Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.
Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.
Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.
Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Tangan Reza yang terkepal sedikit terangkat, nyaris kehilangan kendali.
Namun Yudha tidak bergeming, senyumnya bahkan melebar. “Tapi kamu datang ke sini bukan untuk bertengkar, kan? Atau kamu memang ingin mencoba? Di sini, di ruanganku?” katanya dengan nada yang semakin menusuk, memancing Reza lebih jauh.
Reza terdiam sejenak, tubuhnya tegang. Di satu sisi, ia ingin menyerang, ingin membuat Yudha merasakan apa yang dia rasakan. Tapi di sisi lain, ia tahu itu hanya akan membuat situasi semakin buruk, terutama untuk Sonya. Reza menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam emosinya meski matanya masih penuh kemarahan.
“Ini peringatan terakhirku, Yudha,” katanya dengan suara rendah namun penuh ancaman. “Jauhi Sonya. Atau kamu akan menyesal.”
Tanpa menunggu jawaban, Reza berbalik dan keluar dari ruangan itu, langkahnya berat dengan amarah yang masih bergemuruh. Di belakangnya, Yudha tetap duduk dengan santai, senyum puas menghiasi wajahnya.
“Bukan aku yang akan menyesal, tapi kamu,” gumam Yudha pelan, nyaris seperti bisikan yang hanya didengar oleh dirinya sendiri.
Suara ponselnya memecah keheningan. Nama "Serly" terpampang di layar, memanggilnya. Dengan raut tenang, Yudha menjawab. “Hmm… ada apa?” tanyanya, nada suaranya datar meski dari seberang terdengar suara Serly yang jelas panik.
“Kak! Kak Yudha! Arya hilang!” suara Serly terdengar pecah, nyaris seperti tangisan.
Mendengar nama itu, ekspresi Yudha langsung berubah. Tubuhnya yang tadi santai kini menegang, matanya membelalak tajam. “Hilang? Bagaimana bisa?”
“Tadi dia minta aku antar ke perusahaan. Baru saja tiba, dia langsung turun dari mobil dan berlarian. Aku pikir dia cuma bermain di sekitar sini, tapi… tapi aku nggak bisa menemukannya!” Suara Serly terdengar penuh kepanikan, napasnya tersengal.
Yudha tidak membuang waktu. Dengan cepat ia memutus sambungan telepon, lalu mengaktifkan perangkat komunikasi internalnya. “Bayu, cek CCTV perusahaan dan sekitarnya sekarang! Cari Arya!”
Nada suaranya keras dan tegas, penuh dengan urgensi. Dalam situasi seperti ini, tidak ada yang bisa menghalanginya. Jika menyangkut Arya, Yudha tidak pernah berkompromi. Hatinya kini dipenuhi rasa cemas yang menghantui, seperti ada lubang besar yang mendadak menganga.
Tanpa menunggu jawaban dari Bayu, ia bergegas menuju ruang pengawasan CCTV. Langkah-langkahnya cepat dan berat, menunjukkan kegelisahan yang tak bisa ia sembunyikan. Sesampainya di sana, ia langsung mendapati Bayu yang tengah sibuk memutar ulang rekaman.
“Bagaimana?” tanya Yudha, suaranya berat dengan emosi yang tertahan.
Bayu menoleh, wajahnya serius. “Terakhir Arya terlihat di taman depan perusahaan sekitar pukul empat sore tadi. Setelah itu, dia tidak terlihat lagi di CCTV.”
Jawaban itu seperti petir yang menyambar Yudha. Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. Rahangnya mengeras, dan tangannya mengepal kuat. Arya, satu-satunya yang ia tidak akan pernah rela kehilangan, kini entah berada di mana.
“Kalau begitu, kita cari dia sekarang,” ujar Yudha dengan suara yang lebih seperti perintah. Tatapannya tajam, penuh tekad. Tidak ada yang bisa menghentikannya sekarang, ia akan menemukan Arya, apa pun yang terjadi.
Sementara itu, Arya yang tadinya asyik bermain di taman berhenti sejenak ketika matanya menangkap sosok Sonya yang duduk murung di bangku taman. Rasa penasarannya mendorongnya untuk mendekat. “Tante Sonya, kenapa kelihatan sedih?” tanya Arya dengan polos, wajahnya penuh perhatian.
Sonya tertegun sejenak melihat Arya, lalu tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan perasaannya. “Nggak apa-apa, Arya. Tante cuma lagi mikir.”
Setelah beberapa saat berbincang ringan, Sonya menerima panggilan dari Intan yang mengabarkan bahwa Sasa akan segera diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Dengan lembut, Sonya meminta Arya untuk kembali ke kantor Yudha. “Arya, kamu kembali ke Ayah sekarang. Tante akan pergi ke rumah sakit sekarang.”
Namun, Arya menggeleng keras sambil merengek. “Tante, aku ikut Tante aja, ya? Aku janji nggak akan merepotkan.”
Sonya menghela napas panjang. Ia tahu Arya sedang bersikeras, dan ia terlalu lelah untuk berdebat. “Baiklah, tapi setelah ini Tante akan telepon Ayah kamu, ya? Arya harus dijemput,” ucapnya, nada suaranya lembut tapi tegas, mencoba menetapkan batas.
