri, pun dengan Kiara. Dengan cepat ia merapikan tempat makannya yang belum sempat ia makan. Sedangkan Ita langsung duduk di meja kerjanya, bersiap membuat laporan mingguannya.
"Nona Kiara, selesaikan makananmu, setelah itu Pak Jo mau kamu ke ruangannya, bawa map-map ini serta, jangan lupa bawakan dia kopi dan dessert yang sudah aku pesan, sebentar lagi datang. Aku pergi dulu," ucap Soni sembari melirik Ita yang saat ini terlihat fokus pada layar komputernya.
"Baik, Pak, saya akan segera kerjakan," jawab Kiara, sopan.
Tak ada perbincangan lagi, Soni pun pergi, sedangkan Kiara dan Ita langsung memfokuskan pekerjaan mereka masing-masing.
Selepas kepergian Soni..
"Ra, uss!" panggil Ita.
"Hemm, apa?" balas Kiara, santai.
"Sekarang kamu beneran jadi asisten pribadi pak bos besar?" tanya Ita penasaran.
"Nggak tau, Ta, aku sendiri bingung sebenarnya bagianku ini apa. Kadang-kadang aku boleh kerja di lantai ini, Kadang-kadang di suruh seperti ini, aku sendiri ga paham sama bos kita itu," jawab Kiara jujur.
"Ohh, gitu ya. Emm, mungkin benar kata orang-orang kalo bos kita sebenarnya naksir sama kamu, Ra," ucap Ita lagi.
"Ish, mana mungkin, bos kita kan udah punya istri, kamu ga ingat waktu acara malam itu, dia bawa serta kan istrinya," ucap Kiara serius.
"Yeee, itu ma bukan istrinya, itu cuma pacarnya, tapi aneh, kok mereka kayak bukan pacar yang, kayak temen aja gitu," ucap Ita curiga.
"Benarkah? masak sih?" tanya Kiara, tak percaya.
"Bos kita itu lajang, Ra, eh aku kasih tau ya, sepertinya punya seseorang yang ga bisa dia lupakan, makanya sampai setua itu dia ga nikah nikah," ucap Ita, sesuai kabar yang ia terima beberapa hari yang lalu itu.
"Masak ah, nggak percaya aku, secara dia itu tampan kaya, masak diumur segitu masih lajang," ucap Kiara tak percaya.
"Tu kan, kamu aja ga percaya, apa lagi aku, awalnya aku ga percaya juga, Ra, tapi pas aku lihat beliau keluar pesta sendirian, aku jadi yakin, beliau memang masih lajang," ucap Ita, penuh semangat.
"Ohh," jawab Kiara, singkat.
"Ihhh, kok oh doang sih, oiya, kamu ingat nggak wanita yang selalu nempel sama dia di pesta waktu itu, inget nggak?" tanya Ita lagi.
"Ya, ingat. Pacarnya kah, atau istrinya?" balas Kiara.
"Pacarnya atau istrinya gimana? mereka itu cuma temenan, ah tapi ga tau juga ya, yang jelas aku ngrasa bos kita itu perasannya ga ke wanita itu, tapi lebih ke...kamu," ucap Ita sembari melirik Kiara yang saat ini sedang makan bekal yang diberikan oleh Jonathan tadi pagi untuknya.
Kiara menghentikan suapan terakhirnya, ada rasa aneh di sana, tapi Kiara tidak mau terlalu memikirkan hal itu. Ia tahu Jonathan bukan pria yang mudah jatuh cinta, apa lagi padanya, sungguh rasanya sangat mustahil.
"Sudah, sebaiknya kita jangan bicarakan beliau, beliau orang besar Ita, kalo sampai beliau dengar gimana? Udah sebaiknya kita kerja, jangan sampai kita dinilai makan gaji buta, apa lagi sampai dikatain jual harga diri ke bos, bisa gawat nanti," ucap Kiara, mencoba menepis perasaan mengganjal yang ada di hatinya.
Tapi sayang, Ita masih sangat penasaran dengan kisah cinta bosnya, untuk itu ia tetap ingin memberi tahu Kiara apa yang pernah ia lihat.
"Eh Ra, kamu percaya nggak, waktu itu aku pernah lihat pak bos ninggalin pacarnya di parkiran tau, sampai pacarnya ngamuk," ucap Ita, serius.
Kiara terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa. Karena menurutnya semua yang dikatakan Ita sebenarnya bukanlah urusannya. Ia memang tak mau masuk ke tanah pribadi mantan suaminya. Entah urusan apapun itu. Kiara benar-benar tidak menginginkan itu. Hanya saja, Kiara jadi kepikiran, apakah benar sang mantan suami belum menikah lagi sampai saat ini, lalu apa alasannya, batin Kiara, bingung.
***
Di lain pihak...
Jonathan menatap sedih dengan bekal makanan milik sang mantan istri yang hanya berisi beberapa potong tempe goreng, semacam nugget dia potong dan juga nasi yang hanya sedikit. Dalam hati Jonathan berpikir, sesusah apa kehidupan Kiara sampai makan pun dia ngirit seperti ini.
Bersambung...
ayo dong Thor bikin Jonathan menyesal atas kata²nya, jgn cuma ngomong Kiara jahat,, padahal dia yg sangat jahat