“Iya, Tante. Maaf sudah bikin Tante cemas,” jawab Arya, suaranya lirih, menunduk seperti merasa bersalah.
Sonya hanya mengusap kepala Arya perlahan, menunjukkan bahwa ia tidak benar-benar marah. Bersama-sama, mereka akhirnya memasuki lift di rumah sakit, menuju kamar rawat Sasa.
Di dalam lift, keheningan mengisi ruang kecil itu. Arya sesekali mencuri pandang ke arah Sonya, mencoba membaca pikirannya. Sementara itu, Sonya menatap angka-angka di layar lift dengan pandangan kosong, pikirannya berkecamuk antara kecemasan dan rasa tanggung jawab.
“Arya…” Sonya memecah keheningan, suaranya lembut tapi berat. “Nanti, kalau Ayah kamu marah, Tante yang akan jelaskan, ya? Jadi kamu jangan takut.”
Arya mengangguk pelan, senyum kecil akhirnya kembali menghiasi wajahnya. “Terima kasih, Tante.”
Sonya tersenyum samar, meskipun hatinya masih penuh dengan kekhawatiran. Di dalam pikirannya, ia tahu bahwa Yudha tidak akan senang mendengar tentang kejadian ini, dan ia harus siap menghadapi konsekuensinya. Namun, saat ini, yang terpenting baginya adalah memastikan Arya aman.
Setelah pintu lift terbuka, keduanya melangkah keluar dan berjalan ke arah kamar rawat Sasa. Sonya memimpin, namun langkahnya sedikit terburu-buru, seolah khawatir akan hal-hal yang belum ia utarakan pada Yudha. Arya mengikuti dengan langkah kecilnya, matanya tak lepas dari Sonya yang tampak lebih serius dari biasanya.
Sesampainya di depan pintu kamar, Sonya mengetuk pelan sebelum masuk. Begitu pintu terbuka, terdengarlah suara ceria Sasa memanggil, “Bunda!”
Sonya tersenyum lega mendengar suara itu, suaranya yang ceria dan wajah yang lebih merona membuat Sonya merasa sedikit lebih tenang. Gadis kecil itu kini duduk di ranjang rumah sakit, mengenakan suwiter rajut berwarna merah, dan rambutnya yang sedikit panjang dikepang dua, menambah kesan manis pada dirinya.
Sonya segera berjalan menghampiri Sasa dan memeluknya erat, menyentuh pipi gadis itu dengan lembut. Namun, di sisi lain, Arya yang berdiri tidak jauh dari mereka, merasa sedikit cemburu melihat perhatian Sonya yang begitu penuh pada Sasa.
"Bunda itu siapa?" tanya Sasa setelah melepaskan pelukannya, matanya penasaran, menatap Arya dengan penuh rasa ingin tahu.
Sonya hampir saja melupakan keberadaan Arya yang berdiri di sampingnya, tersadar ketika melihat ekspresi Arya yang agak cemberut. “Oh, ini Arya, anak bos Bunda,” Sonya berkata sambil tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Arya. "Sini, kenalan sama anak Tante."
Arya yang merasa sedikit kesal langsung menggelengkan kepala dengan cepat. "Aku nggak suka sama anak tante," ujarnya dengan suara yang sedikit keras, merasa tidak nyaman dengan situasi tersebut.
Sasa yang mendengar itu, mengangkat alis dengan ekspresi lucu. “Kakak kalau nggak suka, boleh pergi kok!” katanya dengan nada ceria, menantang, tapi juga terdengar lucu dengan sedikit suara manja.
Arya menatap Sasa dengan tatapan bingung dan kesal, “Nggak mau!” jawabnya cepat, merasa canggung dengan sikap Sasa yang begitu santai.
Sonya tertawa pelan melihat tingkah kedua anak itu. "Sudahlah, kalian jangan bertengkar. Arya, jangan cemberut gitu, nanti Sasa jadi malu."
Namun, Sasa tidak menyerah begitu saja. "Nggak usah cemberut, Kak! Kalau Kakak baik, nanti aku ajak main kok," ujarnya, sambil memberikan senyum manis. "Ayo, Kak, kita main sama-sama!"
Arya yang mulai tidak bisa menahan tawanya, akhirnya tertawa kecil. "Iya, iya, nanti kalau kamu nggak rewel terus, aku mau main," jawab Arya, sambil melirik Sasa dengan ekspresi manis yang mulai melunak.
Sonya hanya bisa tersenyum melihat mereka berdua. Ternyata, meskipun ada sedikit canggung, keduanya mulai akrab dengan cara mereka sendiri. Mungkin memang anak-anak punya cara yang unik dalam memecahkan kebekuan.
Sonya mengangkat Arya dan mendudukkannya di ranjang rumah sakit, berdampingan dengan Sasa. "Sebentar, Bunda ambil minum," ucap Sonya, lalu berjalan menjauh.
Namun, saat ia berbalik, jantungnya berdebar kencang. Arya dan Sasa duduk berdampingan, dan Sonya menyadari betapa miripnya mereka. Tiba-tiba, bayangan bayi mungil kembar melintas di benaknya.